Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
46 Detik Berhenti
Minggu Pertama Daring - 46 Detik Yang Berhenti*
Minggu pertama aku mulai kuliah daring dengan laptop di meja pendopo yang hangat. Angin Cukir sepoy-sepoy masuk dari sela jendela kayu, bikin mataku berat. Dosen Fiqih Munakahat di layar Zoom sedang menjelaskan panjang lebar tentang hak dan kewajiban suami istri. Aku mencatat pelan, sesekali menguap, tapi hati ini semangat. Karena aku di rumah. Di ndalem. Dijaga.
Tanpa ku sadari, Gus Azam datang dari arah samping. Tidak ada suara langkahnya. Tiba-tiba saja di samping laptopku sudah ada segelas susu hamil hangat yang masih mengepul dan sepiring kue ape kesukaanku yang pinggirannya masih garing.
"Ning, sambil diminum ya susunya. Jangan terlalu serius loh, kasian Detun-nya nanti kelelahan," bisiknya pelan, takut mengganggu Zoom-ku.
Aku pun menoleh. Gus Azam sudah duduk di kursi kayu sebelahku, memakai baju koko putih dan sarung hitam, wangi parfumnya yang khas itu langsung menenangkan.
"Iya makasih Gus, nggak kok, bentar lagi selesai Gus," jawabku sambil mematikan mic Zoom.
Gus Azam tersenyum, tangannya terulur mengusap perutku yang masih rata di balik gamis. "Pinter istri saya. Kuliah jalan, Detun-nya juga sehat."
Aku baru mau menyuap kue ape, tiba-tiba HP Gus Azam yang tergeletak di meja pendopo bergetar keras. Layarnya menyala. Nama: *ABAH TEBUIRENG*
Gus Azam langsung mengangkat dengan wajah wibawa.
"Assalamualaikum Bah... nggih... nggih Bah..."
Senyumnya hilang. Seketika. Wajahnya yang tadi lembut langsung pucat. Matanya membelalak. Tangannya yang mengusap perutku tadi mengepal.
"APA? DI MANA SEKARANG?"
Aku kaget. Dosen di Zoom masih ngomong tapi suaraku sudah tercekat. "Gus? Ada apa Gus?"
Gus Azam berdiri. "Innalillahi... Tipah... Tipah dijambret Bah? Di perempatan Cukir sepulang kampus? Ya Allah... Kondisinya gimana?"
Darahku langsung berhenti mengalir. Ning Latifah.
Tas ransel pink. Dia tadi berangkat jam 6 pagi, kelas regular.
"Tipah dijambret?" teriakku pelan, laptop hampir kujatuhkan.
Gus Azam menutup telepon. Napasnya memburu. "Ning Latifah dijambret motor, tasnya ditarik, dia jatuh ke aspal. Sekarang dibawa santri ke Klinik Tebuireng. Abah bilang lukanya banyak, dia pingsan."
"Ya Allah Tipah!!" Aku langsung menangis. Sahabatku. Adikku.
Gus Azam langsung meraih kunci motor vespa matic putih kesayangannya yang terparkir di pendopo. Vespa yang jarang dia pakai kalau tidak buru-buru.
"Gus mau kemana?!" Ning Ummah keluar dari dalam ndalem, mendengar keributan kami.
"Ke Tebuireng, Ummah. Tipah kecelakaan," jawab Gus Azam singkat. Wajahnya tegang.
"Gus, pakai mobil saja! Jangan pakai vespa!" teriakku. Entah kenapa firasatku tidak enak. Sangat tidak enak. Perutku mual tiba-tiba.
Gus Azam menatapku, mengusap kepalaku cepat. "Mobil Abah pakai buat bawa Tipah ke klinik, Ning. Vespa lebih cepat nyelip. Kamu di rumah saja ya, jaga Detun. Doain Tipah sama saya. Jangan nangis, Ning."
Dia mencium keningku sekilas, lalu lari. Suara vespa itu meraung keras meninggalkan pendopo Darunnajah. Aku melihat punggungnya yang gagah itu menjauh, membelah jalanan Cukir yang ramai.
Itu terakhir kalinya aku melihat punggungnya tegak seperti itu.
15 menit kemudian.
HP Ning Ummah berdering. Bukan dari Tebuireng. Dari nomor tidak dikenal.
"Halo... iya ini dari ndalem Darunnajah... Apa? Laka? Vespa putih? Ya Allah..."
Brak.
HP Ning Ummah jatuh ke lantai.
"UMMAH! UMMah kenapa?!" Aku langsung memeluk Ning Ummah.
Ning Ummah gemetar, air matanya langsung pecah. "Gus Azam... Gus Azam kecelakaan di tikungan Pasar Cukir... ditabrak truk pasir dari belakang... katanya... katanya terlempar..."
Duniaku runtuh.
"GUS AZAAAMMM!!!" Jeritanku memecah pendopo. Laptopku yang masih Zoom masih menyala, dosen dan teman-teman kuliahku mendengar jeritanku itu. Aku tidak peduli. Aku langsung berlari tanpa alas kaki ke jalan.
Kami berdua, aku, Ning Ummah, naik mobil yang ada dengan sopir ndalem, ngebut ke arah yang disebutkan. Ke RSUD Jombang.
Di sepanjang jalan, aku terus istighfar, perutku kupegang, air mataku tidak berhenti.
"Gus... Gus jangan tinggalin Piah... Detun masih butuh Abi-nya... Gus..."
Sampai di UGD RSUD Jombang, suasana sudah ramai.
Di depan ruang UGD, aku melihat vespa putih Gus Azam hancur. Hancur total. Ban depannya lepas. Bodinya ringsek.
Dan di dalam UGD, aku melihat pemandangan yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.
Gus Azam terbaring di ranjang UGD, baju koko putihnya penuh darah. Darah segar. Kepalanya diperban, darah masih merembes. Kakinya bengkok tidak wajar. Alat detak jantung di sampingnya berbunyi pelan. Tiit... tiiit... tiiit...
Di samping ranjang satunya, Ning Latifah terbaring dengan kaki diperban, wajahnya lebam, tas ransel pink-nya yang sobek tergeletak di lantai penuh darah. Dia menangis histeris melihat Gus Azam.
"GUS! GUS AZAM! MAAFKAN TIFAH GUS! GARA-GARA TIFAH GUS KECELAKAAN! MAAFKAN TIFAH!"
Ning Latifah mencoba turun dari ranjang, tapi ditahan perawat.
Aku langsung jatuh terduduk di lantai UGD, memeluk kaki ranjang Gus Azam.
"Gus... Gus bangun Gus..." bisikku dengan suara yang sudah habis. Aku genggam tangan Gus Azam yang dingin dan penuh darah itu. "Piah di sini Gus... Detun di sini... Gus jangan tidur..."
Ning Ummah yang biasanya paling tegar sebagai istripertama, sekarang menangis, menciumi tangan Gus Azam.
Ning Ummah hanya bisa, istighfar tidak berhenti, air matanya mengalir deras melihat keadaan Gus Azam.
Dokter datang dengan wajah serius. "Keluarga Gus Azam?"
Kami berdua langsung berdiri.
"Kondisi Gus Azam kritis. Benturan keras di kepala dan dada. Pendarahan banyak. Kami sudah berusaha, tapi..."
Dokter itu melihat alat detak jantung.
Tiit... tiiit... tiiiiiiiiiittttttt...
Suara itu memanjang.
Detak itu berhenti. Garisnya lurus.
"NADI BERHENTI! CODE BLUE! CODE BLUE!" Teriak perawat. Alat kejut jantung didorong masuk.
"GUS!!!"
Kami bertiga menjerit bersamaan. Aku merasa rahimku sakit luar biasa, tapi rasa sakit hatiku jauh lebih sakit.
Ning Latifah pingsan di ranjangnya.
Aku memeluk tubuh Gus Azam yang sudah tidak bergerak itu.
"Gus, Piah mohon Gus... jangan tinggalin Piah... Piah belum sempat bilang makasih buat susu dan kue ape tadi... Gus bangun... Detun manggil Abi-nya Gus..."
Ning Ummah sudah tidak bersuara, hanya memeluk dada Gus Azam yang berlumuran darah, menangis tanpa suara.
Dokter mulai melakukan kompresi dada. Satu... dua... tiga...
Satu detik terasa seperti satu tahun.
Di ruangan UGD yang bau darah dan obat itu, tiga istri yang sangat mencintai satu laki-laki yang sama, menangis dengan cara yang paling menyakitkan.
Ya Allah... jangan ambil Gus Azam kami hari ini...
Aku ga berhenti beristigfar sambil memegang erat perut ku yang sudah mulai aga kram karena terlalu berat menahan sakit ini..
Dan Ning Ummah pun lemas bersandar pada dinding ruang UGD yang dingin.
Sedangkan Ning Latifah masih terbujur kaku pingsan tak sadarkan diri...
Namun hati kami yakin Gus Azam suami kami akan selamat dan akan ada keajaiban dari Gusti Alloh...