Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Lintah
Pagi itu, Zea kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Setelah menemukan bukti manipulasi laporan pasar, ia sudah mengambil tindakan tegas dengan memberhentikan beberapa pejabat yang terbukti memberikan laporan palsu dan menyalahgunakan kepercayaan.
Sejak pagi, gadis itu hanya duduk di balik meja kerjanya sambil membaca tumpukan laporan. Tidak ada suara omelan, tidak ada keluhan tentang makanan, bahkan tidak ada keinginan mendadak untuk kabur membeli gorengan.
Intan yang duduk di sofa ruang kerja beberapa kali melirik ke arah Zea. Ia sampai mengerutkan kening karena sikap sahabatnya itu terasa sangat berbeda dari biasanya.
“Zea, kamu sakit?” tanyanya.
“Tidak.”
“Terus kenapa diam saja?”
“Lagi baca laporan.”
Intan menyipitkan mata. “Kamu yakin bukan sedang kesurupan?”
Zea mengangkat wajahnya sebentar. “Intan, kalau kamu tidak punya pekerjaan, keluar saja.”
“Ya ampun, galak banget.” Intan mendengus, lalu mengalihkan pandangannya kepada Sagara yang berdiri tidak jauh dari pintu.
“Kapten, sebenarnya Zea kenapa, sih?”
Sagara menoleh singkat. “Saya tidak tahu.”
“Lho, bukannya kamu selalu mengikutinya?”
“Saya pengawal, bukan pembaca pikiran.”
Intan langsung memutar bola mata. “Cih, dasar dingin!”
Sagara tidak menanggapi.
“Aku sumpahin, siapa pun istrimu nanti pasti akan membeku setiap hari karena hidup bersama manusia sedingin kulkas dua pintu!” gerutu Intan.
Sagara hanya berdiri dengan wajah datar, seolah ucapan tersebut sama sekali tidak berpengaruh kepadanya.
Zea yang mendengar percakapan itu hanya menggeleng kecil sebelum kembali menatap laporan. Namun, di balik sikap tenangnya, pikirannya sesekali masih teringat kejadian kemarin.
Ia memang sudah memutuskan untuk tidak lagi memikirkan Reno, tetapi bukan berarti perasaan yang telah dipeliharanya selama bertahun-tahun bisa hilang begitu saja. Karena itulah, pagi ini ia memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tidak terus-menerus mengingat pria tersebut.
---
Sementara itu, di sebuah pusat perbelanjaan ternama, seorang wanita paruh baya tengah berjalan dengan penuh percaya diri. Ia mengenakan gamis bermotif ramai, beberapa cincin emas menghiasi jari-jarinya, dan tas bermerek menggantung di lengannya.
Wanita itu bernama Lestari, ibu kandung Reno. Hari ini merupakan hari ulang tahunnya, dan ia sengaja mengajak tujuh teman arisannya untuk berbelanja di toko furnitur serta elektronik yang cukup terkenal.
“Ayo, teman-teman! Hari ini kan ulang tahunku,” serunya dengan bangga. “Kalian bebas memilih apa saja yang ada di sini.”
Ketujuh ibu-ibu itu langsung saling pandang. Mata mereka berbinar, terlebih ketika Lestari kembali melanjutkan perkataannya.
“Tenang saja, toko ini milik calon menantuku, lho. Calon menantuku itu sangat royal kepadaku, apalagi dia sayang sekali sama calon ibu mertuanya.”
“Benarkah, Jeng Lestari?” tanya salah seorang temannya dengan wajah tidak percaya.
“Tentu saja!” Lestari mengangguk mantap. “Kalian tahu, kan, calon menantuku itu seorang gubernur. Anak orang kaya pula, jadi pasti dia akan menuruti semua kemauanku.”
“Wah, Jeng, beruntung sekali dapat menantu seperti itu!”
“Iya, bikin iri saja. Coba aku punya calon menantu gubernur juga.”
Lestari semakin mengembangkan senyumnya. Dadanya membusung bangga mendengar pujian dari teman-temannya.
“Sudahlah, jangan iri. Ayo, masuk dan pilih barang yang kalian suka!”
Tanpa menunggu dua kali, ketujuh ibu-ibu itu langsung berhamburan memasuki toko. Mereka berjalan dengan gaya angkuh, seolah seluruh barang di dalamnya sudah menjadi milik keluarga Lestari.
Salah seorang memilih sofa besar dengan harga puluhan juta. Yang lain tertarik pada lemari pakaian mewah, sementara beberapa lainnya mulai menunjuk televisi layar lebar, kulkas, mesin cuci, hingga berbagai peralatan rumah tangga.
“Jeng Lestari, kalau aku ambil yang ini boleh?”
“Ambil saja!”
“Kalau aku mau televisi yang besar itu?”
“Silakan! Jangan malu-malu!”
“Wah, kalau begini, ulang tahunmu benar-benar membawa berkah untuk kami!”
Lestari tertawa bangga. “Tentu saja. Calon menantuku itu tidak akan keberatan.”
Bahkan, ia sendiri ikut memilih beberapa barang untuk rumahnya. Sebuah sofa baru, meja makan, lemari, dan beberapa peralatan elektronik langsung dimasukkan ke dalam daftar pembelian.
Setelah puas memilih, Lestari menghampiri pegawai toko dengan sikap seolah sedang memberikan perintah kepada bawahannya. “Hei kau, semua barang ini dikirim ke alamat masing-masing, ya. Pakai beberapa mobil saja supaya cepat selesai.”
Pegawai toko itu mengangguk sopan. “Baik, Bu. Mohon tunggu sebentar, kami akan menghitung seluruh barang yang dipilih.”
Tidak lama kemudian, pegawai tersebut kembali membawa beberapa lembar nota. Ia menyerahkannya kepada Lestari dengan senyum profesional.
“Ini total pembeliannya, Bu. Semuanya berjumlah tiga ratus juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah.”
Seketika, mata kedelapan wanita itu melotot.
“Apa?!”
Lestari bahkan sempat terbatuk kecil. Namun, ia segera memperbaiki ekspresinya karena masih yakin bahwa pegawai tersebut hanya belum memahami siapa dirinya.
“Sebentar, Nak. Kamu tidak tahu siapa saya?”
Pegawai itu menggeleng sopan. “Mohon maaf, Bu. Apakah ada yang bisa kami bantu?”
Lestari langsung menegakkan tubuh. “Saya ini calon ibu mertua dari pemilik tempat ini. Kalian lupa, ya? Saya calon ibu mertuanya Gubernur Zea!”
Para pegawai saling pandang.
Salah seorang dari mereka akhirnya menjawab dengan hati-hati, “Mohon maaf, Bu. Namun, seluruh barang yang sudah dipilih tetap harus dibayar sebelum dikirim.”
Wajah Lestari langsung berubah. “Apa maksudmu harus dibayar?”
“Karena barang-barang tersebut sudah masuk dalam transaksi pembelian, Bu.”
“Tidak bisa begitu!” seru Lestari. “Kalian ini tidak tahu aturan kekeluargaan, ya? Aku calon ibu mertua pemilik toko ini!”
Pegawai itu tetap berusaha tenang. “Mohon maaf, Bu. Kami hanya menjalankan ketentuan perusahaan.”
Lestari mendengus kesal. Ia sama sekali tidak menyangka akan diperlakukan seperti pelanggan biasa, padahal selama ini ia selalu membanggakan hubungan putranya dengan Zea.
“Panggil manajer kalian!” bentaknya.
Manajer toko yang sejak tadi memperhatikan keributan akhirnya datang menghampiri. “Selamat siang, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?”
“Bagus, akhirnya ada orang yang mengerti!” Lestari menunjuk nota di tangan pegawai. “Saya tidak perlu membayar semua ini karena calon menantu saya pemilik tempat ini!”
Manajer itu terdiam sebentar, kemudian mengangguk kecil. “Apakah Ibu yang bernama Lestari, ibu dari Saudara Reno?”
Lestari langsung tersenyum bangga. “Nah, kamu tahu juga!”
“Baik, Bu. Kalau begitu, saya perlu menyampaikan bahwa kami sudah menerima instruksi langsung dari Ibu Zea.”
Senyum Lestari langsung membeku.
“Zea?”
“Benar, Bu.”
Manajer tersebut mengambil sebuah dokumen dari map yang dibawanya. “Mulai hari ini, seluruh transaksi yang dilakukan oleh Saudara Reno maupun anggota keluarganya harus mengikuti prosedur pembayaran biasa.”
Lestari melotot. “Apa maksudnya?”
“Tidak diperkenankan mengambil barang tanpa pembayaran dengan alasan hubungan keluarga, calon pernikahan, ataupun janji pembayaran di kemudian hari.”
Wajah Lestari berubah merah padam. “Kalian pasti sedang bercanda, bukan?”
“Tidak, Bu. Instruksi tersebut disampaikan secara resmi oleh pihak manajemen.”
“Tidak mungkin!” Lestari menggeleng keras. “Zea tidak mungkin melakukan ini kepada calon ibu mertuanya!”
Manajer itu tetap tenang. “Ibu Zea juga berpesan agar seluruh transaksi dilakukan secara jelas dan tidak menggunakan alasan kekeluargaan untuk menghindari pembayaran.”
Lestari langsung menunjuk manajer tersebut. “Kalian pasti berbohong! Kalian mau dipecat oleh calon menantuku, hah?!”
Ketujuh temannya yang sejak tadi berdiri di belakang mulai saling berbisik. Mereka yang awalnya begitu bersemangat memilih barang kini justru tampak gelisah.
“Jeng, bagaimana ini? Barang yang kupilih mahal sekali.”
“Iya, aku juga sudah memilih kulkas dan mesin cuci.”
Lestari menoleh tajam. “Diam dulu! Ini pasti hanya kesalahpahaman!”
Manajer itu kembali menyodorkan nota. “Mohon maaf, Bu. Total pembayaran tetap tiga ratus juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah.”
Lestari menatap angka tersebut dengan wajah pucat, tapi ia tetap mempertahankan harga dirinya. “Aku akan menelfon calon menantuku. Awas kalian semua. Aku akan mengadukan kalian.”
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏