NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Meja Makan Pemeriksaan

Ruang pemeriksaan di lantai dua itu hanya diterangi satu lampu neon yang berdengung pelan. Bramantyo Prasetiya duduk di seberang meja logam dengan punggung bersandar santai, kedua tangan terlipat di atas perut, seolah sedang menunggu hidangan di restoran langganannya.

Seragam tahanan belum diberikan kepadanya. Ia masih mengenakan batik mahal yang sama dengan kemarin, kini sedikit kusut di bagian kerah. Pengacaranya, seorang pria necis berkumis tipis, duduk di sampingnya sambil membuka-buka map dengan gaya yang terlalu sibuk.

"Kami sudah menyatakan klien kami bersedia kooperatif," kata sang pengacara begitu Komisaris Arief masuk. "Tapi semua tuduhan ini tidak berdasar. Tidak ada bukti langsung yang menghubungkan Pak Bramantyo dengan..."

"Kita lihat saja, Pak." Komisaris Arief duduk, meletakkan sebuah laptop di tengah meja, dan memberi isyarat pada dua orang yang menyusul masuk di belakangnya.

Carlo dan Laras masuk dalam diam, lalu duduk di kursi di sudut ruangan, jauh dari meja, seperti dua penonton di bangku belakang.

Senyum Bram baru berubah ketika ia melihat Carlo. Hanya sekejap. Sudut matanya mengerut, rahangnya bergeser setengah senti, lalu ia kembali tersenyum, kali ini lebih lebar, penuh kehangatan yang terasa makin palsu.

"Carlo! Keponakanku sayang. Kamu seharusnya istirahat. Lihat wajahmu, pucat sekali."

Carlo tak menjawab. Ia hanya menatap pria itu, tanpa berkedip.

"Pak Bramantyo," kata Komisaris Arief, "kami mendapat bukti baru semalam. Sebelum kami memulai, saya ingin Anda mendengar sesuatu."

"Bukti apa?" Pengacara itu mengangkat tangan. "Kami berhak mengetahui sumbernya dulu."

"Sumbernya sudah dilampirkan dalam berkas, dan akan Anda terima sore ini." Komisaris Arief menekan satu tombol. "Silakan dengarkan."

---

Gemerisik panjang memenuhi ruangan, lalu suara tua yang serak.

*"Bram. Aku sudah tahu soal angka-angka itu."*

Bram tidak bergerak. Senyumnya masih terpasang, tetapi Laras, yang terbiasa membaca tubuh pasien, melihat bagaimana otot di sekitar mulutnya menegang, seperti tali yang ditarik terlalu kencang.

*"Angka apa, Kak?"*

Itu suaranya sendiri. Ia mendengarnya dari pengeras suara laptop, sembilan tahun lebih muda, penuh kepura-puraan yang kini terdengar begitu telanjang.

Pengacaranya mulai berbisik di telinganya, tetapi Bram mengangkat satu jari tanpa menoleh. Ia ingin mendengar. Mungkin ia sendiri tidak tahu mengapa.

Rekaman berjalan. Tuduhan penggelapan. Tawaran kesempatan. Perubahan susunan dewan. Dan kemudian, batuk pertama.

Wajah Bram berubah pelan, bukan dalam satu gerakan besar, melainkan seperti tembok tua yang retaknya melebar sedikit demi sedikit. Pipinya kehilangan warna. Matanya tidak lagi menatap laptop, melainkan sesuatu jauh di balik meja.

*"Tolong... telepon dokter. Dr. Handoko. Nomornya di buku merah."*

*"Iya, Kak. Sebentar."*

Lalu hening.

Satu menit. Dua menit. Detak jam dinding di rekaman terdengar begitu keras di ruangan sempit itu. Pengacara Bram berhenti berbisik. Wajahnya mulai pucat.

*"Maaf, Kak. Maaf."*

Bram memejamkan mata.

Ketika nada sambung telepon akhirnya terdengar dan suaranya sendiri memekik panik, Komisaris Arief menekan tombol berhenti. Ruangan kembali sunyi, hanya dengung lampu neon yang tersisa.

"Itu rekaman yang dibuat asisten pribadi Pak Carlo, Raka Pradipta, atas perintah Anda," kata Komisaris Arief dengan suara datar. "Dua tahun lalu, ia menyimpan salinan dari sistem perekam di ruang kerja almarhum yang masih aktif. Anda lupa menonaktifkannya."

"Itu tidak sah sebagai bukti," pengacara itu tersendat. "Direkam tanpa izin..."

"Itu ruang kerja pribadi almarhum di rumah keluarga, dengan perangkat yang dipasang atas persetujuannya sendiri. Tim kami sudah memverifikasi." Komisaris Arief tak mengalihkan pandangan dari Bram. "Pak Bramantyo. Anda ingin mengatakan sesuatu?"

---

Hening yang menyusul begitu lama sampai Laras mengira Bram akan menolak bicara sama sekali.

Namun ketika ia akhirnya membuka mata, sesuatu telah hilang dari wajahnya. Bukan hanya senyum, tetapi seluruh bangunan keramahan yang ia rawat selama puluhan tahun. Yang tersisa adalah seorang lelaki enam puluhan yang tampak seperti telah dipaksa menanggalkan pakaian di depan banyak orang.

"Kakakku selalu mendapat segalanya," katanya pelan. Suaranya tak lagi hangat, tetapi juga tidak marah, hanya datar dan serak. "Anak pertama. Pewaris. Yang dipuji bapak kami. Aku hanya adik yang disuruh menjaga buku catatan."

"Om..." Carlo mulai, tetapi Komisaris Arief mengangkat tangan, dan Carlo terdiam.

"Aku bekerja dua kali lebih keras dari siapa pun di perusahaan itu," lanjut Bram, menatap meja. "Aku menemukan kontrak-kontrak terbaik. Aku menyelamatkan perusahaan saat krisis. Tapi di rapat, di foto, di pidato, yang disebut hanya namanya. Prasetiya Group. Padahal separuh dari bangunan itu adalah keringatku."

"Itu bukan alasan untuk mencuri," kata Laras pelan, nyaris tanpa nada.

Bram menoleh padanya, dan untuk sesaat, kilatan lama itu kembali, sinis dan getir. "Kamu dokter, sayang. Kamu dibayar untuk pekerjaanmu. Aku tidak pernah dibayar untuk apa yang kuberikan. Jadi aku mengambil bayaranku sendiri."

"Empat ratus miliar bukan bayaran, Om," kata Carlo, dan Komisaris Arief tidak menghentikannya kali ini. "Itu pencurian."

"Dan kamu menikmati hasilnya tanpa lelah." Bram menatap keponakannya lekat. "Kamu lahir dengan sendok emas, Carlo. Kamu tak pernah tahu bagaimana rasanya melihat bapakmu sendiri memandang kakakmu dengan bangga, dan memandangmu dengan rasa kasihan."

Hening. Carlo tak menjawab. Rahangnya mengeras, tetapi matanya tidak menyala marah. Ia hanya menatap pamannya seperti orang yang akhirnya melihat apa yang selalu ada di sana.

"Dan Ayah," kata Carlo akhirnya. Suaranya sangat pelan. "Ayahku. Dua menit, Om. Hanya dua menit."

Bram tidak segera menjawab. Tangannya yang tadi terlipat kini mengepal di atas meja, dan Laras melihat butiran keringat di pelipisnya.

"Aku tidak membunuhnya," bisiknya.

"Aku tidak menuduh Om membunuhnya." Carlo mencondongkan tubuh. "Aku hanya bertanya, kenapa Om diam?"

---

Pertanyaan itu menggantung lama di ruangan sempit itu.

Pengacara Bram menyentuh lengannya, berbisik, "Pak, jangan jawab. Saya mohon." Tetapi Bram menggeleng pelan, dengan gerakan orang yang sudah terlalu lelah untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

"Waktu dia batuk pertama, aku mengira dia hanya ingin mengalihkan pembicaraan," katanya. "Kakakku pintar memanipulasi. Dia tahu bagaimana membuat orang merasa bersalah."

"Dan batuk kedua?"

"Aku mulai takut. Tapi aku juga mulai berpikir." Ia menelan ludah. "Kalau dia meninggal malam itu, tidak ada yang akan membuka laporan audit. Tidak ada yang akan tahu. Dan aku... aku hanya perlu menunggu."

Sunyi.

"Aku hanya perlu menunggu beberapa menit," ulangnya, seolah kalimat itu baru terdengar jelas di telinganya sendiri. "Aku tidak menekan dadanya. Aku tidak mencekiknya. Aku hanya berdiri di sana dan tidak menelepon siapa pun. Itu bukan pembunuhan, kan? Itu hanya... tidak bertindak."

"Itu pembiaran, Pak," ujar Komisaris Arief tenang. "Dan di mata hukum, serta di mata saya, itu tidak lebih ringan."

Bram mengangguk pelan, seperti orang yang mendengar putusan atas dirinya sendiri.

Lalu, tiba-tiba, bahunya mulai bergetar.

Awalnya Laras mengira ia tertawa. Tetapi ketika Bram menutup wajah dengan kedua tangan, ia melihat air mata merembes di sela jari-jarinya, dan menyadari bahwa tawa itu bukan tawa.

"Dia bilang sesuatu sebelum meninggal," bisik Bram dari balik telapak tangannya. "Sesuatu yang tidak terekam."

Carlo menegang.

"Setelah rekaman terputus. Setelah dia berhenti memanggil buku merah." Suara Bram pecah. "Waktu aku sudah berdiri di depannya, tidak melakukan apa-apa, dia membuka mata. Dia menatapku. Dan dia tidak marah, Carlo. Dia hanya tersenyum, sedikit, dengan sisa tenaganya."

"Apa yang dia bilang?"

Bram menurunkan tangannya. Wajahnya basah, matanya merah, dan untuk pertama kalinya Laras melihat pria itu sebagai manusia yang sebenarnya, tidak lebih besar dari ketakutannya sendiri.

"Dia bilang, *Bram, jaga Carlo.*"

Ruangan itu seolah kehilangan udara.

"Itu kata-kata terakhirnya. Bukan untuk menyalahkanku. Bukan untuk mengutukku." Bram terisak. "Dia sudah tahu apa yang akan kulakukan, dan dia tetap memintaku menjaga anaknya. Dan aku..." Ia menutup mulut, tersedak sendiri. "Aku justru mencoba membunuhmu."

Carlo tak bergerak. Di sudut ruangan, Laras menggenggam lengan kursinya erat-erat, kuku-kukunya memutih.

Beberapa detik berlalu seperti berjam-jam.

Lalu Carlo berdiri, perlahan, dan melangkah ke meja. Pengacara Bram sempat menegang, tetapi Komisaris Arief hanya memperhatikan, tidak mencegah.

Carlo berhenti di seberang pamannya. Ia tidak menyentuhnya, tidak membentaknya. Ia hanya menatap pria itu, lama, dengan mata yang kini tidak lagi merah dan tidak lagi basah.

"Aku tidak akan membencimu, Om," katanya akhirnya.

Bram mendongak, tak percaya.

"Aku tidak punya energi untuk itu. Dan Ayah tidak akan menginginkannya." Suara Carlo tenang, nyaris lembut, dan justru karena itu jauh lebih menyakitkan daripada teriakan. "Tapi aku juga tidak akan memaafkanmu dengan cara yang membuatmu lolos. Kamu akan menghadapi pengadilan. Kamu akan mengatakan semua ini di depan hakim, dengan suara yang sama seperti yang kamu pakai hari ini."

Bram menunduk. Bahunya merosot.

"Dan setelah semuanya selesai," lanjut Carlo, "kalau kamu masih hidup dan masih ingin tahu apa yang terjadi pada perusahaan yang kamu bantu bangun, aku akan datang sekali. Hanya sekali. Untuk memberitahumu bahwa Prasetiya Group masih berdiri, dan bahwa namamu tercatat di dalam sejarahnya, bukan sebagai pencuri saja, tapi sebagai orang yang pernah ikut membangunnya."

Mata Bram membelalak. Air matanya jatuh, deras, tanpa suara.

"Itu satu-satunya hal yang bisa kuberikan atas nama Ayah," kata Carlo. "Karena dia memintamu menjagaku. Dan setidaknya, dengan cara kecil ini, aku akan menepati permintaannya untuk menjagamu."

Ia berbalik dan berjalan ke pintu tanpa menoleh lagi.

---

Di koridor, ia berhenti dengan satu tangan menempel di dinding, kepala tertunduk, napasnya tersengal seperti orang yang baru berlari jauh.

Laras menyusul di belakangnya dan tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sampingnya, memberi ruang, seperti dokter yang tahu bahwa kadang pasien tak butuh dihibur, hanya ditemani.

"Aku pikir aku akan berteriak," bisik Carlo akhirnya. "Aku pikir aku akan merobek meja itu."

"Tapi tidak."

"Tidak." Ia tertawa kecil, pecah dan lelah. "Aku hanya merasa kosong. Seperti sesuatu yang kubawa bertahun-tahun akhirnya diturunkan, dan tanganku belum terbiasa tanpa beban."

Laras menyentuh punggungnya sekilas. "Itu namanya berduka, Carlo. Bukan kosong."

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena tidak pergi." Carlo menoleh padanya. "Setelah semua yang kulakukan, kamu tetap datang. Kamu tetap duduk di sini."

Laras tersenyum samar, getir dan hangat sekaligus. "Aku tidak datang sebagai istrimu, Carlo. Aku datang sebagai seseorang yang pernah mengenal ayahmu. Dia selalu baik padaku, bahkan ketika aku masih mahasiswa kedokteran yang gugup bertemu keluarga besar."

Carlo menunduk, menyeka matanya dengan punggung tangan.

Di ujung lorong, bangku kayu tempat Andien menunggu tampak kosong. Hanya sebuah gelas teh yang masih mengepul tipis di atasnya, dan di sampingnya, secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang rapi dan sedikit gemetar.

*Ibu minta pulang ke penginapan untuk istirahat. Dien antar dulu. Nanti Dien kembali. Teh ini untuk Mas, jangan sampai dingin.*

Carlo membaca pesan itu dua kali. Lalu ia mengambil gelas teh itu, masih hangat di telapak tangannya, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum, kecil dan jujur.

---

*Bersambung ke Bab 23...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!