NovelToon NovelToon
Jodoh Tak Ada Yang Tahu

Jodoh Tak Ada Yang Tahu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dina Sen

Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belum saatnya

Pagi datang. Cahaya matahari masih tipis ketika Nara membuka mata.

Tubuhnya terasa jauh lebih baik dibandingkan semalam. Rasa mual sudah hampir hilang, meski sedikit lemas masih terasa.

Ia menoleh ke arah sofa.

Deon masih tertidur pulas di sana. Posisi tidurnya sedikit menyamping dengan satu tangan berada di bawah kepala.

Nara memperhatikannya beberapa detik.

Laki-laki itu benar-benar tidur di sofa hanya karena tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman. Nara kemudian bangkit perlahan dan berjalan menuju kamar mandi.

Usai membasuh wajah, ia menoleh ke arah jam dinding. Jarumnya menunjukkan waktu hampir pukul lima pagi.

Nara mengambil mukena dan segera berwudu, Tak lama kemudian, ia mulai menjalankan salat

Di tengah tidurnya, Deon perlahan membuka mata. Pandangannya masih samar, tetapi ia langsung melihat Nara yang sedang salat.

Deon diam.

Ada rasa lega yang muncul dalam hatinya ketika melihat Nara sudah bisa beraktivitas seperti biasa.

Ia kemudian bangkit dari sofa, mengambil perlengkapan mandi, lalu menuju kamar mandi.

Setelah mandi dan berwudu, Deon kembali ke kamar.

Nara baru saja selesai melipat mukenanya.

“Sudah bangun?” tanya Nara.

Deon mengangguk.

“Iya. Kamu sudah merasa lebih baik?”

“Sudah.”

“Syukurlah.”

Nara tersenyum kecil, lalu berjalan menuju dapur.

“Aku mau buat sarapan.”

Deon hendak menyusul, tetapi Nara sudah lebih dulu masuk ke dapur.

Ia membuka kulkas.

Kosong.

Nara terdiam.

“Ya ampun...”

Ia baru ingat bahwa mereka baru saja pindah dan belum sempat mengisi bahan makanan.

Akhirnya Nara mengambil roti dan selai cokelat yang masih tersisa.

Ia menyiapkan beberapa lembar roti, mengolesinya dengan selai, kemudian membuat kopi untuk Deon dan teh hangat untuk dirinya sendiri.

Tidak lama kemudian, Deon muncul di ambang pintu dapur.

“Cuma roti?”

Nara menoleh.

“Kulkasnya belum ada isinya.”

Deon tertawa kecil.

“Berarti kita memang harus belanja.”

Nara mengangguk.

“Aku nanti mau ke pasar.”

Deon langsung menjawab, “Aku antar.”

Nara sedikit terkejut.

“Enggak usah. Aku bisa sendiri.”

“Pagi-pagi begini?”

“Sudah biasa.”

Deon menggeleng. “Aku antar saja.”

Nara terdiam. Ia sebenarnya sedikit canggung pergi bersama Deon' terlebih untuk urusan sederhana seperti belanja kebutuhan rumah. Namun akhirnya ia mengangguk.

“Ya sudah.”

Deon tersenyum.

“Tunggu aku sebentar.”

Nara baru hendak bertanya ketika Deon teringat sesuatu. Motor Ninja miliknya masih berada di rumah Hanan dan Lely.

Akhirnya mereka menggunakan mobil yang sebelumnya disewa Deon dari temannya. Beberapa menit kemudian, mereka berangkat.

Sepanjang perjalanan, Nara sesekali menyebutkan bahan makanan yang ingin dibelinya.

“Telur, sayur, beras, minyak...”

“Daging juga?” tanya Deon.

“Kalau masih ada uang.”

Deon meliriknya sekilas. “Kenapa bicara seperti itu?”

Nara tertawa kecil. “Ya memang harus hemat.”

Deon ikut tersenyum. Ia semakin menyukai sisi sederhana Nara, Tak lama kemudian, mereka tiba di pasar. Nara turun lebih dulu, Deon mengikutinya.

Mereka berjalan berdampingan memasuki area pasar. Nara terlihat lebih santai daripada biasanya. Sesekali ia memilih sayuran, memeriksa harga, lalu menawar dengan penjual.

Deon hanya memperhatikan sambil membawa kantong belanja.

Sampai tiba-tiba langkahnya terhenti, Di seberang lorong pasar, seorang wanita paruh baya sedang membawa beberapa barang belanjaan.

Deon langsung mengenalinya. Itu salah satu pembantu yang sudah lama bekerja di rumah orang tuanya.

Wanita itu juga mengenal Deon. Mata mereka hampir bertemu, Deon langsung menoleh ke arah Nara.

“Ra.”

Nara menoleh.

“Kenapa?”

“Kamu belanja saja dulu.”

Nara mengernyit. “Kenapa?”

“Aku tunggu di parkiran.”

“Lho, kenapa?”

Deon menunjuk salah satu kantong belanja.

“Ini sudah cukup banyak. Aku sekalian bawa ke mobil.”

Nara melihat kantong-kantong yang ada di tangan Deon.

“Tapi baru dapat sedikit.”

“Enggak apa-apa. Kamu lanjut saja.”

Nara masih terlihat bingung. Namun Deon sudah berjalan lebih dulu. Ia sengaja mempercepat langkah menuju pintu keluar.

Bukan karena tidak ingin menemani Nara.

Justru sebaliknya. Ia hanya tidak ingin rahasianya terbongkar terlalu cepat. Jika pembantu orang tuanya sampai menyapanya di depan Nara, akan ada terlalu banyak pertanyaan.

Mengapa seseorang dari rumah orang tuanya mengenal Deon?

Mengapa Deon terlihat begitu panik?

Dan yang paling berbahaya... mengapa wanita itu memanggilnya dengan sebutan yang berbeda dari seorang karyawan biasa?

Deon menghela napas panjang ketika sampai di area parkir.

“Belum waktunya, Ra,” gumamnya pelan.

Ia menatap kembali ke arah pasar.

Sementara di dalam sana, Nara masih memilih bahan makanan tanpa mengetahui bahwa suaminya baru saja menghindari seseorang yang bisa membongkar salah satu rahasia terbesar dalam hidupnya.

...

Saat Deon masih bersandar di badan mobil, ia kembali melirik ke arah pintu pasar. Wanita yang tadi membuatnya panik akhirnya keluar dari pasar.

Deon langsung menundukkan kepala dan sedikit memiringkan tubuhnya agar wajahnya tidak mudah terlihat dari kejauhan.

Ia menahan napas beberapa saat.

Wanita itu berjalan melewati area parkir tanpa menoleh ke arahnya.

Deon baru kembali mengangkat kepala setelah memastikan wanita tersebut benar-benar pergi.

“Syukurlah...”

Ia mengusap wajahnya sebentar.

“Kalau sampai ketemu Nara, bisa repot.”

Deon kemudian kembali masuk ke dalam pasar.

Kerumunan orang semakin ramai. Suara pedagang menawarkan dagangan bercampur dengan suara pembeli yang sedang menawar harga.

Deon mencoba mencari Nara.Ia berjalan menyusuri beberapa lorong.

Tidak terlihat.

Deon akhirnya mengambil ponselnya, tetapi urung menelepon karena melihat Nara dari kejauhan.

Perempuan itu sedang berdiri di dekat tempat pemotongan ayam.

Deon segera menghampirinya. Namun baru beberapa langkah mendekat, wajah Deon tiba-tiba berubah.

Bau amis daging ayam yang cukup kuat langsung menusuk hidungnya.

Deon berhenti. Ia menelan ludah wajahnya sedikit pucat.

“Emh...”

Ia menutup hidung dengan tangannya.

Nara yang sedang memilih ayam menoleh.

“Deon?”

Deon mencoba bertahan. Ia menarik napas, tetapi justru bau amis semakin terasa. Deon langsung memalingkan wajah.

Nara mengernyit. “Kamu kenapa?”

Deon mundur beberapa langkah. “Bau amis...”

Nara terdiam. Lalu tanpa bisa menahan diri, ia tertawa kecil. “Kamu mual?”

Deon menggeleng cepat. “Bukan mual.”

Akan tetapi baru saja mengatakan itu, ia kembali menutup mulut.

Nara semakin tertawa.

“Terus apa?”

Deon menyerah.

“Ya... sedikit.”

Nara tertawa lebih lepas. “Katanya bukan mual.”

“Ini karena baunya.”

“Memangnya kamu enggak pernah ke pasar?”

“Pernah.”

“Terus?”

“Enggak pernah ke bagian ini.”

Nara menggeleng sambil tersenyum.

“Ya ampun, Deon.”

Deon melihat ayam yang sedang dipotong di hadapannya, kemudian kembali menutup hidung.

“Aku tunggu di luar saja.”

Nara tertawa kecil. “Iya, sana.”

Deon segera berbalik. Namun baru dua langkah, ia kembali menoleh.

“Belanjaanmu sudah banyak?”

Nara menunjuk beberapa kantong yang berada di sampingnya. “Sudah lumayan.”

Deon langsung mengambil semua kantong tersebut. “Biar aku bawa.”

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!