NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkesan : 07

Yarash menggoda putranya, sengaja mau mengetes Aradn. “Gimana, manis atau pahit rasanya?”

Ardan tidak menggubris. Pipi bulatnya tertarik bibir mengerucut menyedot susu dalam botol, dia sungguh menikmati seraya memejamkan mata.

Ahhh — “Banyak lacanya,” responnya dengan tarikan napas panjang.

“Enak nggak?” Yarash menahan tawa. Jari jempolnya menyeka air susu di sudut bibir berdecak.

“Kulang.” Lengan berlipat pada pergelangan mengelap bibir basah.

“Sini Papi coba.”

Botol susu langsung dipeluk, nyaris saja dimasukkan ke dalam popok tetapi tidak bisa. “Ndak boleh, nanti Papi menclet. Ini buat Colo-colo saja.”

Tumit Ardan menekan keramik meja, bokongnya seketika mundur. “Sus Suci dalam debu! Kemalilah!”

Sang pengasuh bergegas mendekati, sedari tadi dia berdiri siaga di ruang bermain Ardan. Telah selesai membereskan lego berserak di lantai.

“Gendong aku. Ayo kita kasih Colo-colo susu kulang lasa ini.” Dia maju sampai kakinya menggantung, sebelah tangan masih memeluk botol takut direbut ayahnya.

Suci mengangkat ketiak anak asuhnya, lalu menurunkan Ardan ke lantai.

Bergegas balita banyak akal itu berlari, terlihat lucu dimata Saniya menyaksikan bokong bergoyang memakai popok.

“Colo-colo siapa, Mas?” Saniya tak bisa menutupi rasa penasarannya.

“Cucu pungutnya Ardan. Dia menyamakan dirinya sebagai Opa,” tak pelak Yarash terkekeh.

“Ardan termasuk balita cerdas sekaligus cerdik, dan gengsian. Egonya tinggi sekali, terus sikap bossy melekat pada dirinya,” deskripsi menyeluruh Saniya dari penilaian sifat, perilaku Ardan, diakui tepat oleh Yarash.

‘Banyak PR yang harus dilakukan. Ardan enggan mengatakan tolong, terima kasih. Aku yakin mas Yarash dan Suci sudah mengajarkan, tetapi kenapa anak itu tak bisa menerapkan?’ batinnya mencoba menerka.

“Ayo ke kamar kita.” Yarash berjalan lebih dulu dengan langkah pendek.

Saniya mengikuti, kali ini lebih berani memperhatikan sekelilingnya — ruang bermain penuh dengan kotak kontainer tersusun tinggi, ada ring basket, gawang mini.

Ruang santai lengkap dengan satu set televisi berukuran besar dipermanis oleh sofa melengkung.

Sementara ruang tamu, terkesan elegan dan mewah menggunakan perabotan dari kayu berbalut busa tebal untuk satu set sofa komplit beserta meja.

Pandangan Saniya naik ke dinding tembok, terdapat beberapa foto keluarga tanpa sosok wanita membersamai pria dewasa memakai jas, balita mengenakan kemeja berdasi kupu-kupu, dan gadis remaja berbusana dress vintage.

Ada juga foto pertumbuhan Ardan dan Tatiana sedari mereka telungkup, merangkak, berjalan.

Yarash menarik dua koper sekaligus, lalu melangkah ke sayap kanan huniannya.

“Disini tidak ada lift, jadi saya memindahkan kamar pribadi ke lantai dasar. Bertujuan memudahkan kamu kalau mau berpergian,” jelasnya tanpa dipinta.

“Terima kasih, Mas. Sebenarnya kamu gak perlu melakukan hal sampai sejauh ini. Saya bisa naik turun tangga, dan sudah sangat terbiasa juga,” ia sedikit tidak enak hati, tetapi tetap menghargai perlakuan istimewa.

“Gapapa, saya tidak keberatan. Lagipula menghindarkan Ardan yang suka main naik turun tangga. Oh iya, dia masih tidur bareng saya, dan mulai nanti malam sama kita. Belum bisa dipisah, pernah dipaksa, malah membalas dengan melepaskan burung peliharaan sopir.” Yarash menurunkan handle pintu.

“Ini kamar kita.” Dia bertahan di tepi pintu. “Masuklah.”

“Terima kasih, Mas.” Saniya terkesan dengan kepribadian pria masih memakai pakaian akad.

Kendatipun pernikahan ini tanpa cinta, dan sang pria sangat gamblang mengatakan tidak bisa menyayanginya, namun sikap Yarash tak memusuhi, abai, dia sangat dewasa serta bijaksana.

“Lemari ini khusus untukmu, maaf modelnya berbeda dengan sebelahnya, sebab dibeli langsung, tidak cukup waktu memesan agar sama.” Dibukanya salah satu pintu lemari empat ruang.

Saniya mengangguk, ia pandangi sedikit lama lemari pakaian, meja rias besar, dan dua kasur diletakkan berdampingan tanpa ranjang.

“Saya belum berani menggunakan ranjang, Ardan sangat aktif. Suka melompat-lompat di atas kasur, belum lagi jika imajinasinya sedang tinggi, ada saja hal membuat saya dan pengasuh serta karyawan hunian ini jantungan,” ucapnya santai.

“Iya, gapapa,” Saniya sedikit bingung harus bagaimana bersikap, apa yang didapatkan kini, melenceng dari khayalannya.

‘Ternyata dia tidak seburuk dalam bayanganku tentang menikah dengan pria tanpa cinta, terlebih kami baru saja berkenalan,’ hatinya menghangat, setelah tahun-tahun hampa, ada seseorang berlaku baik dan terlihat tulus, apa adanya.

“Kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan mengatakannya. Saya keluar sebentar ya, mau memeriksa Tatiana. Saniya ....” panggilnya pelan.

Gerakan tangannya yang sedang menarik resleting koper, terhenti. Dia mendongak menatap pria berdiri dua langkah dari posisinya duduk di atas lantai. “Ya, Mas?”

“Maaf atas sikap kasar Tatiana. Sebenarnya saya dan dia sedang ada masalah belum terselesaikan. Kami berselisih paham. Saya ke kamarnya sebentar ya, hendak berbicara dari hati ke hati,” katanya dengan suara sedang dan sorot mata teduh.

“Silahkan, Mas. Saya juga mau menyusun pakaian ke dalam lemari.” Angguknya tidak keberatan ditinggal sendirian.

Kemudian Yarash keluar dari dalam kamar, menutup rapat pintunya.

Saniya mulai mengeluarkan pakaian berjumlah sedikit; beberapa setel baju kerja, daster tidur, dibeli dari gaji menjadi guru anak-anak berkebutuhan khusus.

Barang-barang pemberian adik, dan kedua orang tuanya ditinggal, tidak ada satupun dibawa kemari.

Kegiatan menyusun baju tertunda, wanita yang mati-matian menyembunyikan gejolak hati serta emosi, tiba-tiba meneteskan air mata.

Kotak persegi sedikit besar dipeluk penuh perasaan. Di dalamnya penuh barang kenangan dari pria cinta pertamanya yang sengaja ia sakiti tanpa sosok terkasih pernah berbuat kesalahan.

“Maafkan Saniya … mas Fahmi,” gumamnya seorang diri.

Fahmi Basya sedang bertugas di luar negeri. Perusahaan tempatnya bekerja yakni, developer milik keluarga Hadi dan Basya, terlibat proyek pembangunan komplek perumahan mengusung konsep Skandinavia.

Jabatan mantan kekasih Saniya adalah; manajer proyek — memimpin eksekusi, terjun langsung ke lapangan, mengontrol linimasa (timeline), dan menjaga kualitas bangunan. Membuatnya sering berjauhan dari wanita pujaan hati.

“Dia pantas mendapatkan wanita lebih baik, tentunya sempurna seperti keinginan kedua orang tuanya.” Saniya menyimpan kotak tadi ke bagian terdalam tumpukan pakaiannya.

Demi mengusir bayang-bayang masa lalu, kenangan tumpang tindih, Saniya sengaja menyibukkan diri menyelesaikan tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan secara bertahap.

***

Malam hari di hunian Yarash Wilman.

“Kemana Ibu tili, kok ilang-ilang dia?” Ardan mencari Saniya, terakhir dilihatnya sewaktu mereka berinteraksi di dapur.

“Kamu bisa diem gak sih? Bising banget!” bentak gadis memakai setelan baju tidur katun. Dia dan sang adik sudah duduk di kursi meja makan.

“Kak Tatiana, kamu tadi sudah janji ke Papi loh?” Yarash kembali mengingatkan perihal pembicaraan empat mata di kamar putrinya.

“Ardan nyebelin, Pi. Berisik banget. Si dia lagi, lama banget keluar kamarnya. Udah kayak tuan putri, bikin emosi saja,” kesabarannya kian menipis.

“Maaf, sudah membuat kalian menunggu.” Saniya berjalan memasuki ruang makan.

“Itu apa? Telus jalannya kok miling-miling?”

.

.

Bersambung.

1
Leni Novita
knp tdk dibuat jera si tati itu sesekali,
ulimayla
luar biasa
Ayu Btfl
ini ada gak ada lanjutan besarnya tatiana sama ardankah thor ? huhu gak rela lepas sama cerita inii
Leni Novita
begitu dong, jgn selalu mau di injak2
Y.S Meliana
mas yarash,,, aku padamuu 😅
Y.S Meliana
alhamdulillah mas yarash udh denger langsung
it's me
@cublik
cerita yg br dihapus ya kak?
Y.S Meliana
jeng jeng, mas yarash kah yg dtng 🙄
Y.S Meliana
hiih tak unyeng semua kalian 😒😒😒🤨🤨🤨
Farah Restu Oktaria
alurnya ceritanya bagus
Sari Hastuti
y tamat,, ga ada lanjutannya kisah ardan gitu🤭
Ciebungsu Bungadesa Ygtrsendir
💜💜💜🌹🌹🌹🌹🌹😍😍😍
Ciebungsu Bungadesa Ygtrsendir
Mak cublik aku teh mau nanya, cerita yg baru di hapus apa bagai mana ,aku bolak balik di lihat kok kaga ada🙏🙏
Ayesha
penuh hikmah membaca novel ini...
kita yg di beri sehat dan keluarga yg menyayangi wajib selalu bersyukur pada Allah....
Cublik: Terima kasih🙏
total 1 replies
Kapten Rajo Devi
ibu c Fahmi sering ngejek Saniya cacat, sekarang di yg buntung..
sekarang c Zia mau kawin juga sama yg cacat, karma is REAL
Y.S Meliana
iyyyuuuwh... ga punya adab nih emang si Tita 😒
Kapten Rajo Devi
di rusak emaknya sendiri
Kapten Rajo Devi
koq aku ikut meringis ya Thor, kebayang sakit nya Saniya
Y.S Meliana
istighfar dr awal aku mah 🙄
Y.S Meliana
kasih mi, kasih Tita senam jantung yg paling hotttt 😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!