*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Berangkatnya Armada Kehancuran
Ruang dimensi di dalam Istana Tengkorak Kaisar bergetar hebat. Tekanan yang memancar dari tubuh Kaisar Iblis Kuno begitu mengerikan hingga udara di sekitarnya seolah membeku.
Di bawah tekanan Kepadatan Fisik Level 13, Mo Xie justru menerjang maju. Racun ungu pekat meledak dari Tulang Surgawi Level 11, sementara Sabit Tulang Hitam di tangannya bergetar dan mengeluarkan lolongan jutaan jiwa.
"Seni Sabit Kehancuran: Pemenggalan Kegelapan!"
Sabit itu menebas leher Kaisar Iblis dengan kekuatan Hukum Kehancuran yang diperkuat oleh fragmen Kuali Harimau.
Namun Kaisar Iblis tidak bergeming. Ia hanya berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung dan membiarkan tebasan itu menghantam lehernya.
Trang!
Percikan ungu dan hitam berhamburan.
Mo Xie membelalak. Tidak ada luka, bahkan bekas goresan pun tidak terlihat. Sabit Tulang Hitam yang mampu merobek kehampaan ternyata hanya mampu meninggalkan percikan di atas kulit Kaisar Iblis.
"Hukum Kehancuran yang lumayan," ujar Kaisar Iblis tenang. "Sayangnya, Level 11 masih terlalu lemah. Kepadatan tubuhku telah mencapai tingkat yang tak mampu kau tembus."
Sebelum Mo Xie sempat menarik sabitnya, Kaisar Iblis mengangkat tangan dan menyentil bahu kirinya.
Brak!
Bahu Mo Xie hancur seketika. Tulang Surgawi Level 11 retak dan patah, dagingnya meledak menjadi kabut darah, lalu tubuhnya terlempar menembus tiga lapis dinding tulang naga purba sebelum tertimbun reruntuhan.
Kaisar Iblis berjalan mendekat dengan tenang.
"Jangan mati terlalu cepat, Mo Xie. Kalau tulangmu hancur menjadi bubuk, rasanya akan hambar saat kuserap."
Ia mencengkeram lengan kiri Mo Xie dan mengangkat tubuhnya seperti mengangkat seekor binatang terluka. Darah hitam mengalir dari sudut bibir Mo Xie, napasnya berat, tetapi cahaya di matanya belum padam.
"Kau memang jenius. Mencapai Level 11 dalam waktu sesingkat ini sungguh mengagumkan. Sayangnya, selisih dua tingkat bukan sesuatu yang bisa kau lewati. Tulangmu akan menjadi jalan bagiku menuju Level 14."
Kaisar Iblis membuka mulut dan hendak menggigit lengan Mo Xie.
Namun pada saat itu, Mo Xie justru tertawa.
Tawa itu serak dan liar, sama sekali bukan tawa seseorang yang telah kehilangan harapan. Sebaliknya, terdengar seperti tawa seorang pemburu yang baru saja berhasil menjerumuskan mangsanya ke dalam perangkap.
Mata merah darahnya kembali menyala.
"Kau pikir aku kembali ke sini untuk beradu kekuatan denganmu?"
Mo Xie meludahkan darah tepat ke wajah Kaisar Iblis.
Senyum di wajah sang Kaisar perlahan menghilang. Dari lengan Mo Xie, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Sejak awal, Mo Xie memang tahu dirinya tidak mungkin mengalahkan Kaisar Iblis dalam pertarungan langsung. Karena itu, ia tak pernah berniat melawannya dengan cara biasa.
Di dalam aliran darah lengan kirinya, ia telah menyimpan sisa Darah Yin murni milik Ling'er. Kekuatan itu kemudian ia padukan dengan sisa Hukum Kehancuran dari Kuali Harimau yang belum sepenuhnya menyatu dengan Tulang Surgawinya.
Lengan tersebut telah berubah menjadi wadah kehancuran.
"Terimalah ini, Kaisar Tua!"
Mo Xie menggeram dan meledakkan seluruh kekuatan yang tersimpan di lengan kirinya.
Booom!
Racun hitam keunguan meledak dari jarak sedekat itu dan langsung menghantam dada Kaisar Iblis. Kekuatan Hukum Kehancuran yang terkumpul di dalamnya akhirnya menembus pertahanan tubuh Level 13.
Untuk pertama kalinya, tubuh Kaisar Iblis terluka.
"Aaargh!"
Raungan kesakitan mengguncang seluruh Istana Tengkorak Kaisar. Tubuhnya terlempar ratusan tombak, zirah hitamnya hancur, dan luka mengerikan terbuka di dadanya. Darah hitam menetes ke lantai tulang.
Kaisar Iblis menatap luka tersebut dengan tak percaya.
"Kau...!"
Di sisi lain, Mo Xie jatuh berlutut. Lengan kirinya telah lenyap hingga ke bahu, tetapi bukannya takut, ia justru tertawa.
Darah Yin Ling'er masih mengalir di dalam tubuhnya. Dari bahu yang terputus, daging dan urat baru mulai tumbuh, disusul tulang hitam yang perlahan menyusun kembali bentuk lengannya.
Hanya dalam beberapa tarikan napas, lengan baru telah terbentuk.
Mo Xie mengepalkan tangannya.
"Level 13 memang keras."
Ia mengangkat wajah dan menatap Kaisar Iblis dengan seringai dingin.
"Tapi kau tetap bisa berdarah. Selama kau bisa berdarah, kau juga bisa mati."
Racun gelap kembali berputar di sekeliling tubuhnya.
"Pertunjukan baru saja dimulai."
Kaisar Iblis menggeram.
Untuk pertama kalinya, Kaisar Iblis terluka oleh makhluk yang selama ini dianggapnya hanya sebagai ternak.
Dan kemarahan itu membuat seluruh Jurang Tulang Kematian bergetar.
Di Tempat Lain
Jauh dari Jurang Tulang Kematian, langit di atas Kota Suci Tianyu perlahan terbelah. Ribuan riak ruang bermunculan di angkasa, tetapi kali ini bukan armada tulang naga milik Faksi Pendukung yang datang.
Yang memenuhi langit adalah armada emas-putih milik Tianyu.
Kapal-kapal perang raksasa dilindungi Formasi Cahaya Pemusnah, sementara para Ksatria Emas berdiri di geladak dengan senjata terhunus, menunggu perintah.
Di atas kapal utama, Lin Xuan berdiri tegak dengan jubah putih berkibar diterpa angin kehampaan. Tatapan peraknya menembus kegelapan, seolah mampu melihat langsung Ibu Kota Suci Taichu dari kejauhan.
Di sampingnya, Shen Ziyue berdiri dalam zirahnya. Wajahnya tenang, tetapi aura seorang penguasa telah terpancar jelas dari tubuhnya.
Seorang jenderal berlutut di belakang mereka.
"Komandan, armada telah siap. Gerbang terluar Taichu juga telah ditemukan. Kami hanya menunggu perintah."
Lin Xuan tidak langsung menjawab.
Tungku Daging Level 11 di dalam tubuhnya berdenyut perlahan. Dari kejauhan, ia dapat merasakan gejolak hukum yang mengguncang alam semesta.
Mo Xie sedang bertarung.
Perang besar di Alam Primordial telah dimulai dari dua sisi.
Lin Xuan mengangkat tangan kanannya, lalu menurunkannya dengan tegas.
"Maju." Suaranya menggema ke seluruh armada. "Hari ini kita tidak hanya meruntuhkan Ibu Kota Taichu."
Tatapan peraknya menjadi dingin.
"Kita akan mengguncang langit alam semesta."
Ribuan kapal perang bergerak serempak. Cahaya emas dan perak membelah kehampaan ketika seluruh armada memasuki lorong ruang, lalu menghilang menuju Taichu.
Genderang perang kembali bergema di seluruh Tianyu.
Perang Besar Alam Primordial telah dimulai.