NovelToon NovelToon
Switch Body, Yuk Nikah!

Switch Body, Yuk Nikah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikahmuda / Komedi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?

Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.

Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.

Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!

Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bully

BAB 15

Di Bully

Kedua lutut Dinda lecet. Bahkan salah satunya berdarah.

Daffa mengeraskan rahangnya ingin bersiap membalas perlakuan mereka.

"Lu!"

"Apa?! Huh?!"

Daffa mengepalkan kedua tangannya. Sejenak, ia teringat pesan Dinda yang berkali-kali mengingatkannya agar tidak membuat ulah di sekolah, terlebih saat masa ujian nasional sudah semakin dekat.

Ia mengembuskan napas kasar, berusaha meredam amarah yang mulai membara. Ia memilih pergi dan meninggalkan mereka begitu saja.

Luka di kedua lututnya sebenarnya tidak seberapa, tetapi karena kini ia berada di dalam tubuh Dinda yang tidak sekuat tubuhnya sendiri, rasa sakit itu terasa lebih jelas.

Baru beberapa langkah meninggalkan toilet, samar-samar terdengar suara tawa puas dari ketiga gadis tersebut.

Daffa mengepalkan tangannya lagi. Kalau bukan karena memikirkan Dinda dan akibat yang mungkin ditimbulkan jika ia membalas, sudah pasti kekasaran mereka tidak akan ia biarkan begitu saja.

Nggak boleh di biarin! Bocil jangan sampai terus-terusan di bully gara-gara si Leon itu! Nah kebetulan!

Bukannya menuju ke lapangan, Daffa justru mengubah arah langkahnya. Tatapannya tertuju pada Leon yang menurutnya merupakan sumber dari semua masalah ini.

Tanpa banyak berpikir, Daffa berjalan menghampiri lelaki itu yang sedang berdiri di depan kelas bersama beberapa temannya. Mereka tampak asyik mengobrol dan sesekali tertawa bercanda.

Ia terus melangkah mendekat dengan wajah tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan sedang menyimpan kekesalan.

“Hei! Lu yang namanya Leon!”

Leon dan teman-temannya seketika terdiam. Mereka menoleh bersamaan ke arah Daffa yang di mata mereka tentu saja adalah Dinda.

Salah seorang teman Leon langsung menyeringai.

“Wah, Leon. Setiap hari makin nambah aja penggemar lu.”

Leon hanya terkekeh kecil. Ia menepuk pelan bahu temannya sambil menggeleng.

“Ada apa, Dinda?” tanyanya santai.

“Apapun bentuk perhatian lo ke gue, tolong hentikan!” balas Daffa tanpa basa-basi. “Noh, di toilet ada yang lebih butuh perhatian ekstra dari lo!”

Senyum Leon dan teman-temannya seketika memudar.

Suasana yang tadinya penuh canda mendadak berubah hening. Leon menatap Dinda dengan dahi sedikit berkerut, mencoba memahami maksud perkataannya.

Belum sempat ia bertanya lebih jauh, ketiga gadis yang tadi mengganggu Daffa kebetulan keluar dari toilet. Langkah mereka terhenti ketika melihat Dinda berdiri di depan kelas Leon.

Ketiganya saling berpandangan, lalu perlahan mengarahkan tatapan ke arah Leon.

Sementara itu, Daffa hanya berdiri dengan wajah datar. Dalam hati, ia merasa lega karena orang yang menurutnya menjadi sumber masalah akhirnya ada di hadapannya.

“Hei! Lu yang namanya Leon!”

Leon dan teman-temannya seketika terdiam. Mereka menoleh bersamaan ke arah Daffa yang di mata mereka tentu saja adalah Dinda.

Salah seorang teman Leon langsung menyeringai.

“Wah, Leon. Setiap hari makin nambah aja penggemar lu.”

Leon hanya terkekeh kecil. Ia menepuk pelan bahu temannya sambil menggeleng.

“Ada apa, Dinda?” tanyanya santai.

“Apapun bentuk perhatian lo ke gue, tolong hentikan!” balas Daffa tanpa basa-basi. “Noh, di toilet ada yang lebih butuh perhatian ekstra dari lo!”

Senyum Leon dan teman-temannya seketika memudar.

Suasana yang tadinya penuh canda mendadak berubah hening. Leon menatap Dinda dengan dahi sedikit berkerut, mencoba memahami maksud perkataannya.

Belum sempat ia bertanya lebih jauh, ketiga gadis yang tadi mengganggu Daffa kebetulan keluar dari toilet. Langkah mereka terhenti ketika melihat Dinda berdiri di depan kelas Leon.

Ketiganya saling berpandangan, lalu perlahan mengarahkan tatapan ke arah Leon.

Mereka tampak tidak suka melihat Dinda berbicara dengan Leon. Meskipun tidak satu pun dari mereka tahu, apa yang sebenarnya sedang dibicarakan. Apalagi mengetahui yang sebenarnya berbicara adalah Daffa.

Leon yang menyadari tatapan para gadis itu langsung melirik ke arah mereka setelah mendengar ucapan Daffa. Namun, ia hanya menatap sekilas dengan ekspresi biasa, seolah tidak terlalu peduli.

"Bukannya gue dengar-dengar lu suka sama gue?" tanya Leon santai.

Daffa langsung memasang wajah tidak suka.

"Apa gue pernah bilang suka sama lu?!" balasnya ketus. "Jangan narsis! Gue udah punya cowok."

Leon mengangkat alis, tampak sedikit terkejut mendengar jawaban tersebut.

Daffa kemudian melirik sekilas ke arah para gadis yang masih memperhatikan mereka.

"Ini terakhir kalinya gue bicara sama Lo!"

Tanpa menunggu tanggapan Leon, Daffa langsung berbalik dan meninggalkannya begitu saja.

Dengan langkah sedikit pincang akibat nyeri di lutut yang semakin terasa, Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda akhirnya kembali ke kelas. Jam olahraga telah selesai dan para siswa mulai bersiap mengikuti pelajaran berikutnya.

Namun, apa yang dilakukan Daffa selama jam olahraga rupanya tidak luput dari perhatian beberapa siswa. Ada yang melihatnya berbicara dengan Leon, ada pula yang memperhatikan tingkahnya yang dianggap berbeda dari biasanya.

Tak butuh waktu lama, kasak-kusuk pun mulai terdengar di antara para siswa. Bisik-bisik kecil perlahan menyebar dari satu bangku ke bangku lainnya.

Begitu Daffa baru saja duduk, Kania langsung menghampiri dan menatapnya dengan ekspresi tak percaya.

"Gila lu, Din!"

Daffa mengernyitkan dahi.

"Kenapa?"

"Lu tadi berani banget ngomong begitu sama Leon!"

Daffa hanya menghela napas. Dalam hati ia mulai menyesal. Sepertinya, menjadi Dinda ternyata bukan hanya soal beradaptasi dengan tubuh baru, tetapi juga harus menghadapi segala macam drama yang mengikutinya.

"Lu secara nggak langsung udah nolak Leon duluan! Bukannya lu suka banget sama doi?!" kata Kania lagi.

Rasa penyesalan Daffa seketika menguap begitu mendengar ucapan Kania. Ia menatap sahabat Dinda itu dengan alis terangkat.

"Siapa bilang gue suka sama dia?"

Kania justru semakin heran.

"Lah, bukannya selama ini lu yang paling heboh kalau ada Leon?"

Daffa terdiam sejenak. Ia hampir saja lupa bahwa sebelum pertukaran tubuh ini terjadi, Dinda mungkin memiliki perasaan kepada Leon.

"Ya... dulu mungkin," jawab Daffa asal.

"Dulu?" Kania menyipitkan mata. "Jadi sekarang?"

Daffa langsung mengalihkan pandangan.

"Udah nggak. Dia biasa aja tuh."

Kania hanya bisa menatap Dinda dengan wajah penuh tanda tanya. Sementara Daffa dalam hati menghela napas lega.

"Lu berubah, Din."

"Sewaktu-waktu orang emang bisa berubah, kan?"

"Jadi ini serius? Lu sekarang beneran udah nggak ngebet sama Leon lagi?"

"Hmm."

Kania menyipitkan mata, menatap Dinda dengan penuh kecurigaan. Tatapannya membuat Daffa mulai merasa tidak nyaman.

"Jangan-jangan lu..."

"Gue udah punya cowok. Udah jelas, kan?" potong Daffa cepat.

"OMG!" Kania langsung membulatkan mata. "Kok baru cerita, sih?! Pantesan lu sekarang nggak semangat lagi kalau lihat Leon, kayak dulu!"

Daffa hanya bisa tersenyum kaku.

"Siapa cowoknya? Lu harus cerita pokoknya!"

"Dia..." Daffa terdiam sesaat, berusaha mencari jawaban yang aman. "Dia tetangga gue."

"Wah! Tetangga sendiri?" Kania semakin antusias. "Terus orangnya kayak gimana?"

"Keren abis pokoknya."

Kania langsung bersorak kecil.

"Gila! Gue nggak nyangka lu ternyata diam-diam udah punya pacar!"

Daffa hanya terkekeh hambar. Dalam hati, ia mulai merasa bersalah karena kebohongan yang semakin melebar.

Gue ngomong begini, Dinda nggak marah, kan, ya?

Daffa menelan ludah. Semoga dia nggak baca chat gue nanti. Kalau sampai tahu gue ngaku-ngaku punya pacar, bisa panjang urusannya.

-

-

-

Bersambung...

Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
emang kalo pacaran nggak ada bumbu asem manis asin nggak seru suh wkwkwk

gelud aja dinnnn 🤣🤣🤣🤣
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
lah baru aja pacaran udh marahan lagi
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
laki2 selalu salah
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
Alhamdulillah mereka jadi pacaran
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
duh bengek
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
awalnya pacaran nih ye wkwkwk
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
pasti Lo bakalan diterima
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
Alhamdulillah akhirnya tubuh mereka kembali lagi sprti semula
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ciee mangat bgt dapp
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
bayangin juga gada yg tegang 😂
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
bu mayang ternyata udah suka sama dinda jadi mantunya ya 🤣
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ngebet amat bang
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
harusnya kamu percaya anakmu dulu sii
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jangan lupa undangan nya 🤣
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
berawal dari kesalahan pahaman Maslaah nya jadi rumit.
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
lah salah paham ternyata 🤣🤣🤣
salahin nggak pake kacamata itu
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
ribet kan jadinya
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jadi gak lamaran nya
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ketawa Aja dulu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
lama yg pasti Kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!