NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:150k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Lampu-lampu kota Dubai berpendar di balik kaca mobil, menciptakan pita-pita cahaya keemasan yang membelah kegelapan malam. Sedan hitam yang dikendarai Danang melaju tenang menyusuri jalanan mulus menuju kawasan apartemen mahasiswa. Di dalam kabin yang hangat, keheningan sempat tercipta sebelum Sarah memutar tubuhnya sedikit ke belakang, memandang Naya dengan binar jenaka di matanya.

"Jadi, bagaimana impression kamu malam ini, Nay?" tanya Sarah, memecah kesunyian. "Dua pria hebat dalam satu meja. Dokter Hasby yang tenang, sama Mas Emir yang... ya, kamu lihat sendiri kan aura kepemimpinannya?"

Naya tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang lepas tanpa rasa tertekan. "Mereka berdua luar biasa, Mbak. Dokter Hasby punya pemahaman klinis yang sangat dalam, kelihatan kalau jam terbangnya tinggi. Kalau Mas Zeyad... di usia sepantaran kita, pencapaian bisnisnya betul-betul matang. Cara dia memandang integrasi layanan kesehatan dan bisnis itu visioner."

"Terus, kalau disuruh memilih, lebih sreg ke gaya yang mana?" goda Sarah lagi, menaikkan alisnya. "Dua-duanya masih single, lho. Dokter Hasby belum berkeluarga, Emir juga sama sekali belum tersentuh rumor perjodohan atau semacamnya—setahu kami, ya. Dua-duanya paket komplit."

Naya menggeleng pelan, menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk. Tatapannya menerawang menembus kaca jendela, melihat pantulan dirinya sendiri.

"Aduh, Mbak Sarah ini ada-ada saja. Untuk sekarang saya belum memikirkan ke arah sana. Fokus utama saya cuma satu: menyelesaikan program spesialisasi ini dengan baik. Soal asmara, mungkin nanti setelah semua tanggung jawab akademis ini selesai."

Ada nada keteguhan yang tak tertandingi dari cara Naya menyampaikan hal itu. Ia baru saja keluar dari reruntuhan pernikahan yang menghancurkan separuh jiwanya. Baginya, kebebasan dan kesempatan mengejar cita-cita yang sempat dimatikan adalah prioritas tunggal yang tidak boleh terkontaminasi oleh ketergesa-gesaan emosional.

"Tapi jujur ya, Nay," sahut Danang yang sedang memegang kemudi, matanya melirik sebentar ke kaca spion tengah. "Mereka berdua itu laki-laki baik. Dan yang paling penting, latar belakang mereka jelas. Hasby itu aslinya dari Bandung, menyelesaikan pendidikan dokternya di sana sebelum ambil spesialisasi di luar. Kalau Emir, ibunya asli Malang, ayahnya saja yang keturunan UEA. Jadi walau tampangnya sangat Arab, gaya bicaranya masih ada kehangatan orang Jawa-nya."

"Iya, Mas. Kelihatan kok dari cara Mas Zeyad menghargai lawan bicara," ujar Naya mengangguk setuju. "Sopan sekali."

"Oh ya," teringat sesuatu, Sarah menepuk pelan paha luarnya. "Makasih banyak ya buat oleh-oleh kurma dan cokelat tadi. Gak nyangka banget kamu belanjanya di Sahabat Dubai, yang ternyata punya Emir juga."

"Sama-sama, Mbak Sarah. Kebetulan saja tadi siang melangkah ke sana," balas Naya lembut.

Sarah kemudian menunjuk kotak kecil hitam berhias pita emas yang dipangku Naya sejak keluar dari restoran tadi.

"Tapi sepertinya kamu dapat perlakuan khusus ya? Itu parfum kan?"

Naya menunduk melihat kotak elegan di tangannya. "Iya, tadi Mas Zeyad yang memberikan langsung sebelum kita pulang. Katanya ini wewangian kayu cedar dan amber. Tapi pas saya ke toko Sahabat Dubai tadi sore, rasanya tidak melihat etalase khusus parfum ini."

Sarah tersenyum bermakna. "Ya jelas gak ada di toko oleh-oleh biasa, Nay. Emir itu punya lini bisnis parfum premium sendiri. Satu galeri utamanya ada di pusat kota Dubai ini, khusus melayani racikan wewangian eksklusif, dan satu lagi cabangnya ada di Madinah, dekat kawasan markaziah. Produk yang kamu pegang itu kemungkinan racikan terbatas dari galeri utamanya."

Naya tertegun sejenak. Ia meraba permukaan tekstur kotak tersebut. Rasa kagum tak terelakkan merayapi benaknya. Zeyad Emirhan Al-Fatih bukan sekadar pria berparas tampan dengan latar belakang kaya raya, melainkan seorang pria yang benar-benar membangun kerajaan bisnisnya dengan selera seni dan ketelitian tinggi. Pria itu mengelola bisnis tanpa keangkuhan, berbicara dengan kerendahan hati yang nyata.

"Semoga keberadaan kamu di sini membawa banyak berkah, Nay," ucap Danang tulus. "Kamu punya kapasitas intelektual yang bagus. Saya yakin kamu bisa beradaptasi dengan cepat di lingkungan akademis Dubai dan mengakhiri studi spesialisasi ini dengan hasil terbaik."

Naya tersenyum hangat, hatinya diliputi rasa syukur yang mendalam. "Terima kasih banyak, Mas Danang, Mbak Sarah. Tanpa bantuan dan perkenalan dari kalian, saya mungkin tidak akan bertemu dengan orang-orang hebat dan lingkungan yang sepositif ini."

Mobil Danang akhirnya berhenti tepat di depan pelataran apartemen tempat Naya tinggal. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih sekali lagi, Naya melangkah keluar. Udara malam yang dingin menyapu wajahnya saat ia berjalan menuju lift.

Begitu sampai di dalam unit apartemennya yang tenang, Naya melepas blazer pastelnya dan menyangkutkannya di gantungan baju. Ia berjalan menuju meja belajar yang menghadap langsung ke jendela besar berlatar pemandangan kota.

Naya meletakkan kotak parfum pemberian Zeyad di samping tumpukan buku literatur psikologi klinisnya. Jemarinya perlahan membuka tutup kotak tersebut, mengeluarkan botol kaca tebal berwarna gelap dengan ukiran kaligrafi emas yang sangat halus. Saat tutup botolnya dibuka sedikit, aroma kayu cedar yang hangat dipadukan dengan sentuhan lembut amber dan vanilla manis menguar pelan, memenuhi ruangan.

Aromanya tidak tajam, melainkan menenangkan—seperti pelukan hangat di tengah malam yang dingin. Naya menghirup aroma itu dalam-dalam, merasakan ketenangan ajaib merambat di dadanya.

**

Matahari yang merambat naik di atas kubah masjid tidak sepenuhnya mampu menghangatkan suasana dingin yang ditinggalkan oleh kepergian Naya.

Di ruang sekretariat pondok, Ustadzah Fatimah sibuk menata tumpukan berkas absensi. Kerutan di dahinya bertambah dalam sewaktu matanya menangkap sosok Rani yang berdiri kikuk di ambang pintu. Wanita muda itu mengenakan gamis abu-abu longgar dengan jilbab lebar bernuansa senada. Wajahnya polos, kepalanya menunduk lambat—sebuah gestur yang dulu selalu memancing simpati siapa saja yang melihatnya.

"Sini, Rani," panggil Ustadzah Fatimah, memecah kecanggungan. Suaranya datar, tanpa kehangatan yang biasanya ia bagikan kepada para pengurus.

"Nggih, Ustadzah," sahut Rani pelan, melangkah masuk dengan ragu.

"Mulai hari ini, kamu bantu-bantuan di bagian administrasi pendataan santri baru," lanjut Ustadzah Fatimah seraya menyodorkan map tebal ke atas meja. "Buku induknya ada di rak belakang. Tolong disalin ke format baru."

Rani mengangguk cepat. "Terima kasih atas kepercayaannya, Ustadzah. Saya akan berusaha sebaik mungkin."

Ustadzah Fatimah menghela napas pendek, mengalihkan pandangannya ke jendela. Ada dorongan rasa tak enak hati yang membuatnya mengambil keputusan ini. Bagaimanapun, di atas kertas nikah siri yang sempat memicu kehebohan itu, Rani kini telah terikat hubungan hukum agama dengan Gus Reyhan.

Dulu, Naya memegang posisi penting dalam mengelola administrasi dan program bimbingan konseling santri dengan sangat rapi dan cerdas. Menelantarkan Rani begitu saja di area santri biasa rasanya hanya akan menimbulkan bisik-bisik yang makin liar.

Namun, mengobati rasa canggung tak pernah sesederhana memberi posisi.

Seusai menerima tugas pertamanya, Rani berjalan menyusuri koridor samping yang menghubungkan gedung administrasi dengan kompleks asrama putri. Ujung jemarinya meremas berkas di pelukan. Ada sedikit rasa bangga yang berdesir di dadanya. Ia merasa langkahnya kini memiliki bobot yang berbeda. Ia bukan lagi sekadar santriwati biasa yang mengantre di dapur umum; ia adalah bagian dari lingkaran dalam pesantren ini.

Hanya saja, langkah itu mendadak terhenti di dekat belokan aula latihan shalawat.

Dua orang santriwati senior—Mawar dan Devi—sedang berdiri menyandarkan tubuh di tiang pendopo. Keduanya adalah mantan teman sekamar Rani sebelum skandal pernikahan siri itu terbongkar ke permukaan.

Mawar menyilangkan tangan di dada, matanya memperhatikan gaya berjalan Rani dari atas sampai bawah dengan binar cemooh yang terang-terangan.

"Tahu tidak, Dev," ujur Mawar dengan volume suara yang sengaja dipasangkan agar memantul di dinding lorong, "ada istilah Jawa yang bilang ditulung malah mentung. Ditolong malah memukul balik. Kayaknya cocok sekali ya buat menggambarkan orang tertentu?"

Devi terkekeh sinis, memutar kantong plastik berisi perlengkapan mandi di tangannya. "Ya jelas cocok. Lihat tuh, sekarang sudah naik pangkat. Jadi staf administrasi, bukan santri piket lagi. Wah, cepat sekali ya naik derajatnya? Cuma butuh modal jadi pelakor."

Kata terakhir itu menghantam pendengaran Rani bagai sayatan sembilu. Langkah kakinya terpaku di tegel dingin. Wajahnya yang semula tampak rapuh mendadak menegang. Ia memutar tubuhnya, menatap tajam ke arah dua wanita yang dulu sering membagi lauk pauk dengannya saat malam hari.

"Jaga mulut kalian ya!" seru Rani, suaranya agak bergetar menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. "Kalian tidak tahu apa-apa soal hubungan kami! Saya tidak pernah merebut siapa pun!"

Mawar melangkah maju satu tapak, sama sekali tidak gentar. Tatapannya lurus, tanpa rasa segan. "Tidak tahu apa-apa bagaimana? Seluruh kompleks ini tahu kamu dinikahi siri di belakang Ning Naya! Buka mata kamu, Ran. Kenapa kamu mendadak diberi pekerjaan di kantor? Bukan karena kamu cakap atau berprestasi seperti Ning Naya, tapi karena Ustadzah Fatimah cuma serba salah melihat nasibmu!"

"Apa fakta yang kami bilang itu salah?" timpal Devi tajam, mengukir senyum meremehkan. "Kenapa jadi kepanasan begitu? Jangan-jangan di dalam kepalamu itu, kamu sudah membayangkan bakal dipanggil 'Ning' oleh anak-anak asrama? Karena sudah jadi istrinya Gus dan merasa bakal diterima jadi menantunya Kyai Ahmad?"

Rani terpaku, tenggorokannya mendadak tersumbat.

Devi menggeleng pelan dengan raut kasihan yang dibuat-buat. "Kalau memang itu yang kamu harapkan, buang jauh-jauh deh dari pikiranmu. Kamu itu bukan keturunan kyai, tidak sekufu sama Gus Reyhan, apalagi jika dibanding-bandingkan dengan Ning Naya yang cerdas dan terhormat. Kamu cuma benalu yang kebetulan bikin kacau!"

Setelah melempar kalimat-kalimat pedas itu, Mawar dan Devi berbalik arah, berjalan santai meninggalkan koridor sambil tertawa pelan tanpa rasa bersalah.

Rani berdiri mematung di tengah lorong yang mendadak terasa begitu sempit dan memenjarakan. Jemarinya mengepal amat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, meremas map kertas di dadanya sampai terlipat kusut. Napasnya memburu kencang. Dada wanita muda itu bergemuruh oleh perpaduan rasa malu, kesal, dan amarah yang meluap-luap.

Ia tahu perilakunya salah di mata hukum dan tradisi. Namun, bukankah ia menerima perjodohan rahasia itu karena dalih rasa cinta dan kepatuhan? Mengapa seluruh dunia seolah-olah mengutuknya, sementara Naya dipuja bagai dewi yang tak bercelah?

***

1
enungdedy
harusnya kyai jngan maksain reyhan utk nikahi resmi si rani..biarin aja lah
biar mereka berdua sma2 menyesal
bibuk Hannan & Afnan
bukan pendekatan lg prof tp pengalaman pribadi Naya sendiri 🤭🤭
bibuk Hannan & Afnan
oy Rani kamu sebatang kara juga udah dewasa bukan bocah woy elah serasa dunia mau kiamat aja gak punya sandaran, bisa cari kerja sambil nerusin kuliah biar bermartabat drpd jd yg kedua siri pula, sudah tau Gus Reyhan kala itu statusnya sudah menikah mau mau aja dasar pelakor,
bibuk Hannan & Afnan
ekspektasi mu ketinggian Rani,
Naya cerdas berpendidikan dr latar belakang keluarga yg beradab pula, lah kamu sudah orang biasa dgn merebut suami orang berharap dihormati, mimpi, sanksi sosial cap pelakor itu selamanya meski sudah bertaubat tp cap pelakor itu tdk akan hilang,
bibuk Hannan & Afnan
Al Fatih, duh nama belakangnya sama dgn mantan euy 🤭
bibuk Hannan & Afnan
bersedekah tangan?
maksudnya bersedekap tangan kali ya thor, masa bersedekah 🤭🤭
cecla9
biar cepet mereka bersatu
cecla9
jangan klamaan ah
Shinta Syawal
mana bab selanjutnya
enungdedy
heleh...gak jelas nih si reyhan
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
enungdedy
trus hub rani sm reyhan gmn tuh?msih sah suami istti belum?krn rani pergi tnpa ada kata talak dri reyhan
enungdedy
knp gk dilepasin aja sih rani klo emg gak cinta gus
Anonim
Baper aku
enungdedy
kpn gak ditalak aja si rani klo emg reyhan mau mempertahannkan naya
enungdedy
dri kmrin maju mundur mau baca novel.ini..gk taunya bagus bgt🤭
Mundri Astuti
klo ibarat kata...si Rayhan jiwa" playboy, nah klo zeyad laki" sejati
Agnezz
btw knapa judul2 bab dihilangkan? padahal memudahkan untuk ingin membaca bagian tertentu.
bibuk Hannan & Afnan
pantesan mau mau aja dijadikan kedua secara siri, agresif

emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
Agnezz
Zeyad bener2 memperlakukan Naya dengan gentle ya, tidak memaksakan Naya untuk menerima dirinya, selalu memberikan ruang untuk Naya bisa menata hatinya. Zeyad menanti Naya dengan sabar. Beda sekali dengan Rayhan. Karena Rayhan merasa perjodohan masa kecilnya adalah bentuk pasungan atas kebebasannya ( bab 11) maka dia menyambut wanita pilihan orang tuanya dengan dingin. Padahal wanita pilihan orang tua adalah yg terbaik yg sepadan dengan Rayhan.
bibuk Hannan & Afnan
gak sopan si Rani gak mau sowan dulu, minimal baik sikapmu lah setelah apa yg kalian perbuat perbaiki akhlak kalian muhasabah diri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!