Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alethea dan Keluarga Shinoda
Alethea menatap Satoru dengan dada berdebar. Sungguh dia sudah banyak bertemu dengan banyak artis dengan sikap eksentrik mereka tapi entah kenapa, Satoru lebih halus cara pendekatannya.
"Tunggu. Apa maksudnya dengan namaku?" tanya Alethea.
"Tadinya aku mau kasih judul Alethea tapi ... Thea adalah nama panggilan kamu. Jadi ya ... tetap Thea." Satoru tersenyum. "Maaf tidak menghubungi kamu dua bulan ini karena aku mengejar kuota pameran."
Alethea melihat sekelilingnya dan lukisan-lukisan Satoru semuanya bernuansa Cedliff. Bahkan ada Hannah dan Henry yang sedang membawa paket dengan wajah ceria. Ada juga Jack Junior sedang membuat kursi. Dia melihat Susan sedang membuat pie.
"Ini ... Bukan gaya kamu yang memperlihatkan hidup sehari-hari," ucap Alethea. "Kamu biasanya ... Lebih ke pemandangan alam."
"Aku rasa cara promosi yang lebih membumi adalah dengan lukisan. Sama seperti foto, maksud dari senimannya tersampaikan. Aku sekalian mempromosikan Cedliff agar kehidupan mereka lebih hidup. Kepala desa sudah setuju. Memang tetap ada pembatasan turis agar alam Cedliff tetap terjaga," jawab Satoru.
"Excuse me. Mr Shinoda, apakah lukisan ini dijual?" tanya salah satu tamu undangan yang tertarik dengan lukisan Thea.
Satoru tersenyum sopan. "Mohon maaf, tapi khusus yang ini not for sale. Karena memang ada nilai sejarah tersendiri."
"Ah, apakah itu gadis Anda?" goda tamu itu.
"Bisa dikatakan begitu," jawab Satoru. Alethea berusaha memasang wajah datar meskipun ada rasa sedikit ge er.
"Oh, aku suka cerita romantis. Tunggu, aku ada pertanyaan. Apakah Cedliff itu ada?" tanya tamu itu lagi.
"Ada. Anda bisa Googling dan jika Anda menyempatkan diri kesana, saya jamin Anda akan jatuh cinta dengan alamnya seperti yang terpampang di lukisan saya." Satoru tersenyum manis.
"Baiklah. Aku tidak akan ambil lukisan yang ini meskipun aku berani bayar mahal. Jika suatu barang punya nilai sentimental dan romantis, aku tidak akan memaksa," kekeh tamu dengan gaun dan perhiasan mahal.
"Terima kasih atas pengertiannya," ucap Satoru sopan.
Setelah tamu itu pergi, Satoru hendak berbicara dengan Alethea lagi tapi Jennifer mendatangi mereka. Wanita itu tampak heboh, membuat Alethea sedikit pusing.
"Thea! Kenapa kamu malah mencar! Dan kenapa kamu sudah bersama Mr Shinoda? Bukannya panggil aku malah asyik ngobrol berdua!" tegur Jennifer tanpa jeda membuat Satoru melirik ke arah Alethea yang tidak nyaman. "Mr Shinoda, perkenalkan saya Jennifer Lawrence. Saya adalah pimpinan museum di Washington DC. Dan ini adalah Alethea Ashford, kurator kami ... dan kalian sudah kenal."
Satoru tersenyum. "Senang berkenalan dengan Anda, Miss Lawrence ...."
"Jennifer. Oh kamu bisa panggil Jenny," potong Jennifer dengan gaya sok akrab.
"Ah Jenny. Baik. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Satoru sopan.
"Pertama-tama, bagaimana jika kita foto bertiga?" Jennifer memanggil fotografer yang bertugas dan meminta memotret mereka bertiga.
"So she is That Jenny?" bisik Satoru ke Alethea.
"Yup," jawab Alethea sambil tersenyum.
"Sesuai bayanganku," gumam Satoru membuat Alethea harus menahan diri untuk tidak memukul bahu pria itu.
"Oke. Kita siap. Is that okay, Mr Shinoda?" tanya Jennifer.
"No problemo," jawab Satoru.
Mereka pun foto bertiga dengan Satoru di tengah. Namun secara samar, tangan kiri Satoru memeluk pinggang Alethea lembut membuat wanita itu sedikit terkejut tapi tetap memasang senyum ala iklan pasta gigi.
***
Alethea meminta izin untuk mengambil minuman guna menenangkan jantungnya dan menolak tawaran Satoru untuk mengambilkan. Dia membiarkan Jennifer asyik berbincang dengan Satoru. Wanita itu lalu mengambil gelas champagne yang ada di meja dan meminumnya sedikit.
"Kamu datang," senyum Alaska yang malam itu memakai gaun hitam rancangan Kayleen Moretti dari Morr, saat mendatangi dirinya. Di sampingnya, ada seorang pria Jepang yang memeluk pinggangnya.
"Miss Al Jordan ... Mr Shinoda senior i presume," senyum Alethea sambil membungkuk sopan.
"Ah, jadi ini ...." Akito Shinoda menatap Alethea dengan tatapan ingin tahu. "Akito Shinoda, ayah Satoru."
Alethea membungkuk hormat. "Senang bertemu dengan Anda berdua."
"Bagaimana, Anata ( sayang - bahasa Jepang )?" tanya Alaska.
"Moshi Satoru ga hontōni kono bijo no koto ga sukinara, dōshite watashi ga sore o tomenakya ikenai no ( Kalau Satoru memang suka dengan wanita cantik ini, kenapa aku harus melarang )?" jawab Akito tenang.
"Eh? Eh? Chottomatte kudasai. Kore wa dōiu imidesu ka ( Tunggu sebentar. Apa ini maksudnya )?" Alethea tampak terkejut hingga berbicara dengan bahasa suaminya.
"Eh? Dia bisa berbahasa Jepang?" celetuk Akito dengan terkejut.
"Almarhum suaminya orang Jepang, Akito. Kan aku sudah bilang. Jadi kalau Thea bisa bahasa Jepang, itu wajar. Tenang Thea, kita cuma menilai kamu," senyum Alaska.
"Amari zubazuba iwanaide yo, Arasuka. Tea ga panikku ni natte iru no ga mienai no ( Jangan terlalu blak-blakan dong Alaska. Apa kamu tidak melihat Thea tampak panik )?" ucap Akito dengan wajah gemas ke istrinya.
"Sayang, jangan begitu. Kasihan Thea," tegur Alaska.
"Memangnya aku tadi bilang apa, Skaaaa," gerutu Akito gemas.
"Eh?"
Alethea tertawa kecil melihat keributan pasangan suami istri itu. "Gommennasai."
"Tidak apa-apa Thea, kami biasa seperti ini. So, kamu sudah melihat lukisan Satoru?" tanya Alaska.
"Sudah. Dan saya sangat suka karena sangat menunjukkan bagaimana Cedliff. Desa sana sudah indah, dan semakin indah di tangan Satoru," jawab Alethea.
"Apakah menurut kamu, lukisan putraku sangat berlebihan?" tanya Akito.
"Tidak. Diperindah yang tidak berlebihan dan membuat banyak orang penasaran. Justru itu daya tariknya. Lukisannya menjadi lebih hidup dan berbeda dengan fotografi, terlihat nyata. Kita seperti diajak masuk dan membayangkan bagaimana jika berada di sana. Udara yang segar, kicau burung dan seperti masuk ke dunia dongeng Hans Christian Andersen," jawab Alethea.
Alaska dan Akito hanya tersenyum mendengarnya. "Apakah kamu ingin kembali lagi ke Cedliff suatu hari nanti?"
"Iya. Satoru benar. Cedliff memang tempat berlibur yang sangat indah," jawab Alethea.
***
"Jadi benar nyata?" tanya Jennifer.
"Benar. Desa Cedliff itu benar ada. Tidak banyak turis yang datang dan alamnya masih natural. Sangat indah. Kita macam masuk ke dunia yang semuanya masih masa lalu dengan minimnya teknologi meskipun sudah ada WiFi," jawab Satoru.
"Serius ada desa seperti itu? Sepertinya aku harus kesana," ucap Jennifer.
"Di New York sini juga ada desa seperti itu. Jika keluar dari tol M51 sebelum ke Philadelphia, belok kiri."
"Benarkah? Bagaimana kamu tahu?" tanya Jennifer.
"Karena Oom aku Mayor disana. Nama kota kecilnya itu adalah Crystal Valley. Tempatnya indah," senyum Satoru.
"Sepertinya aku harus coba mampir."
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia