NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Menampar dengan Kekayaan

Kepalan tangan itu turun lambat.

Permukaan kayu lapis yang lapuk menyambut dengan pasrah.

Denting tajam membelah keheningan kios. Suaranya bening. Berbeda jauh dengan bunyi gesekan logam rongsokan yang biasa didengar Paman Zhao setiap kali hunter buangan memohon padanya.

Satu kelereng kristal jatuh bebas dari celah jari Wan Chen.

Cahaya ungu redup berpendar pelan di bagian tengah batu tersebut. Terlihat amat kontras dengan pendar kuning kotor lampu neon di atas kepala mereka.

Sisa makian di kerongkongan Paman Zhao seketika tersangkut. Lidahnya menegang kaku menempel di langit-langit mulut.

'Beri mereka jeda,' batin Wan Chen datar. 'Biar sadar posisi.'

Lengan kurus bermandikan debu merah itu belum menarik diri. Tetap mematung di atas udara.

Satu detik berlalu lambat. Jari telunjuk dan jempolnya kembali merenggang.

Batu kedua meluncur jatuh. Menghantam meja dengan frekuensi suara yang terdengar identik sempurna dengan ketukan batu pertama.

Benda padat itu menggelinding sejengkal. Membentur permukaan meja lalu berhenti rapat bersisian dengan yang lain.

Dua buah Core Monster Tingkat 1. Bersih tanpa goresan setipis apa pun.

Tiga tarikan napas setelahnya tidak diisi suara. Hanya bunyi debu malam yang sesekali bertiup menabrak celah seng bocor di atas atap.

Mata sipit Paman Zhao nyaris melompat dari tempat asalnya. Rentetan kedipan kasar menyusul kelopak mata pria paruh baya itu. Berusaha menolak realitas di depan mejanya.

Seketika kepanikan lintah darat kelas teri membakar urat sarafnya.

Tangan berlemak itu menggapai serampangan ke bawah konter. Membongkar tumpukan kotak. Menyeret keluar sebuah kacamata pembesar mekanik dan sebuah pelat logam pemindai ukuran saku.

"Biar kulihat," bisiknya parau. Ujung suaranya pecah terbelah kegugupan.

Napas Paman Zhao memburu kasar. Ia merapatkan perut gendutnya maju ke bibir konter. Menelan jarak sejauh mungkin.

"Ini pasti sisa resin cetak dari pabrik limbah. Kau berani membuang waktuku ya?" omelnya tanpa henti demi meredam rasa terkejut yang mulai menelanjangi pikirannya.

Ia menempelkan alat pembesar erat-erat ke kelopak mata kirinya. Wajah berminyaknya condong sangat dekat sampai ujung hidungnya hampir menabrak kedua kristal berharga tersebut.

Jempolnya yang gemuk menekan sakelar keras pada alat pemindai. Cahaya biru memanjang keluar, menyapu Core di sebelah kiri perlahan.

Tit. Tit. Tiiiit.

Bunyi frekuensi panjang memekakkan telinga mengudara di sana. Indikator kemurnian energi tingkat tinggi merespons dengan angkuh.

Bibir tebal penjaga kios itu bergetar pelan.

Alat pemindai ditarik ragu-ragu menuju kristal kedua. Permukaan yang persis sama.

Tiiiit.

Layar usang pemindai menampilkan rentetan metrik angka yang praktis membekukan aliran darah Paman Zhao. Berat spesifiknya terbaca presisi. Kerapatan molekul energinya. Garis urat di dalam struktur terdalam batunya.

Dua objek di bawah sana adalah kembar identik yang melanggar hukum alam.

Dunia post-apocalypse ini sudah hancur lebur, tentu saja. Tetapi alam tidak pernah punya waktu untuk mencetak dua Core monster secara presisi hingga ke satuan mikrometer. Apalagi dari kantong pemuda gembel.

Tubuh tambun Paman Zhao membeku layaknya patung lumpur. Wajahnya kehabisan pigmen dalam sekejap mata. Memucat mirip kapas basah.

Di seberangnya, Wan Chen tidak memberikan reaksi emosional sama sekali. Ia hanya mengunci rahangnya kuat-kuat.

Bukan menahan marah. Ia sekadar merespons nyeri tumpul dari robekan lambungnya setiap kali suhu udara turun menyerang kulit terbukanya.

Tatapan pemuda itu hanya terarah pada kelakuan berlebihan si pedagang di depannya. Mengobservasi perubahan postur bahu yang tiba-tiba merosot kehilangan tenaga.

Hanya itu yang ia perlukan sekarang. Validasi langsung atas kemenangan mutlak di telapak tangannya.

Paman Zhao menarik kepalanya mundur. Tenggorokannya menelan ludah dengan ritme menyiksa.

Seringai kaku tiba-tiba merekah merobek wajah bulat pria itu. Ekspresi meremehkan yang menari-nari sejak tadi menguap bersih tak bersisa.

"Hei, hei. Teman kecil kita rupanya menemukan mata air emas hari ini."

Paman Zhao tertawa sumbang. Ia menggosokkan kedua telapak tangan kotornya di udara. Persis seperti lalat mencium bau manis buah.

Nada suaranya berganti haluan. Sangat merendah dan penuh sifat penjilat yang biasanya hanya ia tujukan pada jajaran hunter elit bayaran.

Wan Chen merapatkan celah bibirnya. Tidak ada niatan membuka mulut menanggapi kalimat murahan itu.

"Tentu saja aku tidak akan mencampuri urusan dari mana kau menggali dua barang perawan ini keluar." Paman Zhao mencondongkan badan. Fokus kedua pupilnya hanya tertuju pada pendar ungu di papan kayunya. "Aku ini pedagang paling masuk akal di tempat ini. Pantang banyak bertanya pada pelanggan istimewa."

Tangan berisi daging itu merayap di atas meja bagai laba-laba rakus. Bersiap menarik kedua kristal itu menyeberang masuk ke zonanya.

"Hanya saja, kau perlu paham. Kondisi perputaran koin sedang hancur minggu ini."

Taktik kotor pedagang pasar mulai digelar. Menekan harga saat melihat pemilik barang tampak acak-acakan dan miskin.

"Banyak stok bongkaran numpuk dari area utara semalam. Yah, berhubung wajahmu tidak asing lagi bagiku, kuambil keduanya dengan niat membantu. Tiga ribu koin untuk semuanya. Kurasa itu jauh dari kata cukup buat menebus sebotol salep infeksi kelas menengah."

Napas pedagang itu tertahan di ujung kalimat. Berharap umpan busuk ini ditelan bulat-bulat oleh hunter bodoh yang kelaparan.

Gagal total.

Sisi telapak tangan Wan Chen menyambar turun lebih cepat dari dugaan Paman Zhao.

Ia memblokade kedua Core tersebut dengan telapak tangannya sendiri. Memotong mutlak laju tangan gemuk yang hampir mencapai tujuannya itu.

"Delapan belas ribu koin."

Suara Wan Chen akhirnya menembus suasana udara bising itu. Sangat kering. Sedingin suhu malam pembawa hujan badai.

"Itu batas pasar terendah untuk dua batu tingkat satu dengan kualitas utuh."

Mata Paman Zhao berkedut jengkel akibat perlawanan tersebut. Tangannya memukul pelat kayunya tidak terkontrol.

"Tunggu, kau sudah mulai berani serakah ya? Angka delapan belas ribu itu lelucon mabuk. Pedagang tolol mana yang mau mengubur koinnya se..."

"Toko Lao."

Selaan itu meluncur tanpa beban melintasi meja.

"Kios perlengkapan tua Lao." Wan Chen melanjutkan datar. Membangun argumentasinya seringkas mungkin.

Jari-jemarinya kini memutar sebagian batu itu ke arah bibir saku jaketnya. Bersiap menarik mundur semua negosiasi secara sepihak.

"Pria itu baru saja memborong jajaran alat penerangan yang butuh pasokan daya besar. Anggaran tunainya sedang berlimpah hari ini. Tiga ribu hanyalah kalimat kotor. Rasanya jauh lebih berguna menghabiskan tenagaku berjalan ke tempat si tua itu."

Otot lutut Wan Chen ditarik lurus. Menekan ujung telapak sepatunya berputar menjauh dari konter rapuh Paman Zhao.

Pergerakan tenang dan minim perdebatan selalu menjadi jurus mematikan untuk membongkar kelemahan terbesar seorang tengkulak tamak.

"Tunggu."

Paman Zhao nyaris tersedak udara. Tangannya kembali terulur panik meraih ruang kosong.

Membiarkan sepasang barang kualitas sempurna ini lewat ke tangan kompetitor terberatnya adalah dosa besar dalam rantai makanan pasar gelap.

Wan Chen menghentikan kakinya. Kepalanya tetap menghadap gang pasar. Mengaburkan rasa frustrasi di seberang sana.

"Berhenti banyak bicara jika kau tak punya uangnya," ujar Wan Chen setengah bergumam.

Hembusan napas jengkel menderu kencang keluar dari hidung Paman Zhao. Jari-jarinya memijat pangkal hidung lebar itu sendiri. Bendungan arogansinya retak berkeping-keping di bawah lampu bohlam kiosnya sendiri.

"... Brengsek. Ya. Delapan belas ribu koin murni. Aku ambil dengan angka itu."

Keputusan diketuk palu.

Paman Zhao menarik paksa laci ganda di bawah pinggangnya. Terdengar bunyi decitan logam engsel beradu tajam di sela-sela kegelapan meja.

Lembaran uang usang pra-kiamat dan sekumpulan keping cip memori pelat dibanting sembarangan ke hamparan kayu konter.

Wajah si empunya kios mengeras murka selagi jari lincahnya menghitung tumpukan tebal aset tersebut. Melepas belasan ribu koin rasanya persis seperti menguliti jaringan lemaknya sendiri tanpa obat bius.

"Sudah semuanya. Angka genap. Cepat selesaikan transaksinya."

Paman Zhao mendorong tumpukan penyambung hidup tersebut menyeberangi perbatasan mereka.

Tanpa banyak keraguan, Wan Chen melemparkan barang berharga miliknya mendarat di meja. Diiringi gerakan tangannya yang dengan cekatan memeluk dan menyapu bersih seisi tebusan koin tersebut.

Langkah acaknya memaksa uang lembaran dan pelat itu melesak masuk berantakan ke dalam balik lipatan saku pinggangnya.

Benda dimensional miliknya otomatis menelan kumpulan kekayaan mendadak itu tanpa memancarkan peringatan apa pun.

Menelan semua rasa ragu di malam yang berhawa jahat ini.

"Dan asal kau tahu saja." Paman Zhao menjilat ujung giginya pelan. Tangannya mengelus pelan lapisan kristalnya, menyiapkan sarung tangan kain bersih dari bawah rak. "Jika tim penjelajahmu besok-besok masih punya alur operasi sumber batu sekelas ini, datanglah langsung padaku. Jangan bodoh membuang jatah koinmu di tempat lain."

Memancing alur koneksi demi dominasi monopoli di hari esok.

Wan Chen menganggap ucapan barusan tidak lebih dari deru knalpot mesin tua. Masuk dan keluar tanpa diresapi.

Misi pertukaran selesai. Ia kembali melanjutkan laju langkah kakinya. Menyeret punggungnya meninggalkan zona menjijikkan tersebut untuk membaur ke barisan pejalan kaki kasar lainnya.

Bebannya mulai meluruh. Setidaknya ia terbebas dari siksaan psikis mengenai bayang-bayang kematian menggelikan karena tidak mampu makan atau berobat di emperan kotor esok hari.

Luka robekan sisa serbuan hewan di perutnya masih merajuk pedih. Terkadang mengeluarkan cairan tiap uratnya meregang terburu-buru.

Tetapi setidaknya rongga dada Wan Chen tidak lagi memendam jeritan kepanikan miskin mutlak. Pakaian yang hancur, namun saku yang berat. Modal bertahan hidup sudah teramankan.

Kruyukkk...

Bunyi gesekan dinding lambung mengaum manja menyita indranya. Getaran itu merambat langsung merespons keheningan emosi sang pemilik tubuh.

'Kacau. Ini waktunya makan.'

Pusat saraf perasanya tak dapat lagi berkompromi. Wan Chen menengadah lambat. Matanya mengunci gumpalan kabut tipis sisa panggangan kayu dari arah persimpangan blok kedai tenda.

Aroma panas cairan lemak kental berpadu dengan asap arang batu menyerang lapisan penciumannya secara sepihak. Menarik seluruh perhatian Wan Chen mengarah ke sebuah titik tunggal.

Kalori penuh yang selama ini tidak bisa disuap masuk.

Kakinya menginjak lumpur lebih kuat dari sebelumnya, bersiap mengakhiri kelaparan parah malam ini.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!