FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecat Saya Sekarang
"Tuan Muda? Ada apa?" tanya Nakula.
Noah tidak menjawab Nakula. Pandangannya tidak teralih sedikit pun dari sosok wanita di hadapannya. Pria itu melangkah maju dengan perlahan namun penuh intimidasi yang mematikan. Setiap langkah kakinya terasa bagaikan bunyi lonceng kematian bagi Raina.
Raina makin menundukkan kepala, meremas jemarinya sendiri. "M-maaf, Tuan Muda... Saya... Saya cuma sedang membersihkan meja..." suara Raina lirih dan bergetar pelan.
"Angkat wajahmu," perintah Noah. Suaranya datar, namun mengandung penekanan yang amat dingin dan tidak bisa dibantah.
Raina memejamkan mata rapat-rapat. Dia tahu, pelariannya telah usai. Kebohongan yang dia susun rapat-rapat runtuh hanya dalam hitungan detik di depan sang pemilik masa lalu.
Dengan perlahan, sangat perlahan, Raina menegakkan kepalanya. Dia memberanikan diri menatap tepat ke dalam manik mata hitam milik pria yang pernah menjadi seluruh dunianya.
Empat mata bertatapan.
Tatapan penuh luka, rasa bersalah, dan ketegaran dari mata jernih Raina, beradu dengan tatapan kebencian, kekecewaan, dan kehampaan yang membakar dari mata elang Noah.
"Raina... Angela..." bisik Noah, menyebut nama lengkap itu dengan nada hina yang teramat pahit.
Nakula terbelalak kaget saat mendengar nama itu terucap dari bibir bosnya. Pria itu langsung menyadari siapa wanita berseragam pembantu di hadapannya ialah wanita dari masa lalu yang membuat Noah berubah menjadi manusia es selama lima tahun terakhir.
Tuan Muda..." tegur Nakula pelan, merasakan aura berbahaya yang mulai menguar dari tubuh Noah.
Noah mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat tanpa menoleh. "Nakula. Keluar. Kunci pintunya dari luar." perintah Noah dengan tegas.
"Tapi Pak, rapat kita..." ucapnya terpotong.
"KELUAR!" bentak Noah dengan suara menggelegar yang sanggup menggetarkan kaca-kaca jendela ruang kerja.
Nakula menelan ludah, menatap Raina dengan pandangan prihatin seraya melangkah mundur keluar ruangan, lalu menutup pintu tebal itu rapat-rapat.
Kini, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan yang luas itu.
Noah melangkah makin mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu meter. Pria itu menatap dari atas ke bawah pakaian apron abu-abu lusuh yang dikenakan Raina, lalu menatap paras mulus wanita yang lima tahun lalu menghempaskan hidupnya ke titik terendah.
"Luar biasa..." Noah terkekeh sinis, sebuah tawa dingin yang menyayat hati. "Benar-benar luar biasa takdir ini." sahutnya lagi dengan nada yang begitu mengejek.
Raina menahan napas, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. "N-Noah... aku..."
"Jangan sebut namaku dengan mulut murahannmu itu!" potong Noah tajam bagaikan silet. Matanya berkilat penuh amarah.
"Apalagi yang sedang kamu rencanakan, Raina?! Setelah lima tahun hilang membawa uang pria lain, sekarang kamu menyusup ke rumah keluargaku sebagai seorang pembantu?!" bentak nya dengan begitu kasar.
Kata-kata itu menghantam ulu hati Raina bagaikan batu raksasa. Air mata Raina mengumpul di pelupuk mata, namun dia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh di depan pria ini.
"Aku tidak menyusup, Noah..." jawab Raina dengan suara serak yang dipaksakan tegar. "Aku tidak tahu kalau rumah ini adalah rumah keluargamu. Aku cuma butuh pekerjaan..." lirihnya mencoba memberikan alasan walau Raina tahu tak tersebut akan sia-sia saja.
"Pekerjaan?!" Noah maju satu langkah lagi, terkekeh penuh penghinaan.
"Wanita gila harta seperti kamu... yang dulu mencampakkanku karena perusahaan keluargaku hampir bangkrut dan memilih pria kaya lain... sekarang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumahku?! Kamu pikir aku bakal percaya cerita konyolmu itu?!" serunya dengan amarah yang tidak bisa dia tahan.
Noah cengkeram lengan atas Raina cukup kuat, memaksa gadis itu menatap wajahnya yang dipenuhi amarah pekat.
"Katakan padaku!" gertak Noah dengan tatapan membunuh. "Berapa banyak uang yang kamu butuhkan sampai kamu nekat merendahkan dirimu datang ke sini?! Apa pria kayamu itu sudah bangkrut dan membuangmu seperti sampah, sampai kamu harus mengemis pekerjaan di rumah pria yang dulu kamu hina?!" ucapan Noah begitu menghina Raina.
Raina memejamkan mata, merasakan sakit di lengannya bersatu dengan rasa hancur di dalam dadanya. Dia ingin berteriak, ingin menceritakan bahwa dia tidak pernah punya pria lain, bahwa dia melakukan semua ini demi membayar hutang almarhum ayahnya dan menyelamatkan nyawa adiknya dan menyelamatkan Noah dari kehidupan nya yang berantakan ini.
Namun, ketika melihat tatapan Noah yang dipenuhi benteng es tebal, Raina menyadari satu hal yaitu menceritakan kebenaran sekarang hanya akan membuat Noah menganggapnya sedang menjual kesedihan.
Raina membuka matanya kembali. Tatapannya berubah menjadi sangat tegar, meskipun air mata menetes perlahan di pipinya.
"Kalau Tuan Muda merasa terganggu dengan keberadaan saya di sini..." ujar Raina dengan nada formal yang sangat dingin, "Tuan Muda bisa pecat saya sekarang juga. Saya akan angkat kaki dari rumah ini detik ini juga bersama adik saya." ucap Raina berusaha tegar.
Noah terpaku. Tangannya yang mencengkeram lengan Raina bergetar pelan saat mendengar panggilan formal 'Tuan' dari bibir wanita yang dulu amat dicintainya.
Dua pasang mata itu saling mengunci dalam keheningan yang menyiksa.
Cengkeraman tangan Noah di lengan atas Raina perlahan mengendur, namun tatapan mata elangnya tidak melunak sedikit pun. Dingin, tajam, dan sarat akan kebencian yang telah mengendap selama lima tahun.
Mendengar kata "Tuan Mhda" terucap dari bibir Raina, ada bagian di dalam dada Noah yang terasa berdenyut nyeri. Namun rasa gengsi dan amarah yang membakar jiwanya dengan cepat membakar habis rasa nyeri itu.
Raina berdiri tegak di depan Noah. Meskipun bahunya bergetar dan air mata membasahi pipinya, pandangan matanya memperlihatkan ketegaran sosok wanita yang sudah terbiasa dihantam badai kehidupan.
"Pecat saya, Tuan Muda," bisik Raina lagi, suaranya kini terdengar pasrah namun mantap. "Kalau kehadiran saya di rumah ini cuma merusak pemandangan dan mengusik ketenangan Tuan Muda... pecat saya sekarang. Saya akan pergi." seru Raina.
Noah menatap wanita di hadapannya dengan kekehan sinis yang sangat dingin. Pria itu mundur satu langkah, merapikan kemeja putihnya yang tidak kusut, lalu bersedekap dada.
"Pergi?" tanya Noah dengan nada meremehkan.
"Setelah kamu masuk ke rumahku, membuat mamaku memuji kebaikanmu setinggi langit, dan berpura-pura menjadi sosok gadis polos yang teraniaya... kamu pikir bisa melangkah keluar dari gerbang rumah ini begitu saja?" ejeknya, entah apa yang sedang direncakan pria itu.
Raina mengerutkan dahinya bingung. "Maksud Tuan muda apa?" tanya Raina.
"Kamu mau lari lagi, Raina?" tembak Noah tajam, tatapannya menghujat.
"Dulu kamu pergi begitu saja setelah menghancurkan hatiku dan menginjak-injak harga diriku. Sekarang, saat takdir menyeretmu kembali ke hadapanku dalam keadaan melarat seperti ini... kamu mau lari lagi sebelum membayar semua rasa sakit yang pernah kamu berikan?" ucap Noah.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah