Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buang Saja
Siang terasa begitu terik. Di salah satu sudut kandang, Rayna tampak berjongkok, jemarinya dengan lincah mengumpulkan telur-telur ayam ke dalam keranjang. Sejak datang ke sini, ia mulai ceria kembali sebab teringat dulu ia pernah bercita-cita menjadi juragan di peternakan Ayam.
Di sampingnya, Chira sibuk membantu... meski lebih banyak bicara daripada bekerja.
“Onty, ini telulnya bulat semua ya?” tanyanya menimang satu telur dengan sangat hati-hati.
“Memangnya kamu mau bentuk apa? Persegi panjang?”
“Hehe… siapa tahu ada yang belkotak, kan lucu!” balas Chira polos. Rayna hanya menggelengkan kepala akan pikiran ajaib Chira.
Namun, di lantai atas, suasana jauh berbeda. Rayden berdiri di dekat jendela. Ponsel menempel di telinga. Tatapannya sedingin es, penuh kendali.
“Pastikan kalian tidak kehilangan dia,” ucapnya datar. “Awasi terus apartemen itu. Jangan bergerak sebelum aku datang. Aku akan segera memberinya hukuman!”
Panggilan pun terputus. Austin si pengkhianat itu kini berada dalam jangkauan radar Black Lotus. Rayden meraih jaketnya, bersiap untuk mode eksekusi. Akan tetapi, baru saja ia membuka pintu kamar, sesosok mungil sudah berdiri di sana dengan wajah cerah.
“OM BESAAAL!”
Rayden tersentak, alisnya berkerut. “Apa lagi, Bocah?”
“Temenin Chila betelnak!” Chira langsung menarik tangan Rayden tanpa izin.
“Tunggu. Kamu serius mengajakku ke kandang itu?” tanya Rayden berhenti sambil menatapnya horor.
“Iyaaa! Selu lho!” jawab Chira antusias.
“Tidak.” Jawaban singkat, padat, dan final.
Chira mengerucutkan bibirnya. “Kenapa?”
“Itu kotor, Chira. Banyak bakteri,” dengus Rayden mengelap tangannya dengan tisu antiseptiknya.
Chira diam sejenak, melirik Rayden dari ujung rambut sampai ujung sepatu mahalnya. “Om besal takut kotol ya?”
Alis Rayden terangkat. “Takut? Aku tidak takut pada apa pun di dunia ini.”
“Bohong! Kalau ndak takut, ayo!” tantang Chira, kembali menarik tangan sang mafia.
“Lepas, Chira. Aku ada urusan penting.”
“Onty juga ada di sana lho, kasihan sendilian....”
Rayden menoleh ke arah jendela, melihat adiknya di kejauhan sana. Rahangnya mengeras lalu melunak. Rencana menyiksa Austin terpaksa tertunda.
“…Lima menit saja,” gumam Rayden pasrah.
“YEEAAAY! Bisa bantu ayamnya melahilkan!” pekik Chira kegirangan.
Rayden melotot. “Melahirkan? Ayam itu bertelur, Chira. Dan kalau bajuku rusak, kamu yang tanggung jawab.”
“Iya! Nanti Chila lempal ke sungai telus beli yang balu lagi,” jawab Chira enteng.
Rayden nyaris terjatuh. “Pakaian ini harganya ratusan juta. Kamu pikir cari uang itu gampang? Dasar bocah mercon, mulutmu benar-benar anti-filter! Mirip siapa ya?”
“Kenapa halus malah-malah? Kan tinggal Chila jaga lilin, telus Om besal yang cali uangnya. Nanti malam kita belaksi!” balas Chira santai.
“Hah? Kamu suruh aku ngepet?! Sini kamu!” Rayden mulai naik pitam namun Chira sudah melesat kabur sambil tertawa.
Lima menit kemudian, calon penguasa Black Lotus itu kini berdiri di depan kandang dengan ekspresi seolah sedang menghadapi pasukan musuh.
“Abang? Kenapa di sini?” tanya Rayna menahan tawa.
“Tuh, si bocah mercon ini yang memaksa,” gerutu Rayden pusing. “Aku lebih suka menghadapi musuh daripada kalian.”
“Om besal lucu deh! Gitu saja sudah malah-malah. Nanti cepat keliput itu mukanya, ndak ganteng lagi,” ledek Chira.
“Lucu? Kamu pikir aku badut sirkus? Mau aku culik kamu ke Meksiko?” ancam Rayden sambil melotot.
“Hi, telnyata selem juga ya. Pantas ndak punya pacal,” sindir Chira, bersembunyi di balik badan Rayna.
“Gimana mau punya pacar, Chira? Dipegang sedikit saja dia langsung meriang lho,” seru Rayna membuat wajah Rayden memerah padam.
“Kalian ini—” Rayden mendesis, lalu dengan gerakan cepat ia meraih selang air di dekatnya. “Rasakan!”
BYUURRR! Rayden menyiram mereka tanpa ampun.
“Hiak! Ampun, Bang! Ampun!” teriak Rayna dan Chira sambil lari tunggang-langgang. Rayden tertawa puas, akhirnya bisa membalas dua pengganggu ini. Namun, kegembiraannya hanya bertahan lima detik.
PLUK!
Sesuatu yang hangat dan cair jatuh tepat di atas topinya. Rayden membeku. Ia meraba kepalanya, melihat cairan berwarna cokelat di jemarinya, lalu mendekatkannya ke hidung.
“Hueeekk! Apa-apaan ini?! Kotoran?! Dari mana?!” Ia menengadah melihat seekor ayam jantan bertengger di balok tepat di atasnya, siap untuk balasan kedua.
BRUK! BRAK!
Kandang itu seketika ricuh. Rayden mengamuk, mencoba menangkap ayam itu dengan jaket mahalnya sebagai jaring. “Ayam setan! Kamu tahu aku ini siapa? Aku ini calon Bos Black Lotus yang terhormat! Aku jadikan sate kamu!"
“Alamak! Abang berhenti! Kandangnya bisa hancur!” teriak Rayna berusaha melerai duel maut antara mafia dan unggas tersebut.
Chira segera melesat ke dalam rumah. “Omaaaaaa!”
“Ada apa?” tanya Elson yang sedang bersantai.
“Cucu besal Oma belanteeem!”
“Berantem? Sama siapa? Anak-anak kampung sini?” tanya Ivana yang datang membawa kopi hangat.
Elson menyesap kopinya, berpikir Rayden lagi pamer unjuk kekuatan bela diri. Namun detik berikutnya, kopi itu menyembur hebat dari mulutnya saat mendengar jawaban Chira.
“Ayam!”
Tawa Ivana pecah. Sementara Elson, pria tua itu memijat pangkal hidungnya. Kehadiran cucunya membuatnya tak bisa tenang lagi. Merasa musuh terbesarnya kini adalah cucunya sendiri.
Beberapa saat kemudian, rumah itu kembali tenang karena Rayden telah menuju ke tempat Austin. Rayden sudah bertekad akan pulang setelah Austin dihukum. Rayna sendiri sedang tertunduk lesu di kursi goyang Neneknya sambil memandangi cincin di jari manisnya yang disematkan Deva.
“Napa dilihatin telus? Balang palsu ya? Tinggal jual saja di pasal,” celetuk Chira berdiri di sampingnya.
Rayna menggeleng. “Aku merasa tidak pantas memakainya. Cincin ini harus dikembalikan.”
“Belalti ndak tinggal lagi di lumah Om Galak?”
“Iya.”
“Kalo gitu, halus pisah dali Om Galak?”
“Iya,” jawab Rayna tertunduk.
“Ndak sayang Om Galak lagi nih?”
Rayna tersentak lalu menunduk, murung.
“Ucup ucup, jangan sedih, nanti Chila cali duda kelen deh. Banyak teman Papi lho. Om galak buang saja.”
“Ehh, masih kecil sudah pintar godain orang!” gemas Rayna teringat pada dirinya dulu.
“Siapa suluh jadi cantik. Chila kan jadi ili,” canda Chira membuat Rayna tersipu malu lalu menyenggol lengan Chira hingga tanpa sadar bocah cadel itu terpental ke samping hingga jatuh terduduk di lantai.
“Aduh Chira, kamu nggak apa-apa kan?” Rayna buru-buru membantunya.
“Ndak apa-apa gimana? Ini pantat Chila encok.”
“Pfft… maaf.”
Chira hanya mencebik, lalu bangkit cepat mendengar klakson mobil di luar.
“Itu pasti Mami!”
“Ayo ke depan!” Chira menarik tangan Rayna menuju ke teras. Namun begitu mereka keluar, Rayna terpaku di tempat tepat saat pemilik mobil itu menampakkan diri. Hati kecil Rayna bergemuruh menatap sepasang mata yang kini menatapnya penuh penyesalan.
"Rayna, siapa itu?" sahut Elson dari dalam rumah.
_______
Bersambung…………..
Mohon dukungannya, like, komen dan vote. Terima kasih
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗