Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 Beruang Darah
Hari ketiga di Death Forest dimulai dengan bau besi.
Kael terbangun di celah akar pohon yang dia jadikan tempat berlindung, dan hal pertama yang dia sadari adalah hutan terlalu sunyi. Tidak ada kicau serangga, tidak ada desir langkah kecil di semak. Bahkan angin seperti menahan napas.
Dia bangkit perlahan dan menatap layar cahayanya.
[Body Tempering 1★ — Progres: 88%.]
"Hampir." Kael menggeliat, dan tulang punggungnya berbunyi pelan. Dua hari terakhir dia memburu apa saja yang cukup kecil untuk dikalahkan: beberapa Fang Rabbit lagi, seekor ular berbisa yang racunnya hanya membuatnya pusing sebentar, dan satu Dire Wolf yang tersesat dari kawanannya.
Kemampuan Adaptation-nya tumbuh pelan, tapi nyata.
[Adaptation terhadap pola serangan Fang Rabbit: 100%.]
[Tingkat adaptasi meningkat.]
[Fang Rabbit — Pemahaman Dasar 1%.]
Bagi Kael, kelinci bertaring kini tidak lebih dari makanan yang berlari cepat. Dia bisa membaca lompatannya bahkan sebelum kaki belakang si kelinci menekuk.
Namun sunyi pagi ini membuat perutnya tidak enak.
Kael mengambil tulang rusuk Dire Wolf yang sudah dia runcingkan sebagai tombak, lalu berjalan menyusuri sungai kecil yang mengalir di antara akar-akar raksasa. Airnya jernih, sedikit kemerahan. Dia berlutut untuk minum.
Saat itulah dia melihat jejak di lumpur.
Satu jejak kaki, lebar seperti nampan, dengan lima bekas cakar dalam. Air masih menggenang perlahan di dasarnya.
Baru saja dibuat.
Kael membeku. Perlahan dia mengangkat kepala.
Di seberang sungai, tersembunyi di antara semak berduri, sepasang mata merah menyala menatapnya.
[Blood Bear — Monster Tingkat Menengah.]
[Perkiraan kekuatan: Body Tempering 5★ – Qi Gathering 1★.]
"Ah," gumam Kael. "Ini yang punya cakar di pohon itu."
Makhluk itu berdiri.
Tingginya hampir tiga meter. Bulunya cokelat gelap dan basah oleh sesuatu yang bukan air. Di dadanya ada pola merah menyerupai luka terbuka yang berdenyut pelan, seolah jantungnya berada di luar kulit. Napasnya berat, dan setiap embusan membuat kabut merah tipis.
Kael melangkah mundur satu langkah.
Beruang itu meraung.
Suaranya jauh berbeda dari raungan serigala. Gelombang suara itu menghantam dada Kael dan membuat telinganya berdenging. Beberapa burung yang bersembunyi di dahan meledak terbang serentak.
Beruang itu menerjang.
Air sungai muncrat ke segala arah. Kael melompat ke samping, tetapi cakar raksasa itu tetap menyambar bahunya.
*SRAAAK!*
Rasa panas meledak di sisi kirinya. Dia terlempar dan menghantam batang pohon, lalu jatuh berguling di tanah berlumpur. Darahnya membasahi lumut, dan lengan kirinya nyaris terlepas.
"Sial ..." Kael terbatuk. Dia melihat lukanya. Tulang bahunya terlihat putih di antara daging yang terkoyak.
Daging itu mulai bergerak.
[Absolute Regeneration aktif.]
[Pemulihan: 12% ... 30% ... 55%.]
Beruang itu sudah berdiri di depannya, mengangkat kedua cakarnya tinggi-tinggi.
Kael berguling ke kanan. Cakar itu menghantam tanah dan meninggalkan lubang sedalam lengan. Tanah dan akar beterbangan.
Dia bangkit, berlari beberapa langkah, lalu berbalik dengan napas terengah. Regenerasinya sudah menutup luka, tetapi rasa sakitnya masih menempel di saraf seperti bayangan.
"Rasa sakit ini ... nyata," bisiknya. "Kalau aku ceroboh, aku bisa mati sebelum regenerasi sempat bekerja."
Beruang itu menerjang lagi. Kali ini Kael tidak sekadar menghindar. Dia memperhatikan.
Bahu kanan maju sebelum serangan. Napas ditarik dalam sebelum cakar diayunkan. Kaki kiri sedikit lebih lambat menapak.
[Adaptation terhadap pola serangan Blood Bear: 5%.]
Cakar kiri datang menyapu. Kael merunduk, dan angin dari ayunan itu memotong beberapa helai rambutnya.
[Adaptation: 11%.]
Cakar kanan menyusul. Kael melompat mundur, tetapi ujung kuku masih menggores dadanya. Darah memercik, lukanya menutup dalam sekejap.
[Adaptation: 18%.]
Dia mulai menyadari pola yang lebih dalam. Beruang ini tidak menyerang dengan cerdas, tetapi dengan kekuatan mentah yang stabil. Setiap tiga serangan, beruang itu selalu menutup dengan tubrukan tubuh.
"Tiga serangan," gumam Kael sambil menghitung. "Lalu tubrukan."
Serangan pertama, kedua, ketiga.
Kael menunggu. Beruang itu memutar badan dan menabrakkan bahunya. Kael meloncat ke atas punggung makhluk itu, menancapkan tulang runcing di tengkuknya, lalu menariknya keras-keras ke bawah.
*Crat!*
Beruang itu meraung kesakitan, mengguncang tubuhnya dengan liar. Kael terlempar lagi, tetapi kali ini dia mendarat dengan kedua kaki.
[Adaptation: 29%.]
Tulang di tangannya patah. Kael membuangnya dan meraih batu tajam dari tepi sungai.
Pertarungan berlangsung lama. Matahari bergeser di balik kanopi, dan cahaya pucat berubah menjadi jingga redup. Kael terluka berkali-kali. Tulang rusuknya patah dua kali, dan satu kakinya remuk sampai dia harus menyeretnya sementara regenerasi bekerja. Tetapi setiap kali jatuh, dia bangkit sedikit lebih paham dari sebelumnya.
[Adaptation: 43%.]
[Adaptation: 58%.]
[Adaptation: 71%.]
Beruang itu mulai kelelahan. Napasnya berat, dan gerakannya melambat. Kael, sebaliknya, terasa semakin ringan. Matanya yang perak menangkap gerak otot di bahu lawannya sebelum cakar itu benar-benar bergerak.
"Sekarang."
Beruang itu menyerang dengan sisa tenaganya. Kael menyelinap ke bawah lengan besar itu, dan dengan seluruh berat tubuhnya dia menusukkan batu tajam ke tepat di tengah pola merah di dada makhluk itu.
*KRAAAAK!*
Darah kental menyembur. Beruang itu terhuyung, mata merahnya meredup, lalu ambruk menimbulkan getaran yang membuat air sungai bergelombang.
Kael jatuh berlutut. Tubuhnya gemetar, seluruh ototnya terasa terbakar. Untuk beberapa saat dia hanya bernapas.
[Blood Bear dikalahkan.]
[Adaptation terhadap pola serangan Blood Bear: 84%.]
[Pengalaman bertarung meningkat besar.]
Di dada beruang itu, di antara daging yang hancur, Kael menemukan kristal sebesar telur ayam, berwarna merah gelap seperti darah yang membeku.
[Beast Core — Kualitas Menengah.]
Kael menggenggamnya. Kali ini aliran hangat itu bukan sekadar hangat, tetapi mengamuk. Gelombang panas merambat ke seluruh tubuh, membakar dan memperkuat tulangnya sekaligus. Dia menggertakkan gigi. Setiap sendi terasa retak lalu tersambung lagi, setiap otot ditarik lalu dipadatkan.
[Absolute Regeneration bekerja bersama proses penyerapan.]
[Body Tempering 1★ — Progres: 100%.]
[Tembus ke Body Tempering 2★.]
Kael mengembuskan napas panjang, dan uap merah keluar dari mulutnya.
Beberapa menit kemudian, dia berdiri lagi. Tubuhnya terasa lebih padat, lebih tajam, dan lebih hidup. Dia mengepalkan tangan, dan udara di sekitarnya bergetar tipis.
"Dua bintang," katanya dengan senyum kecil. "Lumayan untuk tiga hari."
Saat membersihkan tangannya di sungai, dia melihat sesuatu di dasar air.
Bukan batu, bukan akar. Sebuah lempengan hitam pipih setengah terkubur di lumpur, dengan ukiran samar berbentuk bulan sabit.
Kael mengangkatnya. Di permukaan yang dingin itu, ukiran bulan tersebut berwarna merah gelap, dan begitu ujung jarinya menyentuh, ukiran itu menyala sesaat.
[Ditemukan: Fragmen Kuno — Grade Tidak Diketahui.]
Kael memandangi benda itu lama. Lalu dia menoleh ke arah yang belum pernah dia jelajahi, ke kedalaman hutan tempat pepohonan tumbuh makin rapat dan gelap.
Kelopak bulan pada lempengan itu berkedip pelan, seakan menunjuk arah yang sama.
"Menarik," gumam Kael. "Rupanya hutan ini punya rahasia."
Dia menyimpan lempengan itu di lipatan kain, mengambil sebilah cakar beruang sebagai senjata baru, dan mulai berjalan.
Di kejauhan, jauh di bawah tanah tempat cahaya tak pernah sampai, sebuah altar tua yang telah lama sunyi perlahan bergetar.
Semakin dalam Kael melangkah, semakin aneh hutan itu.
Pepohonan di sini tidak lagi hitam, melainkan abu-abu pucat seperti tulang, dengan batang yang meliuk-liuk menyerupai tangan yang menggapai langit. Lumut merah yang tadinya berpendar redup kini berubah menjadi ungu keruh. Dan di antara akar-akar, mulai muncul kabut tipis yang merayap pelan di permukaan tanah.
Lempengan hitam di lipatan kainnya terasa semakin hangat.
"Kau benar-benar menuntunku ke sesuatu, ya?" gumam Kael sambil mengeluarkannya. Ukiran bulan sabit itu kini berpendar stabil, dan ujungnya menunjuk lurus ke depan, ke arah kabut yang makin pekat.
Dia berhenti tepat di tepi kabut. Tanahnya tampak lembap, tetapi tidak ada satu pun rumput tumbuh di sana. Beberapa bangkai burung tergeletak di kejauhan, tubuhnya utuh, tanpa luka, seolah mati begitu saja saat terbang melintas.
"Bukan pertanda bagus."
Kael menarik napas dalam-dalam, menahannya, lalu melangkah masuk.
Tiga langkah pertama tidak terjadi apa-apa. Pada langkah keempat, tenggorokannya mulai terbakar.
[Peringatan: Miasma Death Forest terdeteksi.]
[Racun racun kabut: Tingkat Menengah.]
[Efek: pelemahan Qi, kerusakan paru-paru, halusinasi.]
Kael terbatuk keras. Cairan hangat mengalir dari hidungnya, dan ketika dia menyekanya, tangannya merah kehitaman. Pandangannya bergoyang, dan lututnya nyaris menekuk.
"Ini ..." Dia menggertakkan gigi. "Lebih kuat dari racun ular tadi."
Regenerasi bekerja. Paru-parunya terasa dibakar lalu disembuhkan, dibakar lagi lalu disembuhkan lagi, dalam siklus yang menyiksa. Setiap tarikan napas seperti menelan pecahan kaca.
Dia bisa saja mundur. Akal sehat memintanya mundur. Tetapi ada bagian dari dirinya yang, entah kenapa, tidak mau.
[Adaptation terhadap Miasma Death Forest: 1%.]
Kael tertegun sejenak, lalu tersenyum getir. "Jadi ini juga bisa dipelajari."
Dia melangkah lagi.
Semakin dalam, semakin parah. Kabut itu tidak hanya beracun, tetapi seperti mengerti. Ia merambat naik ke kaki Kael, melilit betisnya, lalu merayap ke dada seperti tangan dingin yang meraba mencari celah. Bisikan-bisikan aneh mulai terdengar di telinganya, samar dan tidak jelas, tetapi terus-menerus.
*Berhenti ...*
*Kembalilah ...*
*Kau tidak akan bertahan ...*
Kael memejamkan mata sejenak. Bisikan itu semakin jelas, dan dalam suara-suara itu dia mendengar wajah-wajah yang dia kenal: ibunya di dunia lama, teman kerjanya, bahkan suara klakson panjang malam itu.
"Diam," gumamnya.
[Adaptation terhadap Miasma: 6%.]
[Resistensi halusinasi: 3%.]
Dia terus berjalan. Napasnya berat, tetapi teratur. Dia mulai menghitung setiap tarikan dan embusan, sebab dia menyadari sesuatu yang ganjil: ketika dia menarik napas dalam dan panjang, kabut terasa lebih pedih, tetapi angka adaptasinya naik lebih cepat.
"Semakin aku mengundangnya," bisiknya, "semakin cepat aku mengenalnya."
Dia mencoba lebih jauh. Dia berhenti melawan dan mulai *mengamati*. Bagaimana kabut bergerak, bagaimana ia berat di bawah dan tipis di atas, bagaimana racunnya paling pekat pada saat udara dingin bergolak. Setiap detail masuk ke dalam pikirannya, dan setiap detail membuat angka itu naik.
[Adaptation: 14%.]
[Adaptation: 27%.]
[Adaptation: 41%.]
Bisikan itu semakin lemah. Rasa terbakar di paru-parunya berubah menjadi hangat, lalu hanya menjadi rasa sesak samar. Warna merah kehitaman di tangannya berhenti muncul.
Kael berjalan hampir satu jam tanpa berhenti, dan sepanjang waktu itu Death Forest mencoba membunuhnya lewat udara.
[Adaptation: 68%.]
[Adaptation: 89%.]
[Adaptation terhadap Miasma Death Forest: 100%.]
[Tingkat adaptasi meningkat.]**
[Miasma Death Forest — Pemahaman Dasar 1%.]
Kael berhenti. Dia menarik napas panjang, dan kali ini udara terasa hampir biasa saja, hanya sedikit lebih berat dari udara segar. Dia membuka mata dan tertawa pelan, tertawa lega sekaligus tak percaya.
"Aku ... bernapas di dalam racun."
Dia menatap layar. Ada satu baris baru yang belum pernah dia lihat.
[Efek tambahan: Kabut Death Forest kini menyerahkan sebagian energi alam kepada pengguna Adaptation.]
[Proses kultivasi pasif: aktif.]
Kael mengerjap. "Tunggu. Maksudnya ..."
Dia merasakannya sendiri. Kabut yang tadinya menyiksa, kini meresap ke pori-porinya, bukan sebagai racun, tetapi sebagai denyut halus yang mengalir pelan ke perut bawahnya. Qi murni yang bercampur miasma kini disaring oleh tubuhnya sendiri.
[Body Tempering 2★ — Progres: 34%.]
"Ah," bisik Kael. "Jadi ini alasan tidak ada yang mau datang ke sini. Dan alasan mereka tidak tahu betapa bagusnya tempat ini."
Dia tersenyum lebar, lalu duduk bersila di tengah kabut. Tanpa ada yang mengajarinya, tubuhnya mengikuti naluri: punggung tegak, napas panjang, pikiran tenang. Dia tidak tahu apakah cara itu benar. Dia hanya merasakan bahwa setiap embusan menyingkirkan bagian kotor, dan setiap tarikan memasukkan sesuatu yang bersih.
Waktu berlalu tanpa dia sadari. Ketika akhirnya dia membuka mata, kabut di sekelilingnya sudah menipis, dan cahaya keunguan menembus celah pohon-pohon pucat.
[Body Tempering 2★ — Progres: 79%.]
Kael berdiri. Tubuhnya terasa seperti baru dicuci bersih dari dalam. Sendi-sendinya berbunyi pelan, dan telinganya menangkap suara-suara yang tadi tidak terdengar: tetes air jauh di dalam tanah, dengung serangga yang sangat halus, bahkan napas makhluk kecil yang bersembunyi di balik akar sepuluh meter dari sana.
"Kalau begini terus, aku bisa naik cepat," gumamnya. Lalu dia berhenti, sebab lempengan di tangannya berdenyut lebih kuat dari sebelumnya.
Dia mengangkatnya. Ukiran bulan sabit itu kini berpendar merah terang, dan di permukaannya muncul garis-garis baru yang semula tersembunyi, membentuk sebuah peta samar. Titik terang di ujungnya menunjuk ke satu tempat yang tak jauh dari sana.
Kael mengikuti arahnya. Setelah beberapa ratus langkah, kabut terbelah dengan sendirinya seakan memberi jalan, dan pemandangan di depannya membuat dia berhenti.
Di tengah lapangan kecil yang bersih dari pohon, berdiri sebuah gerbang batu raksasa setinggi lima belas meter, setengah tertimbun tanah dan akar. Permukaannya penuh retak dan lumut, tetapi ukiran di puncaknya masih jelas: bulan sabit besar dengan tiga tetes darah menetes dari ujungnya.
Bentuknya persis seperti ukiran di lempengan yang dia bawa.
Lempengan itu bergetar keras di tangannya, lalu perlahan melayang dan berhenti tepat di depan ceruk kecil di tengah gerbang. Ceruk itu tampak dibuat khusus untuknya.
Kael menahan napas. Dia bisa saja mundur. Dia bisa saja pergi. Tetapi dia sudah cukup lama hidup di dunia ini untuk paham satu hal: tidak ada yang kebetulan di tempat seperti ini.
"Baiklah," katanya, mengulurkan tangan dan menekan lempengan itu ke dalam ceruk. "Mari kita lihat apa yang kau sembunyikan."
*KLAK.*
Gerbang itu bergetar. Debu dan tanah berjatuhan dari puncaknya, dan suara gemuruh rendah bergema dari kedalaman bumi. Perlahan, dua sisi gerbang itu terbuka ke dalam, memperlihatkan tangga batu yang menurun ke kegelapan.
Udara dingin menyeruak keluar, membawa bau darah tua dan bunga yang telah lama layu.
[Anda telah menemukan: Crimson Moon Dungeon.]
[Peringatan: Tingkat bahaya jauh melampaui kemampuan Anda saat ini.]
Kael membaca peringatan itu, lalu tersenyum tipis.
"Justru itu yang kucari," katanya, dan melangkah masuk.
Gerbang batu itu menutup pelan di belakangnya, dan Death Forest kembali sunyi.