Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 24
Keheningan yang mencekam masih membungkus seluruh isi ballroom Hotel Grand Palace. Ratusan tamu undangan terpandang berdiri mematung dengan mata terbelalak lebar. Mereka menatap Profesor Edward yang sedang berlutut di atas panggung utama, memeluk sepotong akar tanaman kering berwarna cokelat kehitaman dengan kedua tangannya yang gemetar penuh pemujaan.
Kakek Surya berdiri terpaku di tempatnya. Wajah pria tua itu sangat pucat, seolah seluruh darah di tubuhnya baru saja disedot habis. Dada Kakek Surya naik turun dengan cepat, napasnya tersengal-sengal menahan guncangan hebat di jantungnya.
"T-tidak mungkin..." gumam Kakek Surya dengan suara mencicit yang hampir tak terdengar.
"Profesor, Anda pasti bercanda kan?!" jerit Martha dengan nada histeris, melangkah maju mendekati panggung dengan wajah panik. "Batang kayu kering kotor itu berharga ratusan miliar?! Nggak mungkin! Itu cuma rumput liar yang dibawa si benalu miskin itu buat bikin kekacauan!"
Profesor Edward mendongakkan kepalanya, menatap Martha dengan mata yang memancarkan kilatan amarah yang sangat tebal.
"Saya adalah kepala tim medis kehormatan dunia! Saya sudah meneliti ribuan jenis tanaman herbal langka selama lima puluh tahun!" bentak Profesor Edward dengan suara menggelegar, membuat Martha terperanjat mundur dua langkah. "Kalian pikir saya bodoh sampai tidak bisa mengenali wangi khas dan serat sel ajaib dari Akar Salju Murni?! Barang ini nyata, dan nilainya cukup untuk membeli seluruh aset keluarga kalian tanpa sisa!"
Mendengar penegasan dari pakar medis nomor satu di dunia itu, seluruh tamu di ballroom langsung riuh berbisik-bisik. Pandangan mereka yang tadinya penuh ejekan kini berubah menjadi kombinasi antara rasa syok, iri, dan ketakutan yang mendalam.
Kevin yang berdiri di sebelah Zico menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik ke arah tong sampah stainless steel yang masih terbuka. Otaknya yang licik mulai berputar kencang, berusaha mencerna situasi gila ini.
Bagaimana mungkin seorang gembel yang pakaian saja harus menumpang cuci di rumah mertuanya bisa memiliki obat ajaib bernilai ratusan miliar rupiah? Itu benar-benar tidak masuk akal.
Tiba-tiba, mata Kevin membelalak lebar saat sebuah pemikiran tebersit di kepalanya. Pria itu menyenggol lengan ibunya dengan penuh semangat.
"Ibu! Aku tahu! Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi!" seru Kevin dengan suara agak keras, menarik perhatian semua orang di panggung.
"Apa maksudmu, Kevin?! Bicara yang jelas!" desak Martha dengan wajah panik dan penuh rasa ingin tahu.
"Nggak mungkin Theodore si benalu itu yang punya barang ini!" Kevin menunjuk-nunjuk panggung dengan wajah penuh keyakinan. "Mana ada gembel jalanan punya akses ke obat langka dunia?! Ini pasti semuanya perbuatan Yevone!"
Mendengar nama Yevone disebut, Kakek Surya langsung menoleh cepat. "Yevone?"
"Iya, Kek! Coba Kakek pikir pakai logika!" Kevin menjelaskan dengan berapi-api, melangkah mendekati Kakek Surya. "Yevone kan baru saja dapat suntikan dana hibah misterius sebesar lima puluh miliar rupiah untuk perusahaannya tempo hari! Dia pasti meminjam uang lagi dan menggunakan seluruh koneksi bisnis barunya demi membeli obat ajaib ini buat kado ulang tahun Kakek!"
Martha yang mendengar penjelasan anaknya seketika mendapatkan pencerahan gila. Wajahnya yang tadinya pucat pasi mendadak kembali memerah cerah, seolah baru saja menemukan jalan keluar dari lubang kehinaan.
"Benar! Kamu seratus persen benar, Kevin!" jerit Martha penuh euforia sambil menepuk tangannya keras-keras. Ia berbalik menatap Kakek Surya dan Profesor Edward dengan senyuman lebar. "Itu pasti kerjaan Yevone! Anak gadis saya itu memang sangat berbakti pada kakeknya! Dia rela berutang ratusan miliar demi menyembuhkan penyakit paru-paru Kakeknya!"
"Lalu kenapa si gembel itu yang membawa kotaknya?" tanya salah satu pengusaha di barisan depan dengan dahi berkerut bingung.
"Ah, itu sudah pasti!" Martha mengibaskan tangannya dengan gaya angkuh, kembali ke sifat aslinya. "Si benalu Theodore itu pasti sengaja mencuri kotak hadiah milik Yevone dari dalam mobil! Dia sengaja maju sendirian ke panggung buat mencuri perhatian dan mengklaim kalau obat mahal itu adalah pemberian dari dirinya! Dasar pria parasit tak tahu malu!"
"Benar sekali!" tambah Zico yang tidak mau kehilangan muka di depan umum. Pemuda itu tertawa meremehkan. "Mana mungkin pria gembel yang biasa ngepel lantai rumah Mahendra bisa beli Akar Salju Murni? Yevone pasti malu membawanya sendiri, lalu si benalu memanfaatkan kesempatan itu buat cari muka di depan Kakek!"
Mendengar penjelasan rasional yang dibuat-buat oleh anak dan cucunya, rasa sesak di dada Kakek Surya seketika menghilang. Pria tua itu menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Harga dirinya yang tadinya nyaris hancur berkeping-keping kini kembali tegak berdiri.
Mana mungkin ia harus berlutut atau berutang budi pada seorang menalu miskin seperti Theodore? Penjelasan bahwa Yevone yang membeli obat itu jauh lebih masuk akal dan menyelamatkan muka keluarga Mahendra di hadapan ratusan tamu terpandang.
"Cucuku Yevone... anak itu benar-benar luar biasa," puji Kakek Surya dengan suara bergetar haru, mengelus dadanya sendiri. "Dia rela berkorban begitu besar demi kesehatan kakeknya, tapi si benalu itu malah nyaris merusak semuanya!"
Profesor Edward yang sedang membersihkan debu dari permukaan Akar Salju Murni menggunakan saputangan sutranya hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar perdebatan keluarga itu. Pria tua itu tidak peduli siapa yang berutang atau siapa yang mencuri klaim. Yang terpenting baginya adalah obat legenda ini berhasil diselamatkan dari dalam tempat sampah.
"Saya tidak peduli urusan rumah tangga kalian yang rumit ini!" tegur Profesor Edward dengan suara tegas, menatap Kakek Surya tajam. "Yang jelas, obat ini harus segera disimpan di dalam wadah steril berkulit giok dengan suhu teratur. Jika Anda meminum ekstrak obat ini malam ini juga, saya jamin penyakit paru-paru Anda akan sembuh total esok pagi!"
"Terima kasih banyak, Profesor! Terima kasih!" Kakek Surya membungkuk berkali-kali dengan wajah berseri-seri. "Kevin, cepat siapkan wadah paling mahal di hotel ini! Jangan sampai obat pemberian Yevone ini rusak!"
"Siap, Kek!" Kevin berlari cepat menuju belakang panggung untuk menjalankan perintah.
Martha buru-buru merogoh tas tangannya, mengambil ponsel pintarnya dengan jari-jari yang gemetar gembira. "Saya akan telepon Yevone sekarang juga! Anak itu harus segera kembali ke pesta buat menerima penghargaan dari Kakek!"
***
Sementara itu, di dalam sebuah sedan tua yang sedang melaju perlahan membelah jalanan malam kota yang sepi.
Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat hening. Yevone duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Air matanya sudah berhenti mengalir, menyisakan jejak kepedihan yang mendalam di wajah cantiknya. Tangannya meremas gaun merah marun yang dikenakannya dengan erat.
Theodore fokus memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya terulur mengelus lembut jemari istrinya.
"Sudah, jangan menangis lagi," ucap Theodore dengan suara sangat lembut dan menenangkan. "Keluargamu memang belum bisa melihat nilai dari apa yang kita berikan."
"Aku bukan menangisi hadiah itu, Theo," pisk Yevone parau, menoleh menatap suaminya. "Aku cuma sakit hati melihat Kakek dan Ibu terus-menerus memperlakukanmu seperti kotoran. Padahal kamu datang dengan niat baik..."
Belum sempat Theodore membalas ucapan istrinya, ponsel pintar Yevone di atas paha tiba-tiba berdering nyaring. Nama 'Ibu' tertera jelas di layar yang menyala terang.
Yevone menghela napas panjang, mengusap sisa air mata di pipinya sebelum menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Bu—"
"Yevone! Anakku sayang! Kamu ada di mana sekarang?!" suara Martha melengking keras dari seberang saluran telepon, memotong ucapan Yevone dengan nada yang sangat manis dan penuh semangat.
Yevone mengernyitkan dahinya bingung. Perubahan sikap ibunya yang mendadak menjadi sangat ramah sungguh terasa aneh dan ganjil.
"Aku lagi di jalan pulang sama Theo, Bu," jawab Yevone datar. "Ada apa lagi? Kan Kakek sendiri yang sudah mengusir kami dari pesta."
"Aduh, Yevone! Itu cuma salah paham kecil!" cerocos Martha dari seberang sana dengan nada menggebu-gebu. "Kenapa kamu nggak bilang dari tadi kalau obat herbal Akar Salju Murni yang harganya ratusan miliar itu sebenarnya kado dari kamu buat Kakek?!"
Mata Yevone seketika terbelalak lebar. Langkah kakinya yang menginjak lantai mobil mendadak tegang. "Obat... ratusan miliar apa maksud Ibu?!"
"Nggak usah pura-pura rendah hati lagi, Yev!" tawa Martha terdengar membahana dari telepon. "Profesor Edward sendiri yang bilang kalau obat herbal yang kamu beli itu harganya ratusan miliar dan bisa nyembuhin paru-paru Kakek! Kakekmu senang banget sampai menangis terharu!"
"Bu, tunggu dulu! Aku sama sekali nggak pernah—"
"Sudah, kamu nggak usah banyak alasan lagi!" potong Martha cepat. "Cuma satu yang bikin Ibu jengkel. Kenapa kamu suruh si gembel Theodore itu yang bawa kotaknya ke panggung?! Pria parasit itu nyaris saja membuang obat mahalmu ke tempat sampah dan mencuri namamu! Cepat putar balik mobilmu dan datang ke pesta sekarang, Kakek mau memuji kehebatanmu di depan semua tamu!"
Klik.
Sambungan telepon terputus secara sepihak oleh Martha tanpa memberikan kesempatan bagi Yevone untuk mejelaskan keadaan yang sebenarnya.
Yevone mematung di kursinya. Ponsel di tangannya perlahan merosot turun. Matanya melotot menatap lurus ke depan dengan napas yang tertahan.
Akar Salju Murni... obat langka bernilai ratusan miliar rupiah... yang sanggup menyembuhkan penyakit kronis dan berasal dari penguasa dunia bawah?
Secara perlahan dan kaku, Yevone memutarkan kepalanya ke samping kiri. Pandangannya terkunci pada sosok suaminya yang sedang mengemudi dengan santai.
Theodore melirik sekilas ke arah Yevone dari sudut matanya. Seulas senyum tipis—sangat tipis dan penuh misteri—tersungging manis di bibirnya, seolah ia sudah menduga jalan pikiran keluarganya yang sangat konyol itu sejak awal.