Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Keputusan Dua Bocah
“Jadilah Mama yang sebenarnya untuk Keanu. Dengan menikah denganku. Aku akan membantumu membalas rasa sakit hatimu pada adik iparku."
Cynara membeku. “Apa?”
“Keanu sangat membutuhkanmu."
Cynara bahkan tidak mampu langsung menjawab.
Alvin melanjutkan dengan suara datar, seolah yang sedang dibicarakannya hanyalah sebuah kesepakatan bisnis.
“Dan sebagai gantinya, aku akan membantumu mendapatkan apa yang menjadi hakmu.”
Cynara mengerutkan kening.
“Mas Alvin…”
“Anugrah pernah meninggalkanmu dengan luka.”
Tatapan Alvin berubah dingin.
“Aku memang tidak bisa menghapus masa lalu itu.”
“Tapi…”
“Aku bisa memastikan dia tidak akan dengan mudah menyentuh hidupmu lagi. Aku yakin, suatu saat nanti Anugrah akan tau Narendra adalah darah dagingnya."
"Apa kamu tau, mereka belum memiliki anak? Jika mereka tahu bahwa Naren anak Anugrah, bisa jadi, dia akan merebut putramu, jika kamu tak berada di posisi yang lebih kuat darinya."
Cynara menatap pria di hadapannya. "Kenapa kamu sampai memperhitungkan semua ini dengan sedemikian rupa?"
Alvin tersenyum dingin. "Aku tidak akan duduk di posisi sekarang jika aku ini adalah orang bodoh."
Sorot mata Alvin menyiratkan keseriusan, bersiap untuk permainan baru.
“Jadi kamu ingin menikah denganku…” Cynara menelan ludah. “…hanya demi Keanu?”
Cynara cepat berpikir dan membenarkan apa yang baru saja disampaikan oleh Alvin.
“Ya.”
“Jika demikian, kamu akan melindungiku?”
“Ya.”
Cynara terdiam cukup lama.
Kemudian Alvin menambahkan, “Anggap saja kita akan bekerja sama.”
Cynara hampir tidak percaya. Seorang CEO dingin ini, sedang menawarkan pernikahan kepadanya.
“Kalau aku menolak?”
Alvin menjawab tanpa ragu. “Keanu tetap akan baik-baik saja.”
Cynara mengernyitkan dahi. Jawaban itu membuatnya semakin bingung.
Alvin bangkit dari posisinya. “Tidak perlu menjawab sekarang, karena aku mengerti ini bukan penawaran yang mudah.”
Ia berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti. “Pikirkan baik-baik.”
Cynara masih duduk terpaku.
Alvin menoleh sekali lagi.
“Kalau kamu setuju dengan penawaran ini…” Tatapannya bertemu dengan mata Cynara. “...aku akan segera mengurus pernikahan kita.”
Setelah Alvin pergi, Cynara masih tidak bergerak.
Kepalanya dipenuhi satu kalimat yang dilontarkan Alvin.
"Menikahlah denganku."
Dan tanpa disadarinya, dari kamar terdengar suara kecil.
“Mama…”
Cynara menoleh.
Keanu berdiri di ambang pintu dengan wajah mengantuk. “Mama di sini?”
Cynara segera bangkit.“Iya.”
Keanu berjalan menghampirinya. Kemudian memeluk kakinya. “Mama jangan pulang.”
Cynara memejamkan mata. Tangannya mengusap rambut Keanu.
Sementara di dalam kepalanya, tawaran Alvin terus berputar. Menjadi istri seorang Alvin. Menjadi ibu sebenarnya bagi Keanu.
Dan mungkin... membalas semua yang pernah dilakukan Anugrah kepadanya.
.
.
“Mama jangan pergi.” Keanu masih memeluk kaki Cynara.
Cynara mengusap kepalanya. “Keanu, Mama harus pulang. Nanti Naren juga harus—”
“Tidak boleh.” Keanu menggeleng kuat-kuat. “Mama harus tinggal di sini.”
Ketika Cynara akan menjawab, terdengar suara kecil yang lain dari belakang. “Mamah…”
Cynara menoleh. Naren sudah berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya masih setengah terpejam karena baru bangun tidur.
“Naren, sudah bangun?”
Naren mengangguk. Namun, sebelum menghampiri ibunya, langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju pada jendela besar di ruang tengah.
Cahaya pagi memenuhi ruangan. Dari balik kaca, pemandangan kota terbentang begitu luas. Gedung-gedung tinggi terlihat dari atas. Jalan raya tampak seperti garis-garis kecil.
Naren berjalan perlahan mendekati kaca. Kemudian mengucek matanya.
“Mamah…”
Cynara mendekat. “Iya?”
Naren menunjuk ke luar. “Ini di mana?”
“Di rumah Keanu.”
Naren masih menatap pemandangan itu dengan takjub. “Apa kita belada di sulga?”
Cynara langsung tertawa kecil. “Bukan, Sayang.”
“Kenapa tinggi sekali?”
“Karena kita sedang berada di tempat yang tinggi.”
Naren menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca. “Gedungnya kecil cemua…”
Cynara tersenyum. “Itu karena kita berada puncak paling tinggi.”
Naren memiringkan kepala. “Semalam kita telbang?”
Cynara baru menyadari bahwa putranya benar-benar tidak tahu mereka sedang berada di mana. Semalam ia terlalu sibuk mengurus Keanu sampai tidak sempat menjelaskan apa pun.
Keanu tiba-tiba datang menghampiri. “Naren.”
Naren menoleh.
Keanu langsung menggenggam tangannya. “Naren suka tinggal di sini?”
Naren mengangguk cepat. “Nalen suka!”
Keanu tersenyum lebar. “Naren mau tinggal di sini sama Keanu?”
Naren kembali melihat pemandangan kota. Kemudian mengangguk tanpa ragu.
“Nalen suka tempat tinggi. Kayak telbang!”
Keanu tertawa. “Berarti tinggal di sini, ya ...”
Naren mengangguk. “Baiklah.”
Kemudian dengan polosnya ia berkata, “Nalen dan Mama akan tinggal di cini cama Mamah.”
Cynara langsung mengerjapkan mata. “Hah?”
Kedua bocah itu sudah sibuk berbicara sendiri. “Keanu punya kamar.”
“Nalen juga punya kamal di cini?”
“Ada!” ucap Keanu sambil menganggukan kepala.
“Ada mainan?”
“Banyak!”
“Baiklah.”
Cynara menatap kedua anak itu dengan wajah tidak percaya. Mereka baru bangun tidur.
Belum sarapan. Apalagi Keanu baru sembuh dari deman semalaman. Namun sudah membuat keputusan tentang tempat tinggal bersama
“Keanu.”
Bocah itu menoleh. “Iya, Mama?”
“Siapa yang bilang Naren dan Mama mau tinggal di sini?” Keanu menunjuk Alvin yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Papa.”
Cynara langsung menoleh.
Alvin berdiri sambil memasukkan satu tangan ke saku celana. Di bibirnya terpasang senyum tipis. “Aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Tapi Keanu—”
“Dia hanya bertanya.”
Alvin melirik kedua bocah itu. “Dan Naren yang menjawabnya sendiri.”
Alvin kembali mendekat.
Tatapannya sempat beralih kepada pemandangan kota, kemudian kembali kepada Cynara.
“Sepertinya anakmu senang tinggal di sini.”
Cynara hanya bisa mengerjapkan mata.
Sementara Keanu dan Naren sudah kembali tertawa.
“Tenyu, lihat!”
“Naren, itu gedung apa?”
“Gak tahu.”
“Hahaha!”
Bagaimana keputusan Cynara? Apakah menolak tawaran tersebut atau malah setuju diajak nikah ala bisnis oleh Alvin?
*bersambung*