Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Soraya tidak mendesaknya sama sekali.
Wanita itu melihat dengan jelas bagaimana bahu Arhan menegang, bagaimana tangan Arhan yang memegang cangkir teh itu bergetar halus, dan bagaimana tatapan Arhan tiba-tiba jatuh ke lantai, menghindari matanya.
Soraya adalah seorang ibu. Ia tahu persis kapan seorang anak — bahkan menantu — sedang menyimpan sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan.
Maka ia tidak bertanya lagi. Tidak ada pertanyaan lanjutan, tidak ada tatapan menyelidik yang memojokkan.
Ia hanya tersenyum. Senyum yang tipis, hangat, dan penuh pengertian.
"Udah, diminum dulu tehnya, Han," kata Soraya dengan suara yang sengaja ia buat ringan, seolah percakapan berat barusan tidak pernah terjadi. "Nanti keburu dingin. Kamu dari pagi belum istirahat kan?"
Arhan mengangguk, tapi tidak langsung meminumnya. Tenggorokannya masih terasa tercekat. "Iya, Bu. Makasih."
Soraya lalu berdiri perlahan dari sofa. Ia merapikan letak bantal sofa yang agak miring.
"Ya udah, Ibu ke kamar Anya dulu ya. Mau lihat Papa ngobrol apa sama Anya. Dari tadi kedengeran ketawa-ketawa."
Arhan mengangguk lagi. "Iya, Bu. Silakan."
Soraya mulai berjalan menuju lorong kamar. Langkahnya pelan. Baru dua langkah berjalan, ia berhenti dan berbalik lagi menghadap Arhan yang masih duduk sendirian di ruang tamu.
"Han," panggilnya.
Arhan mendongak. "Iya, Bu?"
"Sebentar lagi Ibu sama Papa pulang ya," kata Soraya. "Rumah Ibu kosong enggak ada yang jaga. Tapi Ibu titip Anya sama kamu. Kalau ada apa-apa, apapun itu, tengah malam, pagi-pagi, kamu lagi bingung atau Anya butuh sesuatu yang Ibu bisa bantu, jangan sungkan buat hubungin Ibu ya. Langsung telepon aja. Anggap aja Ibu sama Papa ada di sebelah rumah."
Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang begitu tulus. Tidak ada nada curiga, hanya kekhawatiran seorang ibu yang menitipkan putrinya.
Arhan menjawab pelan, suaranya hampir tenggelam.
"Iya, Bu. Pasti. Makasih banyak ya, Bu, udah mau datang dan temenin Anya."
Soraya mengangguk, tersenyum sekali lagi, lalu melanjutkan langkahnya. Ia mengetuk pintu kamar Anya pelan dan masuk, suaranya yang lembut menyapa Hendra dan Anya di dalam terdengar samar sebelum pintu itu tertutup kembali.
Kini ruang tamu itu benar-benar sepi.
Sepi yang berbeda dari sepi rumah sakit. Kalau di rumah sakit sepinya dingin dan penuh bau obat, sepi di rumah ini hangat tapi menusuk. Di meja masih ada cangkir teh yang sudah tidak beruap lagi. Di luar, suara motor lewat sesekali terdengar. Di dalam kamar, suara tawa kecil Anya dan Hendra terdengar samar, seperti dari dunia lain.
Arhan meletakkan cangkirnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, memejamkan mata, dan mencoba menguatkan hatinya yang sejak pagi tadi sudah dipukul berkali-kali oleh kenyataan.
Pukulan pertama dari dokter. Pukulan kedua dari kebohongan yang harus ia ucapkan pada Anya. Pukulan ketiga dari tatapan Soraya yang seolah tahu ia berbohong. Hatinya sudah lebam.
Untuk menenangkan diri, ia mencoba menarik napas panjang. Dan tanpa ia sadari, pikirannya melayang ke masa lalu. Ke masa ketika rumah ini pertama kali mereka beli.
Waktu itu usia pernikahannya baru beberapa bulan. Uang mereka pas-pasan. Rumah ini adalah satu-satunya rumah kecil yang bisa mereka beli di pinggiran kota. Cat dindingnya sudah agak mengelupas, pagarnya berkarat, dan halaman sampingnya hanya tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar.
Tapi Anya langsung berlari ke halaman itu begitu kunci diserahkan.
"Han! Lihat ini! Lihat halamannya!" seru Anya waktu itu dengan mata berbinar. Ia masih memakai kemeja putih kebesaran milik Arhan. "Ini kosong! Kita bisa bikin taman! Aku mau tanam mawar di sini, melati di sudut sana, terus yang kuning-kuning itu di depan jendela kamar kita!"
Arhan yang masih membawa kardus di tangannya hanya tertawa. "Kamu ini, rumahnya belum diberesin, udah mikirin bunga."
"Bunga itu yang bikin rumah jadi rumah, Han," jawab Anya sambil jongkok menyentuh tanah itu dengan tangannya.
Dan Anya menepati ucapannya. Selama berminggu-minggu setelah itu, setiap sore sepulang kerja, Anya akan berada di halaman itu. Tangannya kotor, kukunya hitam oleh tanah, keringat menempel di dahinya, tapi ia tidak pernah mengeluh. Pelan-pelan, halaman kosong itu berubah menjadi taman kecil yang penuh warna. Setiap kali satu bunga mekar, Anya akan memanggil Arhan dengan heboh seperti anak kecil yang dapat hadiah.
"Han! Han! Sini cepet! Mawar putihku mekar!"
Arhan ingat betul satu sore. Sore yang paling ia ingat. Ia sedang duduk di teras depan, di atas tikar, dengan laptop di pangkuannya, mencoba menyelesaikan pekerjaannya sebagai penulis novel. Anya sedang menyiram bunga dengan gembor plastik berwarna hijau. Sore itu matahari berwarna oranye keemasan.
"Han, kamu kerja terus," protes Anya sambil terus menyiram.
"Sebentar, An. Tanggung. Penerbit minta perpanjangan kontrak."
Anya meletakkan gembornya dan menghampiri Arhan. Ia duduk di samping Arhan, menyandarkan kepalanya di bahu Arhan, padahal baju Arhan bersih dan baju Anya agak basah dan kotor oleh tanah.
"Han," panggilnya manja.
"Hmm?"
"Kalau aku mati nanti, aku maunya di rumah ini ya."
Arhan langsung menutup laptopnya dengan agak kesal. "Anya, kamu ngomong apa sih? Sore-sore ngomongin mati."
"Aku serius," Anya mendongak, wajahnya serius tapi matanya lembut. "Aku nggak mau di tempat lain. Aku maunya di rumah ini. Di kamar kita. Di taman yang aku tanam sendiri ini."
"Kenapa ngomong gitu?"
Anya tersenyum dan memainkan jari-jari Arhan.
"Soalnya kalau di sini, aku nggak akan takut. Karena aku tau, aku ada di dalam pelukan kamu. Jadi pas waktunya datang, aku pergi dengan tenang. Janji ya, kalau waktunya tiba, kamu peluk aku di rumah ini?"
Waktu itu Arhan menganggap itu hanya gombalan Anya yang suka melankolis. Ia tertawa dan mencubit hidung Anya yang masih ada bercak tanah.
"Iya, janji. Dasar kamu Ratu Drama. Sekarang ayo, Ratu, bantu aku buat balasin chat dari penerbit, bukan ngomongin mati."
Anya tertawa lepas sore itu. Tawa yang jernih dan panjang.
Suara tawa itu masih terngiang jelas di telinga Arhan sekarang.
Arhan membuka matanya. Ia kembali ke kenyataan. Ruang tamu yang sepi. Cangkir teh yang dingin. Pintu kamar yang tertutup rapat di mana istrinya sedang berbaring, tidak tahu apa-apa.
Dan janji sore itu bukan lagi gombalan. Janji itu sekarang berubah menjadi kenyataan yang paling menakutkan.
Anya memang akan mati di rumah ini.
Ia memang akan pergi di dalam pelukannya di rumah ini.
Bukan nanti saat mereka sudah tua dan rambut mereka sudah putih semua. Tapi sekarang. Tiga puluh hari lagi. Di kamar yang baru saja ia rapikan. Di atas seprai biru muda kesukaan Anya.
Semua yang dulu Anya ucapkan sebagai angan manis, kini menjadi daftar hitung mundur yang nyata.
Arhan menatap pintu kamar itu. Di balik pintu itu ada istrinya, ada tawa lemahnya, ada sisa hidupnya yang hanya tiga puluh hari.
Dadanya sesak lagi, lebih sesak dari sebelumnya. Matanya panas. Air mata yang sejak tadi ia tahan, yang ia paksa masuk kembali ke dalam, kini memaksa keluar lagi.
Arhan mengepalkan tangannya di atas pahanya. Ia menahan air matanya sekuat tenaga, agar tidak ada suara isak yang terdengar sampai ke dalam kamar.