Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - KOTAK P3K DARI LANGIT
Aku tidak ingat kapan akhirnya tertidur.
Hal terakhir yang kuingat hanyalah angka pada layar sistem yang terus berkurang. Saat itu, hitungan mundur menunjukkan 06:14:22. Tubuhku masih terasa lemah akibat racun yang tertelan oleh Kahiyang asli, sementara kepalaku dipenuhi pertanyaan tentang peti milik Li Hua.
Aku berniat memikirkan semuanya setelah menemukan kunci peti itu.
Sayangnya, tubuhku menyerah lebih dulu.
Ketika membuka mata, sinar matahari sudah menyelinap melalui jendela kertas. Kicauan burung terdengar dari taman, disusul aroma mawar putih yang bercampur dengan wangi cendana di dalam kamar.
Aku mengerjap beberapa kali.
Langit-langit berukir. Tirai sutra. Ranjang kayu hitam yang ukurannya jauh lebih besar daripada ranjang mana pun yang pernah kulihat.
Aku masih berada di kamar Kaisar Segara El-Bhumi.
Namun, kursi di depan meja peta sudah kosong. Gulungan peta disusun rapi, seolah-olah pria itu tidak pernah menghabiskan sebagian malamnya di sana.
Aku langsung bangkit.
Gerakan mendadak itu membuat kepalaku berdenyut. Aku memegangi pelipis, menunggu rasa peningnya mereda.
Jangan-jangan aku diusir saat tidur?
Belum sempat aku memikirkan kemungkinan terburuk, sebuah bunyi nyaring meledak di kepalaku.
[DING! DING! DING!]
[SELAMAT! MISI PERTAMA: BERTAHAN SATU MALAM DI KAMAR KAISAR SEGARA EL-BHUMI — BERHASIL!]
[HOST BERHASIL MELEWATI MALAM PERTAMA TANPA DIUSIR ATAU DIBUNUH.]
[HADIAH MISI TELAH TERSEDIA. SILAKAN PERIKSA INVENTARIS SISTEM.]
Aku terdiam.
Berhasil?
Aku benar-benar berhasil melewati malam pertama?
Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas. Aku menyandarkan punggung ke kepala ranjang dan memejamkan mata sejenak.
Setidaknya, untuk sementara, aku masih hidup.
Di dunia asalku, pagi seperti ini biasanya kuhabiskan dengan memikirkan jadwal kuliah, revisi skripsi, atau mencari bahan penelitian. Sekarang, aku harus bersyukur hanya karena seorang kaisar belum memerintahkan kepalaku dipenggal.
Hidup memang punya cara yang aneh untuk mempermalukan seseorang.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Peti Li Hua.
Aku menyingkap selimut, lalu turun dari ranjang dengan hati-hati. Setelah memastikan tidak ada orang di dalam kamar, aku berlutut dan mengintip ke kolong ranjang.
Peti kayu tua itu masih berada di tempatnya.
Debu menutupi permukaannya. Gemboknya tetap terpasang, sementara lambang kerajaan yang terukir di bagian depan tampak samar dalam kegelapan.
Aku mengembuskan napas.
Jadi, kejadian semalam bukan mimpi. Segara benar-benar memergokiku ketika mencoba mengambil peti itu, dan peringatannya masih terngiang jelas di telingaku.
Jangan sentuh lagi.
Kalau begitu, aku harus mencari cara lain untuk mengetahui apa yang disembunyikan di dalamnya.
Namun, sebelum memikirkan peti itu lebih jauh, aku perlu memeriksa hadiah dari sistem.
“Sistem, buka inventaris.”
Sebuah layar biru muncul di hadapanku.
[INVENTARIS SISTEM DIBUKA.]
[HADIAH TERSEDIA:]
[1. KOTAK P3K LENGKAP ABAD KE-21.]
[2. INFORMASI RAHASIA ISTANA.]
Aku segera membuka keterangan hadiah pertama.
[ISI KOTAK P3K: PERLENGKAPAN PERTOLONGAN PERTAMA, TERMOMETER DIGITAL, PERBAN STERIL, ANTISEPTIK, OBAT PENURUN DEMAM, CAIRAN REHIDRASI ORAL, DAN PERLENGKAPAN MEDIS DASAR LAINNYA.]
Aku hampir tersenyum lebar.
Barang-barang itu mungkin terlihat biasa di abad ke-21, tetapi di tempat seperti ini, benda sederhana bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Kemudian aku membaca hadiah kedua.
[INFORMASI RAHASIA ISTANA:]
[PERMAISURI PERTAMA, LI HUA, DIDUGA DIPAKSA MENELAN RACUN ATAS PERINTAH IBU SURI. KEMATIANNYA KEMUDIAN DIKAITKAN DENGAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI.]
Senyumku lenyap.
Aku membaca kalimat itu sekali lagi, berharap telah salah memahami kata-katanya.
Li Hua diduga dipaksa menelan racun oleh Ibu Suri?
Berarti kabar bahwa Segara membunuh permaisuri pertamanya mungkin tidak sepenuhnya benar.
Aku teringat ekspresinya ketika melihat peti di bawah ranjang. Kemarahan yang begitu tajam, cara dia menyebut Li Hua dengan suara dingin, dan tatapan sekilas yang sulit kuartikan.
Mungkin ada sesuatu di balik sikapnya.
Namun, satu informasi dari sistem bukanlah bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Segara tidak bersalah. Aku bahkan belum tahu dari mana sistem memperoleh rahasia tersebut, apalagi apakah informasi itu lengkap.
Aku harus mencari bukti sendiri.
Sayangnya, kesempatan untuk berpikir lebih jauh segera terputus.
Pintu kamar terbuka. Mbok masuk bersama dua pelayan muda yang membawa baskom air dan handuk bersih.
Begitu melihatku duduk di ranjang, wajah Mbok berubah lega.
“Gusti Putri!”
Ia berjalan tergesa-gesa, nyaris menjatuhkan baskom yang dibawanya salah satu pelayan.
“Syukurlah Gusti sudah bangun.” Suaranya bergetar. “Mbok takut terjadi sesuatu kepada Gusti semalam.”
Mbok meraih tanganku dengan kedua tangannya yang keriput. Matanya memerah, seolah-olah ia telah menangis cukup lama.
Aku baru hendak menenangkannya ketika menyadari sesuatu.
Tubuhnya menggigil.
Wajahnya memerah, tetapi bibirnya justru tampak pucat. Napasnya pendek-pendek, dan sesekali ia menekan dadanya seolah sedang berusaha mengusir rasa tidak nyaman.
“Mbok, kenapa?”
“Tidak apa-apa, Gusti. Hanya badan terasa kurang enak.”
“Sejak kapan?”
“Sejak semalam, mungkin. Mbok menunggu di luar Balairung sampai pagi. Udara di sana dingin sekali.”
Aku menyentuh dahinya.
Panas.
Seketika, sisa kebahagiaanku karena berhasil melewati misi pertama menghilang.
“Kenapa Mbok tidak memanggil tabib?”
“Mbok tidak berani meninggalkan tempat. Mbok takut kalau-kalau Gusti membutuhkan bantuan.”
Aku terdiam.
Perempuan tua ini menghabiskan malam dalam keadaan tidak sehat hanya karena takut meninggalkanku sendirian.
Aku tidak tahu seberapa besar kesetiaannya kepada Kahiyang yang asli. Namun, saat ini, aku tahu satu hal: aku tidak bisa membiarkannya terus mengabaikan kesehatannya sendiri demi diriku.
“Sistem, keluarkan kotak P3K.”
Sebuah kotak plastik merah muncul di atas ranjang.
Aku sempat terpaku melihatnya.
Benda itu begitu akrab hingga dadaku terasa sesak. Aku seperti baru saja melihat potongan kecil dari kehidupan lamaku—kehidupan yang mungkin tidak akan pernah bisa kudatangi lagi.
Namun, aku segera menyingkirkan perasaan itu.
Sekarang bukan waktunya bersedih.
“Pelayan,” kataku sambil menoleh kepada dua perempuan muda di dekat pintu. “Tolong panggil tabib istana. Katakan ada orang yang sedang demam tinggi.”
Keduanya saling pandang.
“Sekarang,” tegasku.
Mereka segera membungkuk dan bergegas keluar.
Aku membantu Mbok duduk di sisi ranjang, lalu membuka kotak P3K. Tanganku bergerak cepat memeriksa isinya. Ada termometer digital, perban steril, antiseptik, obat penurun demam, dan beberapa perlengkapan lain.
Aku memang pernah mengikuti kegiatan PMR ketika SMA. Pengetahuan itu tidak membuatku menjadi tenaga medis, tetapi setidaknya aku tahu bahwa demam tinggi tidak boleh disepelekan.
Aku mengukur suhu tubuh Mbok dengan termometer digital.
Beberapa saat kemudian, angka muncul di layar.
39,8°C.
Aku menahan napas.
Demam setinggi itu perlu diperhatikan dengan serius, terutama pada orang yang sudah lanjut usia.
“Mbok, dengarkan aku. Jangan memaksakan diri untuk berdiri dulu.”
“Namun, Gusti—”
“Tidak ada, tetapi. Kali ini Mbok harus menuruti perkataanku.”
Mbok menatapku dengan mata membulat.
Mungkin Kahiyang yang asli tidak pernah berbicara kepadanya dengan nada seperti itu.
Aku sendiri baru menyadari betapa tegas suaraku terdengar. Namun, aku tidak menarik kembali ucapanku.
Aku meminta salah satu pelayan yang kembali membawa air bersih untuk membantu membasahi kain, kemudian meletakkannya di dahi Mbok. Sementara menunggu tabib, aku memastikan Mbok tetap sadar dan dapat minum sedikit demi sedikit tanpa kesulitan menelan.
“Gusti, benda-benda ini dari mana?” Mbok bertanya pelan, matanya tertuju pada kotak merah di pangkuanku.
Aku terdiam sesaat.
“Dari tempat yang jauh,” jawabku akhirnya. “Tempat yang tidak mungkin Mbok datangi.”
Itu bukan jawaban yang lengkap, tetapi untuk saat ini, hanya itu yang bisa kuberikan.
Layar sistem berkedip di sudut pandanganku.
[SARAN SISTEM: HADIAH MISI DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MEMBANTU ORANG DI SEKITAR HOST.]
[CATATAN: PERLENGKAPAN MEDIS TIDAK MENJAMIN KESEMBUHAN. PENGGUNAAN OBAT HARUS SESUAI PETUNJUK.]
Setidaknya, sistem kali ini tidak menyuruhku melakukan sesuatu yang aneh.
Tak lama kemudian, dua tabib istana tiba. Tabib yang lebih tua segera memeriksa Mbok, menanyakan gejalanya, dan memastikan sejak kapan demam itu muncul.
Aku menjelaskan suhu yang kuukur tadi.
Tabib itu mengernyit. “Demamnya tinggi. Kita perlu terus memantau keadaannya.”
Ia meminta pelayan menyiapkan air dan perlengkapan pemeriksaan. Setelah memeriksa kondisi Mbok, ia memperingatkan bahwa apabila kesadarannya menurun, napasnya memburuk, atau ia tidak mampu minum, bantuan harus segera diberikan.
Aku mengangguk.
“Kalau begitu, tolong rawat dia sampai keadaannya benar-benar stabil.”
“Baik, Gusti Putri.”
Aku baru saja hendak menutup kotak P3K ketika suara berat terdengar dari ambang pintu.
“Apa yang sedang terjadi di kamarku?”
Semua orang membeku.
Aku menoleh.
Kaisar Segara El-Bhumi berdiri di sana dengan jubah hitam kebesarannya. Mahkota giok hitam bertengger di kepalanya, sementara dua pengawal berjaga beberapa langkah di belakangnya.
Tatapannya bergerak dari Mbok yang duduk di ranjang, kedua tabib, lalu berhenti pada kotak plastik merah di tanganku.
Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan.
Justru ketenangannya membuatku semakin waspada.
“Siapa yang mengizinkan pelayan masuk ke ranjangku?” tanyanya.
Salah satu pelayan langsung berlutut.
“Ampun, Gusti Kaisar. Hamba—”
“Aku yang menyuruhnya,” potongku sebelum perempuan itu menyelesaikan kalimatnya.
Segara mengalihkan pandangan kepadaku.
Aku menelan ludah, tetapi tetap menegakkan punggung.
“Mbok demam tinggi setelah menunggu di luar semalaman. Aku memintanya beristirahat sambil menunggu tabib datang.”
“Di ranjangku?”
“Dia membutuhkan tempat untuk berbaring.”
“Dan menurutmu, tidak ada tempat lain di seluruh istana ini?”
Aku terdiam sesaat.
Sial. Pertanyaan yang masuk akal.
“Kalau ada tempat yang lebih dekat dan nyaman, aku tentu akan membawanya ke sana,” jawabku hati-hati. “Namun, saat itu kondisinya sedang lemah. Aku tidak ingin memaksanya berjalan.”
Tatapan Segara tidak berubah.
Kemudian, pandangannya kembali jatuh pada kotak merah.
“Benda apa itu?”
Aku merasakan tengkukku menegang.
Salah satu tabib yang berdiri di dekat Mbok ikut memperhatikan kotak tersebut. Matanya membesar ketika melihat perban putih yang masih terbuka.
“Gusti Kaisar,” katanya perlahan, “hamba belum pernah melihat kain pembalut luka sebersih itu. Bahan dan cara pembuatannya tampak berbeda dari yang biasa digunakan di istana.”
Aku hampir menghela napas kesal.
Tentu saja. Di zaman ini, perban steril saja bisa menimbulkan masalah.
“Peralatan medis dari keluargaku,” jawabku sebelum Segara kembali bertanya. “Keluarga Adiningrat menyimpan beberapa cara pengobatan yang diwariskan turun-temurun.”
Kebohongan itu keluar begitu saja.
Segara memiringkan kepala sedikit.
“Keluarga Adiningrat tidak pernah tercatat sebagai keluarga tabib istana.”
“Aku tidak mengatakan keluargaku bekerja sebagai tabib istana.”
“Jadi, kau mengaku memiliki pengetahuan pengobatan yang tidak diketahui tabib istana, tetapi memilih merahasiakannya?”
“Bukan begitu maksudku.”
“Lalu apa maksudmu?”
Aku menarik napas perlahan.
Pria ini benar-benar tidak bisa diajak bicara tanpa membuat setiap jawaban terasa seperti jebakan.
“Aku hanya ingin membantu seseorang yang sedang sakit, Gusti Kaisar. Aku tidak berniat menantang tabib istana atau mencampuri urusan kerajaan.”
Segara tidak langsung menjawab.
Ia mendekat, lalu mengambil kotak itu dari tanganku. Aku refleks hendak menahannya, tetapi urung ketika melihat sorot matanya.
Ia memeriksa bagian luar kotak, membuka tutupnya, lalu mengamati benda-benda di dalamnya satu per satu.
Ketika menemukan sebuah tablet putih dalam kemasan obat, ia mengangkatnya ke arah cahaya.
“Ini juga warisan keluargamu?”
Aku mengangguk, meskipun jantungku berdegup semakin cepat.
“Obat untuk apa?”
“Obat penurun demam.”
“Bagaimana aku tahu kau tidak sedang mencoba meracuni orang-orang di istana?”
Pertanyaan itu membuat ruangan terasa semakin dingin.
Aku menatapnya. “Kalau aku berniat meracuni orang, untuk apa aku bersusah payah memanggil tabib?”
“Untuk menutupi niatmu.”
Jawabannya begitu cepat hingga aku kehilangan kata-kata.
Segara meletakkan tablet itu kembali ke dalam kemasannya. Ia tidak menelannya seperti yang sempat kubayangkan akan dilakukan oleh seorang penguasa yang terbiasa menguji orang dengan cara berbahaya. Sebaliknya, ia menyerahkan kemasan tersebut kepada tabib tertua.
“Periksa benda ini. Jangan memberikannya kepada siapa pun sebelum kau memahami apa isinya.”
Tabib itu menerimanya dengan kedua tangan.
“Baik, Gusti Kaisar.”
Aku mengembuskan napas lega diam-diam.
Setidaknya, pria ini masih memiliki akal sehat.
Segara kemudian menatap Mbok. “Bagaimana keadaannya?”
“Demamnya masih tinggi, Gusti,” jawab tabib. “Namun, ia masih sadar dan dapat minum. Kami akan terus memantaunya. Kami belum dapat memastikan penyebab demamnya.”
“Pastikan ia mendapatkan perawatan yang diperlukan.”
“Titah diterima.”
Setelah itu, pandangan Segara kembali tertuju kepadaku.
“Kau boleh memiliki rahasia, Kahiyang. Namun, jangan berharap aku akan membiarkan sesuatu yang tidak kukenal beredar bebas di dalam istana.”
“Aku mengerti.”
“Benarkah?”
Aku hampir menjawab, tetapi tatapannya membuatku mengurungkan niat.
Segara menutup kotak P3K dan meletakkannya di atas meja.
“Mulai hari ini, kau tidak akan tinggal di paviliun terjauh.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
“Paviliun Mawar yang berada di sisi timur kediamanku akan menjadi tempat tinggalmu. Para pelayanmu boleh ikut, dan tabib dapat mengunjungimu sesuai kebutuhan.”
Aku berkedip beberapa kali.
Bukankah tadi malam dia mengatakan bahwa aku akan dipindahkan ke paviliun yang jauh agar tidak mengganggunya lagi?
“Kenapa?” tanyaku sebelum sempat menahan diri.
Segara menatapku dengan dingin.
“Jangan salah paham. Aku tidak sedang memberimu penghargaan.”
“Tentu saja, Gusti Kaisar.”
“Aku hanya ingin memastikan kau berada di tempat yang mudah diawasi. Aku belum memutuskan apakah pengetahuan dan benda-benda aneh milikmu berguna bagi kerajaan ini atau justru membahayakannya.”
Oh.
Jadi, bukan karena dia mulai menyukaiku.
Dia hanya ingin mengawasiku dari jarak dekat.
Entah kenapa, penjelasan itu justru membuatku sedikit lega. Aku belum siap menghadapi kemungkinan bahwa kaisar yang konon kejam ini mendadak bersikap baik kepadaku.
Segara berbalik menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
“Kahiyang.”
“Ya, Gusti Kaisar?”
“Jangan menyembunyikan sesuatu yang bisa membahayakan istana di belakang alasan menyelamatkan orang lain.”
Aku menatap punggungnya.
“Dan jangan mengira aku tidak akan mengetahui kebohonganmu hanya karena kau berhasil melewati satu malam.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia pergi bersama kedua pengawalnya.
Pintu kembali tertutup.
Aku baru menyadari bahwa sejak tadi aku menahan napas.
“Gusti Putri,” bisik salah satu pelayan, “Kaisar tidak jadi menghukum kita?”
“Sepertinya tidak.”
“Dan Gusti akan tinggal di Paviliun Mawar?”
Aku memandang kotak P3K di atas meja.
“Ya. Tapi jangan terlalu senang dulu. Bisa jadi paviliun itu justru tempat paling mudah bagi Kaisar untuk mengawasi setiap gerakanku.”
Layar biru tiba-tiba muncul kembali.
[DING!]
[MISI PERTAMA SELESAI.]
[HADIAH: KOTAK P3K ABAD KE-21 — TELAH DITERIMA.]
[MISI SAMPINGAN BARU TERBUKA: BANGUN KEPERCAYAAN DI LINGKUNGAN ISTANA.]
[TUJUAN: BANTU ORANG LAIN TANPA MEMBUKA SELURUH RAHASIA ASAL-USULMU.]
[CATATAN: INFORMASI MENGENAI KEMATIAN PERMAISURI LI HUA BELUM TERVERIFIKASI.]
Aku membaca pemberitahuan terakhir itu dengan saksama.
Jadi, bahkan sistem mengakui bahwa informasi tentang Li Hua belum tentu lengkap.
Aku kembali melirik kolong ranjang, tempat peti tua itu masih tersembunyi.
Aku belum memiliki kunci. Belum memiliki bukti. Dan sekarang, Segara mulai mencurigai benda-benda yang kubawa dari abad ke-21.
Perjalananku di Kerajaan Langit ternyata tidak akan semudah menyelesaikan misi dalam permainan.
Aku harus belajar kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan siapa yang pantas kupercaya.
Sebab, jika informasi dari sistem benar, seseorang di dalam istana pernah memaksa seorang permaisuri menelan racun.
Dan orang itu mungkin masih memiliki kekuasaan hingga hari ini.
Aku merapatkan tutup kotak P3K.
Satu hal sudah kupahami: untuk bertahan hidup di tempat ini, aku tidak cukup hanya mengandalkan keberuntungan.
Aku membutuhkan keberanian, kecermatan, dan bukti.
Terutama bukti tentang Li Hua.
Sebab, semakin lama aku berada di istana ini, semakin kuat perasaanku bahwa kematian permaisuri pertama bukanlah satu-satunya rahasia yang dikubur di balik dinding Kerajaan Langit.