Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkesan : 07
Yarash menggoda putranya, sengaja mau mengetes Aradn. “Gimana, manis atau pahit rasanya?”
Ardan tidak menggubris. Pipi bulatnya tertarik bibir mengerucut menyedot susu dalam botol, dia sungguh menikmati seraya memejamkan mata.
Ahhh — “Banyak lacanya,” responnya dengan tarikan napas panjang.
“Enak nggak?” Yarash menahan tawa. Jari jempolnya menyeka air susu di sudut bibir berdecak.
“Kulang.” Lengan berlipat pada pergelangan mengelap bibir basah.
“Sini Papi coba.”
Botol susu langsung dipeluk, nyaris saja dimasukkan ke dalam popok tetapi tidak bisa. “Ndak boleh, nanti Papi menclet. Ini buat Alek saja.”
Tumit Ardan menekan keramik meja, bokongnya seketika mundur. “Sus Suci dalam debu! Kemalilah!”
Sang pengasuh bergegas mendekati, sedari tadi dia berdiri siaga di ruang bermain Ardan. Telah selesai membereskan lego berserak di lantai.
“Gendong aku. Ayo kita kasih Alex susu kulang lasa ini.” Dia maju sampai kakinya menggantung, sebelah tangan masih memeluk botol takut direbut ayahnya.
Suci mengangkat ketiak anak asuhnya, lalu menurunkan Ardan ke lantai.
Bergegas balita banyak akal itu berlari, terlihat lucu dimata Saniya menyaksikan bokong bergoyang memakai popok.
“Alex siapa, Mas?” Saniya tak bisa menutupi rasa penasarannya.
“Cucu pungutnya Ardan. Dia menyamakan dirinya sebagai Opa,” tak pelak Yarash terkekeh.
“Ardan termasuk balita cerdas sekaligus cerdik, dan gengsian. Egonya tinggi sekali, terus sikap bossy melekat pada dirinya,” deskripsi menyeluruh Saniya dari penilaian sifat, perilaku Ardan, diakui tepat oleh Yarash.
‘Banyak PR yang harus dilakukan. Ardan enggan mengatakan tolong, terima kasih. Aku yakin mas Yarash dan Suci sudah mengajarkan, tetapi kenapa anak itu tak bisa menerapkan?’ batinnya mencoba menerka.
“Ayo ke kamar kita.” Yarash berjalan lebih dulu dengan langkah pendek.
Saniya mengikuti, kali ini lebih berani memperhatikan sekelilingnya — ruang bermain penuh dengan kotak kontainer tersusun tinggi, ada ring basket, gawang mini.
Ruang santai lengkap dengan satu set televisi berukuran besar dipermanis oleh sofa melengkung.
Sementara ruang tamu, terkesan elegan dan mewah menggunakan perabotan dari kayu berbalut busa tebal untuk satu set sofa komplit beserta meja.
Pandangan Saniya naik ke dinding tembok, terdapat beberapa foto keluarga tanpa sosok wanita membersamai pria dewasa memakai jas, balita mengenakan kemeja berdasi kupu-kupu, dan gadis remaja berbusana dress vintage.
Ada juga foto pertumbuhan Ardan dan Tatiana sedari mereka telungkup, merangkak, berjalan.
Yarash menarik dua koper sekaligus, lalu melangkah ke sayap kanan huniannya.
“Disini tidak ada lift, jadi saya memindahkan kamar pribadi ke lantai dasar. Bertujuan memudahkan kamu kalau mau berpergian,” jelasnya tanpa dipinta.
“Terima kasih, Mas. Sebenarnya kamu gak perlu melakukan hal sampai sejauh ini. Saya bisa naik turun tangga, dan sudah sangat terbiasa juga,” ia sedikit tidak enak hati, tetapi tetap menghargai perlakuan istimewa.
“Gapapa, saya tidak keberatan. Lagipula menghindarkan Ardan yang suka main naik turun tangga. Oh iya, dia masih tidur bareng saya, dan mulai nanti malam sama kita. Belum bisa dipisah, pernah dipaksa, malah membalas dengan melepaskan burung peliharaan sopir.” Yarash menurunkan handle pintu.
“Ini kamar kita.” Dia bertahan di tepi pintu. “Masuklah.”
“Terima kasih, Mas.” Saniya terkesan dengan kepribadian pria masih memakai pakaian akad.
Kendatipun pernikahan ini tanpa cinta, dan sang pria sangat gamblang mengatakan tidak bisa menyayanginya, namun sikap Yarash tak memusuhi, abai, dia sangat dewasa serta bijaksana.
“Lemari ini khusus untukmu, maaf modelnya berbeda dengan sebelahnya, sebab dibeli langsung, tidak cukup waktu memesan agar sama.” Dibukanya salah satu pintu lemari empat ruang.
Saniya mengangguk, ia pandangi sedikit lama lemari pakaian, meja rias besar, dan dua kasur diletakkan berdampingan tanpa ranjang.
“Saya belum berani menggunakan ranjang, Ardan sangat aktif. Suka melompat-lompat di atas kasur, belum lagi jika imajinasinya sedang tinggi, ada saja hal membuat saya dan pengasuh serta karyawan hunian ini jantungan,” ucapnya santai.
“Iya, gapapa,” Saniya sedikit bingung harus bagaimana bersikap, apa yang didapatkan kini, melenceng dari khayalannya.
‘Ternyata dia tidak seburuk dalam bayanganku tentang menikah dengan pria tanpa cinta, terlebih kami baru saja berkenalan,’ hatinya menghangat, setelah tahun-tahun hampa, ada seseorang berlaku baik dan terlihat tulus, apa adanya.
“Kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan mengatakannya. Saya keluar sebentar ya, mau memeriksa Tatiana. Saniya ….” panggilnya pelan.
Gerakan tangannya yang sedang menarik resleting koper, terhenti. Dia mendongak menatap pria berdiri dua langkah dari posisinya duduk di atas lantai. “Ya, Mas?”
“Maaf atas sikap kasar Tatiana. Sebenarnya saya dan dia sedang ada masalah belum terselesaikan. Kami berselisih paham. Saya ke kamarnya sebentar ya, hendak berbicara dari hati ke hati,” katanya dengan suara sedang dan sorot mata teduh.
“Silahkan, Mas. Saya juga mau menyusun pakaian ke dalam lemari.” Angguknya tidak keberatan ditinggal sendirian.
Kemudian Yarash keluar dari dalam kamar, menutup rapat pintunya.
Saniya mulai mengeluarkan pakaian berjumlah sedikit; beberapa setel baju kerja, daster tidur, dibeli dari gaji menjadi guru anak-anak berkebutuhan khusus.
Barang-barang pemberian adik, dan kedua orang tuanya ditinggal, tidak ada satupun dibawa kemari.
Kegiatan menyusun baju tertunda, wanita yang mati-matian menyembunyikan gejolak hati serta emosi, tiba-tiba meneteskan air mata.
Kotak persegi sedikit besar dipeluk penuh perasaan. Di dalamnya penuh barang kenangan dari pria cinta pertamanya yang sengaja ia sakiti tanpa sosok terkasih pernah berbuat kesalahan.
“Maafkan Saniya … mas Fahmi,” gumamnya seorang diri.
Fahmi Basya sedang bertugas di luar negeri. Perusahaan tempatnya bekerja yakni, developer milik keluarga Hadi dan Basya, terlibat proyek pembangunan komplek perumahan mengusung konsep Skandinavia.
Jabatan mantan kekasih Saniya adalah; manajer proyek — memimpin eksekusi, terjun langsung ke lapangan, mengontrol linimasa (timeline), dan menjaga kualitas bangunan. Membuatnya sering berjauhan dari wanita pujaan hati.
“Dia pantas mendapatkan wanita lebih baik, tentunya sempurna seperti keinginan kedua orang tuanya.” Saniya menyimpan kotak tadi ke bagian terdalam tumpukan pakaiannya.
Demi mengusir bayang-bayang masa lalu, kenangan tumpang tindih, Saniya sengaja menyibukkan diri menyelesaikan tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan secara bertahap.
***
Malam hari di hunian Yarash Wilman.
“Kemana Ibu tili, kok ilang-ilang dia?” Ardan mencari Saniya, terakhir dilihatnya sewaktu mereka berinteraksi di dapur.
“Kamu bisa diem gak sih? Bising banget!” bentak gadis memakai setelan baju tidur katun. Dia dan sang adik sudah duduk di kursi meja makan.
“Kak Tatiana, kamu tadi sudah janji ke Papi loh?” Yarash kembali mengingatkan perihal pembicaraan empat mata di kamar putrinya.
“Ardan nyebelin, Pi. Berisik banget. Si dia lagi, lama banget keluar kamarnya. Udah kayak tuan putri, bikin emosi saja,” kesabarannya kian menipis.
“Maaf, sudah membuat kalian menunggu.” Saniya berjalan memasuki ruang makan.
“Itu apa? Telus jalannya kok miling-miling?”
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...