NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Hari Pertama Kerja

Valeska berjalan lambat menuju area luar kafe, memilih duduk di bangku kayu dekat pos parkiran sesuai arahan Elang. Dia mendekap kedua lututnya, menatap keramaian pengunjung kafe dari balik kaca transparan.

Melihat anak-anak muda seusianya tertawa riang sambil menikmati kopi dan kue-kue mahal membuat dadanya kembali berdenyut perih. Dulu, dia ada di posisi mereka—memesan tanpa melihat harga, tertawa tanpa beban, dan menganggap tempat seperti dapur kafe adalah dunia yang sama sekali tak terjangkau oleh jemarinya. Tapi esok sore, dia sendiri yang harus berdiri di balik apron, membersihkan sisa-sisa makanan mereka.

Tepat tiga puluh menit kemudian, Elang berjalan mendekatinya dengan jaket yang sudah terpasang rapi dan helm di tangan.

"Ayo," panggil Elang singkat, menyodorkan helm cadangan.

Valeska mengambil helm itu tanpa membantah. Sepanjang perjalanan pulang menembus kemacetan sore, Valeska memilih bungkam, menyandarkan kesadarannya pada embun angin malam yang mulai menusuk tulang.

Motor Elang akhirnya berhenti di depan mulut Gang Mawar. Jalanan gang yang sempit membuat sinar lampu motor memantulkan genangan air di sela-sela lantai semen yang retak.

Valeska turun perlahan, melepas helm dan menyerahkannya kembali. "Makasih," bisik Valeska pelan, hampir tak terdengar.

Elang menerima helmnya, menatap wajah lelah Valeska yang masih tampak sembap. "Besok habis bel pulang, langsung ke parkiran. Jangan bikin gue nunggu, apalagi bolos."

Valeska cuma mengangguk tipis. Tanpa kata-kata ketus seperti biasanya, dia berbalik dan melangkah masuk menelusuri gang sempit menuju kontrakannya.

Keesokan harinya, suasana SMA Nusantara berjalan seperti biasa—dingin dan penuh intimidasi bagi Valeska. Bisik-bisik ejekan dari Jena, Giselle, dan Clarissa masih terus menyerangnya setiap kali berpapasan, tapi Valeska memilih menutup rapat telinganya. Fokusnya hanya satu: bertahan sampai bel pulang berbunyi demi mempertahankan sekolahnya.

Begitu bel jam terakhir berkumandang, Valeska langsung membereskan tasnya cepat-cepat. Dia berjalan menunduk menuju area parkiran motor, menemukan Elang yang sudah menunggunya sambil bersiap-siap.

Sesampainya di kafe Kopi Senja, Elang langsung membawa Valeska ke ruang staf belakang. Dia menyodorkan sebuah apron kain warna hitam polos dan sepasang sarung tangan karet tipis.

"Pakai ini," instruksi Elang tegas. "Di area dapur basah, lantai serba licin. Kerja cepat tapi jangan ceroboh. Piring di sini mahal, pecah satu potong dari gaji lo."

Valeska menerima apron itu dengan tangan gemetaran. Saat mengikatkan tali apron di pinggangnya sendiri, rasa asing dan sesak menghantam dadanya. Untuk pertama kalinya, seorang Valeska Aurelia memakai seragam pekerja kasar.

Elang membawanya ke sudut dishwasher—area bak cuci piring besar berbahan stainless steel yang sudah dipenuhi tumpukan piring, gelas kotor, serta peralatan sisa racikan dapur. Bau amis sisa makanan dan saus langsung menyengat hidungnya.

Valeska refleks mundur satu langkah, menutup hidungnya dengan raut mual. "Euh... bau banget..."

"Sisa makanan emang bau," tanggap Elang dingin sambil menyalakan kran air bertekanan tinggi. "Langkah pertama, buang sisa makanan di piring ke tempat sampah ini. Setelah itu siram pakai air hangat, gosok pakai sabun dan spons cair, terus bilas sampai enggak licin. Faham?"

Valeska menelan ludah pait, menatap tumpukan piring kotor yang rasanya tak ada habisnya itu. "Gue... gue harus pegang sisa makanan orang lain?"

Elang menghentikan gerakannya, menatap Valeska lurus-lurus tanpa belas kasihan. "Kalau kagak mau pegang, lo bisa buka apron lo sekarang, keluar dari kafe ini, terus tunggu surat keluar dari Pak Bambang minggu depan. Pilihan di tangan lo, Val."

Valeska mematung. Ia menatap tumpukan piring kotor itu, lalu memejamkan mata erat-erat untuk menguatkan mentalnya.

Dengan napas terengah dan jemari bergetar hebat, Valeska menarik sepasang sarung tangan karet tipis lalu memasukannya ke tangan. Dia meraih piring pertama yang dipenuhi sisa saus pasta dan minyak. Rasa geli dan mual langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, tapi bayangan surat keluar dari Pak Bambang membuat tangannya tetap bertahan.

Dia membuang sisa makanan itu ke tempat sampah, menyiramnya dengan air hangat, lalu menggosoknya menggunakan spons berbusa.

"Jangan terlalu kencang tekan sponsnya," tegur Elang dari sampingnya, suaranya melunak sedikit. "Kertas permukaan spons itu kasar, bisa bikin piring bergores. Cukup usap berputar sampai minyaknya hilang."

Valeska mengikuti instruksi Elang tanpa membantah sepatah kata pun. Air matanya menetes pelan, menyatu dengan busa sabun dan kucuran air kran yang mengalir. Punggungnya mulai terasa pegal, dan jemari tangannya yang biasa dirawat rapat kini basah kuyup oleh air sabun.

Elang tidak meninggalkannya. Cowok itu berdiri di samping bak cuci piring, membantunya memilah gelas-gelas kaca yang rawan pecah dan mengelap piring yang sudah dibilas bersih.

Dua jam berlalu tanpa terasa. Tumpukan piring kotor di bak pertama akhirnya habis. Valeska menyandarkan punggungnya ke dinding keramik dapur, napasnya memburu halus dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.

Elang mematikan kran air, lalu menyodorkan sebotol air mineral dingin ke arah Valeska.

"Kerja bagus buat hari pertama," kata Elang pendek.

Valeska mengambil botol itu dengan tangan yang lemas, meneguknya cepat sampai tersisa separuh. Dia menatap jemari tangannya sendiri yang memerah di balik sarung tangan karet.

"Gue... gue beneran bisa ternyata," cicit Valeska pelan, suaranya bergetar antara rasa lelah yang luar biasa dan sedikit rasa bangga yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Elang menyunggingkan senyum tipis—hampir tak terlihat—lalu merogoh saku celananya. "Nih."

Elang menyodorkan amplop cokelat kecil ke tangan Valeska. Valeska mengernyit bingung. "Apaan ini?"

"Uang makan harian dari Mas Bayu," jawab Elang santai. "Khusus staf dapur paruh waktu, ada uang makan tunai lima puluh ribu tiap selesai shift. Lumayan kan buat beli lauk di rumah Nek Izah?"

Valeska memegang amplop cokelat itu. Lembaran uang lima puluh ribu rupiah di dalamnya terasa begitu berat—jauh lebih berharga daripada lembaran ratusan ribu yang dulu biasa dia hambur-hamburkan dalam sekejap. Ini adalah uang pertama yang dia hasilkan dari keringat dan kerja kerasnya sendiri.

Air mata Valeska kembali menetes, tapi kali ini bukan karena amarah atau gengsi yang terluka. Dia mendekap amplop kecil itu di dadanya sambil menunduk dalam-dalam.

"Makasih... Elang," bisik Valeska tulus dari lubuk hatinya.

Elang menatap cewek di depannya itu sejenak, lalu menepuk bahu Valeska pelan. "Lepas apron lo, terus siap-siap. Gue anter lo pulang."

Motor Elang membelah kegelapan malam Gang Mawar, berhenti tepat di depan deretan kontrakan. Valeska turun dari boncengan, merapikan seragamnya yang kusut dan serasa masih berbau busa sabun dapur.

Saat Valeska hendak menyerahkan helm, Elang melirik amplop cokelat di genggaman tangan cewek itu.

"Amplopnya jangan cuma disimpan," ujar Elang datar sebelum memasang kaca helmnya kembali. "Ingat kata gue kemarin. Lo tuh udah numpang makan di rumah Nek Izah, harus tahu diri dikit. Makanan yang lo makan semalam itu dibeli pakai uang. Walaupun Nek Izah ikhlas, lo juga harus ngerti."

Valeska sempat terdiam, menggigit bibir bawahnya. Kata dari mulut Elang biasanya bakal bikin telinganya panas, tapi kali ini dia tahu cowok itu benar.

"Iya, gue tahu," sahut Valeska pelan. "Gue mau kasih ke Nek Izah sekarang."

Elang cuma mengangguk tipis. "Bagus deh kalau otak lo udah mulai jalan. Gue balik dulu."

Setelah deru motor Elang menghilang di ujung gang, Valeska melangkah pelan menuju rumah kayu Nek Izah. Dia memegang erat lembaran uang lima puluh ribu rupiah hasil keringat pertamanya. Langkahnya terasa canggung, tapi keberanian baru perlahan muncul di dadanya.

Tok, tok, tok.

"Nek... Nek Izah?" panggil Valeska ragu dari balik pintu kayu yang renggang.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Nek Izah dengan sarung dan kerudung instan yang sudah agak lusuh. "Eh, Nduk Valeska baru pulang? Kok malam banget, dari mana saja?"

Valeska menunduk, lalu menyodorkan lembaran uang lima puluh ribu rupiah itu ke hadapan Nek Izah.

"Nek... ini buat Nenek," kata Valeska dengan suara pelan dan sedikit gemetar. "Ini... ini hasil kerja saya tadi sore di kafe. Buat ganti makanan yang kemarin saya makan, sama... buat nambah-nambah belanja Nenek besok."

Nek Izah mematung sejenak, menatap lembaran uang di tangan Valeska, lalu beralih menatap wajah cewek muda di depannya yang kelihatan sangat lelah dengan telapak tangan yang memerah. Bukannya menerima, Nek Izah justru mendorong pelan tangan Valeska kembali.

"Ndak usah, Nduk. Simpan saja uangmu," tolak Nek Izah lembut sambil menggelengkan kepala.

Valeska panik, membelalakkan matanya. "Tapi Nek! Saya mau tahu diri! Nenek udah baik banget kasih saya makan, saya enggak mau dibilang cuma numpang gratisan—"

"Sopo seng bilang kamu numpang?" potong Nek Izah halus, memegang kedua jemari Valeska yang basah dan dingin. "Nenek ngasih makan kamu semalam itu ikhlas dari hati, Nduk. Bukan buat dijual lagi sama kamu."

Nek Izah tersenyum hangat, mengusap punggung tangan Valeska yang terasa kasar bekas gesekan spons dapur.

"Uang pertama hasil kerjamu itu simpan baik-baik. Buat nabung bayar sekolahmu, atau buat pegangan kamu sendiri. Nenek masih ada uang belanja kok. Kalau cuma memberi sepiring nasi sama tempe buat kamu, Nenek ndak bakal bangkrut."

Mendengar penolakan yang begitu tulus, pertahanan Valeska kembali runtuh. Tenggorokannya tercekat, dan air matanya meleleh hangat di pipi. Di saat orang-orang yang dulu dia sebut sahabat membuangnya karena tak punya uang, seorang nenek tua yang baru dikenalnya justru menolak uangnya dengan penuh kasih sayang.

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!