Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibegal
Tap.. tap.. tap..
Langkah kaki Cakra terdengar dari ambang pintu, menghentikan pembicaraan antara Anggara dengan Mama Safira.
Keduanya menoleh kearah pasangan yang sedang bergandengan itu.
Safira mengerutkan dahinya saat merasa ada yang kurang. Wanita paruh baya itu celingak-celinguk mencari menantu pilihannya.
"Cakra, mana Naura?" Tanya wanita itu.
"Dia minta turun ditengah jalan. Katanya dia mau ke rumah kakeknya," jawab pria itu, tapi sorot matanya tertuju pada sang kakak yang berdiri diam.
"Astagfirullah... kenapa tidak diantar Cakra!" Tanya Safira, menggelengkan kepalanya.
"Seharusnya kan dia menikah sama Kak Anggara, kenapa bukan Kak Anggara saja yang mengantarnya?" Netra Cakra, sama sekali tak teralihkan dari mata tajam sang kakak.
Seolah kedua adik kakak itu menyimpan sesuatu terpendam yang tak diketahui oleh ibu mereka.
"Jelas-jelas sekarang Naura istrimu, Cakra! Kenapa mesti kakakmu yang mengantarnya!" Geram Safira, pada putra bungsunya yang terus bikin darah tinggi.
Dia tak peduli pada amarah sang ibu. Cakra melepas tangan istrinya, dan mendekati Anggara. Dia mendekatkan wajahnya ditelinga sang kakak.
"Aku menikahi calon istrimu, apa kau senang? Pastikan kau tidak menunjukkan sedikitpun ketertarikan padanya, karena kalau sampai itu terjadi..." Menggantung ucapannya, sedikit lebih mendekatkan bibirnya ke kuping Anggara.
"Aku akan pastikan, dia akan menderita... sama seperti yang kau lakukan dulu, merenggut nyawanya..." Lanjut Cakra berbisik, tak tahu siapa yang dia maksud.
"Dia istrimu, dan tidak ada hubungannya denganku! Mau kau apakan pun! Aku tidak peduli!" Ucap Anggara dingin, langsung bergerak ingin pergi meninggalkan kediaman itu.
Saat melewati Nada, sorot mata wanita itu tak bisa menahan diri tak melirik ke dada bidang kakak iparnya yang tampak sangat menggoda.
Nada menelan salivanya, tubuh nyaris sempurna kakak iparnya itu benar-benar membuatnya sukar mengontrol diri.
Profesi Anggara sebagai seorang militer dengan latihan ketat, telah berhasil membentuk tubuh pemuda itu dengan sempurna yang membuat wanita-wanita terpesona setiap kali melihatnya, begitu juga dengan Nada. Meski sadar dia sudah menikah tetap saja dia tak bisa menahan diri.
Sementara Cakra menggertakkan giginya dan mengepalkan tangan. Anggara Dewangga! Aku akan pastikan! Kau akan menyesal! Batin Cakra, berusaha mengontrol emosinya.
______
"Naura, ini sudah malam, kenapa kamu belum pulang juga Cu?" Tanya Kakek Rama melihat cucunya yang masih belum beranjak dari rumahnya.
Tadi gadis itu hanya berniat pulang untuk mengambil beberapa helai pakaiannya. Akan tetapi sampai malam, gadis itu masih juga belum beranjak dari rumah kakeknya. Seolah-olah dia memang tidak berniat untuk pulang ke rumah suami barunya itu.
"Kek, besok saja Naura pulang. Untuk malam ini Naura ingin tidur di sini saja," jawab gadis itu.
Menghela nafas. "Kakek tahu, kamu tidak suka dengan suamimu, Naura. Tapi ingat! Dengan kamu tetap berada disini, keluarga suamimu bisa kepikiran yang tidak-tidak. Kakek takut kalau mereka mengira justru Kakek yang menghalangimu pulang. Jadi kamu juga harus mengerti, Cu," tutur Kakek, menasehati cucu kesayangannya agar mau pergi ke rumah suaminya.
Menarik nafas berat, dimana dia juga mengiyakan kekhawatiran sang kakek.
"Kamu pulang ya?" Ucap Kakek lagi, saat melihat wajah cucunya sudah mulai melunak.
Mau tidak mau, gadis itu terpaksa mengikuti kemauan sang kakek.
"Baiklah, Kek," jawabnya terdengar lemas, yang membuat kakeknya tersenyum senang.
Setelah mengemasi barang-barang yang dia butuhkan, Naura akhirnya bersiap untuk pergi.
Gadis itu menghubungi Greb, setelah berpamitan pada kakek dia langsung pergi.
Karena malam yang sudah sedikit larut, beberapa jalanan yang mereka limpasi terlihat sunyi.
Tiba-tiba, segerombolan orang asing berjumlah sekitar 4 orang menghalangi mobil mereka.
Supir terpaksa mengerem mendadak, karena kalau tidak dia akan menabrak salah satu dari orang-orang itu.
"Turun!" Ucap seseorang dengan wajah sangar memegangi senjata tajam, mengancam supirnya untuk segera keluar dari mobil.
Ternyata mereka itu rombongan begal yang sudah sering melakukanya dikawasan tersebut.
Awalnya supir tidak mau turun. Akan tetapi karena terus dipaksa, akhirnya dia mengalah juga.
"Kamu, turun!" Salah satu dari begal itu, mengancam senjata tajam tepat ke arah Naura dan juga meminta gadis itu keluar dari mobil.
Glek!
Naura yang ketakutan, akhirnya terpaksa ikut turun.
Mirisnya, ada beberapa kendaraan yang lalu lalang tapi tak ada yang berani menolong mereka. Karena tempat itu sudah terkenal dengan begalnya yang cukup kejam.
"Berikan uangmu!" Ancam penjahat itu pada Naura.
Terpaksa Naura berikan uang yang dia punya.
"Cuman segini?" Tanya penjahat itu, mendapati uang gadis didepannya terlalu sedikit.
"Saya cuma punya segitu," jawabnya.
"Jangan bohong kamu! Buka bajumu! Pasti kau punya kalung yang jauh lebih berharga! Berikan padaku!" Penjahat itu memaksa menarik baju Naura.
"Tidak! Aku tidak punya!" Panik gadis itu, berusaha menahan si penjahat untuk menyingkapi pakaiannya.
"Jangan bohong! Kalau tidak mau! Aku bakal bunuh kamu!" Ancam pria itu, mengangkat pisau dan langsung menghunus ke arah Naura.
Tak!
Naura menahan pisau tersebut, yang membuat pergelangan tangannya seketika mengeluarkan darah segar.
"Argh!" Ringis gadis itu.
Bersamaan sebuah mobil hitam melaju kencang....
Bruk!
Langsung menabrak begal yang melukai Naura.
"Argh!" Naura kaget, mundur kebelakang.
"Arghhhhh." Pria yang tadi melukai Naura meringis kesakitan, saat mobil hitam tersebut menghantam tubuhnya dengan keras.
Keluar seorang pria dari dalam mobil itu, langsung menatap mereka satu persatu.
"Kalian ini, para sampah negera!" Dingin pria itu, melirik sejenak ke arah gadis yang terluka diluar pintu mobil.
Sementara sopir Greb tadi, langsung kabur saat mendapat kesempatan. Berpikir dia tidak mau mati sia-sia disana.
"Sialan!! Berani sekali kau menghalangi jalan kami!" Teriak salah atau begal.
"Serang dia!"
Keempat begal itu langsung menyerang bersamaan, yang dengan mudahnya pria itu lumpuhkan dengan sangat terampil. Menangkis, menghindari, semua serangan bertubi-tubi.
Tak butuh waktu lama, mereka semua sudah ambruk ke tanah.
Karena berpikir tidak akan menang melawan pria itu. Akhirnya mereka memilih kabur.
"Kabur!!!" Mereka semua mundur bersamaan.
Setelah semua penjahat itu pergi, pria itu mendekati Naura.
Naura mundur selangkah, was-was dan juga merasa seperti tidak asing dengan sosok pria itu.
"Kau terluka?" Tanya pria itu tanpa ekspresi, melirik tangan Naura yang penuh dengan noda darah.
"Kamu?" Bukannya menjawab, Naura justru bertanya balik saat menyadari pria itu adalah orang sama siang tadi yang hampir menabraknya.
Tak menjawab, pemuda itu justru melangkah maju semakin mendekat.
"B-berhenti disitu! Jangan mendekat!" Panik Naura, saat pria itu terus mengikis jarak.
Lagi-lagi pria itu bungkam dan tak peduli.
"Pergi!" Naura semakin cemas.
Anggara sudah berdiri di dekat Naura, tanpa aba-aba pria itu menarik ujung gamis Naura dan....
Krek!
Langsung merobek baju wanita itu dengan posisi memanjang.
Bola mata Naura melebar, saat pria itu tiba-tiba merobek ujung bajunya. "Kamu sudah nggak waras---"
Ucapan gadis itu terhenti, saat pria dihadapannya menarik tangannya yang terluka dan langsung mengikatnya dengan terampil menggunakan ujung bajunya yang sengaja pria itu robek barusan.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls