NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALAH PAHAM LEVEL SINETRON

Vania menarik tangannya kembali dengan kecepatan yang hampir mustahil, seolah-olah tangan Larasati adalah kompor listrik yang baru saja dinyalakan pada suhu maksimal.

"Tidak!" ucap Vania cepat, mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda menyerah. "Saya cuma kasih plester! Itu plester Hello Kitty, bukan bom waktu!"

Tapi terlambat.

Dari balik kegelapan taman, langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar mendekat. Raka muncul dengan napas yang sedikit memburu, wajahnya tegang, dan matanya menyala dengan api khas Male Lead yang baru saja melihat kekasihnya dalam bahaya. Dia berhenti tepat di depan mereka, langsung menempatkan tubuhnya di antara Vania dan Larasati, seperti perisai manusia yang sangat dramatis.

"Vania!" bentak Raka, suaranya menggelegar dan penuh dengan tuduhan. "Lepaskan dia! Jangan coba-coba menyakiti Larasati lagi!"

Vania menatap Raka dengan tatapan yang bisa membekukan air panas. Dia bahkan tidak menurunkan tangannya yang masih terangkat. "Raka, aku baru saja menempelkan plester di lututnya. Itu namanya pertolongan pertama, bukan penyiksaan."

"Jangan berdalih!" Raka memotong, dadanya naik turun karena emosi. Dia menatap Vania dengan tatapan jijik yang sudah sangat dihafal di luar kepala. "Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku tahu kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku memilih Larasati. Tapi dengar baik-baik, Vania. Aku tidak akan pernah memilihmu. Tidak sekarang, tidak nanti, dan tidak di kehidupan selanjutnya. Jadi berhentilah berusaha menyakitinya hanya untuk mendapatkan perhatianku!"

Hening sejenak.

Vania menatap Raka. Dia menatap pria tampan dengan jas putih krem yang kini sedang berdiri dengan pose defensif itu. Lalu, Vania menghela napas panjang. Napas yang begitu panjang hingga sepertinya dia menarik seluruh oksigen di taman itu.

"Maaf ya, Raka," ucap Vania datar sambil memindai raka dari atas kebawah, suaranya serak karena kelelahan mental. "Tapi aku benar-benar tidak tertarik sama kamu. Kamu terlalu... putih. Dan logikamu terlalu berisik."

Raka terkejut. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia jelas tidak mempersiapkan skenario di mana Vania akan menolaknya dengan alasan estetika warna baju.

Di samping Raka, Larasati segera menarik lengan pria itu. "Mas Raka, tunggu! Kak Vania tidak menyakitiku! Tadi aku tersandung dan Kak Vania malah..."

"Larasati, jangan!" potong Raka cepat, menatap Larasati dengan tatapan penuh kasih sayang yang menyebalkan. "Kau terlalu baik hati. Kau selalu mencoba membela orang yang menyakitimu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu dimanipulasi lagi."

"Tapi Mas Raka, kakiku..." Larasati mencoba lagi, suaranya naik satu oktaf karena frustrasi.

"Diam, Larasati. Kau aman bersamaku," Raka menepuk tangan Larasati dengan lembut, sama sekali tidak melihat plester Hello Kitty yang mencolok di lutut wanita itu. "Ayo, kita pulang. Aku tidak mau kau berada di dekat wanita ini sedetik pun lagi."

Larasati menatap Vania dengan tatapan memohon maaf, tapi Raka sudah menarik lengannya dan berjalan menjauh, meninggalkan Vania yang berdiri sendirian di taman.

Vania menatap punggung mereka yang menjauh, lalu perlahan menoleh ke arah "kamera" imajinernya. Dia mengangkat satu alis.

"Lihat kan?" gumam Vania pada penonton tak terlihat itu. "Ini kenapa Male Lead sinetron 90-an sering bikin emosi. Telinganya pakai saringan kopi. Aku kasih plester Hello Kitty, dia bilang aku mau bunuh orang. Otaknya perlu di-defrag."

***

Di balik semak-semak yang sama, Kevin —yang entah kapan secara ajaib sudah berpindah tempat— menyaksikan seluruh adegan itu dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.

Dia tidak marah. Dia tidak cemburu. Dia hanya... bingung.

Otak Kevin, yang terbiasa menganalisis laporan keuangan dan merencanakan pengambilalihan perusahaan yang rumit, kini mengalami kemacetan total. Vania, wanita yang selama bertahun-tahun mengejarnya dan Raka dengan obsesi yang mengerikan, wanita yang pernah berteriak akan menghancurkan siapa pun yang menghalanginya mendapatkan Raka... tadi menatap Raka seperti menatap sampah.

Dia berubah, batin Kevin, matanya menyipit dalam kegelapan. Ini pasti strategi. Dia mencoba membuatku lengah. Dia pura-pura tidak peduli pada Raka agar aku menurunkan pertahananku. Atau... apakah dia cemburu? Apakah dia membantu Larasati hanya untuk menunjukkan bahwa dia bisa menjadi wanita yang lebih baik dari Larasati di mataku?

Kevin mengeluarkan ponselnya (ponsel besar seukuran batu bata dengan antena yang bisa ditarik). Dia menekan nomor dengan cepat.

"Selidiki Vania," perintahnya pelan ke telepon. "Cari tahu apa maunya. Kenapa dia tiba-tiba berhenti mengejar Raka. Apa yang dia rencanakan. Aku ingin tahu setiap gerakan dia, setiap orang yang dia temui, dan setiap barang yang dia beli."

***

Keesokan harinya, Vania terbangun dengan perasaan geli di tengkuknya. Itu adalah insting bawaan dari siapa pun yang pernah hidup di abad ke-21 dan tahu bagaimana rasanya diawasi.

Oh, jadi dia menyuruh orang menginvestigasiku, batin Vania sambil menyikat giginya di depan cermin. Klasik. Tropes "stalking investigation" sudah dimulai. Oke, Kevin. Kau mau main mata-mata? Mari kita beri kau tontonan.

Vania tahu persis bagaimana cara kerja anak buah Kevin. Mereka akan menyusup ke kamarnya, menggeledah laci, dan mencari bukti konspirasi. Jika mereka menemukan peta harta karun atau resep racun, Kevin akan semakin yakin Vania adalah penjahat ulung.

Jadi, Vania memutuskan untuk memberikan mereka bukti. Tapi bukan bukti yang menarik.

Dia duduk di meja riasnya, mengambil pulpen, dan mulai menulis dengan sangat serius. Dia membuat daftar belanjaan bulanan yang sangat, sangat membosankan.

Sabun cuci piring 1 liter. Beras 5 kg. Tisu gulung 12 pack. Obat nyamuk bakar. Jeruk nipis. Gula pasir.

Lalu, dia mengambil secarik kertas lain, meniru tulisan tangan dokter yang cakar ayam, dan menulis resep obat. Promag Tablet. Diminum 3x sehari setelah makan.

Vania meletakkan kedua kertas itu di atas meja riasnya, tepat di bawah lampu, seolah-olah dia lupa menyimpannya. Dia bahkan sengaja membiarkan laci meja riasnya terbuka sedikit.

"Kalau mau menginvestigasi antagonis, minimal cari peta pembunuh berantai atau surat pemerasan," bisik Vania pada dirinya sendiri sambil tersenyum tipis. "Ini daftar belanjaan Indomaret dan resep obat maag. Selamat bekerja, anak buah Kevin."

***

Malam itu, di dalam mobil hitam berlapis kaca gelap yang parkir di depan mansion, seorang pria berjas hitam menyerahkan sebuah map manila tebal kepada Kevin.

"Tuan Kevin, ini hasil penyelidikan kami tentang Nona Vania," lapor pria itu dengan suara gemetar. "Kami berhasil menyusup ke kamarnya dan menemukan ini. Sepertinya ini adalah rencananya."

Kevin menerima map itu. Wajahnya datar, matanya tajam. Dia membayangkan akan menemukan foto-foto Raka yang diculik, atau rencana untuk meracuni Larasati, atau setidaknya dokumen penggelapan uang perusahaan.

Dengan gerakan lambat dan dramatis, Kevin membuka map itu. Dia menarik keluar secarik kertas.

Matanya menatap tulisan di kertas itu.

Sabun cuci piring 1 liter. Beras 5 kg. Tisu gulung 12 pack...

Kevin berkedip. Dia menarik napas, mengira ini adalah kode rahasia. Dia mengambil kertas kedua di bawahnya.

Promag Tablet. Diminum 3x sehari setelah makan.

Hening.

Angin di dalam mobil seolah berhenti berhembus. Kevin menatap kertas resep itu, alisnya yang tebal berkerut begitu dalam hingga membentuk huruf V yang sempurna. Dia menatap kertas itu, lalu menatap anak buahnya, lalu kembali menatap kertas itu.

"Obat maag?" suara Kevin terdengar pelan, penuh dengan kebingungan yang tulus. "Sejak kapan Vania sakit maag?"

Anak buahnya menelan ludah, berkeringat dingin. "K-Kami tidak tahu, Tuan. Mungkin... mungkin itu kode untuk meracuni makanan?"

Kevin tidak menjawab. Dia menatap tulisan "Promag" itu dengan tatapan intens, seolah-olah sedang mencoba memecahkan kode Enigma. Di kepalanya, ribuan skenario berputar. Apakah ini jebakan? Apakah Vania sedang sakit? Atau apakah ini pesan rahasia yang hanya bisa dimengerti olehnya?

Sementara itu, di kamarnya yang hangat dan nyaman, Vania sedang minum segelas air hangat, memijat perutnya yang sedikit perih karena terlalu banyak makan roti tawar tanpa kulit, dan tertawa kecil melihat bayangan dirinya di cermin.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!