Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Pernikahan
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar pengantin yang bernuansa putih dan abu-abu. Neya terbangun dengan rasa berat yang menggelayuti tengkuknya. Perlahan ia mendudukkan diri di tepi ranjang, menyentuh keningnya yang masih terasa sedikit pening. Efek dari obat pemulih saraf yang rutin ia minum setiap malam, pikirnya. Namun, alih-alih membuat pikirannya menjernih, obat itu selalu menyisakan rasa kantuk yang teramat dalam dan ruang kosong yang semakin pekat di kepalanya. Setiap kali ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum terbangun di bangsal rumah sakit, kepalanya seolah dihantam martil tak kasat mata—kosong, gelap, dan buntu.
Sudah bangun, Sayang?"
Neya sedikit tersentak dari lamunannya. Aris melangkah masuk ke dalam kamar, sudah rapi dengan kemeja kerja berwarna biru muda dan celana bahan yang licin disetrika. Laki-laki itu tersenyum hangat, memamerkan wibawa seorang pria kantoran yang mapan saat meletakkan sebotol obat dan segelas air hangat di atas nakas di samping tempat tidur.
"Kak Aris... mau berangkat kerja?" tanya Neya, suaranya masih agak serak dan lemah.
Iya, Sayang. Ada rapat penting dengan jajaran direksi di perusahaan pagi ini yang tidak bisa aku tinggalkan," ujar Aris lembut. Ia duduk di tepi ranjang, membuat kasur sedikit amblas oleh bobot tubuhnya. Laki-laki itu kemudian mengulurkan tangan, mengusap pucuk kepala Neya dengan gerakan yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang.
Namun, begitu ujung jari Aris menyentuh kulit pelipisnya, bulu kuduk Neya meremajang secara refleks. Ada penolakan alami yang entah dari mana datangnya, bergejolak di dalam dada Neya. Tubuhnya seolah menegang, memintanya untuk segera menarik diri dari sentuhan itu—sebuah reaksi spontan yang sama persis seperti saat Aris memeluknya erat kemarin siang. Neya buru-buru menunduk, berpura-pura merapikan letak selimut katunnya demi menyembunyikan kegugupan serta penolakan fisik yang tidak sopan itu.
Kenapa aku seperti ini? Dia suamiku yang sah, laki-laki yang sangat mencintaiku, batin Neya merutuki dirinya sendiri. Rasa bersalah yang besar kembali menggerogoti hatinya, membuat dadanya terasa sesak.
"Aku sudah meminta Bibi di dapur untuk menyiapkan sarapan bubur ayam kesukaanmu. Ingat, setelah makan, langsung minum obat pagi dari bunda ya. Jangan kelelahan, Neya. Aku tidak mau kondisi saraf otakmu menurun lagi," pesan Aris penuh perhatian. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Neya sekilas sebelum akhirnya menyambar tas kulit kerjanya dan melangkah keluar kamar dengan langkah tegap.
Satu jam setelah kepergian Aris, suasana rumah abu-abu itu kembali jatuh ke dalam kesunyian yang mencekam. Ibu Imelda sedang pergi ke pasar tradisional yang letaknya cukup jauh, meninggalkan Neya sendirian di lantai dua. Di rumah yang terasa terlalu luas ini, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah denting pelan peralatan dapur dari lantai bawah, tempat pelayan rumah tangga mereka sedang sibuk mencuci piring dan membersihkan area ruang makan.
Neya berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya, menatap pantulan dirinya yang mengenakan baju rumahan longgar. Wajahnya pucat, dan matanya memancarkan kebingungan yang teramat sangat. Ada rasa penasaran yang membakar batinnya sejak kemarin. Jika benar ia dan Aris sudah lama menjalin hubungan, bahkan sempat merencanakan pernikahan sebelum musibah penembakan itu terjadi, lalu di mana jejak-jejak kedekatan mereka di rumah ini?
Neya melangkah keluar kamar dengan sangat pelan. Langkah kakinya yang beralaskan sandal rumah berbulu tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai lantai keramik yang dingin. Ia mulai menelusuri lorong lantai dua, melewati beberapa ruangan yang pintunya tertutup rapat.
Tujuannya pertama adalah ruang kerja Aris yang terletak di ujung lorong lantai dua.
Dengan jantung yang berdegup kencang karena takut tertangkap basah, Neya memutar kenop pintu kayu jati tersebut. Untungnya, pintu itu tidak dikunci. Begitu melangkah masuk, aroma parfum maskulin yang tajam milik Aris langsung menyengat indra penciumannya. Ruangan itu sangat rapi—terlalu rapi untuk ukuran ruangan yang sering digunakan untuk bekerja setiap hari. Ada sebuah meja kayu besar yang kosong, rak buku yang tersusun rapi berdasarkan warna sampulnya, dan sebuah laci di sudut meja.
Neya mendekati meja tersebut dengan langkah berjingkat. Matanya menyisir setiap sudut permukaan kayu yang mengilat, mencari satu hal yang paling krusial: foto pernikahan mereka sebelumnya, atau setidaknya selembar foto kebersamaan mereka selama bertahun-tahun berpacaran. Namun, nihil. Tidak ada bingkai foto satu pun di sana. Yang ada hanyalah tumpukan dokumen-dokumen perusahaan yang membosankan dan beberapa map kosong.
Perhatian Neya beralih pada satu-satunya laci meja yang posisinya berada di paling bawah. Ia mencoba menarik gagangnya, namun laci itu terkunci rapat. Menggunakan jepit rambut besi yang ia cabut dari sanggul kecilnya, Neya mencoba mengutak-atik lubang kunci tersebut, persis seperti adegan yang pernah ia tonton entah di mana. Namun, tangannya yang gemetar membuat jepit itu justru terjatuh ke lantai, menimbulkan bunyi gemerincing halus yang membuatnya hampir terkena serangan jantung. Dengan panik, ia memungut jepit itu dan buru-buru keluar, menutup pintu ruang kerja Aris kembali seperti semula.
Neya beralih ke ruang keluarga di lantai bawah. Ia menuruni anak tangga satu per satu dengan penuh kehati-hatian, memastikan pelayan di dapur tidak menyadari pergerakan atau kehadirannya. Di ruang keluarga, terdapat sebuah lemari pajangan besar yang dipenuhi oleh vas bunga krisan tiruan dan beberapa pajangan keramik mahal yang terlihat berkilau tanpa debu sedikit pun.
Neya berlutut di atas lantai karpet, membuka salah satu laci besar di bawah lemari tersebut. Jemarinya mulai membongkar tumpukan album foto lama yang tersimpan di sana. Jantungnya berdesir penuh harap, memohon agar ada satu saja jawaban di dalam benda-benda usang ini. Ia membuka lembar demi lembar album plastik itu. Ada foto dirinya saat pertama kali menginjak bangku kuliah, foto masa kecilnya yang sedang menangis karena terjatuh, foto bersama Ibu Imelda di depan rumah lama mereka, dan beberapa foto liburan keluarga.
Tetapi, tidak ada satu pun foto Aris di sana. Tidak ada foto wisuda bersama, tidak ada foto pertunangan, bahkan tidak ada satu pun foto kasual di mana Aris berdiri di sampingnya sebagai seorang kekasih. Laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya, yang hidup bersamanya di bawah atap yang sama, seolah-olah baru muncul di dalam hidup Neya sejak satu minggu yang lalu di bangsal rumah sakit. Tidak ada rekam jejak fisik yang membuktikan keberadaan Aris di masa lalu Neya.
Bertekad mencari tahu lebih dalam, Neya kembali ke kamar utama mereka. Ia membuka lemari pakaian besar berkaca yang berada di sudut ruangan. Matanya menyisir deretan pakaian kerja milik Aris yang menggantung rapi. Sesuatu yang aneh kembali menarik perhatiannya. Neya mengambil salah satu kemeja Aris, meraba kainnya, dan melihat bagian kerah dalam.
Label harganya memang sudah dicopot, tetapi lipatan kainnya masih sangat kaku, wangi kainnya pun khas pakaian yang baru saja keluar dari toko, bukan pakaian yang sudah sering dicuci dan dipakai selama berbulan-bulan. Bahkan, deretan kaos kaki dan pakaian dalam di laci lemari Aris semuanya bermerek sama, tertata begitu sempurna seolah-olah seseorang sengaja membeli semuanya secara borongan dalam satu hari, lalu menatanya terburu-buru untuk mengisi kekosongan lemari ini.
Neya melangkah mundur, menutup pintu lemari dengan tangan yang mulai gemetar hebat. Ia terduduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri sembari menatap nanar botol obat yang diletakkan Aris di atas nakas tadi pagi. Logikanya mencoba mencari pembelaan demi menenangkan diri—mungkin Aris tipe pria yang tidak suka berfoto? Mungkin semua pakaian lamanya hanyut atau rusak saat mereka pindah rumah setelah musibah itu?—tetapi nalurinya menolak mentah-mentah semua alasan konyol tersebut. Sebuah pernikahan dan hubungan bertahun-tahun tidak mungkin menyisakan rumah seasing, sebaru, dan sekosong ini dari sisa-sisa kenangan masa lalu.
Neya bangkit berdiri, rasa pening di kepalanya mendadak sirna oleh desakan adrenalin. Alih-alih meratapi nasib di tepi ranjang, ia melangkah pasti kembali ke dalam kamar utama. Matanya menyisir nakas kayu besar milik Aris. Laci terbawah laci itu terkunci rapat, sama seperti laci di ruang kerja suaminya.
Dia tahu, laci itu tidak akan terbuka hanya dengan jepit rambut.
Dengan napas memburu, Neya menunduk, memeriksa sela-sela antara nakas dan dinding. Jarinya meraba permukaan karpet yang tebal. Tiba-tiba, ujung jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan logam.
Ia menariknya keluar. Itu bukan kunci biasa. Sebuah kunci perak kuno, berat, dengan ukiran yang rumit dan tumpang tindih. Jika diamati jeli dalam keremangan cahaya lamunannya, bentuk ukirannya samar-samar menyerupai bentuk jalinan rasi bintang di langit—persis seperti interlocking constellation?
lalu Kinan ?