Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Reyna... kau... sejak kapan kau mengerti hukum korporasi?" tanya Julian, mencoba tertawa gugup untuk mencairkan suasana. "Sayang, ini hanya bahasa hukum yang rumit. Pengacara kita yang menyusunnya, dan mereka bilang itu format standar..."
"Format standar tidak mencantumkan klausul yang membebaskan penerima saham dari segala tuntutan hukum di masa lalu terkait penggelapan dana dividen," potong Reyna tajam.
Ia menatap Julian, lalu mengalihkan tatapannya pada Richard. "Atau apakah Papa dan pengacaramu memang sengaja menyembunyikan fakta bahwa perusahaan sedang tidak sekadar 'dituntut', melainkan sedang diaudit karena ada dana yang dialihkan secara ilegal?"
"Berani sekali kau menuduhku!" Richard menggebrak meja, wajahnya memerah oleh amarah. "Aku ayahmu! Aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu dari kebangkrutan!"
"Jika Papa melakukannya untuk menyelamatkanku, Papa tidak akan meminta tanda tanganku di hari ulang tahun ibuku yang ke-25," balas Reyna tanpa ragu.
Suaranya tidak bergetar. Tidak ada air mata. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Hanya ada ketenangan yang mengerikan.
Reyna menutup map itu dan menggeserkannya kembali ke tengah meja. Ia berdiri dari kursinya, merapikan roknya dengan gerakan anggun.
"Aku tidak akan menandatangani ini, Papa. Bukan hari ini. Dan bukan dengan format seperti ini," ucap Reyna, menatap ketiga orang yang dulu ia sebut sebagai dunianya.
"Mulai besok, aku akan membawa dokumen ini ke pengacara independenku. Jika memang ini untuk menyelamatkan perusahaan, mari kita lakukan audit forensik terlebih dahulu. Aku yakin, akan banyak hal menarik yang kita temukan tentang ke mana perginya dana perusahaan selama tiga tahun terakhir."
Tanpa menunggu respons, Reyna berbalik badan dan melangkah keluar dari ruang kerja itu.
Di belakangnya, ia bisa mendengar suara Richard yang mengumpat pelan, dan Julian yang berbisik panik pada Clarissa.
Topeng kalian sudah mulai retak. Sekarang, saatnya aku yang memegang kendali.
***
Pintu kamar Reyna tertutup dengan bunyi klik yang pelan, namun bagi telinganya, suara itu terdengar seperti dentuman palu hakim yang memvonis hukuman mati bagi siapa saja yang mencoba mengganggunya.
Reyna menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu solid itu, membiarkan napasnya yang tadi tertahan kini keluar dalam helaan panjang. Tangannya masih gemetar bukan karena ketakutan, melainkan karena adrenalin yang membanjiri sistem sarafnya. Ia baru saja melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan dalam kehidupan pertamanya: ia melawan.
Di kehidupan sebelumnya, jika ia menolak menandatangani dokumen itu, ia pasti akan menangis, meminta maaf, dan akhirnya menyerah karena merasa bersalah telah mengecewakan ayahnya. Tapi hari ini, ia melihat wajah Richard berubah dari otoritas menjadi kemarahan yang telanjang. Ia melihat Julian yang panik. Ia melihat Clarissa yang bingung.
Mereka tidak siap. Mereka mengira Reyna adalah domba yang sudah dipotong tanduknya. Mereka salah.
Reyna melangkah menjauh dari pintu, menuju meja riasnya. Ia menatap pantulan dirinya lagi. Wajah itu masih muda, masih mulus, belum tersentuh oleh kerutan penderitaan. Namun, matanya... matanya adalah mata seorang veteran perang yang telah melihat neraka.
"Vincent..." bisiknya.
Satu nama itu terlintas di benaknya. Vincent Valerian.
Di kehidupan sebelumnya, Richard pernah memberitahunya bahwa Vincent, pengacara pribadi mendiang ibu Reyna, adalah seorang koruptor yang mencoba menggelapkan aset ibunya.
Reyna yang bodoh dan mudah dipengaruhi langsung memecat Vincent, bahkan melaporkan pria itu ke polisi hingga karir dan hidupnya hancur.
Reyna baru tahu kebenaran itu saat ia sudah berada di dasar jurang kehancuran, saat ia menemukan berkas asli di antara barang-barang bekas ibunya yang sempat ia selamatkan sebelum dibakar oleh Clarissa.
Vincent tidak pernah mencuri sepeser pun. Dia adalah satu-satunya orang yang mencoba melindungi aset Reyna dari cakar Richard. Dan Reyna membalasnya dengan menghancurkan hidupnya.
"Aku akan memperbaikinya, Vincent. Aku bersumpah," gumam Reyna.