NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: KETUA PERGURUAN

"Selain kemampuan-kemampuan yang tadi dijelaskan, masih banyak kemampuan lain yang bisa kamu pahami sendiri nanti. Kami telah meninggalkan serpihan-serpihan ingatan dan pengalaman di lautan kesadaran mu. Dengan itu kamu bisa mempelajarinya sendiri perlahan-lahan. Sekarang semuanya telah selesai, saatnya kamu kembali ke dunia mu," kata ketiga binatang legendaris itu bersamaan dengan suara yang menggema di lautan awan merah.

"Baiklah, aku ucapkan terima kasih banyak atas pemberian kalian ini. Aku pergi dulu, sampai jumpa lagi," kata Bima singkat lalu,

"Wusssshhht..."

Bima menghilang dari tempat itu. Dan ia pun terbangun dari meditasinya di lantai atas Joglo Taman Anggrek Putih.

"Tuan, selamat Tuan atas warisan barunya. Sekarang sepertinya tidak ada yang bisa mengalahkan Tuan di Alam Fana ini," kata Ayu Lestari, sang Roh Pedang, memberikan selamat kepada tuannya dengan penuh kebanggaan dari dalam lautan jiwa.

"Meskipun aku kuat, aku tetap harus jadi manusia yang rendah hati, Ayu. Kita tidak tahu apa yang akan menjadi lawan kita di masa depan, bukan kah di atas langit masih ada langit," kata Bima dengan rendah hati, matanya menatap jauh ke arah Gunung Lawu.

"Tuanku benar-benar berbudi luhur, aku sungguh senang bisa menjadi pengikut mu," kata Ayu Lestari lagi.

"Aku pun senang memiliki mu yang cerdas dan setia ini," ujar Bima memuji Ayu Lestari seraya tersenyum hangat.

Saat sedang bersantai menikmati teh hangat di joglo tempat tinggalnya, tiba-tiba Bima merasakan sebuah aura yang cukup kuat mendekat dari arah gerbang utama Perguruan Anggrek Putih.

Bima menerawang dengan Mata Phoenix Api Nirvana nya yang baru. Ternyata ada sepasang laki-laki dan perempuan paruh baya yang mendekat dengan langkah yang berwibawa. Kultivasi mereka cukup tinggi, sudah mencapai Alam Bumi tingkat akhir.

"Kultivasi mereka cukup tinggi, siapa mereka...?" gumam Bima dalam hati.

Setelah beberapa saat, di gerbang perguruan, sepasang orang itu berjalan masuk. Para penjaga gerbang yang melihat mereka langsung berlutut seraya berkata, "Hormat kepada Ketua Perguruan...!"

Tak lama kemudian, Amelia dan Intania pun muncul dari dalam dan menghampiri mereka dengan berlari kecil.

"Ayah, Ibu, syukurlah kalian sudah kembali," sapa Amelia dan Intan dengan bahagia.

Pasangan paruh baya itu, yang ternyata adalah Ayah dan Ibu mereka, terkejut melihat ke arah Amelia.

"Amelia, bukannya saat kami pergi ke Kota Solo untuk mencari tabib kemarin kamu masih sakit tak sadarkan diri...?" tanya ibunya dengan kaget dan tidak percaya.

"Iya, Ayah, Ibu, tapi sekarang Kak Amelia sudah sembuh total," jawab Intan dengan gembira sambil memeluk kakaknya.

"Wah, bagus sekali. Apakah kamu berhasil mendapatkan Empedu Kadal Api itu, Intan...?" tanya Ibu Intania.

Intan menunduk dan menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Ibu. Saat mencari kadal itu di hutan Lawu, kami malah diserang oleh Rajanya. Sungguh mustahil untuk kami berlima mengalahkannya. Tapi saat kami di ambang kematian dan hampir menyerah, datang seorang pemuda tampan yang menolong kami. Dia hanya memberi satu pukulan pelan kepada kadal itu, kepala kadal itu langsung hancur seketika," ujar Intania bercerita dengan pipi yang sedikit memerah saat mengingat Bima.

"Iya, Ibu, Ayah. Setelah sampai di perguruan, saat Mbah Wiro mau menggunakan empedu kadal itu untuk mengobati ku, pemuda itu juga yang bilang kalau empedu itu tidak bisa menyembuhkan ku, hanya bisa meredakan sakitnya sesaat, setelah itu akan kambuh jauh lebih parah. Akhirnya dia sendiri yang mengobati ku dengan jarum sakti sampai sembuh seperti yang sekarang Ayah dan Ibu lihat," ujar Amelia sambil tersenyum bahagia dan menatap ke arah joglo taman.

"Wahhh...! Hebat sekali orang itu. Di mana dia sekarang...? Kami harus berterima kasih secara langsung kepada nya," ucap Ayah Intania dengan penuh semangat dan rasa penasaran.

"Dia ada di joglo pagoda di taman perguruan, Ayah," kata Intania dengan cepat.

Sepertinya putri ku yang kecil ini menyukai pria itu. Setiap membicarakan dia, putri ku yang satu ini sangat bersemangat sampai pipinya terlihat memerah," kata Ibu Intan menggoda putrinya dengan senyum jail.

"Aaaaa, Ibu jangan menggoda ku ah, aku hanya mengaguminya sebagai pendekar hebat," sangkal Intan dengan malu-malu sambil menutupi wajahnya.

"Ya sudah, ayo kita ke dalam, Ibu ingin bertemu dengan penyelamat putri-putri Ibu," ajak Ibu Intan sambil tertawa kecil.

Sesampainya di dalam pendopo utama perguruan, Ayah Intan yang bernama Pak Wijaya Kusuma, segera meminta Amelia dan Intan untuk memanggil Bima.

Intan pun langsung dengan penuh semangat pergi ke tempat Bima, sekarang dia punya alasan resmi untuk menemui pria yang membuat jantungnya berdebar itu. Setelah tiba di taman, mereka melihat Bima yang sedang duduk santai sambil menyeruput teh jahe di tepi kolam ikan koi.

"Bimaaaaa...!" sapa Intan dengan suara manja dari kejauhan. Amelia hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu yang sangat berbeda dari biasanya.

"Heeyyy, ada apa Intan, apa kau merindukan ku...?" goda Bima pada Intan dengan senyum nakalnya yang khas.

Intan pun langsung mencubit lengan Bima dengan gemas.

"Siapa yang merindukan mu, aku dan Kak Amelia diperintah Ayah untuk membawa mu menghadap Ayah di pendopo utama," kata Intan beralasan, padahal matanya tidak bisa bohong.

"Ada apa, Ayah mertua ingin menemui ku...?" kata Bima yang terus mengoda Intan tanpa ampun.

Mendengar itu, wajah Intania memerah seperti buah tomat matang. "Bima, kamu nakal sekali, jangan panggil Ayah ku dengan sebutan itu di depan orang banyak...!" kata Intan yang salah tingkah setengah mati.

Melihat mereka yang terus bercanda mesra, Amelia pun segera mengajak mereka pergi agar tidak semakin lama digoda.

Dari kejauhan pintu pendopo, terlihat Intania yang tanpa sadar menggandeng tangan Bima dengan erat.

Melihat itu, Ibu Intan yang bernama Bu Lastri berbisik pelan kepada suaminya.

"Suami ku, sepertinya putri kecil kita sudah jatuh hati kepada pemuda ini. Tapi memang pemuda ini sungguh tampan dan berwibawa ya, Suami ku," kata Ibu Intan.

Ketua perguruan itu menjawab sambil tersenyum bijak menatap Bima dan kedua putrinya.

"Penglihatan putri kita memang bagus. Padahal selama ini banyak putra-putra tuan tanah dan pendekar dari Karanganyar dan Solo yang mendekatinya, tidak pernah ia hiraukan sama sekali. Baru kali ini ia terlihat seperti ini," kata Ketua Perguruan sambil tersenyum ke arah Bima.

Setelah sampai di depan Ketua Perguruan, Amelia dan Intan memberi hormat dengan sopan. Bima pun ikut memberi hormat dengan gaya pendekar Jawa yang santun.

"Anak muda, nama ku Wijaya Kusuma dan ini istri ku Lastri," ujar Ketua Perguruan itu dengan ramah.

"Siapa nama mu, Anak Muda...?" tanya Bu Lastri dengan senyum keibuan.

"Nama saya Bima Samudra, tapi panggil saja Bima, Bu, Pak," kata Bima jujur apa adanya.

"Nama yang bagus, gagah seperti orangnya. Anak muda, aku sudah mendengarkan semua tentang pertolongan mu terhadap putri-putri ku dari penjaga gerbang dan dari Mbah Wiro. Aku sangat berterima kasih kepada mu. Sebagai ucapan terima kasih ku, katakanlah hadiah apa yang kau mau. Selagi aku bisa, aku pasti akan mengabulkannya," ujar Ketua Perguruan dengan yakin dan tulus.

"Tuan Wijaya tidak perlu sungkan. Bagi saya, selagi saya mampu menolong sesama, itu adalah suatu keharusan. Saya tidak mengharapkan apa pun dari bantuan yang saya berikan," jelas Bima dengan santai namun penuh ketulusan.

Semua orang di pendopo itu sangat kagum dengan prinsip yang dimiliki Bima di usianya yang masih sangat muda.

Pak Wijaya lalu melirik putri-putrinya yang pipinya masih memerah, lalu berkata dengan nada setengah bercanda dan setengah serius.

"Bagaimana jika putri ku ini, apa kau menginginkannya...? Aku lihat putri ku Intan sangat menyukai mu," tawar Ketua Perguruan itu, karena ia tahu putrinya memang menyukai Bima.

Sontak, Bima kaget bukan main di dalam hatinya, hampir tersedak tehnya, tapi ia tetap berusaha terlihat tenang dan menjaga wibawanya. Mendengar ucapan ayah mereka, wajah Amelia dan Intan pun sontak memerah seperti kepiting rebus, ingin rasanya mereka masuk ke dalam tanah karena malu.

"Tidak, Tuan, saya tidak bisa menerima hadiah seperti itu," jawab Bima dengan sopan sambil menundukkan kepala.

Semua orang di tempat itu kaget tidak percaya Bima menolak tawaran untuk menjadi menantu Ketua Perguruan Anggrek Putih yang begitu cantik dan terpandang di Karanganyar.

"Kenapa, Bima...? Apa putri-putri ku tidak cantik di mata mu...?" tanya Ketua Perguruan yang penasaran.

"Bukan begitu, Tuan, justru mereka berdua sangat cantik, baik hati, dan berhati mulia. Siapa pun pria di dunia ini pasti mau," kata Bima dengan jujur.

"Lalu kenapa kamu menolak, Nak...?" tanya Ketua Perguruan yang semakin penasaran.

"Banyak hal yang membuat saya harus menolak dengan hormat, Pak," kata Bima dengan nada yang menjadi lebih serius.

"Apa itu...? Coba jelaskan pada kami," tanya Ketua Perguruan.

"Saya ini hanya seorang pengembara yang sedang tersesat dalam perjalanan mencari jati diri. Saya tidak mempunyai tujuan yang jelas, apalagi jabatan dan harta. Mana pantas orang seperti saya untuk menjadi pendamping putri Ketua Perguruan yang terhormat. Suatu saat saya pasti akan melanjutkan perjalanan saya kembali ke Gunung Lawu dan mungkin ke kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya untuk menyelesaikan tugas dari Guru saya. Kehidupan saya di luar sana sangat berbeda dan keras," kata Bima menjelaskan alasannya dengan sangat dewasa.

Mendengar penjelasan Bima yang begitu bijaksana, Ketua Perguruan hanya mengangguk pelan, memahami kebesaran hati pemuda di depannya.

"Baiklah, aku mengerti prinsip mu, Anak Muda. Aku sangat menghargai itu," kata Pak Wijaya.

"Baiklah, malam ini akan diadakan jamuan besar di pendopo sebagai ucapan terima kasih kepada Bima Samudra, sekaligus aku ingin memberitahukan berita penting kepada kalian semua tentang masa depan Perguruan Anggrek Putih. Undang semua petinggi dan murid-murid perguruan untuk hadir nanti malam," kata Ketua Perguruan dengan suara lantang.

Selesai menyampaikan semua itu, Ketua Perguruan membubarkan mereka semua untuk bersiap-siap.

Saat semua orang sudah pergi, Bima menahan Intan dan Amelia.

"Apa kalian berdua sibuk sekarang...?" tanya Bima pada Intan dan Amelia.

"Tidak, memang ada apa...?" tanya Intania.

"Aku mau mengajak kalian bersantai sebentar di taman joglo ku, menikmati senja. Boleh...?" tanpa aba-aba, Bima membawa mereka berdua terbang pelan dengan Teknik Bayu Ringan menuju taman tempat tinggalnya yang indah.

Setelah sampai di taman, Amelia bertanya dengan penasaran, "Kenapa harus di sini, Bima...?"

"Karena tempat ini cukup indah dan tenang. Aku tidak tahu kapan aku akan kembali ke padepokan asal ku di puncak Lawu, jadi selagi bisa, aku ingin menghabiskan waktu yang indah bersama kalian berdua, dua sahabat baru ku yang cantik," kata Bima sambil mengedipkan mata genitnya dengan gaya kocaknya.

"Sungguh pandai berkata manis. Jika sikap mu seperti ini kepada semua wanita, mereka semua pasti akan langsung takluk pada mu," ujar Intania sambil mengerucutkan bibirnya dengan gemas, pura-pura cemburu.

"Benarkah...?" tanya Bima dengan cepat mendekatkan wajahnya. "Jika begitu, apakah kamu juga sudah takluk...?"

Sebelum Bima menyelesaikan kata-katanya, Intan sudah menutup mulut Bima dengan tangan mungilnya yang harum dengan wajah yang sangat merah.

"Dasar gombal...! Jangan lanjutkan...!" kata Intan dengan suara kecil.

Amelia yang melihat tingkah adiknya hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan mereka berdua. Senja di Desa Ngargoyoso sore itu terasa begitu hangat, indah, dan penuh dengan tawa.

Di atas joglo itu, tiga anak muda sedang menikmati momen kebersamaan yang mungkin tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!