Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran? 28.
Dafa mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Dia kembali duduk tegak di tepi kasur, menyambar ponselnya dengan gerakan kasar.
Persetan dengan gengsi.
Keheningan malam ini benar-benar mencekik, dan ekspresi Lilis di tribun sore tadi seperti kaset rusak yang berputar terus-menerus di kepalanya.
Dia mencari kontak Lilis, lalu menekan tombol panggilan.
Tuuut... Tuuut...
Dafa menahan napas. Kamarnya yang sepi membuat suara nada sambung itu terdengar luar biasa nyaring.
Satu ketukan, dua ketukan. Dafa meremas seprai kasurnya.
Panggilan dialihkan.
Dafa menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap layar dengan kening berkerut. "Ditolak?" gumam nya tak percaya. Gadis itu sengaja membiarkannya masuk ke kotak suara.
Rasa penasaran bercampur dongkol mulai membakar dadanya.
Dafa bukan orang yang gampang menyerah kalau sudah kepalang tanggung. Dia menekan tombol telepon untuk kedua kalinya. Baru dua detik nada sambung berbunyi, suara operator langsung memotong kasar. Panggilan langsung dimatikan. Lilis sengaja menolak panggilannya secara manual.
"Wah, ngajak berantem nih anak," Dafa mendesis kesal.
Dia mencoba untuk ketiga kalinya. Namun, kali ini tidak ada nada sambung sama sekali.
Layar ponselnya hanya memunculkan status Calling yang langsung berubah menjadi Ended. Dafa buru-buru membuka aplikasi chat. Dia mengetik satu huruf acak dan mengirimnya.
Centang satu. Nomor Lilis mendadak tidak aktif. Cewek itu mematikan ponselnya.
Dafa melempar ponselnya ke atas bantal, lalu mengacak rambutnya frustrasi. Dia telentang, menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. Marah, bingung, dan ada rasa sesak yang aneh.
Lilis belum pernah se-ekstrim ini.
Biasanya, semarah apa pun cewek itu, dia pasti akan membalas dengan makian sepanjang kereta api. Tapi bungkamnya Lilis malam ini jauh lebih menakutkan daripada seluruh sumpah serapahnya.
**
Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika Dafa sudah memarkirkan motornya di depan gerbang rumah Lilis. Sesuai kesepakatan baru-baru ini, dia harus menjemput cewek itu. Dafa sengaja datang sepuluh menit lebih awal.
Dia bersandar di jok motor, matanya tertuju pada pintu rumah Lilis yang masih tertutup.
Lima menit berlalu, pintu itu akhirnya terbuka.
Lilis keluar dengan seragam yang rapi, tas ransel hitamnya tersampir di satu bahu. Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan, menyisakan beberapa anak rambut di sekitar pelipisnya.
Dafa bersiap memasang wajah menyebalkan seperti biasanya, tapi senyumnya luntur saat melihat mata Lilis. Ada lingkaran hitam tipis di sana, dan tatapan cewek itu tampak kosong.
Lilis berjalan mendekat, tapi gerakannya tidak se-heboh biasanya. Tidak ada omelan, tidak ada tas yang dilempar ke punggung Dafa. Dia langsung naik ke jok belakang tanpa suara.
"Ponsel lo mati?" tanya Dafa, sengaja memecah keheningan saat motor mulai membelah jalan raya.
"Lowbat," jawab Lilis singkat dari balik helmnya. Suaranya terdengar datar, teredam angin jalanan.
"Gue telepon tiga kali semalam."
"Oh."
Hanya 'oh'.
Dafa langsung mengetatkan rahangnya. Jawaban irit itu terasa seperti tamparan tipis yang menguji kesabarannya.
Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada obrolan. Atmosfer di antara mereka mendadak berubah menjadi canggung dan kaku, sebuah wilayah asing yang tidak pernah mereka masuki sebelumnya. Biasanya, motor Dafa adalah tempat mereka saling mengejek dari hal tidak penting sampai guru paling killer di sekolah.
Sekarang, jarak beberapa sentimeter di atas jok motor terasa seperti ribuan kilometer.
Suasana canggung itu terbawa sampai ke koridor sekolah, bahkan hingga jam pelajaran pertama selesai. Saat istirahat, Dafa sengaja tidak pergi ke kantin bersama anak-anak basket. Dia memilih bertahan di kelas Lilis, duduk di kursi kosong tepat di depan meja cewek itu.
Lilis sedang berpura-pura sibuk mencatat sesuatu dari buku paket Sosiologi. Dafa tahu itu cuma pengalihan isu, karena Lilis sudah membolak-balik halaman yang sama sebanyak tiga kali.
"Tugas Sosiologi yang bab interaksi sosial udah lo kelar?" Dafa membuka suara, menggunakan alasan paling logis yang bisa dia pikirkan agar tidak kelihatan terlalu kentara.
Lilis tidak mendongak. Pulpennya masih menari di atas kertas. "Belum."
"Gue liat dong yang nomor lima. Gue bingung bagian contoh akomodasinya."
Lilis menghentikan gerakan pulpennya. Dia mendongak, menatap Dafa dengan pandangan yang sulit diartikan. "Yaitu derita lo" Jawabnya singkat lagi.
Dafa berdehem, sedikit salah tingkah tapi berusaha tetap tenang. "Ya.. Lo kan tau nilai gue akhir-akhir ini turun, kasih dikit lah contekan"
Lilis menghela napas berat, lalu menutup buku paketnya dengan suara plak yang cukup keras. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangan di dada. "Daf, lo mau nanya tugas atau mau apa sebenarnya?"
"Gue cuma nanya. Lo kenapa sih dari semalam sinis banget?" Dafa mulai terpancing. Rasa penasarannya dari semalam menuntut jawaban. "Telepon gue dimatiin, nomor lo sengaja di-nonaktifin. Lo kira gue gak tahu?"
"Gue ngantuk, makanya gue matiin HP. Salah?"
"Ngantuk tapi last seen lo sepuluh menit sebelum gue telepon. Lo sengaja ngehindari gue, kan?" Dafa memajukan badannya, menatap langsung ke dalam manik mata Lilis. "Gara-gara sore tadi di aula? Gara-gara gue balik bareng Kinar?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Dafa langsung merutuki mulutnya sendiri, tapi nasi sudah menjadi bubur.
Mendengar nama Kinar disebut, sorot mata Lilis menegang. Ada kilatan terluka yang lewat begitu cepat sebelum digantikan oleh tembok pertahanan yang dingin. Lilis terkekeh, tapi kedengarannya sinis.
"Ngehindari lo? Pede banget lo jadi cowok," kata Lilis, suaranya naik satu oktav. "Gue gak peduli ya lo mau balik sama Kinar, mau keliling lapangan basket sambil pegangan tangan sama dia juga bukan urusan gue. Kita ini cuma pura-pura, Daf. Inget kan? Pura-pura. Gak usah berlagak kayak lo cowok gue beneran yang harus gue kabari dua puluh empat jam!"
Dafa tertegun. Kata 'pura-pura' itu keluar dari mulut Lilis seperti belati yang tajam. Menghantam tepat di ruang kosong di dadanya yang sempat dia rasakan semalam.
"Gue gak berlagak kayak cowok lo!" balas Dafa, suaranya meninggi, memancing perhatian beberapa anak kelas yang masih berada di ruangan. Dafa menurunkan intonasinya, tapi tatapannya makin tajam. "Gue cuma ngerasa aneh aja. Lo yang biasanya berisik kayak petasan, tiba-tiba mingkem kayak anak ayam kehujanan. Gak usah munafik, Lis. Muka lo di tribun sore tadi itu gak bisa bohong."
Lilis berdiri dari kursinya, membuat kursinya berdecit keras di lantai. Dia menatap Dafa dengan napas yang agak memburu.
"Muka gue kenapa? Muka gue emang kayak gini dari lahir! Lo tuh yang menyebalkan!" Lilis menunjuk dada Dafa dengan jari telunjuknya. "Datang-datang langsung ngegas, nuduh gue yang enggak-enggak. Lo tuh egois, tahu gak? Lo mau semua orang muter di sekeliling lo. Lo mau Kinar yang pinter itu, tapi lo juga mau gue tetep jadi badut lo yang bisa lo hubungi kapan aja pas lo bosen!"
Dafa ikut berdiri, menjulang di depan Lilis. "Badut lo bilang? Siapa yang anggap lo badut? Gue telepon lo karena gue..." Dafa menggantung kalimatnya. Kata 'khawatir' dan 'kangen' tertahan di ujung lidahnya, menolak untuk keluar karena harga diri. "...karena gue butuh lo yang biasa! Bukan Lilis yang mendadak jadi asing kayak gini!"
"Gue gak asing! Lo-nya aja yang kebanyakan drama!" Lilis bersedekah dada, membuang muka ke arah jendela. "Sumpah ya, di dunia ini, lo tuh spesies cowok paling menyebalkan yang pernah gue kenal."
"Oh ya? Bagus deh. Karena di mata gue, lo juga cewek paling gak jelas, tukang ngambek, dan hobi matiin HP paling kekanak-kanakan yang pernah ada," balas Dafa, suaranya dingin tapi sarat emosi.
Lilis kembali menatap Dafa, matanya agak berkaca-kaca tapi dia menahan tangisnya dengan kemarahan. "Kalau gue menyebalkan dan kekanak-kanakan, ngapain lo repot-repot jemput gue tadi pagi? Ngapain lo duduk di sini sekarang?!"
Dafa terdiam. Pertanyaan Lilis mengunci batinnya. Dia sendiri tidak punya jawaban yang logis untuk itu. Dia hanya tahu, dia tidak bisa membiarkan Lilis menjauh darinya.
Sebelum Dafa sempat membalas, bel masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi nyaring, memutus konfrontasi panas di antara mereka dan menyisakan ketegangan yang masih berdenyut di udara.
......................
...****************...
Tbc,