Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersedak
Pintu kamar terbuka sedikit. Keira segera mengulurkan tangannya dari celah pintu.
“Cepat kasih!”
Arsen langsung menyerahkan barang yang tadi ditemukannya. Keira buru-buru menarik tangannya kembali begitu benda itu berpindah ke tangannya.
“Lain kali, jangan sampai jatuh lagi. Kalau sampai orang lain yang melihatnya, bagaimana?” Arsen berkata santai. “Itu kan punya kamu.”
Setelah mengatakan itu, Arsen langsung pergi.
Keira hanya bisa melongo. Barang yang sejak tadi dicarinya ternyata ditemukan oleh Arsen.
CD dan pakaian dalamnya.
Wajah Keira seketika memerah. Rasa malu langsung memenuhi dirinya.
“Jadi... dia sudah melihat pakaian dalamku,” gumam Keira dalam hati.
---
Keira kembali ke kamar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Namun, langkahnya langsung terhenti ketika melihat Arsen berada di sana.
Pria itu sedang merapikan kasur. Selimut dilipat dengan rapi, sementara bantal ditata kembali seperti semula.
Tapi perhatian Keira justru tertuju pada satu hal.
Wajahnya seketika berubah kesal.
“Lancang banget!” gerutu Keira.
Arsen menoleh santai. “Apa?”
“Itu!” Keira menunjuk ke arah kasur. “Kenapa kamu malah ambil? Kenapa kamu pura-pura nggak lihat saja?!”
Arsen hanya melirik sekilas ke arah yang ditunjuk Keira, lalu kembali bersikap tenang.
“Marah? Gara-gara itu?”
“Iya, lah!” Keira mendekat dengan wajah yang semakin memerah. “Lancang banget! Itu privasiku. Aku jadi malu!”
Arsen menghela napas pendek, seolah masalah tersebut bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
“Sudah... suami sendiri yang lihat. Kenapa harus malu?”
Keira langsung terdiam. Beberapa detik kemudian, wajahnya justru semakin merah.
“Kamu itu, ya...” Keira menggerutu, kehilangan kata-kata. “Nggak punya rasa bersalah sama sekali?”
Arsen berdiri tegak dan menatap Keira. “Kita satu rumah, satu kamar, bahkan...”
Kalimat Arsen terhenti sejenak. Keira yang sudah bisa menebak kelanjutan ucapannya langsung memalingkan wajah.
“Sudahlah,” gumamnya pelan, semakin salah tingkah.
“Pokoknya tetap saja! Itu beda!” protes Keira kesal.
Arsen sedikit mendekat. Suaranya kini terdengar lebih rendah. “Kamu terlalu banyak berpikir.”
Keira mendengus. “Justru kamu yang terlalu santai!”
Mereka terdiam selama beberapa saat. Arsen kemudian kembali sibuk melipat selimut tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Sementara Keira masih berdiri di tempatnya. Ia memang kesal, tetapi di sisi lain, ia juga tidak bisa sepenuhnya membantah perkataan Arsen.
Sebab, jauh di dalam hatinya...
Yang membuatnya malu bukan semata-mata karena Arsen telah melihat pakaian dalamnya.
Melainkan karena orang yang melihatnya adalah Arsen.
“Padahal, aku sudah berencana untuk tetap menjaga diriku sampai kita benar-benar bercerai nanti,” ucap Keira akhirnya.
Arsen menghentikan gerakannya dan menatap Keira. “Kamu benar-benar ingin bercerai denganku?” tanyanya.
“Iya, lah! Bukannya itu juga yang kamu inginkan?”
Arsen menghela napas panjang. “Pak Salim sudah memanggil kita untuk sarapan. Cepatlah.”
Tanpa menunggu jawaban Keira, Arsen langsung beranjak pergi.
---
Keira duduk di atas karpet anyaman bersama Pak Salim. Di hadapan mereka sudah tersedia makanan sederhana berupa sayur, sambal, nasi, dan ikan goreng.
Meski sederhana, suasana sarapan pagi itu terasa cukup hangat.
“Pak Salim nggak ada niat menikah lagi?” tanya Keira sambil mengambil nasi.
Pak Salim tersenyum kecil. “Nggak. Saya masih setia.”
Keira mengangguk pelan. “Beruntung banget istri Pak Salim...”
Ucapannya terdengar tulus, tetapi ada sedikit nada sindiran yang terselip di dalamnya.
Pak Salim kemudian melirik ke arah Arsen yang duduk tidak jauh dari mereka.
“Kamu juga sebenarnya beruntung mendapatkan suami seperti Arsen,” katanya santai. “Dia perhatian, pekerja keras, dan sebenarnya suami yang baik.”
Gerakan Keira langsung terhenti. Ia menatap Pak Salim beberapa detik, kemudian melirik sekilas ke arah Arsen.
“Beruntung dari mana...” gumamnya pelan.
“Kerjaannya dari awal menikah cuma marah-marah.”
Arsen yang berada tidak jauh dari mereka ternyata mendengar ucapan itu. Tangan yang sedang memegang sendok berhenti sesaat.
Namun, ia tidak menoleh sedikit pun. Arsen memilih tetap diam.
Pak Salim hanya tersenyum kecil, seolah-olah ia memahami sesuatu yang bahkan belum disadari oleh Keira sendiri.
“Kadang,” ujar Pak Salim dengan suara tenang, “orang yang terlihat paling keras dari luar justru bisa menjadi orang yang paling lembut ketika sudah benar-benar peduli.”
Keira terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Sementara Arsen tetap menyantap makanannya dengan wajah datar, seolah tidak mendengar percakapan mereka.
Namun, pikirannya tidak lagi benar-benar tertuju pada makanan. Ucapan Keira tadi terus terngiang di kepalanya.
Entah mengapa, kali ini ia tidak mampu menganggap perkataan itu sebagai omelan biasa.
Di sisi lain, Keira yang masih makan sambil menggerutu tiba-tiba tersedak.
“Uhuk! Uhuk!”
Wajahnya langsung memerah.
Arsen refleks bergerak cepat. Ia mengambil gelas yang berada di dekatnya, kemudian langsung menyodorkannya kepada Keira.
“Kalau sedang makan, jangan sambil ngobrol!”
Nada suaranya terdengar tegas.
Keira segera menerima gelas tersebut dan meneguk airnya beberapa kali. Namun, ekspresinya masih tampak tidak nyaman.
“Ada... yang nyangkut...” gumamnya sambil memegangi leher. “Tulang ikan... kayaknya masih nempel.”
Tanpa berpikir panjang, Arsen langsung bangkit dan mendekat.
“Buka mulut.”
Keira belum sempat memahami maksudnya ketika Arsen sudah menahan tengkuknya dengan lembut agar posisinya tidak banyak bergerak. Dengan cepat, ia berusaha mengambil tulang kecil yang tersangkut di mulut Keira.
Keira sontak terkejut. Matanya membulat karena tidak menyangka Arsen akan bertindak seperti itu.
Beberapa detik kemudian, Arsen akhirnya berhasil mengeluarkan tulang ikan tersebut.
Namun, tubuh Keira sudah lebih dulu bereaksi.
Ia spontan menepis tangan Arsen dan memalingkan wajah.
“Huek—”
Keira langsung muntah.
“Keira!”
Arsen pun segera mundur sedikit. Wajahnya berubah kaku ketika menyadari tindakannya tadi terlalu mendadak.
“Aku...” Kalimatnya terhenti.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Keira masih terbatuk-batuk. Napasnya belum sepenuhnya teratur setelah kejadian tadi.
“Maaf...” ujar Arsen akhirnya. Suaranya terdengar jauh lebih pelan dari biasanya.
Keira mengusap bibirnya sambil masih berusaha menenangkan napas.
“Kamu tuh... setidaknya bilang dulu...” gumamnya lemah.
Arsen terdiam. Pak Salim yang sejak tadi memperhatikan mereka hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
“Itu namanya refleks orang yang khawatir,” katanya santai.
Arsen langsung bungkam. Sementara Keira menundukkan wajahnya. Pipinya perlahan memerah.
Entah karena baru saja tersedak...
Atau karena untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Arsen yang begitu spontan menunjukkan kekhawatirannya.
Tapi juga karena sikap Arsen yang, lagi-lagi, membuatnya tidak tahu harus merasa apa.
---
Suasana siang itu cukup ramai. Para mahasiswa KKN berkumpul, bercanda, dan saling menyemangati satu sama lain.
Keira duduk bersama Rina dan yang lainnya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan sebelumnya.
“Keira, semangat ya!” ucap Kevin sambil tersenyum.
Keira membalasnya dengan senyum kecil. “Iya, makasih.”
Interaksi sederhana itu sebenarnya biasa saja.
Tapi tidak bagi seseorang. Dari kejauhan, Arsen melihat semuanya.
Tatapannya seketika berubah tajam. Keira yang sadar sedang diperhatikan justru sengaja bersikap lebih santai. Ia tertawa kecil, lalu membalas obrolan Kevin dengan lebih ramah.
“Rasain...” gumam Keira dalam hati. “Dia pikir nggak ada cowok yang suka sama aku.”
Ia bahkan sedikit memainkan rambutnya, sengaja terlihat lebih ceria dan menarik di hadapan yang lain.