NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 25: Bima Sang Sutradara

Pertanyaan Kirana tentang hubungan mereka belum terjawab ketika masalah produksi Hujan Terakhir meledak seminggu kemudian.

“Pemeran kaku, jadwal terlambat, sponsor minta teaser, dan teknisi lampu mengundurkan diri,” keluh Winda di tengah panggung. “Gue mau pura-pura mati.”

“Jangan sebelum pertunjukan,” kata Kirana.

“Terima kasih atas dukungan emosionalnya.”

Pintu belakang teater terbuka. Teriakan pecah ketika seorang laki-laki bertopi dan masker masuk bersama dua staf. Begitu masker dilepas, semua orang mengenali Bima Mahendra, aktor yang wajahnya sedang memenuhi iklan dan infotainment.

Winda menatapnya seperti melihat mukjizat. “Serius?”

“Saya diminta menyelamatkan produksi yang hampir mati,” kata Bima. “Siapa sutradaranya?”

Winda mengangkat tangan. “Saya. Tapi belum mati. Cuma koma ringan.”

Bima tertawa. “Mulai hari ini saya jadi sutradara profesional pendamping. Kamu tetap pegang eksekusi.”

Arya masuk membawa naskah. Bima langsung berseru, “Mas Arya!”

Seluruh ruangan menoleh.

Bima merangkul bahu Arya. Pria itu menoleransi sentuhan tersebut tanpa ekspresi.

“Akhirnya saya lihat sendiri perempuan yang bikin Mas masuk teater kampus.”

“Bima,” peringat Arya.

“Apa? Keluarga sudah penasaran.”

Kirana mendekat. “Kalian saling kenal?”

“Dia sepupu saya,” jawab Arya.

Bima menepuk dada. “Putra dari keluarga Mahendra, sepupu paling tampan dan paling sabar.”

“Paling berisik,” koreksi Arya.

Winda menunjuk keduanya. “Jadi aktor terkenal ini sepupu Prof. Arya?”

“Mas Arya nggak pernah cerita?” Bima memandang Kirana. “Dia memang menyimpan semua hal sampai orang lain frustrasi.”

Kalimat itu tepat mengenai kegelisahan Kirana.

Bima memulai latihan tanpa membuang waktu. Ia menonton satu adegan penuh, lalu menghentikan.

Sebelum lanjut, ia meminta seluruh kru menyimpan ponsel di kotak tertutup. “Kehadiran saya belum diumumkan. Kalau bocor sekarang, wartawan hiburan datang dan latihan berubah jadi pasar.”

Cindy mengangkat tangan. “Tapi kita butuh promosi.”

“Promosi dijadwalkan. Kebocoran tidak.” Bima menunjuk seorang staf. “Foto resmi keluar setelah konsep disetujui Winda.”

Winda yang tadi tampak terpesona langsung kembali profesional. “Dan mahasiswa yang nggak mau wajahnya dipakai bisa isi formulir opt-out.”

Bima menoleh kepadanya. “Bagus. Kamu sudah menyiapkan?”

“Sejak pekan lalu.”

“Berarti produksi ini belum koma. Cuma kurang vitamin.”

“Saya terima pujiannya.”

Mereka membagi panggung menjadi zona dan memeriksa keselamatan properti. Bima menemukan papan licin, kabel terbuka, serta tangga yang belum dikunci. Ia tidak hanya datang sebagai nama besar. Ia tahu pekerjaan teknis, menanyakan batas aktor, dan mengulang adegan sulit tanpa merendahkan pemain amatir.

“Popularitas membawa penonton,” katanya, “tapi keselamatan membawa semua orang pulang.”

Kirana mulai mengerti kenapa Winda menerima pergantian posisi tanpa merasa disingkirkan.

“Teknisnya rapi, tapi mata kalian menahan terlalu banyak.”

“Ini latihan,” kata Kirana.

“Justru latihan tempat berani gagal.” Bima berdiri di tengah panggung. “Nara, jangan hanya pegang pinggang. Tarik seolah kalau lepas, hidupmu selesai. Aluna, jangan lihat lantai. Lihat orang yang ingin kamu tinggalkan.”

Mereka mengulang. Arya menarik Kirana lebih dekat sesuai batas yang disepakati. Kirana memaksa diri mempertahankan tatapan.

“Bagus,” kata Bima. “Sekarang dialog tanpa naskah.”

Arya mengucapkan semua kalimat dengan lancar. Kirana tersendat di tengah, tetapi tatapan pria itu menuntunnya kembali.

Fajar yang menunggu adegan berikutnya berkata, “Kalau terlalu dekat, penonton nggak lihat ekspresi.”

“Kamera dan lampu akan menangkap,” jawab Bima. “Jangan khawatir. Peranmu juga punya ruang.”

Cindy mencoba menyela soal blocking, namun Bima membedah setiap posisi dengan alasan profesional hingga tidak ada ruang untuk permainan pribadi.

Ia kemudian memanggil Cindy dan Fajar untuk adegan mereka. Cindy ternyata sangat kuat ketika diarahkan dengan jelas. Fajar juga mampu mengubah kecemburuan pribadinya menjadi kemarahan karakter tanpa menyentuh Kirana berlebihan.

“Simpan energi itu,” kata Bima kepada Fajar. “Lawan main bukan sasaran. Emosi diarahkan ke cerita.”

Fajar mengangguk. Tatapannya kepada Arya masih menantang, tetapi ia mengikuti aturan.

Pada akhir sesi pertama, Bima memutar rekaman latihan. Ia menunjukkan bahwa Kirana sering menahan bahu saat gugup dan Arya cenderung menutup posisi tubuhnya dari kamera demi melindungi Kirana.

“Mas Arya, di hidup nyata silakan jadi tameng,” kata Bima. “Di panggung, penonton harus lihat wajah Aluna.”

Seluruh kru tertawa. Arya menerima koreksi dengan wajah datar.

Kirana justru terdiam. Bahkan di dalam akting, naluri lelaki itu tetap menempatkan dirinya di antara Kirana dan dunia.

Saat istirahat, Winda menyerahkan jadwal kepada Bima. Keduanya langsung berdebat.

“Latihan enam jam sehari nggak mungkin,” kata Winda. “Mereka kuliah.”

“Kalau tiga jam, adegan tidak matang.”

“Empat jam, akhir pekan enam.”

“Empat setengah.”

“Empat, makan malam saya tanggung.”

Bima memandangnya, lalu tersenyum. “Deal.”

Kirana memperhatikan. Untuk pertama kalinya, Winda menemukan seseorang yang mampu menandingi kecepatan bicaranya.

Di belakang panggung, Bima menghampiri Kirana sendirian.

“Jangan takut sama saya. Saya tidak akan membocorkan apa pun tentang Mas Arya.”

“Apa yang harus dibocorkan?”

Bima membeku sepersekian detik. “Maksud saya, soal dia mengejar kamu.”

“Keluarga kalian tahu?”

“Belum semuanya. Tapi saya tahu sejak dia memaksa saya menilai video audisi tengah malam.”

“Jadi Mas yang memasukkannya?”

“Saya cuma membuka pintu. Dia sendiri yang masuk.” Bima menurunkan suara. “Mas Arya nggak pernah tertarik pada perempuan. Serius. Saya tumbuh bersamanya. Orang-orang sampai mengira dia akan hidup sendirian.”

“Kenapa?”

“Itu harus dia yang cerita.”

Lagi-lagi jawaban yang sama.

“Tapi satu hal pasti,” lanjut Bima. “Kalau dia menyiapkan ruang untuk kamu, dia nggak sedang main-main. Bagi Mas Arya, kamu bukan salah satu pilihan. Kamu satu-satunya.”

Kirana menatap panggung. Arya sedang membantu teknisi mengatur properti, kemejanya dilipat sampai siku, jauh dari gambaran orang penting yang disiratkan Diana.

“Dunia kalian sebenarnya seperti apa?” tanya Kirana.

Bima menggaruk leher. “Lebih ramai dari yang dia tunjukkan. Tapi jangan nilai Mas Arya dari nama keluarga. Nilai dari apa yang dia lakukan ketika tidak ada kamera.”

Winda memanggil Bima untuk memeriksa jadwal. Aktor itu langsung mengeluh dan berjalan kembali.

Arya mendekati Kirana. “Bima bicara terlalu banyak?”

“Cukup untuk membuat saya makin penasaran.”

“Tentang?”

“Kenapa semua orang bilang Mas nggak pernah menyukai perempuan sebelum saya.”

Arya diam.

Kirana menunggu, tetapi Winda memanggil pemeran utama ke panggung.

Saat latihan dimulai lagi, kalimat Bima tetap berputar di kepala Kirana.

Bagi Arya, ia bukan salah satu pilihan.

Ia satu-satunya.

Di sisi lain panggung, Bima dan Winda kembali berdebat tentang warna lampu. Lima menit kemudian, keduanya justru tertawa pada kesalahan yang sama. Benih hubungan lain mungkin mulai tumbuh tanpa mereka sadari.

Namun bagi Kirana, satu kalimat tentang Arya sudah cukup memenuhi seluruh ruang: belum pernah ada perempuan lain, dan tetap belum ada penjelasan mengapa hanya dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!