NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:175
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Mikyail Ilham

Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
​Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
​Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
​"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Gerbang Akademi dan Pertemuan Pertama

Dua tahun berlalu dengan cepat. Hari yang ditunggu-tunggu oleh ribuan pemuda di wilayah Barat Daya akhirnya tiba.

​Di kaki Pegunungan Shiwan, berdiri sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari batu hitam kelam. Gerbang itu dipenuhi ukiran tengkorak dan taring naga—pintu masuk utama menuju Akademi Kultus Iblis (Tian Mo Xueyuan).

​Pagi itu, ribuan calon murid dari berbagai klan dan wilayah berkumpul di halaman luas depan gerbang. Udara di sana terasa dingin dan dipenuhi tekanan Ki yang saling berbenturan. Anak-anak dari klan elit berbaris dengan pakaian sutra mewah, dikawal oleh pengawal pribadi yang memancarkan aura membunuh.

​Di barisan paling belakang, Cheon Ryeon berdiri dengan tenang. Dia mengenakan jubah hitam sederhana milik Klan Cheon. Di sampingnya, Tang Jin-Bao sibuk membetulkan letak kantong kain di pinggangnya sambil sesekali menyapu keringat dingin di dahi.

​"Aduh, Ryeon... tekanan di sini horor banget," bisik Jin-Bao gelisah sambil melirik anak-anak dari klan atas. "Kau lihat anak jangkung berbaju merah di depan sana? Itu Ma Cheon-Wo, calon jenius nomor satu dari Klan Ma! Katanya dia sudah menembus puncak Ranah Kondensasi di usia sepuluh tahun!"

​Ryeon melirik sekilas ke arah anak berbaju merah yang sedang berdiri angkuh dikelilingi para pengikutnya.

​Puncak Ranah Kondensasi? analisis Ryeon dalam hati. Posturnya terlalu membusung, tumpuan kakinya berat ke kanan. Terlalu banyak makan pil pemicu Ki tanpa memperkuat struktur tulang. Di mataku, dia cuma balon gas yang gampang diledakkan.

​"Fokus saja sama tugasmu, Jin-Bao," sahut Ryeon tenang. "Di Akademi ini, hal paling berbahaya bukan mereka yang pamer kekuatan, tapi jebakan dan aturan yang belum kita tahu."

​Belum sempat Jin-Bao menjawab, suara dentuman gong raksasa bergema menggelegar dari atas benteng.

​DANGGG!

​Suara itu mengandung dorongan Ki yang sangat kuat, membuat ratusan calon murid yang tidak siap langsung oleng dan memegangi telinga mereka yang berdenging. Namun, Ryeon dan Jin-Bao tetap berdiri stabil. Ryeon sudah mengajarkan Jin-Bao cara menetralkan tekanan gelombang suara dengan mengatur frekuensi getaran di gendang telinga.

​Seorang pria berambut abu-abu dengan mata satu melangkah ke atas panggung benteng. Dia mengenakan jubah merah tua—pakaian khas Instruktur Utama Akademi.

​"Dengar, kalian para sampah!" suara pria itu bergema nyaring, dingin dan penuh penghinaan. "Nama saya Instruktur Dokgo! Di Akademi ini, status sosial klan kalian tidak berlaku! Di sini tidak ada Tuan Muda atau Putri Raja! Yang ada cuma pemburu dan mangsa!"

​Instruktur Dokgo menunjuk ke arah hutan lebat yang membentang di balik gerbang batu.

​"Ujian pertama kalian adalah Ujian Hutan Bayangan! Tugas kalian sederhana: capai bangunan Akademi di puncak bukit sebelum matahari terbenam! Tapi di dalam hutan, kami sudah menyebar lima ratus Batu Identitas."

​Dia mengangkat sebuah batu giok hitam berukuran sebesar telapak tangan.

​"Hanya mereka yang berhasil membawa minimal satu Batu Identitas saat mencapai puncak yang dinyatakan lulus sebagai murid resmi! Artinya... dari dua ribu orang di sini, cuma lima ratus orang yang bakal diterima! Sisanya? Kembali ke klan kalian sebagai pecundang, atau jadi mayat di dalam hutan!"

​Seketika itu juga, suasana di halaman menjadi sangat tegang. Saling lirik penuh rasa curiga dan niat membunuh langsung menyebar di antara para calon murid. Ini bukan sekadar ujian lari, tapi perang eliminasi terbuka!

​"Gerbang dibuka! Mulai!" teriak Instruktur Dokgo keras.

​BAM!

​Gerbang batu hitam terbuka lebar. Ribuan anak langsung melesat masuk ke dalam hutan seperti sekawanan serigala lapar, saling berdesakan dan saling jegal demi menjadi yang terdepan.

​"Ryeon! Kita bagaimana?! Langsung lari juga?!" seru Jin-Bao panik melihat kerumunan orang yang saling sikat.

​"Jangan bodoh," tahan Ryeon sambil menarik bahu Jin-Bao ke balik pohon besar di dekat gerbang. "Berada di barisan depan saat situasi kacau cuma bikin kita jadi sasaran empuk. Biarkan para idiot itu saling bantai dulu."

​Ryeon berlutut, mengamati jejak tanah dan pergerakan angin yang keluar dari dalam hutan.

​"Dua ribu orang berebut lima ratus batu," analisis Ryeon datar. "Artinya, orang-orang klan besar seperti Klan Ma dan Klan Baek pasti bakal menguasai titik-titik strategis seperti sungai dan bukit buat menghadang peserta lain. Mereka bakal mengumpulkan batu tanpa perlu capek-capek mencari."

​Jin-Bao menelan ludah. "T-terus kita harus gimana?"

​Ryeon menyunggingkan senyum tipis. "Kita pakai cara yang lebih efisien. Kita biarkan mereka yang mengumpulkan batunya untuk kita."

​Satu jam kemudian, di dalam Hutan Bayangan.

​Suara dentingan senjata dan jeritan kesakitan bergema di berbagai sudut hutan. Seperti dugaannya, tempat itu telah berubah menjadi medan bantai.

​Di sebuah area terbuka dekat aliran sungai kecil, empat orang anak berseragam Klan Ma sedang berdiri sambil tertawa-tawa. Di depan mereka, lima peserta dari klan-klan kecil tergeletak babak belur di tanah. Karung-karung perbekalan dan Batu Identitas mereka telah dirampas.

​"Hahaha! Gampang banget!" pamer salah satu anak Klan Ma sambil melempar-lempar tiga Batu Identitas di tangannya. "Anak-anak dari klan sampah memang cuma berguna buat jadi penambang batu kita!"

​"Hei, lihat sana! Ada dua orang lagi yang datang!" seru temannya sambil menunjuk ke arah semak-semak.

​Dari balik semak-semak, Ryeon dan Jin-Bao melangkah keluar dengan santai.

​Anak-anak Klan Ma itu mendadak menghentikan tawa mereka saat mengenali jubah yang dipakai Ryeon.

​"Lho? Itu kan jubah Klan Cheon?" pimpinan kelompok itu tertawa mengejek. "Dan anak gempal di sebelahnya... bukankah itu si anak buangan dari Klan Tang? Wah, wah! Hari ini keberuntungan kita benar-benar bagus!"

​"Klan Cheon urutan ke-10 yang hampir punah itu?" tambah temannya sinis sambil mencabut pedang kayunya. "Serahkan Batu Identitas kalian dan berlutut! Kalau kalian memohon dengan manis, mungkin kami cuma patahkan satu kaki kalian!"

​Jin-Bao yang berdiri di samping Ryeon mendadak menghela napas panjang. Rasa takut yang dulu selalu menghantuinya kini mendadak hilang, berganti dengan rasa kasihan melihat anak-anak Klan Ma yang sok jagoan itu.

​"Ryeon..." bisik Jin-Bao pelan. "Boleh aku yang urus empat orang ini?"

​Ryeon melirik Jin-Bao sebentar, lalu mengangguk pelan. "Gunakan rotasi tiga titik. Jangan buang-buang energi."

​"Siap, Bos!"

​Melihat dua anak di depannya malah berbisik-bisik tanpa rasa takut, empat anak Klan Ma itu merasa dihina.

​"Cari mati kalian!" teriak pimpinan mereka sambil menerjang maju, mengayunkan pedang kayunya yang sudah dilapisi tipis energi Ki ke arah kepala Jin-Bao.

​Namun, Jin-Bao tidak mundur. Mengingat latihan biomekanika dan pergerakan saraf yang diajarkan Ryeon selama empat tahun, Jin-Bao memiringkan badannya hanya lima sentimeter ke kanan.

​SWOOSH!

​Tebasan pedang itu hanya mengenai udara kosong.

​Sebelum anak Klan Ma itu sempat menarik kembali tangannya, Jin-Bao mencubit lembut pergelangan tangan lawan dengan jari-jarinya yang sudah diolesi racun anestesi buatan sendiri, lalu memutar pergelangan tangan itu mengikuti arah momentum lawan.

​KLEK!

​"AAAGH!"

​Sendi bahu anak Klan Ma itu bergeser seketika akibat putaran momentumnya sendiri. Sebelum tubuhnya ambruk, Jin-Bao menendang bagian belakang lututnya hingga anak itu berlutut, lalu menepuk leher belakangnya dengan totokan saraf ringan.

​BRUK!

​Anak Klan Ma itu langsung pingsan tak sadarkan diri di tanah.

​Tiga anak Klan Ma lainnya membeku di tempat. Mulut mereka menganga lebar. Rekan mereka yang berada di ranah Kondensasi tingkat menengah dilumpuhkan hanya dalam waktu dua detik oleh anak gempal yang mereka ejek sebagai 'anak buangan'!

​"A-apa yang terjadi?! Serang bersamaan!" teriak dua dari mereka panik sambil menerjang dari kiri dan kanan.

​Jin-Bao tersenyum tipis. Dia merogoh kantong pinggangnya, lalu melempar segenggam bubuk hitam ke udara sambil melompat mundur dengan teknik tumpuan kaki yang sangat presisi.

​PFFFT!

​Asam dan reaksi kimia dari bubuk racikan Jin-Bao mendadak menguap saat terkena gesekan udara, menciptakan kabut tipis beraroma menyengat.

​"Uhuk! Uhuk! Mata-mataku perih! Ini racun—"

​Sebelum mereka sempat menyelesaikan kata-katanya, tiga jarum tipis berbahan baja mikro-karbon buatan Ryeon dan Jin-Bao meluncur kilat menembus kabut tipis itu.

​JEK! JEK! JEK!

​Jarum-jarum itu menancap presisi di titik saraf kelemahan di dada mereka. Seketika itu juga, aliran Ki ketiga anak Klan Ma itu terkunci rapat, membuat tubuh mereka kaku bagaikan patung dan roboh bersamaan ke tanah berlumpur.

​Seluruh pertarungan selesai dalam waktu kurang dari satu menit.

​Jin-Bao berjalan santai mendekati tubuh-tubuh yang tergeletak itu, lalu memungut kantong-kantong berisi Batu Identitas milik mereka dengan wajah berseri-seri.

​"Total ada sepuluh Batu Identitas, Bos!" seru Jin-Bao bangga sambil memamerkan batu-batu giok hitam itu pada Ryeon. "Cukup buat kita berdua lulus, bahkan ada sisa delapan!"

​Ryeon melangkah mendekat, mengambil satu batu giok hitam dan mengamati ukirannya.

​"Kerja bagus," puji Ryeon datar. "Tapi jangan senang dulu. Target kita bukan cuma lulus."

​"Eh? Maksudnya?" bingung Jin-Bao.

​"Peringkat di ujian pertama ini menentukan pembagian kamar dan jatah Makanan Energi di Akademi," jelas Ryeon sambil menatap ke arah puncak bukit tempat gerbang akhir berada. "Klan-klan besar selalu menguasai fasilitas terbaik karena mereka berada di peringkat teratas. Kalau kita mau membangun fondasi kuat, kita harus merebut posisi peringkat pertama."

​Ryeon menyimpan batu itu di dalam jubahnya.

​"Ayo bergerak," kata Ryeon dingin. "Saatnya panen batu dari anak-anak elit di puncak bukit."

1
Scorpy
mencoba baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!