Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG MERAH MASA LALU
Sejak hari pertama kali melihat Arum di kedai kopi, sejak ingatannya kembali pada kejadian tujuh tahun silam, rasa penasaran Angkasa tak lagi bisa dibendung.
Sore itu, di ruang kerja pribadinya yang luas dan beraroma kayu wangi, Angkasa duduk bersandar di kursi besarnya. Wajahnya yang biasanya tenang dan dingin kini tampak sedikit gelisah, matanya menatap keluar jendela kaca besar yang memandang ke arah kebun miliknya. Di sampingnya berdiri Dewa, sahabat sekaligus asisten pribadinya yang setia.
"Dewa," panggil Angkasa pelan namun tegas, suaranya berat dan rendah. "Kamu cari tahu semua tentang gadis yang kemarin kita temui di kedai kopi. Yang duduk di hadapan kita, rambut panjang bergelombang, kulit putih bersih. Cari siapa nama lengkapnya, siapa orang tuanya, di mana dia tinggal, dan latar belakang keluarganya. Semuanya aku butuh tahu."
Dewa tersenyum miring, mengangguk mengerti. Sudah dia tebak, sahabatnya ini benar-benar jatuh cinta . "Siap, Bos. Pasti beres. Segera aku urus."
Hanya butuh waktu kurang dari dua hari bagi Dewa untuk mengumpulkan semua informasi yang diminta. Dewa yang cekatan dan punya banyak kenalan di mana-mana, dengan mudah mendapatkan data lengkap siapa sosok gadis cantik itu.
Siang harinya, Dewa kembali masuk ke ruangan Angkasa sambil membawa berkas kecil.
"Sa, udah lengkap semua infonya," kata Dewa sambil meletakkan kertas itu di atas meja kerja besar milik sahabatnya. "Namanya Arum Sekarwangi. Umurnya 25 tahun. Anak tunggal, putri dari Bapak Bimo Adhitama dan Ibu Saras. Keluarga Adhitama itu nama besar di daerah sini, lho. Bapak Bimo punya pabrik pengolahan makanan dan kebun buah yang luas sekali, orang terpandang dan sangat dihormati di desanya. Istrinya, Bu Saras, juga pemilik usaha katering yang cukup terkenal."
Angkasa mendengarkan dengan saksama, matanya meneliti setiap tulisan di kertas itu. Hatinya terasa lega sekaligus bangga. Ternyata Arum bukan hanya gadis biasa. Dia tumbuh di keluarga yang baik, terpandang, dan ternama.
"Dia penulis novel, ya? Sesuai dugaanku," gumam Angkasa pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis.
"Iya, dan satu lagi," tambah Dewa. "Orang tuanya sangat melindungi dia. Arum nggak pernah diizinkan bekerja atau pergi jauh dari rumah, makanya dia memilih menulis Novel sebagai kegiatan. Dia anak kesayangan, satu-satunya harta keluarga itu."
Angkasa mengangguk pelan, menyimpan semua informasi itu baik-baik di dalam ingatannya. Semakin dia tahu tentang Arum, semakin besar rasa kagumnya. Dia bertekad, dia harus bertemu Arum lagi. Dia harus mencari alasan yang tepat dan sopan untuk datang ke rumah itu.
Dan kesempatan itu datang lebih cepat dari dugaan Angkasa.
Beberapa hari kemudian, ada urusan bisnis yang mengharuskan Angkasa berkunjung ke desa tempat tinggal keluarga Sekarwangi. Ada rencana kerja sama pasokan buah-buahan dari kebun milik Pak Bimo untuk kebutuhan bahan baku usaha kerajinan dan makanan milik Angkasa. Ini alasan yang paling pas, paling sopan, dan paling terhormat untuk bertamu ke rumah besar itu.
Angkasa datang dengan pakaian rapi, kemeja berwarna cokelat muda yang digulung sebatas siku, memperlihatkan jelas tato aksara Jawa indah di lengan kanannya. Dia datang bersama Dewa, membawa dokumen kerja sama dan sedikit buah tangan.
Sesampainya di sana, rumah besar berpagar tinggi itu terlihat sejuk dan asri. Angkasa dan Dewa dipersilakan masuk ke ruang tamu yang luas dan megah, namun bernuansa sederhana dan sangat kental budaya Jawanya. Tak lama kemudian, keluar sepasang suami istri yang berwibawa namun ramah. Itu Pak Bimo dan Bu Saras.
Bu Saras mempersilakan mereka duduk dan menyajikan minuman, sementara Pak Bimo duduk di kursi utama, menatap tamunya dengan pandangan teliti. Pak Bimo melihat sosok Angkasa yang tinggi besar, tegap, berwajah tegas namun sorot matanya teduh dan sopan. Ada sesuatu dari wajah pemuda itu yang terasa sangat akrab di ingatan Pak Bimo, tapi dia belum bisa menebak apa.
"Selamat datang di rumah kami, Mas. Terima kasih sudah berkenan datang jauh-jauh," ucap Pak Bimo ramah, nada bicaranya tenang dan berwibawa.
"Perkenalkan, saya Bimo, ini istri saya Saras."
Angkasa tersenyum sopan, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat yang mendalam. Sikapnya sangat halus, sangat Jawa, persis didikan yang diajarkan mendiang orang tuanya dulu.
"Sugeng siang, Pak Bimo, Bu Saras. Terima kasih atas sambutannya," jawab Angkasa lembut, suaranya rendah dan jelas.
"Perkenalkan nama saya Angkasa Wardana. Saya pemilik usaha kerajinan dan pasokan barang. Ini asisten saya, Dewa."
Saat nama lengkap itu disebutkan...
Saat kata "Wardana" terdengar jelas keluar dari mulut Angkasa...
Wajah Pak Bimo seketika berubah kaget. Senyum ramahnya menghilang seketika, matanya yang sudah mulai berkerut itu membelalak lebar menatap pemuda di hadapannya. Tangan tuanya yang ada di atas meja gemetar pelan karena terkejut.
Wardana.
Nama itu. Nama belakang itu. Nama yang sama persis dengan nama sahabat masa kecilnya. Nama teman sepermainan, teman berjuang, teman bertengkar dan tertawa yang pernah dia cari-cari keberadaannya bertahun-tahun lamanya sejak hilang kontak puluhan tahun lalu.
"Maaf... Mas tadi menyebut nama belakangnya siapa?" tanya Pak Bimo dengan suara bergetar, berusaha meyakinkan pendengarannya sendiri. "Wardana? Benar Wardana?"
Angkasa sedikit bingung melihat reaksi bapak itu, tapi dia tetap tenang dan menjawab dengan jujur serta sopan.
"Benar, Pak. Angkasa Wardana," jawab Angkasa mantap.
Pak Bimo menatap wajah Angkasa lekat-lekat, meneliti setiap sudut wajah itu, rahang tegas itu, bentuk mata itu, hidung mancung itu... Semakin dia lihat, semakin jelas bayangan sosok sahabat masa kecilnya muncul di depan matanya. Persis. Sangat mirip.
Pak Bimo menarik napas panjang, lalu bertanya lagi dengan nada serius dan bergetar penuh harap.
"Mas Angkasa... boleh Bapak tanya, siapa nama lengkap bapak dan ibunda Mas? Di mana asal keluarganya sekarang, dan di mana Bapak Mas berada sekarang?"
"ayah saya bernama Adi Wardana, Pak. Ibu saya bernama Ratna. Asal kami asli Jawa Tengah, tapi dulu sempat berpindah-pindah mengikuti pekerjaan almarhum ayah," jawab Angkasa rinci dan jujur.
Satu nama itu... Adi Wardana.
Sebutan itu membuat mata Pak Bimo berbinar-binar bahagia. Air mata haru sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Tangan tuanya kini menggenggam tangan Angkasa di atas meja dengan erat.
"Adi... Adi Wardana!" seru Pak Bimo tak bisa menahan suaranya. "Itu nama sahabat kecil saya, Mas Angkasa! Teman saya dari kecil sampai remaja. Kami sangat akrab, tidak terpisahkan. Dulu kami berjanji akan selalu bersama, membangun desa, dan menua bersama di sini."
Pak Bimo tersenyum lebar, senyum rindu yang sangat dalam. "Tapi... saat kami menginjak usia remaja, sekitar kelas 2 SMA, ayah Adi mendapat tugas dinas ke luar negeri. Keluarga Adi memutuskan pindah dan melanjutkan kuliah di sana."
"Sejak saat itu... kami hilang kontak. Dulu belum ada telepon genggam atau surat elektronik, surat-surat saya tak pernah dibalas. Saya cari ke mana-mana, tak ada kabar. Saya kira... dia lupa sama saya, atau dia bahagia di sana dan melupakan teman lamanya."
Pak Bimo menatap Angkasa dengan penuh harap, sangat ingin bertemu kembali dengan sahabat lamanya itu.
"Dan sekarang... kamu ada di sini, anaknya Adi. Kamu persis sekali sama ayahmu, Mas Angkasa." ucap Pak Bimo antusias.
"Lalu... bagaimana kabar Bapakmu Adi sekarang? Di mana beliau tinggal? Bolehkah aku bertemu dengannya? Aku sangat rindu, sudah puluhan tahun kami tidak berjumpa. Aku ingin sekali bercerita banyak hal sama dia."
Wajah Angkasa perlahan berubah sendu. Dia menundukkan pandangannya sejenak, menelan ludah dengan berat, dan berusaha menahan rasa sakit yang selalu ada setiap kali mengingat masa itu. Dia mengerti sekarang kenapa dia merasa ada ikatan batin yang kuat dengan keluarga ini. Ternyata takdir sudah mengaturnya jauh-jauh hari lewat persahabatan orang tua mereka.
"Maafkan saya, Pak..." jawab Angkasa pelan dan lembut, nada bicaranya penuh rasa kehilangan dan kesedihan.
Angkasa mengangkat wajahnya, menatap mata tua yang penuh harap itu dengan tatapan hormat dan sedih.
"Almarhum Bapak dan Ibu sudah berpulang, Pak."
Hening seketika. Ruangan itu sepi.
"Kecelakaan lalu lintas," lanjut Angkasa lirih, suaranya bergetar sedikit. "Waktu itu saya masih duduk di bangku SMA kelas 3. Mereka baru saja pulang ke sini, ke kampung halaman, mau mengurus warisan tanah dan rumah lama yang sempat tertinggal... tapi takdir berkata lain. Kecelakaan itu terjadi saat perjalanan pulang kembali ke kota."
Air mata langsung menetes di pipi Pak Bimo. Tubuhnya yang tegap terlihat goyah, Bu Saras yang duduk di sampingnya langsung memegang bahu suaminya erat-erat sambil ikut menangis mendengar kabar itu.
Pak Bimo terisak pelan, tangannya gemetar semakin hebat menyentuh bahu Angkasa di depannya. Tangan besar yang kokoh itu kini terasa rapuh karena kesedihan yang mendalam.
"Adi... Adi pergi begitu saja..." lirih Pak Bimo dengan suara pecah. "Padahal saya selalu menunggu, selalu berharap dia pulang, menunggu momen kami bisa tertawa dan ngopi bareng lagi seperti waktu kecil. Ternyata... dia sudah tiada sejak kamu masih muda sekali. Dan kamu... kamu yang berjuang sendiri meneruskan semua warisan dan usaha itu, ya, Nak?"
Angkasa mengangguk pelan, menatap mata tua itu dengan tatapan hormat dan ikut sedih. "Iya, Pak. Saya berjuang sendirian sejak saat itu. Semua usaha, tanah, kebun, dan rumah... itu semua peninggalan mereka. Saya berjanji sama diri saya sendiri, saya harus menjaganya sebaik mungkin sebagai bukti bakti saya pada mereka."
Pak Bimo mengusap bahu Angkasa yang lebar dan kekar itu dengan penuh kasih sayang, persis seperti seorang ayah menyayangi anak kandungnya sendiri.
"Kamu anak hebat, Angkasa. Kamu persis ayahmu. Tegap, berwibawa, tapi hatinya selembut sutra. Ayahmu dulu juga begitu, kuat di luar tapi sangat lembut di dalam. Dan sekarang... kamu ada di sini. Kamu datang bukan hanya untuk kerja sama, tapi untuk menyambung tali persahabatan kami yang putus waktu itu. Mulai sekarang, jangan sungkan sama kami. Anggap rumah ini rumahmu sendiri. Kalau ada apa-apa, saya dan istri ada di sini untukmu, sama seperti orang tuamu dulu."
Kalimat itu terucap begitu tulus, membuat dada Angkasa terasa hangat dan lega. Selama ini dia hidup sendiri, kesepian, dan jarang merasakan kehangatan keluarga. Mendengar ucapan itu, rasanya ada bagian dari hatinya yang sempat kosong, kini terisi kembali.
"Terima kasih banyak, Pak, Bu..." jawab Angkasa dengan suara bergetar menahan haru. "Terima kasih sudah menerima saya seperti ini. Rasanya... saya sudah lama tidak mendengar kata-kata hangat seperti ini."
Di sudut ruangan, di balik tirai jendela, Arum berdiri diam mendengarkan semuanya. Matanya basah berair. Dia melihat sosok Angkasa yang gagah dan berwibawa itu kini menunduk hormat dan sabar mendengarkan cerita sedih orang tuanya. Dia baru tahu, lelaki yang dia kagumi itu ternyata memiliki hubungan takdir yang begitu erat dengan keluarganya.
Pak Bimo menyeka air matanya, lalu kembali tersenyum ramah. Meski hatinya sedih kehilangan sahabat lama, kehadiran Angkasa di sini adalah anugerah terindah.
"Sudah, sudah jangan bersedih lagi. Kedatanganmu ini berita gembira buat kami, Nak. Ada sebagian dari Adi yang kembali ke sini lewat dirimu," ucap Pak Bimo lembut. "Nah, kebetulan sekali... sepertinya Arum sudah lama mengintip dari balik tirai sana. Ayo masuk, Nak! Kenalkan, ini Angkasa, anaknya pak Adi, sahabat Bapak dulu."
Arum yang ketahuan mengintip pun tersipu malu, wajahnya memerah merona. Dia melangkah keluar dengan malu-malu, menundukkan kepalanya hormat.
"Assalamualaikum...," sapa Arum pelan, suaranya terdengar lembut dan manis. Matanya menatap sekilas ke arah Angkasa, lalu kembali menunduk.
Angkasa menatap gadis itu lekat-lekat, hatinya berdebar kencang. Di sini, di rumah ini, di hadapan orang-orang baik ini, dia merasa pulang. Dan melihat Arum ada di sini, di tengah keluarga yang kini juga menjadi keluarganya, membuat Angkasa semakin yakin.