Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Pintu kaca kafe itu menutup dengan desis pelan yang memotong sisa ketegangan beracun di udara. Begitu punggung kaku Axel menghilang di balik keredupan rona senja tepi danau, keheningan yang panjang kembali merayap di dalam ruangan. Hanya ada suara helaan napas berat dari Liam dan gemersik bulu Donald yang kembali merapatkan tubuhnya di dekat kaki kursi Jasmine. Liam tidak langsung berbalik. Pria jangkung itu memejamkan matanya sejenak, menenangkan debaran dadanya sendiri setelah perdebatan panjang yang cukup menguras emosi. Ketika ia akhirnya memutar tubuh dan kembali menatap Jasmine, seluruh ekspresi dingin dan intimidatif yang ia tunjukkan pada Axel tadi menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah binar mata teduh yang dipenuhi kelembutan seorang pria matang. Jasmine masih duduk membeku, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Setitik air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya akhirnya jatuh, meluncur lambat melewati pipinya yang pucat. Pergolakan batinnya malam ini terasa jauh lebih melelahkan daripada menahan gempuran lima orang musuh di panggung turnamen London. Liam melangkah mendekat secara perlahan, tidak ingin mengejutkan gadis itu. Alih-alih duduk kembali di kursi seberang meja, ia memilih untuk berlutut di sebelah kursi Jasmine, menyamakan tinggi tatapan mereka seperti yang sering ia lakukan saat Jasmine sedang murung di tepi danau. Liam tidak lancang langsung menyentuh fisik Jasmine, melainkan meletakkan kedua telapak tangannya di pinggiran meja kayu, memberikan ruang yang aman bagi Jasmine untuk bernapas.
"Dia udah pergi, Jasmine. Semuanya udah aman sekarang," ucap Liam dengan nada suara yang melorot sangat rendah, selembut mungkin.
Jasmine menoleh, menatap wajah Liam yang begitu dekat dari posisinya. "Aku... aku minta maaf, Kak Liam. Karena aku, ketenangan kafe ini jadi rusak. Karena aku juga, Kakak harus berhadapan dengan kemarahan Kak Axel yang menakutkan tadi," bisik Jasmine, suaranya gemetar menahan getaran emosi yang tersisa di dadanya.
Liam tersenyum tipis, sebuah senyuman miring yang begitu menenangkan, jenaka, dan sarat akan pengertian yang mendalam. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Kenapa kamu yang harus minta maaf, hm? Kafe ini dibangun dengan struktur dinding kaca yang tebal, Jasmine. Dia dirancang untuk menahan badai atau hujan deras dari luar. Masalah kecil kayak bentakan seorang kapten yang sedang patah hati sama sekali gak akan bisa meruntuhkan tempat ini. Terus yang paling penting, gak akan ada satu orang pun yang boleh buat kamu ketakutan lagi di bawah atap tempat ini."
Liam mengulurkan tangan kanannya, mengambil selembar tisu bersih dari dispenser kecil di atas meja, lalu menyerahkannya pada Jasmine dengan gerakan yang sangat sopan. "Usap air mata kamu. Seorang juara dunia gak boleh merayakan kepulangannya dengan kesedihan. Teh chamomile punya kamu hampir dingin, dan Donald udah mulai mengantuk karena nunggu kamu selesai menangis."
Mendengar gurauan kasual itu, Jasmine merasakan sesak di dadanya perlahan mencair. Ia menerima tisu tersebut, menyeka sisa air mata di pipinya, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa begitu melegakan. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, paru-parunya tidak lagi terasa terhimpit oleh beban ekspektasi raksasa. Di luar jendela kaca, rona senja di tepi danau kini telah sepenuhnya digantikan oleh selimut malam berwarna biru gelap bertabur bintang-bintang kecil yang samar. Lampu-lampu jalanan kompleks perumahan mulai menyala satu per satu, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan air danau yang tenang. Jasmine menatap pemandangan itu dari balik dinding kaca kafe, merasakan sebuah kepuasan batin yang tidak bisa ditukarkan dengan nilai kontrak setinggi apa pun.
"Kak Liam," panggil Jasmine setelah keheningan yang damai kembali tercipta di antara mereka.
"Ya, Jasmine?"
"Waktu di London kemarin, setelah kami memenangkan pertandingan semifinal, aku sempat berpikir egois," Jasmine menundukkan kepalanya, menatap permukaan teh chamomile keemasan di dalam cangkirnya. "Aku bertanya sama diri sendiri, apakah piala dunia dan semua kemegahan di sana sepadan dengan kebebasan jiwa aku yang pelan-pelan mulai terkikis. Setiap kali Kak Axel menuntut aku untuk menjadi sosok yang sempurna tanpa cela, aku selalu merasa kalau aku bukan manusia, tapi cuma alat pemicu kemenangan buat Tim Aether."
Jasmine kembali menatap mata teduh Liam, binar matanya kini memancarkan keteguhan yang matang. "Tapi setiap kali aku baca pesan singkat dari Kakak, atau saat aku mengingat kebodohan Donald yang meretas kandangnya, aku merasa seperti ditarik kembali ke permukaan tanah. Pesan dari Kakak adalah satu-satunya hal yang buat aku ingat kalau aku berhak merasa lelah, dan aku berhak untuk sekadar menjadi seorang Jasmine yang biasa."
Liam mendengarkan setiap bait pengakuan jujur itu dengan saksama. Senyumnya tidak memudar, justru tatapan matanya terlihat semakin dalam dan penuh dengan rasa hormat atas kedewasaan emosional yang baru saja ditemukan oleh gadis berusia 23 tahun di hadapannya.
"Masa depan yang ditawarkan Axel memang sangat berkilau, Jasmine. Aku enggak bisa membantah hal itu," ucap Liam dengan nada suara yang sangat bijaksana. Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai, bersandar pada kaki meja. "Dia menawarkan panggung dunia, popularitas, dan jaminan karir yang luar biasa mewah. Sementara di sini? Aku cuma bisa menawarkan secangkir teh gratis, aroma bunga mawar yang kadang membuat bersin, dan seekor bebek rusuh yang sering mencuri stroberi di dapur."
Liam menjeda kalimatnya sejenak, mengunci pandangan mata Jasmine dengan ketulusan mutlak tanpa adanya paksaan posesif sedikit pun. "Tapi, hidup ini terlalu singkat kalau kamu harus menghabiskannya di dalam sebuah sangkar, seindah apa pun emas yang melapisinya. Kalau kamu memilih untuk tetap terbang tinggi di panggung dunia kamu, aku akan selalu menjadi penonton virtual setia kamu dari sudut kafe ini. Tapi, kalau kamu merasa sayap kamu udah terlalu lelah untuk menahan badai kaku milik kapten kamu itu, ingatlah bahwa jalan setapak di seberang rumah kamu ini selalu terbuka lebar untuk bawa kamu pulang ke tempat yang hangat."
Mendengar untaian kata yang begitu membebaskan jiwanya, Jasmine merasakan sebuah kepastian mutlak akhirnya mengunci seluruh keraguan di dalam hatinya. Retakan tak kasatmata yang memisahkan dirinya dari dunia luar kini telah runtuh seutuhnya, digantikan oleh sebuah garis batas baru yang sangat tegas. Ia tahu, perjalanan karir profesionalnya bersama Tim Aether mungkin masih menyisakan sisa kontrak hukum, namun secara emosional dan ruang hidup pribadi, ia telah memilih untuk keluar sepenuhnya dari bawah bayang-bayang kendali posesif Axel.
Jasmine mengangkat gelas kaca kecil berisi cairan ungu lavender buatan Liam, mendekatkannya ke arah Liam sebagai bentuk ajakan bersulang yang sederhana. "Untuk kepulangan yang sesungguhnya, Kak Liam."
Liam tersenyum miring, mengangkat cangkir kopinya sendiri yang sudah mendingin, lalu mempertemukan kedua permukaan kaca itu dengan denting halus yang terdengar begitu indah di dalam keheningan malam kafe. "Untuk rumah kamu yang sesungguhnya, Jasmine."
Malam itu, di bawah langit malam penuh bintang di tengah ketenangan kompleks tepi danau, Jasmine menikmati setiap suapan pie buah dan tegukan teh chamomilenya dengan perasaan damai yang seutuhnya. Di seberang jalan, rumah besarnya bersama Tim Aether mungkin masih berdiri kokoh dengan tumpukan piala tak berjiwa di dalamnya. Namun di dalam kehangatan dinding kaca kafe ini, di samping seorang barista jangkung yang selalu menghargai keberadaannya tanpa syarat dan seekor bebek putih yang mendengkur halus di kakinya, Jasmine tahu bahwa ia telah resmi memenangkan pertempuran sesungguhnya, pertempuran untuk merebut kembali kebebasan jiwa dan kebahagiaan hidupnya sendiri yang sempat hilang di seberang samudra. Badai besar di London telah mereda, dan babak baru kebebasannya kini telah resmi dimulai dengan penuh kehangatan yang sejati.
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏
Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁
Terima Kasih 🙏🙏🙏