NovelToon NovelToon
Gadis Milik Tuan Dingin

Gadis Milik Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.

Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 3

Mobil hitam itu melaju cepat, membelah malam yang dingin.

Di dalamnya, suasana mencekam.

Liora terduduk di sudut kursi, napasnya masih berantakan. Tangannya gemetar, tapi matanya… penuh perlawanan.

Di sampingnya, Saga duduk tenang.

Terlalu tenang.

Seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah hal biasa baginya.

“Aku bilang turunin aku!” bentak Liora tiba-tiba, mendorong pintu mobil.

Terkunci.

“Tolong dengerin aku! Aku gak mau ikut kamu!” suaranya mulai pecah, tapi tetap keras.

Tidak ada jawaban. Saga bahkan tidak menoleh. Ia masih diam fokus ke depan.

Liora semakin emosi.

“HEI! KAMU DENGER AKU GAK SIH?!”

BRAK!

Ia memukul kursi di depannya.

Seketika mobil berhenti mendadak.

CIIIT!

Tubuh Liora terdorong ke depan, hampir kehilangan keseimbangan.

Jantungnya berdegup kencang. Perlahan… Saga menoleh.

Tatapan itu.

Dingin.

Kosong.

Tapi menekan.

“Sudah selesai?” tanyanya pelan.

Nada suaranya rendah… tapi justru membuat bulu kuduk merinding.

Liora terdiam sesaat.

Namun ia tidak menyerah.

“Aku bukan barang! Kamu gak bisa seenaknya bawa aku!” balasnya nekat.

Hening.

Beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Kemudian…

Saga tersenyum tipis.

Bukan senyum biasa. Lebih seperti peringatan.

“Supir,” ucapnya tanpa memutus tatapan dari Liora, “jalan.”

Mobil kembali melaju.

Dan kali ini… Liora memilih diam. Bukan karena menyerah. Tapi karena… ia mulai sadar.

Pria di hadapannya bukan orang yang bisa dilawan dengan cara biasa.

***

Gerbang besar terbuka perlahan.

Mansion itu berdiri megah, seperti istana di tengah gelapnya malam. Lampu-lampu menyala terang, memperlihatkan kemewahan yang terasa… dingin.

Mobil berhenti. Pintu dibuka.

“Keluar.”

Suara Saga datar.

Liora masih tidak bergerak.

Ia menatap ke luar, lalu kembali menatap Saga.

“Aku gak mau.”

Satu kalimat. Tapi penuh keberanian.

Dan itu kesalahan. Dalam sekejap, Saga meraih pergelangan tangan Liora.

“KAMU—” teriak Liora, tapi terpotong.

“Jangan uji kesabaranku,” ucap Saga rendah.

Cengkeramannya kuat. Sangat Menyakitkan.

Liora mencoba melepaskan diri, menendang, bahkan memukul dada pria itu.

“Lepasin aku! Gila kamu! Aku benci kamu!”

Namun semua itu… tidak berarti apa-apa. Saga tetap menariknya keluar dari mobil.

Langkahnya panjang, cepat, menyeret Liora masuk ke dalam mansion.

Pintu besar tertutup.

BRAK!

Suara itu menggema.

Liora terengah, rambutnya berantakan, matanya penuh air mata dan amarah.

“Aku bukan tawanan kamu!” teriaknya.

Saga berhenti. Perlahan berbalik.

Dan untuk pertama kalinya…

emosinya terlihat.

Bukan marah besar. Tapi sesuatu yang lebih berbahaya.

“Mulai sekarang,” ucapnya pelan, “kamu tinggal di sini.”

Liora menggeleng keras.

“Enggak! Aku mau pulang!”

Ia berlari ke arah pintu. Namun sebelum sempat menyentuh gagang…

tubuhnya ditarik kembali dengan kasar.

“CUKUP!” bentak Saga.

Suara itu menggema di seluruh ruangan.

Liora membeku.

Tangannya kembali dicengkeram, kali ini lebih keras.

“Aku sudah cukup sabar dari tadi,” lanjut Saga dingin. “Jangan paksa aku bersikap lebih buruk.”

Deg.

Liora terdiam.

Namun air matanya terus jatuh.

Ia masih melawan… meski tubuhnya gemetar.

Saga menatapnya sejenak.

Lalu tanpa peringatan—

Ia mengangkat tubuh Liora.

“APA—TURUNIN AKU!” Liora panik, memukul bahu Saga.

Namun pria itu tidak peduli.

Ia membawa Liora menaiki tangga besar, langkahnya mantap, seolah membawa sesuatu yang memang sudah menjadi miliknya.

Pintu sebuah kamar dibuka.

Dan—

BUK!

Liora dijatuhkan ke dalam ruangan. Ia meringis, tubuhnya terasa sakit.

Belum sempat bangkit—

BRAK!

Pintu tertutup keras.

Dari luar.

Terkunci.

“BUKA! HEI! BUKA!” Liora langsung berlari ke pintu, memukulnya berulang kali.

Tidak ada jawaban.

“Brengsek! Aku benci kamu! Denger. AKU BENCI KAMU!”

Sunyi.

Tidak ada suara langkah. Tidak ada tanda-tanda seseorang di luar.

Liora berhenti.

Tangannya perlahan jatuh.

Napasnya berat. Matanya menyapu kamar itu.

Mewah.

Besar.

Indah.

Tapi…

terasa seperti penjara. Ia terduduk di lantai, punggungnya bersandar di pintu.

Air mata jatuh tanpa suara.

“Kenapa… harus aku…” bisiknya lirih.

Di luar sana, Saga berdiri sejenak di depan pintu.

Wajahnya kembali datar.

Tanpa ekspresi.

“Jaga dia,” perintahnya singkat pada anak buahnya.

Lalu ia pergi.

Meninggalkan Liora…

di dalam sangkar emasnya.

***

Kamar itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Liora duduk di sudut ranjang, lututnya dipeluk, matanya kosong menatap lantai. Namun perlahan… sorot itu berubah.

Bukan lagi takut.

Tapi tekad.

“Aku gak akan nyerah…” bisiknya pelan.

Tatapannya mengarah ke pintu.

Terkunci.

Dijaga.

Dan di situlah… ide itu muncul.

Tok.

Tok.

Tok.

“Maaf…” suara Liora dibuat selembut mungkin. “Aku… lapar. Bisa minta makan?”

Di luar, terdengar suara langkah mendekat.

Kunci berputar.

Klik.

Pintu terbuka sedikit.

Seorang penjaga berdiri di sana, menatap Liora dengan curiga.

“Makanan nanti diantar—”

Belum sempat kalimatnya selesai—

PRANG!

Liora mengayunkan vas bunga yang sudah ia siapkan.

Tepat mengenai kepala penjaga itu. Tubuh pria itu langsung ambruk.

Pingsan.

Napas Liora memburu.

Tangannya gemetar hebat.

“Maafkan A-aku… aku harus pergi…”

Ia melangkah keluar, jantungnya berdegup kencang.

Ini pertama kalinya ia melakukan hal seperti itu. Namun sekarang … ia tidak punya pilihan. ia terpaksa.

Lorong mansion itu panjang.

Sepi.

Dingin.

Langkah Liora pelan, hampir tanpa suara. Ia mengendap, bersembunyi setiap kali mendengar langkah dari kejauhan.

Matanya bergerak cepat, mencari jalan keluar.

“Di mana… pintunya…”

Akhirnya—

ia melihatnya. Gerbang depan.

Hampir saja ia berlari, tapi langsung menahan diri.

Dua penjaga berdiri di sana.

Liora menelan ludah. Ia harus mencari cara lagi.

Ia cepat berpikir.

Lalu…

ia merapikan rambutnya, menunduk, dan berjalan mendekat dengan tenang.

“Eh, mau ke mana?” tanya salah satu penjaga.

Liora menunduk, menghindari tatapan.

“Mau… belanja keperluan dapur, Tuan suruh,” jawabnya pelan.

Penjaga itu saling melirik.

Ragu.

Namun…

mereka memang tidak melihat Saga membawa Liora sebelumnya.

“Cepat balik,” ujar salah satu dari mereka. liora mengangguk cepat.

Gerbang dibuka.

Perlahan.

Dan saat itulah—

Liora langsung berjalan keluar.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu—

lari.

***

“TUAN!”

Seorang penjaga berlari tergesa masuk ke ruang kerja saga.

“Gadis itu—kabur!”

Tangan Saga terhenti. Tatapannya langsung berubah.

Gelap.

“Bagaimana bisa?”

“Salah satu penjaga pingsan… kamarnya kosong!”

Sunyi sesaat.

Lalu…

Saga tersenyum.

Tapi kali ini—

benar-benar menyeramkan.

“Siapkan mobil.”

Suaranya rendah.

Dingin.

“Jangan sampai dia lolos lagi.”

***

Sementara. Liora berlari sekuat tenaga.

Kakinya sudah lelah, napasnya hampir habis, tapi ia terus memaksa. Ia sudah setengah jalan.

“Aku harus… pergi…”

Namun suara mobil mulai terdengar.

Dekat dira. Terlalu dekat.

Ia menoleh ke belakang.

Dan benar saja—

mobil hitam itu.

Mengejarnya. “Tidak… tidak…”

Air matanya jatuh lagi.

Ia mempercepat langkah, berbelok ke jalan kecil, mencoba menghindar.

Namun—

BRAK!

Sebuah mobil memotong jalannya. Liora berhenti mendadak.

Pintu terbuka.

Dan Saga keluar. Langkahnya pelan.

Pasti.

Seperti predator yang sudah menangkap mangsanya.

“Dua kali,” ucapnya dingin. “Kamu mencoba kabur dua kali.”

Liora mundur.

Tubuhnya gemetar. “Jangan… jangan dekati aku…”

Namun Saga tetap maju.

“Sepertinya aku terlalu baik sebelumnya.”

Deg.

Liora menggeleng. " AKU TIDAK MAU!"

Air matanya tak berhenti.

“Pulang… sekarang,” lanjut Saga.

Liora menatapnya dengan putus asa.

“Lebih baik aku mati daripada nikah sama kamu!” Teriak liora tepat depan saga.

Hening.

Semua orang terdiam.

Dan itu…

kesalahan terbesar.

Dalam sekejap, Saga menarik lengan Liora dengan kasar.

“Mulai hari ini,” ucapnya dingin menusuk, “kamu tidak punya hak memilih.”

Ia menyeret Liora masuk ke mobil.

Liora terus memberontak " NOoo... Aku tidak mau!"

“Bawa ke gereja.”

Perintah itu membuat semua orang terdiam sesaat.

“Sekarang.”

.

.

.

.

.

.

Bersambung..................

1
park jongseong
cerita yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!