NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilau Emas yang Meleleh di Atas Lembaran Tagihan Rumah Sakit

Langkah Juwita terasa begitu ringan saat ia berlari menembus rintik gerimis malam itu, seolah ia tidak lagi berpijak di bumi. Di tangan kanannya yang gemetar, ia mendekap sebuah kotak kecil beludru biru berisi medali emas kemenangan tingkat nasional—simbol mutlak dari kejeniusan, kerja keras, dan pembuktian bahwa ia bukan seperti yang dunia tuduhkan. Bayangan senyum di wajah ibunya menjadi bahan bakar setiap deru napasnya. Ia ingin segera tiba di klinik tempat Dara dirawat, meletakkan medali itu di atas dada ibunya, dan berbisik bahwa mereka akhirnya menang.

Namun, begitu ia mendorong pintu bangsal perawatan kelas tiga yang berbau obat penenang dan antiseptik, dunianya seketika berhenti berputar.

Tidak ada senyuman yang menyambutnya. Yang ada hanyalah pemandangan yang meremukkan hati: tubuh Dara terbaring lemah di atas ranjang besi dengan selang oksigen melingkup hidungnya, sementara seorang petugas administrasi rumah sakit berdiri di samping ranjang dengan selembar kertas putih di tangannya.

"Keluarga pasien atas nama Ibu Dara?" tanya petugas itu dengan nada datar, tanpa sedikit pun rasa iba di wajahnya.

Juwita menghentikan langkahnya, napasnya tersengal. "I-iya, Pak. Saya anaknya. Ada apa dengan ibu saya?"

Petugas itu menyodorkan lembaran kertas putih tersebut. "Biaya perawatan darurat pagi tadi, infus, oksigen, obat-obatan penunjang, serta sewa kamar selama dua hari totalnya sudah mencapai lima juta rupiah. Sesuai ketentuan rumah sakit, jika administrasi ini tidak dilunasi malam ini, pihak rumah sakit terpaksa harus menghentikan pasokan oksigen dan memindahkan pasien ke ruang perawatan umum atau menyarankan rawat jalan."

Dunia Juwita seakan runtuh seketika. Lima juta rupiah. Angka yang bagi orang-orang kaya di sekolahnya mungkin hanya setara harga sebotol parfum atau makan malam di restoran mewah, tapi bagi Juwita dan ibunya, itu adalah jumlah yang mustahil dijangkau dalam waktu singkat. Uang hadiah dari kompetisi nasional memang ada, tetapi proses pencairan administrasinya melalui birokrasi kampus dan panitia baru bisa cair dalam waktu dua minggu ke depan. Dua minggu? Ibunya bahkan mungkin tidak bisa bertahan sampai besok pagi tanpa alat-alat penunjang itu.

"T-tapi Pak, tolong beri saya waktu... uang hadiah perlombaan saya pasti cair, tapi butuh waktu..." suara Juwita bergetar hebat, air mata yang tadinya tertahan karena kebanggaan kini tumpah membasahi pipinya. "Jangan cabut oksigen ibu saya... saya mohon..."

"Maaf, Dek. Aturan tetap aturan. Kami tidak bisa menanggung risiko kerugian," jawab petugas itu dingin, lalu berlalu pergi keluar ruangan.

Juwita jatuh lemas di lantai di samping ranjang ibunya. Ia merangkak mendekati pembaringan, mencium tangan ibunya yang kurus kering dan dingin. Dara tampak tertidur lelap, tidak sadar akan badai keputusasaan yang tengah menghantam putrinya.

Juwita menatap kotak beludru di sampingnya. Ia membuka kotak itu perlahan. Di dalam sana, medali emas berukir lambang garuda dan nama pemandunya berkilau memantulkan cahaya lampu neon ruangan yang temaram. Medali itu adalah harga dirinya. Medali itu adalah keringat, darah, dan air mata yang ia bayar dengan nyawanya sendiri di panggung nasional tadi. Itu adalah satu-satunya benda di dunia ini yang membuktikan bahwa ia hebat.

Juwita memeluk kotak itu erat-erat ke dadanya, menangis meraung-raung dalam diam, berusaha meredam isakannya agar tidak membangunkan ibunya. Perang batin yang hebat berkecamuk di dalam kepalanya. Untuk apa medali ini? batinnya berteriak menyayat hati. Untuk apa kehormatan dan pengakuan dunia jika ibunya mati di hadapannya? Apa artinya sebuah kemenangan di atas panggung megah jika orang yang paling ia cintai di dunia ini direnggut maut karena uang lima juta rupiah?

Tidak ada keraguan lagi di hati Juwita. Harga diri, ego, dan kebanggaannya sebagai juara nasional tidak ada apa-apanya dibandingkan satu embusan napas ibunya.

Pukul sepuluh malam, di tengah guyuran hujan yang mulai lebat, Juwita melangkah keluar menuju sebuah toko gadai kecil di sudut jalan yang masih buka. Suasana di dalam toko gadai itu pengap, berbau asap rokok murah dan besi tua. Seorang pria paruh baya berkaus singlet dengan tato di lengannya menatap Juwita dari balik jeruji besi loket.

"Mau ngapain malam-malam begini, Neng?" tanya pria itu malas.

Juwita mengeluarkan kotak beludru biru dari dalam tas ranselnya, membuka tutupnya, dan mendorongnya melewati celah loket besi. Kilau emas dari medali itu memantul di bawah lampu kuning toko.

"Saya ingin menggadaikan medali ini, Pak," suara Juwita serak, tercekat di tenggorokan.

Pria itu mengerutkan kening, mengambil medali tersebut, menimbangnya dengan tangan, lalu memeriksa keaslian logamnya dengan cairan khusus. Alisnya terangkat kaget saat menyadari bahwa itu adalah emas murni dengan ukiran khusus kompetisi nasional.

"Wah, medali emas asli nih. Juara nasional ya? Kok malah digadai? Ini barang berharga, Neng. Kenapa nggak disimpan buat kebanggaan?" tanya pria itu penasaran, sedikit melunak melihat mata Juwita yang bengkak dan merah.

"Kebanggaan tidak bisa menyelamatkan nyawa ibu saya, Pak," jawab Juwita pelan, air matanya menetes jatuh mengenai kaca meja loket gadai. "Tolong... berikan saya uangnya malam ini juga. Berapa pun yang Bapak tawar, saya terima."

Pria itu terdiam sejenak, menatap gadis muda di hadapannya dengan tatapan iba yang mendalam. Ia tahu persis beban apa yang sedang dipikul oleh pundak kecil itu. Ia mengangguk pelan, menghitung beberapa lembar uang tunai dari laci kayunya.

"Ini... lima juta pas. Bunga per bulannya tinggi, Neng. Kalau dalam dua bulan tidak ditebus, medali ini jadi hak milik toko," ucap pria itu sambil mendorong tumpukan uang tunai ke hadapan Juwita.

Juwita menatap tumpukan uang itu, lalu menatap medali emasnya untuk terakhir kalinya. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan medali itu dengan lembut, seolah mengucapkan selamat tinggal pada simbol perjuangannya.

"Terima kasih, Pak," bisiknya lirih, mengambil uang itu, dan berbalik melangkah keluar dari toko gadai.

Tanpa membawa sebutir pun medali kebanggaan di tangannya, Juwita berlari kembali di bawah hujan deras menuju rumah sakit. Ia langsung menyerahkan uang tunai itu kepada bagian administrasi. Tagihan lunas. Alat-alat penunjang kehidupan ibunya aman.

Juwita kembali ke sisi ranjang ibunya. Ia menarik kursi, duduk menggenggam erat tangan Dara yang mulai menghangat. Ia merebahkan kepalanya di tepi kasur, membiarkan air matanya kembali membasahi selimut putih rumah sakit.

Ia tidak punya medali lagi untuk dipamerkan. Ia tidak punya simbol kemenangan yang bisa ditunjukkan pada dunia. Tapi malam itu, saat ia mendengar suara napas ibunya yang kembali teratur dan tenang dari balik selang oksigen, Juwita tersenyum dalam tangisnya.

Bagi Juwita, medali emas yang sesungguhnya bukanlah logam mulia yang kini berada di toko gadai, melainkan setiap detak jantung ibunya yang masih bisa ia dengar malam ini. Dan demi detak jantung itu, Juwita siap merelakan seluruh isi dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!