"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Gedung Pusat Administrasi UCLA siang itu diselimuti oleh kesibukan yang efisien. Mahasiswa berlalu-lalang dengan tumpukan berkas, suara sepatu yang bergesekan dengan lantai granit bergaung konstan, dan riuh rendah obrolan akademis memenuhi udara.
Di tengah hiruk-piruk itu, sebuah takdir yang tak kasat mata sedang menarik dua ujung benang yang telah kusut untuk bertemu dalam titik paling dingin.
Vexana melangkah keluar dari ruang Fakultas Bisnis. Di tangannya, ia memegang selembar kertas bermaterai resmi—surat keputusan pemindahan dosen pembimbing proyek dan pengalihan fokus penelitian yang telah ditandatangani oleh Rektor atas desakan mutlak dari Maximilian Valerio.
Selesai sudah.
Secara administratif, tidak ada lagi alasan legal yang bisa menghubungkannya dengan laboratorium di lantai empat Gedung Teknik Elektro. Tidak ada lagi celah untuk pria bernama Landon Desmon masuk ke dalam ruang akademisnya.
Ia berjalan dengan punggung tegak, dagu terangkat, dan tatapan mata yang lurus menatap koridor utama gedung rektorat. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai rapi, membingkai wajahnya yang dipulas riasan tegas.
Tidak ada lagi sisa air mata di sana. Wajah pucat dan sembap semalam telah dikubur rapat di bawah lapisan bedak dan lipstik berwarna merah bata yang berani. Vexana telah memutuskan untuk menjadi seorang Valerio seutuhnya: dingin, tak tersentuh, dan kokoh seperti menara es.
Namun, tepat saat ia berbelok di koridor utama yang menghubungkan Gedung Rektorat dengan Fakultas Teknik, langkah kakinya seolah menghantam dinding beton yang tak terlihat.
Dari arah berlawanan, Landon Desmon sedang berjalan.
Pria itu baru saja keluar dari ruang sidang etik Rektorat. Ia mengenakan kemeja abu-abu gelap yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, dipadukan dengan celana kain hitam dan mantel panjang sewarna arang yang berkibar pelan mengikuti ritme langkahnya.
Penampilannya sangat rapi, sangat profesional, seolah-olah kehancuran verbal dan alkohol yang meremukkannya semalam hanyalah ilusi belaka. Wajah tampannya terpahat kaku, datar, dengan rahang yang mengatup rapat.
Jarak di antara mereka terkikis dari dua puluh meter, sepuluh meter, hingga kini tersisa lima meter.
Udara di sekitar koridor itu mendadak terasa bergeser, menjadi pekat dan berat, menekan rongga dada Vexana hingga ia merasakan sesak yang luar biasa.
Itu bukan sesak yang memicu air mata, melainkan sesak yang timbul akibat hantaman rasa hampa yang masif.
Jantungnya berdegup dengan ritme yang lambat namun bertenaga, seolah-olah setiap detaknya mengirimkan gelombang rasa sakit yang mati rasa ke seluruh pembuluh darahnya.
Vexana melihat Landon. Dan Landon pun melihat Vexana.
Sepasang mata legam milik Landon sempat terkunci pada sepasang mata bulat milik Vexana selama sepersekian detik.
Di dalam tatapan yang sangat singkat itu, tidak ada kilat amarah seperti kemarin. Tidak ada tuntutan penjelasan, tidak ada binar jenaka mesum yang provokatif, dan tidak ada air mata duka. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang purba—sebuah ruang hampa yang luas di mana seluruh kenangan masa lalu mereka sengaja dibekukan agar tidak lagi melukai.
Saat jarak mereka hanya tersisa satu langkah, kedua pasang mata itu serentak dialihkan ke depan.
Mereka berpapasan.
Aroma mint yang tajam dari tubuh Landon sempat berpapasan dengan wangi mawar yang pekat dari parfum Vexana di udara koridor.
Saling menerpa indra penciuman masing-masing, memicu memori sensorik tentang malam-malam intim yang pernah mereka lalui bersama. Kulit lengan mantel Landon bahkan sempat bergesekan tipis dengan kain sweater rajut hitam milik Vexana saat mereka berpapasan di jalur yang sempit.
Namun, tidak ada yang berhenti. Tidak ada langkah kaki yang melambat. Tidak ada anggukan kepala sebagai tanda kesopanan, dan tidak ada sapaan formalitas yang keluar dari bibir masing-masing.
Mereka melewati satu sama lain seolah-olah orang yang berada di samping mereka hanyalah seonggok daging tak bernyawa, sesama pengguna jalan yang kebetulan melintasi koridor yang sama.
Dua orang yang enam tahun lalu saling mengetahui setiap inci inci lekuk tubuh dan rahasia terdalam masing-masing, hari ini resmi bertransformasi menjadi dua orang asing yang paling sempurna di atas muka bumi.
Setelah melewati Landon, Vexana terus berjalan maju. Ia menolak untuk menoleh ke belakang, menolak untuk memberikan ruang bagi hatinya sekadar mengintip punggung pria itu.
Tangannya yang memegang dokumen pemindahan mencengkeram kertas itu sedikit lebih kuat, meninggalkan bekas lipatan kecil di sudutnya.
Rasa pahit menjalar di pangkal lidahnya. Penghancuran yang sesungguhnya ternyata bukan saat mereka saling berteriak dan memaki seperti kemarin di laboratorium.
Penghancuran yang paling mematikan adalah titik ini—titik di mana ego dan kenyataan telah sepakat untuk membangun garis demarkasi yang tegas.
Titik di mana mengabaikan keberadaan satu sama lain terasa jauh lebih aman daripada harus saling mengakui bahwa mereka pernah menjadi pusat semesta bagi satu sama lain.
Ini yang kau inginkan, Landon. Ini yang Daddy inginkan. Dan ini yang terbaik untuk AJ, batin Vexana, menelan paksa rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya.
Dada wanita itu terasa seperti dihantam palu godam, meninggalkan rasa ngilu yang konstan di balik tulang rusuknya, namun wajahnya tetap mempertahankan ekspresi sedingin marmer.
Ia terus melangkah menuju area parkir luar, tempat mobil sedan hitam milik keluarga Valerio sudah menunggu.
Hari ini, ia tidak hanya meninggalkan Gedung Rektorat; ia baru saja meninggalkan separuh dari jiwanya yang sempat tertinggal di masa lalu bersama Landon Desmon.
Di sisi lain, langkah kaki Landon tetap beritme konstan menuju Gedung Teknik Elektro. Pria itu tidak menghentikan jalannya, tidak pula menoleh untuk melihat apakah Vexana sempat berbalik. Tatapan matanya lurus menatap pintu kaca di ujung koridor, namun fokus pikirannya seolah terlepas dari raganya.
Sesak di dada Landon terasa begitu nyata, seperti ada gumpalan es besar yang menyumbat saluran pernapasannya.
Kepahitan yang ia rasakan siang ini jauh lebih pekat daripada sisa wiski yang ia tenggak semalam.
Bertemu dengan Vexana dalam kondisi seperti ini—saling memandang namun memilih untuk menjadi asing—adalah bentuk hukuman paling sadis yang bisa diberikan oleh takdir.
Sidang di ruang Rektorat tadi berjalan dengan lancar.
Berkat pengaruh gurita bisnis Desmon Group dan pembelaan Landon yang menggunakan istilah teknis-akademis, aduan dari Dekan Fakultas Seni berhasil diredam tanpa sanksi formal.
Kimberly pun telah setuju untuk menutup mulutnya demi menjaga reputasi ayahnya sendiri. Landon memenangkan pertarungan hukum dan birokrasi kampus itu dengan mudah.
Namun, saat ia berpapasan dengan Vexana tadi, Landon tahu bahwa dia telah kalah dalam taruhan yang sesungguhnya.
Kau benar-benar telah melepaskanku, Bee, batin Landon, rahangnya mengeras hingga otot-otot di sekitar pelipisnya menonjol tegang.
Pandangan mata Vexana yang begitu kosong saat menatapnya tadi adalah bukti bahwa wanita itu telah menutup rapat pintu masa lalu mereka.
Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi. Kebohongan, kesalahpahaman tentang anak mereka yang dikira mati, dan intervensi keluarga Valerio telah sukses menegakkan tembok pemisah yang terlalu tinggi untuk ia daki sendirian.
Landon melangkah masuk ke dalam lift Gedung Teknik dengan tubuh yang terasa hampa.
Saat pintu lift bergeser menutup, ia menyandarkan punggungnya pada dinding logam, menatap pantulan dirinya di cermin lift yang bersih. Ia melihat seorang dosen muda, putra mahkota dari sebuah imperium bisnis, yang dikagumi oleh ratusan mahasiswa di kampus ini.
Namun di balik semua topeng kesuksesan itu, Landon tahu bahwa dirinya hanyalah selembar raga kosong yang baru saja kehilangan hak untuk mencintai satu-satunya wanita yang pernah menghidupkan hatinya.
Pagi berganti siang, dan kepahitan itu kini telah resmi mengendap, menjadi pondasi baru bagi kehidupan mereka yang berjalan di jalur yang sepenuhnya berbeda.