"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Megah Sang Penguasa
Sinar matahari pagi yang hangat membingkai pelukan bertiga mereka di atas balkon marmer yang megah. Aroma wangi bunga segar dari genggaman jemari mungil Elzard menyeruak di udara, menyatu sempurna dengan aroma kayu cendana dari tubuh Dante.
Sandra menguraikan pelukannya dari Elzard, menerima rangkaian bunga kecil itu dengan mata berbinar haru. "Terima kasih banyak, Pangeran Kecil Ibu... Bunga ini indah sekali," bisik Sandra lembut seraya mendaratkan kecupan hangat di pipi tembam Elzard.
Elzard tertawa renyah, memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang menggemaskan. "Sama-sama, Ibu Baru! Kata Pak Biworo, kalau sayang sama seseorang, kita harus kasih bunga!"
Dante yang berdiri tepat di samping mereka terkekeh pelan. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, menatap dua sosok di hadapannya dengan binar kasih sayang yang mutlak. Tak ada lagi sisa-sisa tatapan dingin atau dinding kecurigaan yang selama ini ia pasang rapat-rapat di hatinya.
Dante lalu merogoh saku dalam jas santainya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam pekat berukuran kecil. Dengan gerakan tenang dan tegas, Dante berlutut satu kaki di atas lantai balkon—menyamakan posisinya di hadapan Sandra yang masih terduduk memeluk Elzard.
Sandra tersentak kaget. Matanya membelalak pelan saat melihat kotak beludru itu terbuka perlahan di tangan Dante.
Di dalam kotak tersebut, melingkar sebuah cincin berlian berdesain amat anggun dan mewah, memancarkan kilau sempurna di bawah terik cahaya matahari pagi.
"D-Dante..." desah Sandra terbata-bata, menahan napasnya yang mendadak terasa sesak oleh rasa haru.
Dante menatap lurus ke dalam manik mata bening Sandra. "Empat tahun kamu mengorbankan segalanya untuk seseorang yang tidak pernah tahu cara menghargaimu, Sandra. Tapi di rumah ini, di hadapanku dan Elzard, kamu adalah bagian paling berharga yang tak akan pernah kami biarkan terluka lagi."
Suara berat Dante mengalun dalam, bergetar penuh kejujuran murni.
"Malam itu, kontrak satu tahun adalah caraku melindungimu. Namun hari ini, aku memintamu bukan sebagai formalitas atau perjanjian atas kertas," lanjut Dante seraya meraih jemari lembut Sandra. "Sandra Arundaya... maukah kamu meresmikan hubungan kita? Maukah kamu menjadi istriku secara sah dan menjadi ibu seutuhnya bagi Elzard, selamanya?"
Elzard yang menyaksikan momen itu langsung bertepuk tangan riang dengan mata membulat antusias. "Terima Ibu Baru! Terima Ayah! Nanti Elzard punya Ibu beneran yang bisa dipanggil Ibu setiap hari!"
Air mata haru akhirnya menetes melewati pipi mulus Sandra. Namun kali ini, bukan air mata kepedihan seperti saat ia diseret dan dibuang Anton di tengah hujan deras. Ini adalah air mata kebahagiaan murni dari seorang wanita yang akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya.
Sandra mengangguk mantap dengan senyuman paling indah di bibirnya. "Ya, Dante... Aku mau."
Dante tersenyum lega, sebuah binar kebahagiaan yang sangat jarang terlihat terpancar dari wajah tegas sang penguasa. Pria itu menyematkan cincin berlian tersebut ke jari manis Sandra—pas dan sempurna. Dante lalu berdiri, merengkuh tubuh Sandra dan Elzard ke dalam dekapannya yang kokoh, mengunci janji setia yang tak akan pernah terputus oleh waktu.
Tiga bulan berlalu sejak janji setia di balkon mansion terucap. Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Sebuah aula megah berarsitektur klasik di pusat kota disulap menjadi istana bunga bernuansa putih dan keemasan. Ribuan tangkai mawar putih segar dan pendar cahaya lampu gantung kristal menghiasi seluruh penjuru ruangan, memancarkan kemewahan yang tiada tanding.
Pernikahan ini menjadi buah bibir terhangat di kalangan konglomerat dan pebisnis papan atas. Dante, pimpinan Vancity Group yang terkenal sangat dingin dan tak tersentuh, akhirnya meresmikan hubungannya dengan wanita pilihannya.
Di dalam ruang rias pengantin, Sandra berdiri anggun di hadapan cermin besar. Ia mengenakan gaun pengantin putih sutra berhias payet mutiara yang menjuntai indah, membalut tubuhnya yang sempurna. Rambut hitamnya disanggul rapi berhiaskan tiara kecil yang memancarkan kilau mewah. Wajah cantiknya dirias begitu alami namun memancarkan aura keanggunan seorang ratu.
Klek.
Pintu ruang rias terbuka. Dante melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam buatan penjahit ternama dunia. Ketampanan dan wibawanya yang mendominasi seketika memenuhi ruangan. Namun, begitu pandangan mata elang Dante jatuh pada Sandra, langkahnya sempat terhenti. Pria itu menatap wanita di hadapannya dengan binar kekaguman yang tak tertutupi.
"Kamu... benar-benar sempurna, Sandra," bisik Dante dengan suara beratnya yang lembut, melangkah mendekat dan meraih jemari Sandra yang terbalut sarung tangan renda.
Sandra merona manis, tersenyum tulus menatap pria yang kini menjadi pelindung hidupnya. "Terima kasih, Dante. Semua ini terasa seperti mimpi."
"Ini bukan mimpi, Sandra. Ini adalah awal dari kehidupan kita," tegas Dante penuh keyakinan, mendaratkan ciuman hangat di punggung tangan Sandra.
Pintu kembali terdorong pelan. Elzard berlari masuk mengenakan tuksedo cilik yang sama persis dengan milik sang ayah. Bocah lima tahun itu memegang sebuah bantal beludru berisi dua cincin pernikahan.
"Ibu Cantik sekali! Ayah juga tampan!" seru Elzard riang dengan senyuman lebar. "Ayo Ayah, Ibu, semua tamu sudah menunggu Pangeran Kecil bawa cincinnya!"
Sandra dan Dante terkekeh bahagia melihat antusiasme Elzard. Dante menggandeng tangan Sandra di sebelah kanan, sementara tangan kirinya merangkul bahu Elzard.
Pintu aula utama terbuka lebar. Suara alunan musik klasik bergema anggun menyambut langkah kaki mereka bertiga meniti karpet merah menuju altar. Ratusan tamu undangan bertepuk tangan meriah, menatap takjub pada keharmonisan keluarga baru tersebut.
Di hadapan penghulu dan para saksi, Dante mengucapkan ijab kabul dengan suara tegas, lantang, dan tanpa ragu sedikit pun. Dalam satu tarikan napas, Sandra Arundaya resmi menjadi istri sah dari seorang Dante secara hukum dan agama.
Saat ciuman pernikahan mendarat di dahi Sandra, sorak bahagia dan tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Di pelukan Dante dan genggaman erat Elzard, Sandra menyadari bahwa semua air mata, rasa sakit, dan penghinaan di masa lalunya telah terbayar tuntas dengan kebahagiaan sejati yang tak akan pernah lekang oleh waktu.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati