Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu panggilan yang menenangkan
Hari belum sepenuhnya gelap ketika telepon seluler milik Ustadzah Fatimah bergetar. Layar menunjukkan panggilan masuk ke nomor ibu Aira.
Aira menggenggam ponsel itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Didepannya, Ustadzah Fatimah tersenyum lembut sembari mengangguk pelan, memberinya privasi dengan sedikit bergeser ke sudut teras asrama.
Begitu sambungan terhubung, suara hangat di ujung telepon langsung menyapa.
"Assalamu’alaikum, Ustadzah..."
Aira menelan ludah, dadanya sesak oleh tumpukan rindu yang tertahan selama seminggu penuh. Suaranya tercekat di tenggorokan.
"Wa... wa’alaikumussalam. Ibu..." bisik Aira pelan.
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara ibunya terdengar panik bercampur haru. "Aira? Kakak? Ya Allah, Nak..."
"Ibu..." Pecah sudah pertahanan Aira. Isak tangisnya membuncah, dadanya naik turun menahan guncangan emosi. Rasa dingin angin sore itu mendadak hilang, berganti kehangatan yang amat ia rindukan dari rumah.
"Kenapa, Sayang? Kenapa menangis, Nak? Ada yang sakit? Ada yang jahat sama Aira di sana?" Suara ibu terdengar bergetar, penuh kecemasan seorang ibu yang tak bisa merengkuh anaknya secara langsung.
"Nggak, Bu... nggak ada..." Aira mengusap air matanya yang terus menetes ke gamisnya. "Aira cuma... Aira rindu banget sama Ibu. Rindu Ayah. Rindu rumah..."
Di ujung telepon, terdengar kresek suara ponsel yang berpindah tangan. Suara berat dan tenang yang selalu menjadi pelindungnya kini terdengar.
"Assalamu’alaikum, Anak Ayah yang solehah," sapa Ayah. Suaranya diusahakan setenang mungkin, meski Aira tahu betul ayahnya sedang menahan napas agar tidak ikut emosional.
"Ayah..." adu Aira lagi dengan suara serak.
"Kenapa nangis, Nak? Anak Ayah kan kuat. Di asrama baik-baik saja, kan? Ngajinya lancar?"
"Lancar, Yah... Tapi Aira kangen. Kangen dengar suara Ayah ngaji kalau malam. Kangen masakan Ibu. Aira pengin pulang, Yah..."
Ayah terkehdap pelan, berusaha mengalirkan ketenangan lewat gelombang suara. "Dengar Ayah ya, Kak. Rindu itu wajar, tanda Aira sayang sama Ayah dan Ibu. Tapi ingat niat Aira ke sana untuk apa. Aira lagi menuntut ilmu, lagi menanam kebaikan. Ayah sama Ibu di rumah setiap selesai salat selalu kirim doa buat Aira. Aira tidak sendirian di sana."
Ibu mendekatkan wajahnya ke ponsel Ayah, terdengar mendekat. "Iya, Nak. Ibu sama Ayah sehat-sehat di sini. Rumah memang sepi kalau nggak ada Kakak, tapi Ibu bangga banget sama Aira. Kakak yang sabar ya di pesantren. Teman-temannya baik, kan?"
Aira mengangguk, walau tahu orang tuanya tak bisa melihat. Ia mengusap hidungnya yang kemerahan. "Iya, Bu. Teman-teman kamar Aira baik semua. Tadi Ustadzah juga ngasih Aira air hangat pas tahu Aira agak batuk."
"Alhamdulillah... Ingat minum obatnya kalau belum sembuh ya, Nak," sahut Ibu, terdengar lega mendengarnya. "O iya, Kakak ingat kan minggu depan jadwal kunjungan orang tua?"
Aira seketika menghentikan isakannya. Wajahnya agak terangkat. "Minggu depan, Bu? Ibu sama Ayah pasti datang, kan?"
"Pasti datang, Sayang. Ayah sudah kosongkan jadwal dari jauh-jauh hari," jawab Ayah cepat, tidak ingin membiarkan anaknya ragu sedikit pun.
"Nah, sekarang Ibu mau tanya," suara Ibu terdengar lebih cerah, mencoba mencairkan suasana. "Nanti waktu kunjungan, Aira mau Ibu bawakan pesanan apa? Makanan apa yang paling Aira kangenin?"
Aira terdiam sejenak. Pikiran tentang makanan rumah langsung membayangkan aroma dapur mereka. Ia tersenyum tipis di antara sisa air matanya.
"Aira mau rendang buatan Ibu... yang bumbunya agak pedas. Terus sama kering tempe yang ada kacangnya, Bu, biar bisa Aira simpan di lemari kamar."
Ibu tertawa kecil, suara tawa yang begitu menenangkan hati Aira. "Siap, Bos Kecil. Rendang dan kering tempe kacang. Ada lagi? Buah atau cemilan?"
"Em... keripik kentang balado buatan Ibu juga kalau sempat, Bu. Sama... bawa baju hangat Aira yang warna biru, yang ketinggalan di lemari kamar."
"Tercatat semuanya," potong Ayah sambil tertawa lembut. "Nanti Ayah yang bantu Ibu masak dan siapin semuanya. Tapi syaratnya, Aira nggak boleh menangis lagi malam ini. Senyum dulu, coba Ayah mau dengar."
Aira akhirnya tertawa kecil, meski matanya masih basah. "Iya, Yah... Aira udah nggak menangis lagi."
"Nah, gitu dong. Anak Ayah dan Ibu harus hebat," kata Ayah penuh kebanggaan. "Waktu teleponnya sudah mau habis ya, Nak? Kasihan Ustadzah nanti."
"Iya, Yah. Ponselnya mau Aira kembalikan ke Ustadzah Fatimah."
"Baik-baik di sana ya, Nak. Jaga kesehatan, jangan lupa salat malamnya. Kami semua sayang Aira," tutur Ibu manis.
"Aira juga sayang banget sama Ibu dan Ayah. Ditunggu minggu depan ya, Bu, Yah. Assalamu’alaikum..."
"Wa’alaikumussalam warahmatullah..."
Sambungan terputus. Aira memandangi layar ponsel yang perlahan gelap. Dadanya masih terasa hangat, rindunya belum sepenuhnya terobati, namun beban berat di dadanya telah terangkat. Dengan senyum yang kini terkembang, ia melangkah mendekati Ustadzah Fatimah untuk mengembalikan ponsel itu.
Aira tersentak. Lamunannya tentang aroma masakan Ibu dan hangatnya pelukan Ayah langsung terbuyar seketika.
Suara melengking nan tegas dari Ukhti Inggit, ketua kamar yang paling disiplin di asrama itu, menggema sampai ke sudut-sudut lorong. Di sekelilingnya, santri-santri lain sudah berhamburan sibuk memakai kaus kaki hitam dan merapikan mukena putih mereka.
Aira buru-buru menyapu sisa air mata di sudut matanya dengan ujung lengan gamis, lalu dengan cekatan mengembalikan ponsel milik Ustadzah Fatimah.
Aira: (Setengah berbisik, napasnya agak terengah karena terkejut) "Syukran jazilan, Ustadzah... Aira izin ke masjid dulu."
Ustadzah Fatimah: (Tersenyum hangat sambil mengusap lembut kepala Aira) "Afwan, Mbak Aira. Berjalan yang tenang ya, jangan lupa wudhunya dijaga."
Aira mengangguk mantap, lalu berbalik dan bergegas menghampiri Ukhti Inggit yang berdiri di depan pintu kamar dengan tangan melipat di dada, menunjuk jam dinding dengan dagunya.
Ukhti Inggit: (Menatap Aira, suaranya melunak sedikit saat melihat mata Aira yang masih agak sembap) "Aira... Masya Allah, habis telepon orang tua ya? Masih ada bekas air matanya itu. Ayo, usap dulu mukanya pakai air wudhu. Bentar lagi ikamah, nanti kita terlambat dapat shaf depan."
Aira: (Tersenyum tipis, mengangguk cepat) "Iya, Ukhti... Maaf, Aira tadi ketiduran melamun sebentar."
Ukhti Inggit: (Rangkulannya merangkul bahu kecil Aira, mengajaknya berjalan cepat menelusuri selasar) "Rindu rumah itu wajar, Aira. Dulu waktu saya kelas satu juga menangis seminggu penuh sampai mata bengkak. Tapi ingat, setiap langkah kaki kita ke masjid ini, doa orang tua ikut mengalir di setiap tetes keringat kita. Yuk, buktikan sama Ayah Ibu kalau Aira di sini santri yang hebat!"
Kata-kata Ukhti Inggit membakar kembali semangat di dada Aira. Bayangan pesan Ayah untuk tidak menangis lagi dan janji rendang pedas buatan Ibu serasa menjadi pendorong di setiap langkah kakinya.
Suara tarhim dan lantunan shalawat dari speaker masjid terdengar makin nyaring membelah langit sore yang mulai memerah. Aira melepaskan sandalnya di pelataran masjid, melangkah masuk ke atas karpet hijau yang dingin, lalu merapatkan mukenanya. Rasa sedih yang tadi menghimpit kini berganti menjadi kedamaian yang hangat. Hari ini, Aira tahu, ia tidak sedang berjuang sendirian.