NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:348
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Masuk

Ruangan itu sunyi, tapi bukan kosong.

Ada sesuatu yang bergerak—bukan secara fisik, melainkan dalam bentuk kesadaran. Seolah-olah setiap kata yang diucapkan di dalamnya tidak hanya didengar… tetapi dicatat, dianalisis, dan ditempatkan ke dalam pola yang lebih besar.

Raka berdiri tanpa bergeser.

Larasati berdiri di depannya, tenang seperti seseorang yang tidak pernah merasa perlu terburu-buru.

Dan di antara mereka—

bukan hanya percakapan.

Melainkan seleksi.

“Kamu tidak terlihat seperti orang yang ingin kalah,” kata Larasati, memecah keheningan.

Raka tersenyum tipis. “Aku tidak pernah bilang aku ingin kalah.”

“Lalu kenapa kamu datang ke sini?” tanyanya. “Tanpa tim. Tanpa perlindungan. Tanpa rencana yang bisa disebut masuk akal.”

Raka tidak langsung menjawab.

Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama—

ia tidak sepenuhnya yakin jawabannya berbentuk logika.

“Aku ingin keluar dari pola,” ucapnya akhirnya.

Larasati memiringkan kepala sedikit.

“Dan kamu pikir ini caranya?”

“Kalau aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan,” lanjut Raka, “aku hanya akan jadi satu lagi variabel yang bisa diprediksi.”

Sunyi.

Larasati menatapnya lama.

Lalu tersenyum.

“Menarik.”

Ia berjalan perlahan mengelilingi Raka. Tidak mendekat, tidak menjauh. Hanya… mengamati.

“Sebagian besar orang berpikir cara melawan sistem adalah dengan memahami sistem itu,” katanya. “Padahal… cara paling efektif adalah dengan merusak asumsi yang membuat sistem itu bekerja.”

Raka menoleh sedikit, mengikuti gerakannya dengan sudut mata.

“Dan asumsi terbesar dalam sistem Eldric?”

Larasati berhenti.

Tepat di belakangnya.

Bahunya hampir sejajar dengan Raka.

Bahasa tubuh yang tidak mengancam.

Namun jelas bukan kebetulan.

“Bahwa semua orang ingin menang,” bisiknya pelan.

Kalimat itu tidak terdengar dramatis.

Namun efeknya… seperti retakan halus yang menjalar.

Raka memejamkan mata sejenak.

Lalu membuka lagi.

Lebih tajam.

“Kalau aku tidak ingin menang…” katanya pelan, “maka aku tidak akan bergerak seperti yang dia perkirakan.”

“Tidak sepenuhnya,” koreksi Larasati.

Ia kembali ke depan Raka.

Menatapnya lurus.

“Dia masih akan mencoba memahami alasan di balik keputusanmu.”

“Dan kalau tidak ada alasan?”

Larasati tersenyum tipis.

“Setiap manusia punya alasan.”

Raka diam.

Namun kali ini—

ia tidak mencoba menyangkal.

Karena ia tahu itu benar.

“Jadi,” lanjut Larasati, “pertanyaannya bukan apakah kamu bisa keluar dari pola.”

“Tapi?”

“Apakah kamu bisa menjadi sesuatu yang bahkan kamu sendiri tidak bisa pahami.”

Sunyi kembali turun.

Namun bukan sunyi yang ragu.

Lebih seperti… ruang kosong sebelum sesuatu terbentuk.

Di sisi lain kota—

Dian berjalan mondar-mandir di kamar hotel.

Ponselnya masih di tangan.

Pesan terakhir dari Raka belum berubah.

Tidak ada update.

Tidak ada lokasi.

Tidak ada apa-apa.

“Ini bukan gaya dia,” gumamnya.

Arka duduk di kursi, tenang—terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

“Justru ini gaya dia,” katanya.

Dian berhenti.

Menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Arka menyandarkan tubuhnya.

“Raka selalu berpikir beberapa langkah ke depan. Tapi kali ini…”

Ia menatap Dian.

“Dia berhenti bermain catur.”

“Lalu?”

“Dia membalik papan.”

Dian menghembuskan napas panjang.

Tidak nyaman.

Tapi masuk akal.

“Kita harus cari dia,” katanya.

“Kalau kita cari, kita hanya akan masuk ke pola yang sama,” jawab Arka.

“Dan kalau kita diam?”

Arka tersenyum tipis.

“Dia yang akan membawa permainan ke kita.”

Kembali ke ruangan Larasati.

Raka berjalan ke jendela.

Menatap Zurich dari atas.

Kota itu tetap terlihat damai.

Padahal di baliknya—

ada jaringan keputusan yang bisa mengubah hidup ribuan orang tanpa mereka sadari.

“Kalau aku setuju,” kata Raka pelan, “apa yang terjadi selanjutnya?”

Larasati tidak langsung menjawab.

Ia mengambil tablet dari meja.

Menekan beberapa hal.

Lalu memutar layar ke arah Raka.

Satu tampilan sederhana.

Tanpa logo.

Tanpa identitas.

Hanya satu kalimat:

ACCESS REQUIRES COMMITMENT

Raka menyipitkan mata.

“Komitmen apa?”

Larasati menatapnya.

“Masuk.”

“Masuk ke apa?”

Ia tersenyum tipis.

“Ke dalam sistem.”

Raka tidak langsung bergerak.

Namun matanya tidak lepas dari layar.

“Dan kalau aku menolak?”

Larasati mengangkat bahu ringan.

“Kamu akan keluar dari ruangan ini… kembali ke timmu… mengirim data ke Interpol… dan melakukan semua hal ‘benar’ yang seharusnya kamu lakukan.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu menambahkan:

“Dan dalam waktu kurang dari dua minggu… semuanya akan kembali seperti semula.”

Sunyi.

“Larasati tetap bebas. Sistem tetap berjalan. Dan kamu—”

ia menatap Raka tajam,

“—hanya akan menjadi satu lagi orang yang hampir berhasil.”

Raka menghela napas pelan.

Ia tahu ini bukan ancaman kosong.

Ini pernyataan.

“Kalau aku masuk?” tanyanya.

Larasati tidak tersenyum kali ini.

“Kalau kamu masuk…”

ia mendekat sedikit,

“…kamu tidak akan bisa kembali menjadi orang yang sama.”

Raka menatap layar itu sekali lagi.

Lalu menutup matanya sejenak.

Semua yang ia percaya.

Semua yang ia bangun.

Semua garis yang selama ini ia jaga.

Di satu sisi—

ada jalan yang benar.

Aman.

Masuk akal.

Di sisi lain—

ada sesuatu yang tidak pasti.

Tidak logis.

Namun mungkin…

satu-satunya jalan untuk benar-benar menghentikan semuanya.

Raka membuka mata.

Menatap Larasati.

Lalu—

tanpa ragu—

ia melangkah maju.

Tangannya terangkat.

Mendekati layar.

Di detik itu—

di tempat lain—

layar-layar menyala lebih terang.

Sistem mendeteksi sesuatu yang baru.

Bukan ancaman.

Bukan kesalahan.

Tapi sesuatu yang lebih langka.

Anomali yang sadar dirinya anomali.

Jari Raka hampir menyentuh layar.

Dan tepat sebelum itu—

Larasati berkata pelan:

“Selamat datang… di titik di mana semua pilihan mulai kehilangan arti.”

Sentuhan itu terjadi.

Dan di saat itu—

sesuatu berubah.

Bukan di ruangan itu.

Bukan di Zurich.

Tapi di dalam sistem yang selama ini berjalan tanpa gangguan.

Untuk pertama kalinya—

seseorang tidak hanya masuk.

Tapi masuk…

dengan kesadaran penuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!