NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan Halus

Pagi di kantin kampus Universitas Nusantara biasanya dipenuhi dengan aroma kopi yang menyengat dan hiruk-pikuk mahasiswa yang berkejaran dengan jadwal kuliah. Namun, bagi Seraphina Aeru, suasana pagi itu terasa seperti film bisu. Ia duduk di sebuah meja kayu yang menghadap ke taman, tepat di hadapan Denzel. Di depan mereka tersedia dua piring nasi goreng yang uapnya masih mengepul, namun Seraphina belum menyentuh sendoknya sama sekali.

Ia sedang memperhatikan Denzel.

Pria itu sedang memegang cangkir kopinya. Matanya menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan gerbang utama kampus. Posisinya begitu tegak, formal seperti biasa, namun ada sesuatu yang mengusik nurani Seraphina. Selama hampir lima menit, Denzel tidak berkedip. Cangkir kopi itu hanya menempel di bibirnya tanpa ada cairan yang benar-benar masuk.

"Denzel?" panggil Seraphina lembut.

Tidak ada jawaban.

"Denzel?" Seraphina sedikit meninggikan suaranya dan menyentuh punggung tangan pria itu di atas meja.

Denzel tersentak. Cangkir kopinya berdenting pelan saat ia meletakkannya kembali ke piring kecil. Ia menoleh ke arah Seraphina, dan dalam sepersekian detik, Seraphina melihat sesuatu yang membuatnya merinding: mata Denzel tampak kosong. Bukan hanya sekadar melamun, tapi seolah-olah jiwanya benar-benar sedang berada di dimensi lain, meninggalkan raganya hanya sebagai cangkang yang bernapas.

"Ya, Sera? Maaf, aku sedikit kurang tidur semalam," ucap Denzel, segera memasang kembali senyum tipis andalannya. Senyum yang biasanya membuat Seraphina meleleh, namun pagi ini terasa seperti kertas kado indah yang membungkus kotak kosong.

"Kau memikirkan apa?" tanya Seraphina, mencoba menyelidiki dengan nada bercanda. "Laporan Tuan Zefan lagi? Atau strategi keamanan untuk acara gala minggu depan?"

"Kurang lebih begitu," jawab Denzel singkat. Ia mulai menyuap makanannya, gerakannya mekanis dan efisien. "Banyak variabel yang harus kupastikan agar semuanya berjalan lancar."

Seraphina terdiam, jemarinya mengaduk-aduk nasi gorengnya tanpa selera. Ini bukan pertama kalinya. Sejak kencan mereka di mal minggu lalu, Seraphina mulai menangkap momen-momen "hilangnya" Denzel. Saat mereka menonton film, Denzel tidak tertawa pada adegan yang lucu. Saat mereka makan es krim, Denzel tidak menyadari ketika es krimnya mulai meleleh di tangannya karena matanya sibuk memindai kerumunan.

Awalnya, Seraphina menganggap itu adalah dedikasi kerja. Denzel adalah asisten pribadi keluarga konglomerat; wajar jika ia selalu waspada. Namun, kecurigaan halus mulai merayap di benak Seraphina saat ia menyadari satu pola yang menyakitkan: Denzel akan kehilangan fokus setiap kali Leah Ramiro berada dalam radius pandangannya, atau bahkan hanya ketika nama Leah disebut.

"Tadi aku melihat Leah di depan perpustakaan," ucap Seraphina tiba-tiba, sebuah tes kecil yang ia lemparkan ke udara.

Gerakan tangan Denzel yang sedang memegang sendok terhenti sejenak. Sangat singkat, mungkin hanya setengah detik, namun bagi Seraphina yang sedang mengobservasi, itu seperti ledakan petasan.

"Oh ya? Dia bersama siapa?" tanya Denzel. Suaranya diusahakan tetap datar, namun ada nada urgensi yang terselip di sana, jenis nada yang tidak pernah ia gunakan saat membicarakan hal lain.

"Sendirian. Dia tampak lelah," lanjut Seraphina, matanya tidak lepas dari wajah Denzel. "Dia memakai gaun biru yang baru dibelinya. Cantik sekali."

Denzel mengangguk, kembali menyuap makanan. "Dia memang sering kurang istirahat belakangan ini. Tekanan dari Tuan Zefan dan... urusan lainnya cukup berat baginya."

Seraphina merasakan sesak di dadanya. Urusan lainnya. Denzel menyebut Jeff Chevalier tanpa menyebut namanya. Ada rasa protektif yang begitu kental dalam cara Denzel membicarakan Leah, sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar hubungan majikan dan bawahan.

"Denzel," Seraphina meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras. "Kau selalu bersamaku. Setiap sore kita bertemu, kau menjemputku, kau membawakanku bunga, kau mencium keningku... tapi kenapa aku merasa kau berada ribuan kilometer jauhnya?"

Denzel berhenti mengunyah. Ia meletakkan alat makannya dan menatap Seraphina dengan tatapan yang sangat serius. "Apa maksudmu, Sera? Aku di sini. Aku bersamamu."

"Secara raga, iya," suara Seraphina mulai bergetar. "Tapi matamu, Denzel... matamu selalu mencari sesuatu yang bukan aku. Terkadang saat kita bicara, kau hanya mengangguk tapi aku tahu kau tidak mendengar sepatah kata pun. Kau seperti sedang menjalankan tugas, bukan sedang berkencan. Apakah kau benar-benar ingin bersamaku, atau kau hanya... melakukan ini karena kau diperintahkan?"

Pertanyaan itu menghantam Denzel tepat di ulu hati. Ia melihat air mata mulai menggenang di pelupuk mata Seraphina—gadis yang tulus, gadis yang tidak bersalah, gadis yang menjadi korban dari skenario "balas budi" Leah. Denzel merasakan rasa bersalah yang luar biasa. Ia ingin jujur, ia ingin berteriak bahwa ia sedang hancur, namun ia teringat janjinya pada Leah. Ia teringat janjinya untuk menjaga Leah dari kecurigaan Jeff.

Denzel mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Seraphina di atas meja. Tangannya dingin, sekaku es.

"Sera, maafkan aku jika aku membuatmu merasa begitu," ucap Denzel, suaranya melembut, menggunakan teknik manipulasi emosi yang ia pelajari untuk menenangkan klien yang sedang panik. "Banyak hal yang terjadi di internal keluarga Ramiro yang tidak bisa kuceritakan padamu. Itu menyita pikiranku lebih dari yang kubayangkan. Tapi percayalah, aku menghargai setiap detik yang kuhabiskan bersamamu."

Menghargai, batin Seraphina. Bukan mencintai.

"Kau menghargaiku seperti kau menghargai jam tangan mahalamu atau mobil yang kau kendarai, Denzel?" tanya Seraphina pahit. Ia menarik tangannya dari genggaman Denzel. "Aku ingin dicintai, bukan hanya 'dihargai' sebagai bagian dari jadwal harianmu."

Denzel terdiam. Ia tidak memiliki jawaban untuk itu. Ia tidak bisa memberikan apa yang tidak ia miliki. Seluruh cadangan cintanya telah habis dikonsumsi oleh satu orang, dan sisanya hanyalah debu kewajiban.

"Aku akan mencoba lebih baik lagi, Sera. Aku janji," ucap Denzel akhirnya. Kalimat standar yang digunakan pria untuk mengulur waktu.

Seraphina hanya bisa menghela napas panjang. Ia ingin percaya, ia ingin memeluk Denzel dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, kecurigaan halus itu kini telah berubah menjadi sebuah keyakinan yang menakutkan: ada sebuah tembok besar di dalam hati Denzel yang tidak akan pernah bisa ia tembus. Dan di balik tembok itu, ada nama orang lain yang terukir dengan tinta permanen.

Sepanjang sisa hari itu, Seraphina menjadi lebih pendiam. Ia memperhatikan bagaimana Denzel tetap bersikap sangat manis. Denzel membawakan tasnya, membelikannya minuman favoritnya tanpa diminta, dan membukakan pintu mobil dengan gerakan yang sangat sopan. Namun, setiap gerakan itu kini terasa seperti koreografi tarian yang sudah dihapal di luar kepala. Tidak ada improvisasi emosi. Tidak ada gairah yang spontan.

Saat Denzel mengantarnya pulang sore itu, Seraphina sengaja tidak segera turun dari mobil. Ia menatap profil samping wajah Denzel yang diterangi cahaya lampu jalanan yang remang.

"Denzel?"

"Ya, Sera?"

"Apa kau pernah merasa ingin lari dari segalanya? Dari tugasmu, dari keluarga Ramiro, dari... semua ini?"

Denzel menoleh, dan untuk sesaat, matanya tidak lagi kosong. Ada secercah kepedihan yang sangat nyata di sana. "Tugas adalah identitasku, Sera. Tanpa itu, aku tidak tahu siapa diriku."

"Mungkin kau hanya takut untuk mencari tahu," bisik Seraphina sebelum akhirnya turun dari mobil.

Denzel menatap punggung Seraphina yang masuk ke dalam rumah. Ia menyadari bahwa Seraphina mulai melihat retakan pada topengnya. Kecurigaan gadis itu adalah ancaman bagi sandiwara yang ia bangun. Jika Seraphina menyerah dan memutuskan hubungan ini, maka seluruh pengorbanan Leah akan sia-sia. Jeff akan kembali mencurigainya, dan Leah akan kembali dalam bahaya.

Ia harus lebih berhati-hati. Ia harus lebih "sempurna" lagi.

Namun, saat ia mulai memacu mobilnya kembali ke rumah, matanya secara tidak sengaja melirik ke kursi penumpang tempat Seraphina duduk tadi. Di sana, tertinggal sebuah jepit rambut kecil milik Seraphina. Denzel mengambilnya, namun bukannya memikirkan Seraphina, pikirannya justru melayang pada bagaimana Leah pernah meninggalkan ikat rambutnya di laci dasbor mobil ini setahun yang lalu.

Denzel memejamkan mata sejenak di lampu merah. Ia merasa jiwanya benar-benar jauh, seperti yang dikatakan Seraphina. Ia berada di sebuah tempat yang gelap, sendirian, menjaga sebuah rahasia yang pelan-pelan membunuhnya dari dalam.

Kecurigaan halus Seraphina adalah awal dari akhir. Denzel tahu itu. Namun, ia akan terus berjalan di atas tali tipis ini, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, sampai kaki-kakinya tidak lagi mampu menahan beban kebohongan yang ia pikul demi keselamatan gadis yang takkan pernah bisa ia miliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!