Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Perjalanan menuju kediaman utama keluarga Charles terasa seperti perjalanan menuju penghakiman. Di dalam mobil, Charles tidak berhenti menatap layar tabletnya, memantau pergerakan saham Utama Group yang mulai memerah. Guratan di keningnya semakin dalam, namun jemarinya tetap menggenggam jemariku di bawah lipatan jaket.
"Saham kita turun 4% dalam dua jam pertama perdagangan," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Charles, apakah ini akan menghancurkanmu?" tanyaku dengan suara mencicit.
Ia menoleh, lalu menutup tabletnya dengan gerakan tegas. "Jabatan bisa dicari, Andini. Tapi harga diriku—dan harga dirimu—tidak bisa dinegosiasikan. Kakek mungkin akan marah besar, tapi dia harus tahu bahwa dialah yang memulai semua ini dengan wasiatnya."
Mobil memasuki gerbang besi raksasa kediaman keluarga Utama. Rumah itu tampak lebih mengintimidasi dari biasanya. Pilar-pilar putih besar itu seolah-olah siap menelan siapa saja yang masuk. Begitu kami melangkah ke ruang tamu utama, suasana terasa membeku.
Kakek Utama duduk di kursi kebesarannya, sebuah kursi kayu berukir yang tampak seperti singgasana. Di sampingnya, berdiri Vivian dengan wajah yang diselimuti kepura-puraan sedih, namun matanya memancarkan kemenangan yang berkilat.
"Duduk," suara Kakek Utama menggelegar, bergetar karena usia namun tetap penuh otoritas.
Charles tidak duduk. Ia tetap berdiri di sampingku, tangannya masih menggenggamku. "Aku tidak ke sini untuk mendengarkan ceramah, Kakek. Aku ke sini untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh orang di sampingmu ini."
Vivian tersentak, wajahnya berubah pucat. "Charles, apa maksudmu? Aku hanya mencoba menyelamatkan reputasimu! Media sudah tahu, dan itu sangat memalukan bagi perusahaan!"
"Cukup!" Kakek Utama memukul meja. "Charles, kau menikahi gadis ini untuk melindunginya dan aset keluarga, bukan untuk menjadikannya santapan media! Apa yang kau pikirkan dengan pergi ke sekolahnya?"
"Aku memikirkan kemanusiaanku, Kakek," jawab Charles tenang, suaranya sangat stabil hingga aku merasa sedikit lebih berani. "Sesuatu yang kalian pikir sudah mati dalam diriku. Andini adalah istriku. Jika dunia harus tahu sekarang, maka biarlah mereka tahu. Aku akan mengumumkan pernikahan kami secara resmi."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Vivian ternganga, dan Kakek Utama tampak terkejut hingga ia harus menyandarkan punggungnya.
"Kau gila?" teriak Vivian. "Dia masih anak-anak! Kau akan dianggap sebagai predator oleh publik! Sahammu akan hancur total!"
Aku melangkah maju satu tindak, melepaskan diri dari perlindungan Charles sejenak. Aku menatap Vivian tepat di matanya—mata yang penuh dengan kebencian itu. "Saya mungkin masih sekolah, Kak Vivian. Tapi saya tahu apa itu integritas. Charles tidak pernah menyentuh saya dengan cara yang tidak terhormat. Dia melindungi saya saat tidak ada orang lain yang peduli."
Aku menoleh ke arah Kakek Utama. "Bapak Sudarman selalu bilang, kejujuran mungkin terasa pahit di awal, tapi itu satu-satunya cara untuk tidur nyenyak di malam hari. Kami tidak melakukan kesalahan apa pun selain menaati wasiat kalian."
Kakek Utama terdiam, menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kilatan kekaguman yang samar di matanya yang mulai meredup.
"Kau punya keberanian, gadis kecil," gumam Kakek Utama. Ia kemudian beralih pada Charles. "Kau serius akan mengumumkannya? Kau tahu konsekuensinya?"
"Aku sudah menyiapkan surat pengunduran diri jika dewan direksi tidak setuju," jawab Charles tanpa ragu. "Andini lebih berharga daripada kursi CEO mana pun."
Mendengar itu, Vivian meledak dalam amarah. "Kau bodoh, Charles! Kau membuang segalanya demi gadis kampung ini?!"
"Keluar, Vivian," ucap Charles dingin. "Dan jangan pernah menginjakkan kakimu di perusahaan atau rumah ini lagi. Bukti bahwa kau yang menyebarkan foto itu sudah ada di tangan pengacaraku. Kau akan menghadapi tuntutan pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi anak di bawah umur."
Vivian tampak seperti ingin menjerit, namun melihat tatapan Charles yang membunuh, ia segera meraih tasnya dan berlari keluar dengan kaki yang gemetar.
Kakek Utama menghela napas panjang. "Baiklah. Jika itu keputusanmu, hadapi badainya. Tapi ingat, Charles, mulai hari ini, kau bukan hanya melindungi perusahaan, kau melindungi seorang wanita. Jangan pernah buat kakek Andini kecewa di alam sana."
Charles mengangguk. Ia kemudian menuntunku keluar dari ruangan itu. Di lorong yang sunyi, ia berhenti dan memelukku—kali ini lebih erat, lebih lega.
"Terima kasih sudah membelaku tadi," bisiknya.
"Kita satu tim, kan?" jawabku sambil menyandarkan kepala di dadanya.
Hari itu, di kediaman Utama, kami tidak hanya mengalahkan Vivian. Kami mengalahkan ketakutan kami sendiri. Badai di luar mungkin masih mengamuk, namun di dalam sini, di antara dua hati yang baru saja menemukan keberaniannya, cuaca terasa jauh lebih cerah.
Duniaku mungkin tak lagi sama, tapi selama ada Charles, aku tahu aku akan baik-baik saja.