Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Natasya berjalan maju selangkah mendekati hewan bersisik tebal tersebut.
"Apa kau tahu di mana letak aliran air bawah tanah yang masih menyala di bawah desa kering ini?"
Trenggiling tua itu terdiam sejenak dan menatap Natasya dengan pandangan yang menyelidik.
"Kau ingin mencari air untuk menolong sekumpulan manusia berisik di atas sana itu ya?"
"Manusia-manusia itu pantas mati kehausan karena mereka sering memburu teman-temanku untuk diambil sisiknya."
"Aku tahu manusia kadang bertindak sangat jahat pada bangsa hewan."
Natasya merendahkan nada suaranya dan menatap mata kecil trenggiling itu dengan penuh rasa simpati.
"Tapi di sana banyak anak kecil dan bayi yang tidak tahu apa-apa dan tidak pernah menyakiti hewan."
"Tolong bantu mereka sekali ini saja, Tuan Trenggiling."
"Kau pandai sekali mengambil hati hewan tua sepertiku, anak manusia."
Trenggiling itu mendengus pelan mengeluarkan sedikit udara berdebu dari hidungnya.
"Sebenarnya tepat di bawah dasar sungai tempat kita berdiri ini ada urat air tanah yang sangat besar."
"Benarkah itu?"
Mata Natasya langsung berbinar terang mendengar fakta menggembirakan tersebut.
"Lalu kenapa sungainya bisa kering kerontang seperti ini kalau di bawahnya ada banyak air?"
"Karena beberapa bulan yang lalu terjadi pergeseran tanah di dalam sana."
Trenggiling tua itu menunjuk ke arah sebuah batu raksasa berwarna hitam yang menancap kuat di dasar sungai kering.
"Pergeseran tanah itu membuat batu hitam besar itu menyumbat urat air utamanya."
"Airnya terkurung di kedalaman lima meter di bawah batu itu dan tidak bisa naik ke permukaan lagi."
"Ternyata cuma karena tersumbat batu hitam itu ya."
Natasya menatap batu raksasa tersebut dan otaknya mulai memikirkan sebuah rencana cerdik.
"Tuan Trenggiling, apa kau bisa menggali tanah di sekitar batu hitam itu agar longgar?"
"Aku memang ahli menggali, tapi untuk apa aku repot-repot menggali tanah di sekitar batu itu?"
Trenggiling itu mengerutkan kening hewannya merasa tidak paham dengan maksud Natasya.
"Kalau tanahnya aku gali, batunya nanti bisa anjlok ke bawah dan airnya justru akan menyembur keluar menghancurkan terowonganku."
"Nah, itu dia tujuan utamanya, Tuan Trenggiling."
Natasya menjentikkan jarinya dengan riang gembira.
"Kalau tanahnya longgar dan airnya menyembur keluar, maka manusia di desa ini bisa minum lagi."
"Lalu apa keuntungannya untukku selain terowonganku yang kebanjiran, anak kecil?"
Trenggiling itu menolak dengan tegas sambil menyilangkan kedua kaki depannya yang berkuku tajam.
"Aku tidak mau bekerja tanpa bayaran yang sepadan dengan tenaga yang aku keluarkan."
"Aku janji akan membawakanmu sekarung penuh rayap putih yang paling gemuk dari lembah hijau desaku."
Natasya memberikan penawaran yang sangat menggiurkan untuk memancing selera makan hewan penggali tersebut.
"Rayap di sana sangat banyak dan rasanya pasti sangat manis."
Mendengar kata rayap putih yang gemuk, trenggiling tua itu langsung menelan ludahnya tanpa sadar.
"Sekarung penuh rayap putih dari tanah yang subur ya."
"Tawaranmu itu benar-benar sangat licik dan tidak bisa aku tolak sama sekali, Natasya."
"Jadi kita sepakat ya, Tuan Trenggiling?"
Natasya tersenyum lebar menatap hewan bersisik yang mulai tergiur itu.
"Baiklah, aku akan menggali tanah di bawah batu hitam itu sekarang juga."
Trenggiling itu kembali bersiap masuk ke dalam lubang tanahnya.
"Tapi kau harus menjauh dari sini, karena kalau airnya menyembur tekanannya akan sangat kuat."
"Aku akan bersembunyi di atas tebing sana, terima kasih banyak Tuan Trenggiling."
Natasya langsung berlari mundur dan memanjat tebing rendah di pinggir dasar sungai kering tersebut.
Gadis kecil itu bersembunyi di balik pohon asam yang rindang sambil mengawasi batu hitam raksasa itu.
Srasak.
Krusuk.
Krak.
Suara tanah yang digali dan batu yang bergesekan terdengar sangat keras dari dalam dasar sungai.
Trenggiling tua itu benar-benar menggunakan kuku tajamnya untuk menghancurkan tanah kering di sekitar penyumbat air.
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi hewan penggali profesional itu untuk menyelesaikan tugasnya.
Kretek.
Kretek.
Batu hitam raksasa itu tiba-tiba bergetar hebat dan perlahan mulai melesak turun ke dalam tanah.
Byurrr.
Syuuut.
Sebuah semburan air tanah yang sangat jernih dan bertekanan tinggi tiba-tiba memancing keluar dari sela-sela batu hitam.
Air itu melesat tinggi ke udara seperti air mancur dan langsung membasahi seluruh dasar sungai yang kering kerontang.
"Berhasil."
Natasya bersorak tertahan di balik pohon asam melihat rencananya berjalan dengan sangat sempurna.
"Tuan Trenggiling itu memang pekerja yang sangat hebat dan cepat."
Suara semburan air yang sangat keras itu langsung menarik perhatian para warga Desa Karang yang sedang menangis di balai desa.
"Suara gemuruh apa itu dari arah sungai kering?"
Kepala Desa Karang langsung berdiri dibantu oleh Karto dan menatap ke arah barat dengan wajah bingung.
"Suaranya persis seperti suara air bah yang sedang mengalir deras."
Maman ikut menajamkan telinganya dan wajahnya perlahan berubah menjadi penuh harap.
"Ayo kita periksa ke sana sekarang juga, semuanya bawa ember dan kendi air."
Rombongan warga Desa Karang langsung berlari berhamburan menuju arah sungai kering tersebut.
Saat mereka tiba di pinggir tebing sungai, mereka semua disuguhkan oleh pemandangan yang paling indah di dunia.
Air tawar yang sangat jernih dan melimpah ruah sedang menyembur keluar dari bawah batu hitam membasahi dasar sungai.
"Ya Tuhan, ini adalah mukjizat, air sungai kita kembali mengalir."
Karto berteriak histeris dan langsung melompat ke dasar sungai tanpa mempedulikan kakinya yang sakit.
Pria itu langsung menengadahkan wajahnya ke atas dan meminum air mancur itu dengan sangat rakus.
"Airnya sangat segar dan manis, ini benar-benar air bersih."
Warga desa lainnya langsung ikut melompat turun membawa ember dan kendi masing-masing.
Anak-anak kecil yang tadinya menangis kehausan kini tertawa riang bermain cipratan air di dasar sungai yang mulai menggenang.
Natasya yang melihat kebahagiaan mereka dari atas pohon asam hanya bisa tersenyum dengan sangat tulus.
"Ternyata melanggar janji untuk menolong nyawa orang lain rasanya sangat menyenangkan."
"Sekarang tugasku sudah selesai dan aku harus segera pulang sebelum Ayah dan Ibu menyadari aku hilang dari rumah."
Gadis kecil itu mengendap-endap turun dari pohon dan mulai berlari menjauhi Desa Karang.
Ia memilih jalan memutar melewati pinggiran hutan agar tidak berpapasan dengan warga desa yang mungkin masih ada di jalan utama.
Langkah kakinya terasa sangat ringan meskipun ia harus mendaki bukit lagi untuk pulang.
Namun saat Natasya baru saja turun dari bukit dan memasuki batas Hutan Hitam yang teduh, langkahnya terhenti.
Di tengah jalan setapak, seekor serigala raksasa berbulu abu-abu gelap sedang duduk menunggunya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kau benar-benar anak manusia yang keras kepala dan tidak bisa dipegang kata-katanya, Natasya."
"Gaga?"
Natasya terperanjat kaget melihat sahabatnya sudah mencegatnya di tengah jalan.
"Bagaimana kamu tahu aku ada di sini dan baru pulang dari Desa Karang?"
"Burung-burung pipit yang melihatmu berbicara dengan trenggiling tua itu langsung melaporkannya padaku."
Gaga berdiri dan berjalan pelan mendekati Natasya dengan raut wajah yang terlihat marah namun lebih mendominasi rasa khawatir.
"Kau baru saja berjanji pagi tadi untuk tidak ikut campur urusan desa lagi, dan siangnya kau malah menyelamatkan desa orang lain."
"Maafkan aku, Gaga."
Natasya menundukkan kepalanya sambil memainkan ujung bajunya dengan perasaan bersalah.
"Tapi aku dengar banyak anak bayi yang mau mati kehausan, masa aku diam saja melihat mereka menderita?"
"Niat baikmu itu bisa saja membawamu pada kehancuran yang lebih cepat, anak kecil."
Gaga menghela napas panjang dan menyandarkan tubuh besarnya di sebelah Natasya.
"Kau pikir manusia-manusia di Desa Karang itu tidak akan mencari tahu darimana air itu tiba-tiba menyembur?"
"Memangnya mereka akan curiga padaku?"
Natasya mendongak menatap mata kuning Gaga dengan raut wajah kebingungan.
"Kan aku bersembunyi terus dari tadi, tidak ada satupun warga desa sana yang melihatku."
"Jejak kaki kecilmu tercetak sangat jelas di pasir berdebu di pinggir sungai itu."
Gaga memberikan fakta mengejutkan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Natasya.
"Cepat atau lambat mereka akan menghubungkan jejak kaki anak kecil itu dengan kedatangan utusan mereka ke ayahmu pagi tadi."
Mata Natasya membulat sempurna menyadari kecerobohan fatal yang baru saja ia lakukan.
"Astaga, aku lupa menghapus jejak sepatuku di sana."
"Lalu aku harus bagaimana sekarang, Gaga?"
"Kita hadapi saja masalahnya kalau hari itu sudah tiba."
Gaga merendahkan punggungnya memberikan isyarat agar Natasya naik.
"Ayo naik, aku akan mengantarmu pulang lebih cepat sebelum ibumu panik mencarimu keliling desa."
"Terima kasih banyak, Gaga, kamu memang sahabat yang paling mengerti aku."
Natasya langsung melompat naik ke punggung serigala itu dan memeluk bulunya yang hangat.
"Aku janji ini yang terakhir kalinya aku bertindak ceroboh tanpa rencana yang matang."
"Janji seorang anak manusia berumur tujuh tahun adalah hal yang paling tidak bisa dipercaya di dunia ini."
Gaga mendengus pelan dengan nada menyindir namun ia langsung melesat lari membawa Natasya pulang.
Petualangan mencari air di Desa Karang telah selesai dengan sukses besar menyelamatkan nyawa banyak orang.
Namun peringatan Gaga tentang jejak kaki itu benar-benar akan menjadi bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan ketenangan keluarga Arga di hari-hari berikutnya