Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HADIAH DARI KAISAR
Tok
Tok
Tok
"Lady Aura! Di bawah ada pengawal dari istana kekaisaran datang!" teriak salah satu pelayan dari luar kamar dengan suara panik.
Aura langsung membuka matanya, alis cantiknya bertaut rapat.
"Pengawal istana? Mau apa lagi pria tua itu?" gerutu Aura kesal, menghela napas panjang.
Sora meringis pelan, memandangi majikannya cemas.
"Apakah Kaisar Zane mengirim orang untuk menangkap Anda?" tanya Sora, pelan.
Aura mendengus sinis, berdiri dari sofa sembari merapikan gaun birunya.
"Menangkap ku? Mana berani pria itu," cibir Aura penuh percaya diri.
"Ayo turun, Sora, kita lihat drama apa lagi yang mau dimainkan utusan Kaisar itu," ucap Aura melangkah anggun keluar kamar.
Di ruang tamu utama kediaman Duke Luminar, Nico berdiri tegap, di sampingnya, beberapa prajurit membawa tiga peti kayu berukir emas yang tampak sangat mewah.
Duke Daren dan Duchess Clara berdiri tidak jauh dari sana dengan raut wajah tegang dan bingung.
Tak
Tak
Tak
Suara ketukan hak sepatu Aura terdengar menuruni tangga utama.
Nico yang menyadari kehadiran calon Permaisuri itu langsung berbalik badan dan membungkuk hormat dalam-dalam.
"Salam, Lady Aura Luminar," ucap Nico sangat sopan.
Aura menghentikan langkahnya di samping sang ayah, menatap Nico dan tiga peti mewah di belakangnya dengan pandangan curiga.
"Tuan Nico... ada urusan apa Anda datang ke kediaman saya?" tanya Aura dingin tanpa basa-basi.
Nico menyunggingkan senyum ramah, memberi isyarat pada para prajurit untuk membuka ketiga peti kayu tersebut.
Srett
Saat penutup peti dibuka, kilauan indah langsung memenuhi ruangan.
Peti pertama berisi puluhan kain sutra kualitas tertinggi berwama biru muda.
Peti kedua berisi perhiasan berlian dan batu permata biru yang sangat langka.
Sedangkan peti ketiga berisi beraneka ragam perhiasan emas yang sangat indah.
Duchess Clara menahan napasnya kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"A-apa ini semua, Tuan Nico?" tanya Duke Daren membelalakkan matanya tidak percaya.
Nico menegakkan tubuhnya, menatap Aura yang justru menatap tumpukan harta itu dengan raut wajah datar.
"Ini adalah hadiah khusus dari Yang Mulia Kaisar Zane Caliber untuk Lady Aura," ucap Nico, sopan.
Aura menaikkan sebelah alisnya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Hadiah? Untuk apa beliau mengirim tumpukan barang mewah ini padaku?" tanya Aura bernada meremehkan.
Nico berdeham pelan, menyunggingkan senyum jahil yang langsung diingatnya sesuai perintah sang Kaisar.
"Yang Mulia bilang, beliau memilih batu permata dan kain sutra biru ini karena warna biru sangat senada dengan gaun yang Anda pakai tadi pagi, Lady," jawab Nico jujur.
Aura mendengus sinis, menyunggingkan senyum miringnya yang tajam.
"Katakan pada Kaisar kalian, aku tidak bisa dibeli dengan batu permata atau kain sutra murah seperti ini," cibir Aura pedas.
Nico terkekeh pelan, sudah menduga reaksi tajam dari gadis berani ini.
"Dan... ada satu pesan pribadi dari Yang Mulia Kaisar yang wajib saya sampaikan langsung pada Anda, Lady Aura," lanjut Nico mencondongkan tubuhnya sedikit.
Duke Daren dan Duchess Clara makin menajamkan pendengaran mereka, penasaran setengah mati.
"Pesan apa?" tanyanya Aura malas.
Nico menatap lurus manik mata Aura, lalu mengucapkan kalimat itu dengan sangat lancar tanpa berkurang satu kata pun.
"Yang Mulia menyampaikan, gaun biru yang Anda pakai hari ini sangat cocok untuk calon Permaisurinya," ucap Nico mantap.
Brak
Duke Daren hampir saja tersedak ludahnya sendiri, matanya melotot tajam menatap Nico.
Sora yang berdiri di belakang Aura langsung menutup mulutnya rapat-raut, matanya membelalak lebar mendengar pesan manis dari penguasa kekaisaran itu.
Sedangkan Aura?
Wajah cantiknya seketika memerah, bukan karena malu atau senang, melainkan karena rasa emosi dan geram yang luar biasa membakar dadanya.
"Pria tua gila itu... benar-benar cari mati!" batin Aura mengepalkan tangannya nya kuat.
Aura menatap Nico dengan tatapan tajam yang seolah siap menguliti pria itu hidup-hidup di tempat.
"Apa Anda bilang?" ulang Aura dengan suara rendah, tapi sarat akan ancaman yang sangat jelas.
Nico merinding pelan, namun berusaha tetap mempertahankan senyum nya meski pelipisnya mulai meneteskan keringat dingin.
"Saya hanya menyampaikan pesan dari Yang Mulia Kaisar Zane, Lady Aura," jawab Nico sopan sembari membungkukkan tubuhnya sedikit.
Duke Daren yang sejak tadi menahan napas langsung maju satu langkah, wajahnya memerah padam menahan amarah.
"Tuan Nico! Tolong jaga ucapan Anda! Kaisar Zane boleh saja menjadi penguasa kekaisaran ini, tapi dia tidak bisa seenaknya mengklaim putriku sebagai calon Permaisuri!" tegas Duke Daren dengan suara berat yang menggelegar di ruang tamu.
Duchess Clara memegang lengan suaminya, mengelus pelan untuk menenangkan, meski raut wajahnya sendiri dipenuhi kebingungan.
"Tuan Nico, pertunangan Aura baru saja dibatalkan. Bagaimana bisa Kaisar tiba-tiba mengirim hadiah lamaran seperti ini?" tanya Duchess Clara heran.
Nico berdeham pelan, menatap kedua orang tua Aura bergantian.
"Ini bukan hadiah lamaran resmi dari Istana, Duchess," terang Nico lugas.
"Ini adalah hadiah pribadi dari Yang Mulia Kaisar Zane untuk Lady Aura," lanjut Nico meniti tiap kata dengan hati-hati.
Aura tertawa hampa, tawa dingin yang langsung membekukan suasana riuh di ruangan itu.
"Hadiah pribadi?" cibir Aura menyunggingkan senyum miring paling tajamnya.
Aura melangkah mendekati salah satu peti berukir emas yang berisi tumpukan permata biru bersinar, mengambil satu buah batu permata biru berukuran besar, lalu menggenggamnya santai.
"Tuan Nico," panggil Aura santai, memutar-mutar batu permata mahal itu di jemari lentiknya.
"Saya, Lady Aura?" sahut Nico sigap.
"Bawa kembali semua ini ke istana," perintah Aura dingin tanpa ragu sedikit pun.
Nico membelalakkan matanya kaget.
"M-membawanya kembali? Tapi Lady, ini pemberian langsung dari Yang Mulia-"
"Lalu kenapa kalau pemberian dari Kaisar?" potong Aura cepat, menatap Nico dengan tatapan merendahkan.
"Aku bukan wanita murahan yang bisa disuap!" tegas Aura pedas.
Brak
Aura melempar batu permata mahal itu kembali ke dalam peti.
"Bawa semuanya pulang, dan sampaikan pesan balasan dariku untuk Kaisar gila kalian itu," lanjut Aura menaikkan dagunya angkuh.
Nico menelan ludahnya susah payah, firasatnya makin tidak enak.
"P-pesan apa, Lady?" tanya Nico, gugup.
Aura tersenyum manis, sebuah senyuman indah tapi penuh racun yang sangat mematikan.
"Katakan padanya... kalau beliau kekurangan wanita untuk dijadikan Permaisuri, suruh beliau cari wanita lain yang mau dibeli pakai harta," ucap Aura penuh penekanan.
"Karena Aura Luminar bukan wanita yang bisa ditundukkan cuma dengan tumpukan sampah mewah ini," lanjut Aura mematikan.
Glek
Duke Daren dan Duchess Clara melotot panik mendengar putrinya terang-terangan menyebut hadiah mahal kekaisaran sebagai sampah mewah.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛