NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Kebun Teh di Puncak

Jumat sore.

Luna sedang merapikan beberapa dokumen Family Gathering yang akan dipresentasikan minggu depan ketika ponselnya bergetar.

Nama Alex muncul di layar.

Luna langsung tersenyum.

"Halo."

"Masih di kantor?"

tanya Alex.

"Iya."

"Jangan pulang terlalu malam."

Luna tertawa kecil.

"Pak Direktur perhatian sekali."

"Aku serius."

"Aku juga serius kerja."

Alex menghela napas dari seberang sana.

Membuat Luna semakin gemas.

"Ada apa sebenarnya?"

tanya Luna.

Beberapa detik Alex terdiam.

Lalu berkata,

"Weekend ini kosong?"

Luna berpikir sejenak.

"Harusnya kosong."

"Bagus."

"Kenapa?"

"Kita ke Puncak."

---

Luna langsung berhenti mengetik.

"Puncak?"

"Iya."

"Liburan?"

"Bisa dibilang begitu."

Luna langsung bersandar ke kursi.

Sudah cukup lama mereka tidak pergi berdua sejak kembali dari Swiss.

Jadwal pekerjaan mereka semakin padat.

Terutama setelah proyek Family Gathering dimulai.

"Kita ngapain di sana?"

tanya Luna penasaran.

Alex menjawab tenang.

"Ada panen teh."

"Hah?"

---

Malam harinya.

Saat makan malam bersama, Alex akhirnya menjelaskan.

Ternyata di kawasan Puncak, keluarga Dimitri memiliki perkebunan teh yang cukup luas.

Perkebunan itu dulunya milik mendiang ibunya.

Dan setelah sang ibu meninggal, seluruh pengelolaannya diwariskan kepada Alex.

Luna terdiam cukup lama.

Karena selama ini Alex hampir tidak pernah bercerita tentang ibunya.

---

"Kamu sering ke sana?"

tanya Luna pelan.

Alex mengangguk.

"Dulu."

"Dulu?"

"Sebelum sibuk mengurus perusahaan."

Alex menatap gelasnya beberapa saat.

"Mama paling suka tempat itu."

Nada suaranya berubah sedikit berbeda.

Lebih lembut.

Dan Luna langsung menyadarinya.

---

"Aku belum pernah dengar soal kebun teh itu."

kata Luna.

Alex tersenyum kecil.

"Karena aku jarang cerita."

"Kamu memang jarang cerita."

balas Luna.

Membuat Alex tertawa pelan.

---

"Kita menginap?"

tanya Luna.

Alex mengangguk.

"Dua hari."

Mata Luna langsung berbinar.

"Aku mau."

---

Keesokan paginya.

Mereka berangkat lebih awal.

Udara Jakarta masih terasa sejuk saat mobil meninggalkan rumah keluarga Dimitri.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu bekerja tanpa henti, Luna merasa benar-benar rileks.

Ia bahkan sudah menyiapkan camilan untuk perjalanan.

Yang sekarang sebagian besar sudah ia habiskan sendiri.

"Kamu lapar terus."

kata Alex.

Luna mengunyah keripik kentang.

"Aku bahagia."

"Apa hubungannya?"

"Kalau bahagia jadi lapar."

Alex menggeleng geli.

---

Semakin mendekati Puncak, pemandangan mulai berubah.

Gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan perbukitan hijau.

Udara menjadi lebih dingin.

Kabut tipis mulai terlihat di beberapa bagian jalan.

Luna langsung membuka sedikit jendela mobil.

"Aku kangen udara kayak gini."

katanya.

Alex tersenyum tipis.

"Makasanya aku ajak ke sini."

---

Dua jam kemudian.

Mobil akhirnya memasuki area perkebunan.

Dan Luna langsung terpukau.

Hamparan kebun teh hijau membentang sejauh mata memandang.

Bukit-bukit bergelombang terlihat begitu indah.

Udara terasa segar.

Jauh berbeda dari Jakarta.

"Ya Tuhan..."

gumam Luna.

"Bagus banget."

---

Alex memperhatikan ekspresi istrinya.

Lalu tanpa sadar tersenyum.

Reaksi itu persis seperti yang ia bayangkan.

---

Beberapa pekerja perkebunan langsung menyambut kedatangan mereka.

"Selamat datang, Pak Alex."

Alex mengangguk ramah.

Berbeda dengan sikap dinginnya di kantor.

Di tempat ini ia terlihat jauh lebih santai.

Lebih hangat.

Dan lebih mudah tersenyum.

---

"Kita ke rumah utama dulu."

kata Alex.

Luna mengangguk.

Namun saat melihat bangunan yang dimaksud, ia kembali terkejut.

Rumah itu bukan sekadar rumah.

Melainkan vila bergaya kolonial yang berdiri di atas bukit kecil menghadap hamparan kebun teh.

Cantik.

Tenang.

Dan sangat nyaman.

---

"Ini rumah Mama."

ucap Alex pelan.

Luna menoleh.

Tatapan pria itu tertuju pada vila tersebut.

Dan untuk sesaat Luna melihat kerinduan di mata Alex.

Kerinduan yang selama ini mungkin tidak pernah benar-benar hilang.

---

Begitu masuk ke dalam, suasana hangat langsung terasa.

Interior kayu mendominasi hampir seluruh ruangan.

Banyak foto keluarga terpajang di dinding.

Termasuk foto seorang wanita cantik yang sedang tersenyum sambil memegang tangan anak laki-laki kecil.

Luna langsung tahu siapa mereka.

Alex dan ibunya.

---

"Ini Mama?"

tanya Luna.

Alex mengangguk.

Luna memperhatikan foto itu beberapa saat.

Wanita tersebut memiliki senyum yang sangat hangat.

Tidak heran Alex begitu mencintainya.

---

Sore harinya.

Mereka berjalan-jalan mengelilingi perkebunan.

Beberapa pekerja sedang mempersiapkan panen yang akan dilakukan esok pagi.

Luna terlihat sangat antusias.

Bahkan berkali-kali berhenti untuk mengambil foto.

"Alex."

"Hm?"

"Aku mau tinggal di sini."

Alex tertawa.

"Dua hari juga belum."

"Aku serius."

"Lalu kerjaanmu?"

Luna langsung diam.

"Iya juga."

---

Menjelang matahari terbenam.

Mereka duduk di gazebo kecil yang menghadap perbukitan.

Langit mulai berubah jingga.

Kabut perlahan turun.

Menciptakan suasana yang sangat tenang.

---

"Alex."

"Iya?"

"Kamu kangen Mama?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Namun Luna tidak menyesal mengatakannya.

---

Alex terdiam cukup lama.

Sangat lama.

Lalu akhirnya mengangguk.

"Kangen."

jawabnya pelan.

"Sampai sekarang."

---

Luna tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menggenggam tangan Alex.

Memberikan dukungan tanpa perlu banyak kata.

---

"Aku dulu sering ke sini sama Mama."

kata Alex tiba-tiba.

"Mama suka ngajak aku jalan keliling kebun."

Tatapannya menerawang jauh.

"Setiap panen teh, Mama selalu datang."

---

Luna mendengarkan dengan tenang.

Karena ia tahu.

Tidak mudah bagi Alex membuka cerita tentang masa lalunya.

---

"Aku pikir setelah Mama nggak ada..."

lanjut Alex pelan.

"...aku nggak akan pernah kembali menikmati tempat ini."

Luna menatapnya.

"Lalu?"

Alex menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

"Sekarang beda."

---

Jantung Luna berdegup pelan.

Karena ia tahu apa yang ingin disampaikan pria itu.

---

"Ada kamu."

ucap Alex.

Sederhana.

Namun cukup membuat hati Luna terasa hangat.

---

Malam pun tiba.

Udara Puncak semakin dingin.

Setelah makan malam bersama pengelola perkebunan, mereka kembali ke vila.

Di luar, suara jangkrik terdengar bersahutan.

Sedangkan di dalam, perapian menyala hangat.

---

Luna duduk di dekat perapian sambil menikmati secangkir teh hasil kebun tersebut.

"Enak."

katanya.

Alex tersenyum.

"Itu favorit Mama."

Luna kembali menyesap tehnya.

Entah kenapa ia merasa semakin mengenal sosok ibu Alex meskipun belum pernah bertemu.

---

Malam itu berlangsung tenang.

Jauh dari pekerjaan.

Jauh dari rapat.

Jauh dari gosip kantor.

Hanya ada mereka berdua.

Dan suasana hangat yang sudah lama tidak mereka rasakan.

Namun tanpa mereka sadari...

Perjalanan ke Puncak ini bukan hanya tentang panen teh.

Melainkan juga tentang sebuah rahasia lama yang tersimpan di perkebunan milik mendiang ibu Alex.

Rahasia yang akan mereka temukan keesokan harinya.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!