NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HUKUM GENERASI MUDA

​Puncak gunung buatan itu bergetar hebat, bukan karena gempa bumi, melainkan karena benturan aura yang luar biasa. Di satu sisi, Han Feng berdiri tenang dengan Pedang Raksasa Hitam yang tertancap di marmer, sementara di sisi lain, Ye Chen melepaskan tekanan Qi dari Sekte Langit Abadi yang mampu membuat peserta biasa pingsan seketika.

​Namun, ketegangan itu memuncak ketika seorang pria tua berpakaian merah api bangkit dari tribun pengawas. Dia adalah Tetua Zhao, salah satu tetua yang memiliki hubungan darah dengan faksi Ye Chen. Wajahnya merah padam, dan matanya memancarkan niat membunuh yang nyata.

​"Berani-beraninya seorang pengembara rendahan menghina martabat Sekte Langit Abadi di depan umum!" teriak Tetua Zhao. Tangannya bergerak cepat, membentuk segel mantra kuno. "Lancang! Aku akan menghapus keberadaanmu dari dunia ini!"

​Seketika, sebuah bola energi raksasa terbentuk di atas kepala Tetua Zhao, siap dihempaskan ke arah Han Feng. Para penonton berteriak ketakutan; seorang Tetua tahap Inti Emas menyerang seorang pemuda adalah pemandangan yang sangat langka dan memalukan.

​Namun, sebelum bola energi itu lepas, sebuah gelombang tekanan yang jauh lebih agung namun tenang menyelimuti seluruh puncak gunung. Tekanan itu begitu murni hingga memadamkan mantra Tetua Zhao secara paksa, seperti air yang mengguyur api kecil.

​"Cukup, Zhao. Duduklah kembali."

​Sesosok pria tua berambut putih panjang, Tetua Bai, berdiri dengan tangan di belakang punggung. Dia adalah dewa pengawas netral dari dewan seleksi tertinggi. Matanya yang jernih menatap Tetua Zhao dengan tatapan yang membuat pria pemarah itu membeku.

​"Seleksi ini memiliki aturan suci yang telah disepakati oleh semua sekte," suara Tetua Bai bergema pelan namun menggetarkan jiwa. "Konflik di atas tangga adalah urusan generasi muda. Jika seorang Tetua ikut campur hanya karena harga dirinya terusik, maka hari ini adalah hari di mana martabat sekte kita hancur lebih dalam dari jurang di bawah sana. Jangan buat aku harus menegakkan hukum dewan padamu."

​Tetua Zhao mengepalkan tangannya hingga berdarah, namun ia terpaksa mundur dan duduk kembali dengan gigi berkerat. Otoritas Tetua Bai tidak bisa dilawan.

​Suasana hening sejenak. Di arena, para peserta jenius yang tadi bersaing dengan Han Feng kini hanya bisa menundukkan kepala. Lin Xiao dari Sekte Salju dan Huo Yan dari Klan Api tidak lagi melihat Han Feng sebagai saingan. Di dunia kultivasi, kekuatan adalah hukum tertinggi. Dengan melihat bagaimana Han Feng menghentikan pedang Long Chen hanya dengan jari, mereka tahu bahwa pemuda ini berada di level yang berbeda.

​Mu Rong, si gadis bergaun pink, berdiri terpaku tidak jauh dari Han Feng. Ia mengabaikan luka di lengannya dan debu di gaunnya. Matanya yang indah menatap wajah Han Feng yang tampan dan dingin dengan binar yang sulit diartikan.

​"Jadi ini... ini adalah alasan Kakek Bo begitu tertarik padanya," gumam Mu Rong pelan. "Dia bukan sekadar jenius. Dia adalah takdir yang berjalan di atas bumi."

​Namun, di tribun Sekte Pedang Langit, pemandangannya jauh lebih menyedihkan. Su Yan tampak seperti kehilangan jiwanya. Ia berdiri mematung, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Ia teringat bagaimana beberapa bulan lalu ia memandang rendah Han Feng, menyebutnya sebagai sampah yang menghambat jalannya menuju puncak.

​Kini, Han Feng berdiri di puncak yang bahkan tidak bisa ia capai dengan merangkak sekalipun. Rasa malu, rasa bersalah, dan ketakutan akan pembalasan bercampur aduk di dadanya. Saat secara tidak sengaja mata emas-ungu Han Feng melirik ke arah tribun melalui proyeksi kristal, Su Yan secara insting mundur selangkah, hampir terjatuh jika tidak tertahan oleh kursi kayu di belakangnya.

​Han Feng mengabaikan semua drama di sekitarnya. Ia mencabut kembali Pedang Raksasa Hitam itu dengan satu tangan, lalu berjalan turun dari puncak. Ia tidak melalui anak tangga yang melelahkan. Sebaliknya, ia melompat ke udara, dan gumpalan awan tebal seolah menjadi pijakan kakinya saat ia melayang turun dengan anggun menuju gerbang keluar.

​Saat kakinya menyentuh tanah di area bawah gunung, Mu Rong sudah menunggunya. Gadis itu tidak lagi menunjukkan sikap cerianya yang biasa, melainkan tatapan yang penuh keseriusan.

​"Han Feng, tunggu," panggil Mu Rong.

​Han Feng berhenti, namun tidak menoleh. "Ada apa?"

​Mu Rong berjalan mendekat, matanya tertuju pada lencana perunggu yang tergantung di pinggang Han Feng—lencana yang diberikan oleh Kakek Bo. "Aku tahu dari mana kau mendapatkan lencana itu. Dan aku tahu siapa pemilik aslinya."

​Han Feng sedikit mengernyitkan alisnya, akhirnya ia memutar tubuhnya menghadap Mu Rong.

​"Kakek Bo... dia adalah tetua tersembunyi dari Lembah Hijau, guruku yang menghilang sepuluh tahun lalu," bisik Mu Rong dengan suara rendah agar tidak terdengar orang lain. "Lencana itu bukan sekadar tanda pengenal peserta. Itu adalah 'Kunci Naga' yang mampu membuka segel warisan kuno di bawah Kota Seribu Awan."

​Mu Rong menarik napas dalam-dalam. "Dia mengirimmu ke sini bukan hanya untuk balas dendam, Han Feng. Dia ingin kau mengambil apa yang seharusnya menjadi milik keluargamu. Dan sebagai muridnya, aku ditugaskan untuk membantumu."

​Han Feng menatap lencana itu sebentar, lalu kembali menatap Mu Rong. "Aku tidak butuh bantuan siapa pun untuk menghancurkan musuh-musuhku."

​"Ini bukan soal musuhmu saat ini," bantah Mu Rong cepat. "Sekte Pedang Langit hanyalah bidak kecil. Kau belum tahu rahasia di balik darahmu sendiri. Kakek Bo menunggumu di penginapan 'Awan Merah' malam ini. Ada rahasia tentang orang tuamu yang tidak bisa ia ceritakan melalui lencana itu."

​Mendengar kata "orang tua", aura dingin di sekitar Han Feng sedikit bergejolak. Ia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menyarungkan pedang hitamnya kembali.

​"Beri tahu gurumu, aku akan datang," ucap Han Feng dingin. Ia kemudian menatap ke arah tribun di mana Su Yan dan para petinggi Sekte Pedang Langit masih terpaku. "Tapi sebelumnya, aku punya beberapa utang yang harus ditagih dengan darah."

​Han Feng berjalan pergi, meninggalkan Mu Rong yang masih menatap punggungnya dengan kekaguman yang bercampur dengan rasa cemas. Malam ini, Kota Seribu Awan tidak akan pernah sama lagi. Naga itu telah terbangun, dan ia tidak akan berhenti sampai langit yang dulu menghinanya runtuh ke tanah.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!