Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Test DNA
Lampu kembali meredup di ruang observasi, namun tidak ada satu pun yang menyadari bahwa pada detik itu, poros takdir telah bergeser secara permanen. Ruang perawatan kembali dibanjiri cahaya putih neon yang steril. Para perawat berlarian menenangkan bayi-bayi yang menjerit akibat petir dan padamnya listrik sesaat. Teknisi sibuk mengutuki generator yang terlambat menyala. Semua kepanikan itu menutupi sebuah kejahatan paling rapi yang pernah terjadi di dalam gedung tersebut.
Tidak ada yang memperhatikan Clara. Tidak ada yang mempertanyakan apa yang dilakukan wanita berwajah sepucat mayat itu di sudut tergelap ruangan selama listrik padam.
Pagi merangkak naik, membawa sisa udara dingin yang menusuk tulang pasca-badai. Langit masih menggantungkan warna kelabu pekat ketika Clara berdiri mematung di depan pintu utama rumah sakit. Di dalam dekapannya, terbalut erat sesosok bayi perempuan mungil yang dibenamkan dalam kain jarik usang. Bayi itu tidur terlampau pulas, bernapas pelan tanpa tahu bahwa dunia tempat ia baru berpijak telah dibelokkan paksa oleh ibunya sendiri menuju jurang paling gelap.
Clara menunduk. Tetesan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh menembus serat kain.
"Maya..." bisiknya lirih, suaranya pecah ditelan deru mesin kendaraan.
Nama yang awalnya ia siapkan dengan penuh cinta untuk darah dagingnya sendiri, kini resmi ia lekatkan pada bayi di gendongannya. Bayi yang secara biologis adalah putri dari Vera dan Daniel.
Ada rongga raksasa yang menganga di dada Clara, menyedot habis sisa kewarasannya. Ia baru saja membuang darah dagingnya sendiri ke pelukan musuhnya, demi merampas bayi ini sebagai perisai dan senjata balas dendam. Seharusnya ia merasa menang. Seharusnya ada tawa kepuasan yang meledak. Namun yang tersisa hanyalah beban tak kasat mata yang mencekik lehernya hingga ia nyaris roboh.
"Maafkan aku," bisiknya gemetar, mengusap pipi mungil itu dengan ibu jari yang sedingin es. "Mulai hari ini kau adalah Maya. Kita akan hidup di bawah bayang-bayang dosa ini. Aku berjanji tidak akan menyiksamu, meski mungkin akan sangat berat untuk mencintaimu."
Clara berbalik. Ia menyeret langkahnya menjauhi gedung megah itu, membawa pergi sebuah rahasia yang kelak akan membakar mereka semua.
Beberapa lantai di atas sana, di dalam kemewahan Paviliun VVIP yang beraroma mawar putih dan antiseptik mahal, Vera perlahan membuka mata.
Meski tubuhnya masih kebas akibat obat bius pasca-operasi sesar, wajahnya langsung merekah ketika seorang perawat senior masuk mendorong boks bayi berhias pita satin.
"Selamat pagi, Nyonya. Waktunya menyusui," ucap perawat itu dengan senyum terlatih.
Vera memaksakan diri bersandar pada tumpukan bantal. Matanya berbinar penuh kehausan seorang ibu. "Elena... berikan anakku."
Perawat itu mengangkat bayi perempuan yang terbalut selimut bulu angsa, lalu menyerahkannya dengan sangat hati-hati ke pangkuan Vera. Vera langsung merengkuh bayi itu, menempelkan hidungnya ke puncak kepala si kecil, menghirup aroma bedak dan susu yang memabukkan.
Namun, euforia itu hanya bertahan tiga detik.
Kerutan halus tiba-tiba tercetak di kening Vera. Ada insting purba yang tiba-tiba merayap naik dari tengkuknya, membunyikan alarm tanda bahaya di dalam kepalanya. Jantung Vera mendadak berdetak satu tempo lebih cepat. Ia menjauhkan bayi itu sedikit, menatap lekat-lekat wajah yang sedang terlelap tersebut.
Bentuk hidungnya. Lekuk kelopak matanya. Garis rahangnya.
Napas Vera mulai memburu. Semakin lama ia menatap, perasaan ganjil itu semakin membesar, berubah menjadi teror yang menekan dadanya.
"Ada apa, Sayang?" Daniel, yang sejak tadi duduk di sofa meninjau dokumen perusahaan, langsung melempar tabletnya dan mendekat. Wajahnya menegang melihat istrinya memucat.
"Kenapa..." Suara Vera bergetar. Tangannya yang memegang bayi itu ikut gemetar.
"Kenapa, Vera? Bayinya demam? Sesak?" Daniel membungkuk panik.
"Bukan!" Vera menelan ludah, matanya membesar menatap suaminya. "Daniel... wajahnya berbeda. Ini... ini bukan seperti yang kuingat semalam saat di ruang operasi."
Daniel terdiam sejenak sebelum menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kelelahan. "Vera, kau baru saja dibedah besar. Semalam kau setengah sadar karena obat bius. Bayi baru lahir wajahnya memang masih bengkak dan berubah-ubah setiap jam."
"Tidak! Kau tidak mengerti!" Nada suara Vera meninggi, kepanikannya mulai tidak terkendali. "Instingku mengatakan ada yang salah, Daniel! Bagaimana kalau dia tertukar? Tadi malam listrik padam total!"
Mendengar kata-kata itu, Daniel menatap istrinya dengan sorot mata yang campur aduk antara kasihan dan frustrasi. "Di paviliun VVIP? Dengan perawat khusus yang menjaganya non-stop? Itu mustahil, Vera. Kau hanya sedang cemas."
"Kalau begitu buktikan!" Vera setengah berteriak, mendekap bayi itu dengan canggung antara ingin melindungi, tapi juga ketakutan memegang anak orang lain. "Panggil dokter. Aku mau tes DNA. Sekarang!"
"Vera, kau ini..."
"Aku tidak akan bisa tidur tenang sebelum melihat hasilnya di atas kertas, Daniel! Lakukan saja!"
Melihat keputusasaan di mata istrinya, Daniel akhirnya mengalah. Ia mengusap puncak kepala Vera untuk menenangkannya. "Baik. Kalau itu yang bisa menghentikan halusinasimu. Tapi dengar, kau baru saja dibelah, tidak perlu ikut diambil darahnya agar kau tidak semakin stres. Biar pakai sampel darahku saja."
Vera menatapnya ragu.
"Aku ayahnya, Vera," tegas Daniel lembut. "Kalau tes garis keturunan dari pihak ayah (Paternity Test) membuktikan bahwa benihku ada di dalam tubuh bayi ini, keraguanmu akan hilang seratus persen, bukan? Dia pasti anak kita."
Logika itu berhasil menembus kepanikan Vera. Ia mengangguk kaku. Benar. Daniel adalah ayah kandungnya. Asal bayi ini memiliki DNA Daniel, tidak mungkin ada kesalahan.
Setengah jam kemudian, ruang VVIP itu dipenuhi ketegangan. Perawat mengambil usapan liur (buccal swab) dari dalam mulut si bayi yang merengek pelan, sementara Daniel menyodorkan lengannya untuk diambil sampel darahnya tanpa sedikit pun keraguan.
"Gunakan jalur VIP. Saya mau hasilnya sebelum matahari terbenam," perintah Daniel dingin kepada kepala laboratorium.
Waktu setelahnya adalah neraka bagi Vera.
Setiap detik yang berdetak di jam dinding terasa seperti palu yang menghantam kepalanya. Ia menolak makan siang. Ia bahkan meminta perawat meletakkan kembali bayi itu ke dalam boks. Vera hanya duduk di tepi ranjang, meremas selimutnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya terus mengawasi bayi itu dengan tatapan penuh selidik yang menyiksa batinnya sendiri.
Bagaimana kalau instingku benar? Bagaimana kalau anakku ada di luar sana, kedinginan? Pikiran itu terus berputar, membuat lambungnya mual.
Tepat pukul lima sore, ketukan pelan di pintu membuat Vera nyaris melompat dari ranjang.
Seorang dokter spesialis genetika melangkah masuk, wajahnya datar tak terbaca, membawa sebuah amplop cokelat tebal berlogo rumah sakit dengan stempel rahasia.
Ruangan itu seketika hening. Bahkan suara pendingin ruangan terasa memekakkan telinga.
Daniel mengambil amplop itu, namun Vera langsung merebutnya dengan tangan yang gemetar hebat. Jantungnya berdebar begitu keras hingga terasa ngilu di telinga.
"Kau mau aku yang membukanya?" tawar Daniel cemas melihat istrinya bernapas tersengal-sengal.
Vera menggeleng. Ia merobek ujung amplop itu secara paksa. Kertas di dalamnya terasa sangat berat, seakan membawa vonis kehidupan dan kematian. Matanya yang merah melompati deretan teks medis yang rumit, langsung mencari satu-satunya kalimat yang ia butuhkan di bagian paling bawah.
Pemandangannya memburam, namun perlahan huruf-huruf itu tercetak jelas di retinanya:
Subjek 1 (Sampel Ayah: Daniel)
Subjek 2 (Sampel Bayi)
Analisis Hubungan Biologis (Paternity Test)
Probabilitas Kecocokan: 99,99%
Kesimpulan: Subjek 1 dipastikan secara genetik adalah ayah biologis dari Subjek 2.
Napas tertahan di tenggorokan Vera. Ia membaca angka itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Mengukirnya dalam-dalam di otaknya.
Daniel yang mengintip dari balik bahunya langsung tertawa lega. "Nah! Apa aku bilang? 99,99%, Vera! Anakku. Darah dari darahku."
Seketika itu juga, pertahanan Vera runtuh. Tangis kelegaan yang amat luar biasa pecah dari kerongkongannya. Beban berton-ton yang sejak pagi meremukkan dadanya menguap lenyap tak bersisa. Ia menjatuhkan kertas itu, berbalik, dan menghambur ke pelukan suaminya sambil terisak keras.
"Oh, Tuhan... syukurlah... aku benar-benar gila, Daniel. Maafkan aku..." tangisnya di dada sang suami.
"Sstt... sudah. Tidak ada yang tertukar. Dia putri kita," bisik Daniel menenangkan.
Vera melepaskan pelukannya, setengah berlari menuju boks bayi. Dengan sisa air mata yang masih membasahi pipi, ia mengangkat bayi itu, mendekapnya dengan cinta yang kini meledak ribuan kali lipat. Ia menciumi pipi bayi itu bertubi-tubi, merasa sangat bersalah karena sempat menolaknya tadi siang.
"Maafkan Ibu, sayang... Maafkan Ibu sempat meragukanmu," bisik Vera tersedu, mengayun-ayunkan bayi itu dengan penuh puja.
Sebaris angka mutlak di atas kertas resmi itu telah menjadi perisai baja yang menepis semua keraguan Vera. Sains tidak mungkin berbohong. Baginya, tes DNA itu adalah bukti absolut bahwa kebahagiaannya aman.
Ia tidak tahu.
Ia tidak akan pernah tahu... bahwa sistem pengujian genetik itu memang mutlak sempurna. Tes itu membuktikan kebenaran tanpa cela: bayi itu memang anak kandung Daniel.
Karena bayi yang kini sedang dipeluk, disesali, dan dihujani ciuman oleh Vera... adalah anak kandung Clara.
Benih dari pria yang sama, yang telah menanamkan kehidupan di rahim dua wanita berbeda dalam waktu yang nyaris bersamaan, kini menjadi perisai pelindung bagi kejahatan paling sempurna. Vera memeluk anak musuhnya sendiri dengan bangga, menjadikannya mahkota kemenangan. Sementara anak kandungnya yang asli pewaris sesungguhnya kini tengah ditidurkan di atas kasur tipis yang dingin di sudut permukiman kumuh, meminum susu dari tangan wanita yang sangat membencinya.
Sebuah bom waktu baru saja ditanam, berdetak sunyi dalam detak jantung dua bayi yang tertukar.