"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Mulai Mencari Tempat Tinggal Baru
Sebuah sedan biasa berhenti di sebuah jalan yang hanya diterangi lampu samar.
Kondisi tempat tinggal di sini sangat memprihatinkan, dengan rumah-rumah yang berdesakan membentuk pemukiman kecil. Jalanannya dipenuhi sampah yang dibuang oleh para penghuni di setiap sudut.
Saat melihat sekeliling setelah memarkir mobil, Sylvie tidak bisa menahan diri untuk mengernyitkan alisnya dengan bingung, "Kau yakin kita ada di tempat yang benar?"
Karena desakannya tadi, Liam akhirnya dengan enggan menerima tawarannya untuk mengantarnya pulang.
Namun, Sylvie tidak menyangka bahwa rumah Liam ternyata sangat jauh dari mall. Perjalanan dengan sedan memakan waktu sekitar 30 menit. Yang lebih mengejutkannya lagi adalah Liam membawanya ke area gelap yang terasa sangat ilegal dalam segala hal.
Jika ia tidak tahu bahwa Liam punya banyak uang dan merupakan orang baik dari interaksi mereka sebelumnya, ia mungkin sudah mengira dirinya sedang dirampok.
Melihat kondisi lingkungan yang buruk ini, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Liam bisa bertahan hidup di tempat seperti ini selama ini. Ia juga bertanya-tanya bagaimana Liam bisa tetap tinggal di sini padahal jelas ia memiliki banyak uang.
Menurutnya, bahkan jika Liam sedang menguji dirinya dengan menjalani kehidupan miskin, bukankah kondisi ini terlalu ekstrem?
"Jadi, kau tidak akan terus tinggal di sini, kan?" tanyanya.
Berdasarkan pengamatannya dan… imajinasinya selama ini, ia yakin Liam sudah selesai menjalani kehidupan biasa dan sekarang perlahan kembali ke dunia orang kaya.
Hal itu terlihat dari tindakannya tadi yang membeli pakaian baru, ponsel baru, dan jam tangan mewah sekaligus.
Dengan menggabungkan semuanya, ia semakin yakin dengan tebakannya. Ia menanyakan itu karena khawatir dengan kesehatan Liam jika terus tinggal di tempat kotor seperti ini.
Menjalani hidup sederhana itu satu hal, tapi hidup dalam kondisi kotor dan kumuh tentu tidak baik, bukan?
Jika saja Sylvie tahu bahwa Liam baru mendapatkan uang itu beberapa jam yang lalu, entah bagaimana reaksinya.
Di sisi lain, pertanyaan itu juga membuat Liam berpikir.
Sejak kuliah, ia menyewa kamar kecil di lingkungan ini karena murah dan tidak punya pilihan lain.
Namun sekarang, dengan uang yang ia miliki dan kesempatan untuk mengubah hidupnya, ia memutuskan untuk tinggal di tempat yang lebih baik dan mulai memperlakukan dirinya dengan lebih baik.
"Kau punya tempat yang bisa kau rekomendasikan? Yang biasa saja sudah cukup, untuk saat ini aku belum ingin rumah yang terlalu mewah," katanya, menjawab pertanyaan Sylvie.
Huft!
Sylvie diam-diam menghela napas lega mendengarnya.
"Aku belum punya ide apa-apa sekarang, tapi nanti akan aku carikan rekomendasi untukmu. Dan juga, kita kan sudah saling tukar kontak, hehe," kata Sylvie sambil tersenyum, merasa senang karena mereka sudah saling memiliki nomor, dan ia adalah kontak pertama Liam di ponsel barunya.
"Serahkan saja padaku."
Alasan Liam bertanya padanya adalah karena ia tahu Sylvie pintar dan mungkin lebih tahu tempat-tempat bagus disini berkat koneksinya sebagai manajer. Pada akhirnya, Sylvie benar-benar tidak mengecewakannya.
Liam mengangguk puas setelah mendengarnya. Dengan jaminan dari Sylvie, ia tidak perlu khawatir soal tempat tinggal lagi.
Tak lama kemudian, Liam berpamitan kepada Sylvie tak lama setelah dia turun dari sedan miliknya.
Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, Liam mulai berjalan di jalan kecil di antara rumah-rumah yang berdesakan sambil membawa banyak tas.
Meskipun membawa banyak barang, tetapi berkat ramuan peningkatan fisik yang ia minum sebelumnya, tidak ada masalah baginya untuk melewati jalan sempit ini.
Beberapa menit kemudian, ia akhirnya tiba di sebuah rumah kayu kecil bertingkat dua.
Liam menggelengkan kepalanya saat melihat lampu yang berkedip-kedip di pintu masuk rumah itu.
Rumah ini sebenarnya adalah apartemen ilegal. Total ada enam kamar, dua di lantai bawah dan empat sisanya di lantai atas. Semua penghuni berbagi satu kamar mandi dan dapur. Mereka mengikuti aturan, siapa cepat dia dapat, untuk menghindari pertengkaran dengan penyewa lain.
Rumah itu kecil, dan karena dibagi menjadi delapan ruang termasuk kamar mandi dan dapur, setiap kamar hanya cukup untuk satu orang bergerak. Kondisi tempat tinggalnya tidak bagus, tapi cukup untuk harga sewa 10 Dolar per bulan.
Liam akhirnya masuk ke dalam rumah dan menuju kamar pertama di lantai atas. Ia membuka kunci pintu kamarnya, dan yang pertama kali terlihat adalah kasur single kotor serta sampah yang berserakan di setiap sudut ruangan.
Melihat kondisi kamarnya, Liam hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan rasa jijik pada dirinya sendiri di masa lalu. Kamar ini benar-benar kotor, seperti dihuni oleh anak kecil yang tidak tahu cara membersihkan.
Liam meletakkan barang-barangnya yang baru dibelinya lalu meregangkan tubuh dan memutar lehernya.
Saat berikutnya, Liam mulai membersihkan kamarnya untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.
Ia mengganti seprai kasur dan menyapu lantai hingga bersih. Dia juga mencuci piring-piring yang sudah lama terbengkalai.
Beberapa menit kemudian, Liam berhasil mengumpulkan dua kantong sampah penuh serta banyak pakaian dan barang-barang kotor.
Melihat kamarnya yang kini sedikit lebih bersih, Liam akhirnya mengangguk, puas dengan hasil karyanya.
Liam ingin mengubah kebiasaannya secara perlahan untuk hidup yang lebih baik. Kamar kotor ini yang berhasil dibersihkan dalam beberapa menit hanyalah permulaan.
Meskipun baru saja membersihkan kamarnya, Liam sama sekali tidak merasa lelah. Tubuhnya tetap dalam kondisi prima, seolah apa yang ia lakukan tadi tidak berarti apa-apa.
Saat membersihkan, ia juga menyadari bahwa kekuatan dan kecepatannya telah meningkat pesat dibandingkan sebelumnya. Indra keseimbangan, penciuman, dan penglihatannya juga terasa lebih baik.
Ramuan peningkat fisik yang ia minum memang benar-benar luar biasa.