Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25 - Tawaran Kevin
Kevin Hartono datang ke rumah sakit dengan wajah yang lebih serius daripada biasanya.
Nadira sedang selesai visite di ruang rawat anak ketika perawat memberi tahu ada tamu dari Hartono Group menunggu di ruang direktur. Ia hampir menolak, tapi direktur rumah sakit sendiri mengirim pesan.
Dokter Nadira, ini soal proyek ruang rawat anak. Tolong ikut.
Nadira tidak punya alasan profesional untuk menolak.
Di ruang direktur, Kevin berdiri saat ia masuk. Tidak ada senyum menggoda seperti biasa. Di meja sudah ada proposal tebal, gambar rancangan, dan daftar kebutuhan fasilitas.
"Dokter Nadira, terima kasih sudah datang."
"Pak Kevin."
Direktur rumah sakit menjelaskan singkat bahwa Hartono Group tetap melanjutkan donasi meski insiden gala mencoreng nama keluarga mereka. Bahkan dana ditambah untuk membangun ruang observasi anak dengan standar lebih baik.
"Pak Kevin meminta Dokter Nadira menjadi salah satu konsultan medis internal proyek," kata direktur.
Nadira menatap Kevin.
Kevin langsung berkata, "Saya tahu situasinya sensitif. Kalau Dokter Nadira menolak karena Vania, saya mengerti."
"Kenapa saya?"
"Karena saat gala, Anda mengoreksi rancangan kami dalam lima menit lebih baik daripada konsultan yang kami bayar tiga bulan."
Direktur tertawa kecil. "Itu benar."
Nadira membuka proposal. Ia melihat beberapa catatan yang ternyata diambil dari ucapannya malam gala. Ventilasi. Akses keluarga. Jalur IGD ke ruang anak. Pemisahan pasien infeksi.
Kevin tidak hanya merayu. Ia mendengar.
Itu membuat Nadira lebih sulit menolak.
"Saya mau terlibat hanya dalam kapasitas medis," katanya. "Semua komunikasi lewat rumah sakit. Tidak ada pertemuan pribadi tanpa tim."
Kevin mengangguk. "Setuju."
"Dan kasus Vania tidak boleh ditutup dengan alasan donasi."
Wajah direktur sedikit tegang, tapi Kevin menjawab lebih dulu.
"Saya tidak akan meminta Anda diam."
Nadira menatapnya lama. "Baik. Saya ikut proyek ini."
Setelah rapat selesai, Kevin berjalan di sampingnya menuju lift.
"Saya benar-benar minta maaf soal Vania."
"Pak Kevin sudah minta maaf."
"Belum cukup."
"Memang."
Kevin tersenyum pahit. "Anda sangat jujur."
"Saya terlalu lelah untuk basa-basi."
Mereka berhenti di depan lift.
Kevin berkata pelan, "Vania tidak selalu seperti itu."
Nadira menoleh.
"Dia anak angkat keluarga Hartono. Sejak kecil dia merasa harus membuktikan diri. Semua hal dianggap kompetisi. Termasuk perhatian."
"Itu menjelaskan. Tidak membenarkan."
"Saya tahu."
Lift terbuka.
Di dalam, Arga berdiri bersama Bima.
Keheningan kecil jatuh.
Bima langsung merasa ingin keluar dari lift meski belum sampai tujuan.
"Dokter Nadira," kata Arga.
"Mayor Arga."
Kevin tersenyum sopan. "Mayor."
Arga membalas dengan anggukan singkat. Matanya turun ke proposal di tangan Nadira.
"Rapat proyek?" tanyanya.
Nadira mengangkat alis.
Arga langsung menambahkan, "Saya bertanya, bukan menginterogasi."
Bima menatap tombol lift seolah tombol itu sangat menarik.
Kevin berkata, "Dokter Nadira akan menjadi konsultan medis untuk proyek ruang rawat anak Hartono Group."
Arga menatap Nadira. "Kamu setuju?"
"Iya."
"Baik."
Nadira menunggu kelanjutan. Tidak ada.
"Hanya itu?"
"Itu keputusan profesionalmu. Aku tidak punya hak melarang."
Kevin melihat Arga dengan tatapan sedikit terkejut.
Nadira juga.
Arga menyadari dua pasang mata menatapnya. "Kenapa?"
Nadira menjawab, "Tidak apa-apa."
Lift turun. Suasananya canggung, tapi tidak meledak.
Saat pintu terbuka di lantai lobby, Kevin berkata, "Dokter Nadira, tim kami akan menghubungi sekretariat rumah sakit untuk jadwal rapat berikutnya."
"Baik."
Kevin pergi.
Arga tetap di tempat.
Nadira menatapnya. "Mas mau bilang sesuatu?"
"Aku cemburu."
Bima batuk keras.
Nadira membeku. "Apa?"
"Aku cemburu pada Kevin. Tapi itu masalahku. Bukan alasan untuk mengatur pekerjaanmu."
Nadira benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Arga melanjutkan, "Aku hanya minta kamu hati-hati karena Vania masih bergerak."
"Itu permintaan wajar."
"Syukurlah."
"Tapi kalau Mas mulai menyuruhku keluar dari proyek, aku akan marah."
"Aku tahu."
Bima menatap Arga dengan ekspresi bangga yang sangat mengganggu.
Nadira pergi menuju ruang dokter. Di belakangnya, Bima berbisik, "Komandan tadi sangat dewasa."
"Diam."
"Siap."
Namun kedewasaan Arga diuji lebih cepat daripada yang ia kira.
Sore itu, undangan makan malam dari Hartono Group dikirim ke beberapa dokter dan donatur penting. Acara kecil, katanya, untuk membahas proyek ruang rawat anak secara lebih tertutup. Nama Nadira tercantum sebagai konsultan medis. Nama Arga juga ada sebagai perwakilan mitra keamanan, karena setelah insiden gala, rumah sakit meminta protokol keamanan tambahan.
Maya membaca undangan itu di apartemen Nadira dan langsung menatap langit-langit.
"Makan malam Hartono lagi? Apa mereka tidak punya tempat lain untuk membuat masalah?"
Nadira meletakkan undangan. "Ini rapat proyek."
"Dengan makanan lima menu dan dress code semi formal?"
"Donatur memang begitu."
"Aku ikut."
"Kamu tidak diundang."
"Aku jurnalis. Aku bisa menyamar jadi tanaman hias."
Fadli yang sedang membaca berkas wawancara kerja tertawa.
Mama Ratih, yang masih tinggal sementara di apartemen, tidak tertawa.
"Kamu harus datang?"
"Ini proyek rumah sakit, Ma."
"Ada Arga?"
"Kemungkinan."
"Ada Kevin?"
"Tentu. Dia tuan rumah."
Mama Ratih menghela napas. "Hidupmu sekarang penuh laki-laki menyusahkan."
Maya menunjuk. "Tante, itu kalimat paling akurat minggu ini."
Nadira memijat pelipis. "Aku datang sebagai dokter. Selesai rapat, pulang."
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Arga.
Aku juga dapat undangan makan malam Hartono. Aku akan hadir dalam kapasitas keamanan. Kalau kamu tidak nyaman, aku bisa duduk jauh. Kalau kamu butuh, aku ada.
Nadira membaca pesan itu dua kali.
Maya melongok. "Apa katanya?"
Nadira menyerahkan ponsel.
Maya membaca, lalu menghela napas dramatis. "Aduh. Dia makin sulit dijadikan musuh."
Mama Ratih mengambil ponsel dan membaca. Wajahnya tetap keras, tapi tidak setajam kemarin.
"Setidaknya kali ini dia tanya."
Nadira mengambil kembali ponselnya.
Ia membalas singkat.
Duduk sesuai tugas saja. Aku akan datang dengan tim rumah sakit.
Balasan Arga masuk.
Baik. Jangan minum apa pun yang tidak kamu lihat dibuka.
Nadira hampir tersenyum.
Ia mengetik.
Aku dokter. Aku tahu.
Arga membalas.
Aku pasien keras kepala. Aku butuh diingatkan juga.
Nadira menatap layar beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Maya memperhatikannya.
"Dir."
"Apa?"
"Kamu senyum."
Nadira langsung meletakkan ponsel. "Tidak."
Fadli mengangkat kepala. "Sedikit."
Mama Ratih menatap putrinya dengan cemas yang lebih lembut.
"Nadira."
"Iya, Ma?"
"Kalau kamu mulai percaya lagi, pelan-pelan saja."
Nadira diam.
Lalu mengangguk.
"Aku tahu."
Mama Ratih tidak langsung pergi. Ia duduk di samping Nadira, mengambil ponsel itu, lalu meletakkannya terbalik di meja.
"Mama tidak akan melarang kamu datang ke acara itu," katanya.
Nadira menoleh, agak terkejut.
"Kalau Mama larang, kamu tetap pergi dengan hati kesal. Lebih baik Mama bilang begini. Jaga diri. Jangan merasa harus sopan pada orang yang sengaja menyakiti."
Maya menunjuk Mama Ratih. "Tante, boleh saya kutip untuk hidup pribadi?"
"Kutip saja, asal jangan masuk berita."
Fadli menatap ibunya. "Ma, tumben bijak."
Mama Ratih menatap tajam. "Kamu fokus belajar wawancara. Jangan sampai ditolak lalu pulang minta dibelikan rumah."
Fadli langsung membuka berkasnya lagi.
Nadira tertawa pelan. Di antara semua ancaman, percakapan kecil itu membuat apartemennya terasa seperti rumah, bukan ruang tunggu sebelum masalah berikutnya.
Namun setelah tawa itu hilang, Nadira tetap membaca ulang nama-nama di undangan. Kevin. Arga. Beberapa investor yang tidak ia kenal. Reza tidak tertulis, dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman.
"Kalau orang tidak tertulis, bukan berarti dia tidak datang," kata Maya, seolah membaca pikirannya.
"Aku tahu."
"Bagus. Bawa naluri doktermu. Curigai gejala kecil."
Namun di tempat lain, Vania membaca daftar tamu makan malam itu dari layar tablet Reza Hartono.
Namanya memang tidak ada.
Tapi Nadira ada.
Arga ada.
Kevin ada.
Vania tersenyum tipis.
"Bagus," katanya.
Reza menatapnya. "Jangan gegabah. Keluarga sudah cukup repot membersihkan ulahmu."
"Aku tidak akan gegabah."
"Lalu?"
Vania menutup tablet.
"Aku hanya akan menunjukkan pada semua orang siapa Nadira Prameswari sebenarnya. Perempuan yang selalu tampak menjadi korban biasanya menyembunyikan harga yang ingin dia jual."
Reza menghela napas. "Kamu punya bukti?"
Vania tersenyum.
"Aku punya orang tua angkat yang sedang takut kehilangan anaknya."