ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3--Ujian pertama Si Hacker Jenius
Maya menatap secarik kertas di tangannya dengan jemari yang gemetar. Tulisan tangan di sana tegas, mencerminkan pemiliknya.
Rahmat Pratama
Nomor Telepon: 08xx-xxxx-xxxx
Kalimat pemuda itu terus terngiang di kepalanya, berputar-putar seperti looping kode yang tak kunjung berhenti.
“Aku butuh kamu.”
“Maukah kamu bekerja denganku?”
Ini adalah kali pertama dalam hidupnya seseorang mengakui kemampuannya secara terang-terangan. Bukan sebagai "tukang servis komputer gratisan" di sekolah, bukan sebagai "si kutu buku yang aneh", tapi sebagai seorang profesional yang dibutuhkan. Bagi Maya—gadis yang hampir tidak pernah dianggap dan selalu bertarung dengan kecemasan sosialnya—kalimat sederhana itu adalah validasi yang selama ini ia cari di balik ribuan baris kode gelap.
Maya meremas kertas itu pelan, menaruhnya tepat di depan dadanya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa bangga yang meledak-ledak.
“Dia... benar-benar melihatku,” bisik Maya pada keheningan lab komputer.
Setelah mengalami semua ini, mana mungkin dia tidak bersedia untuk paling tidak melihat-lihat.
Sore harinya, tepat di depan gerbang sekolah yang mulai sepi, sebuah raungan mesin motor besar menggetarkan udara. Ducati V2 hitam itu terparkir gagah, memicu perhatian beberapa siswa yang masih tersisa.
Rahmat duduk di atas motornya, helm full-face masih terpasang.
Begitu melihat sosok kecil dengan tas ransel berat keluar dari gerbang, ia membuka kacanya. Ia tersenyum simpul, lebih cepat daripada yang dia pikirkan.
"Sudah memutuskan?" tanya Rahmat singkat.
Maya berhenti dua langkah di depan motor Rahmat. Ia sempat menunduk sebentar, meremas tali tasnya, lalu menarik napas panjang. Ia mendongak, menatap mata Rahmat dengan keberanian yang baru saja tumbuh.
"Aku... aku tidak tahu cara menghadapi orang banyak, Kak. Tapi kalau soal menjaga keamanan sistem dari serangan siapapun... aku bisa melakukannya lebih baik dari siapapun di kota ini."
Rahmat tersenyum tipis. Jawaban yang sangat percaya diri dari seorang gadis yang tadinya bahkan takut menatap wajahnya.
"Bagus. Itu saja yang kubutuh. Jadi kamu bersedia bekerja denganku sekarang?"
Maya masih sedikit ragu, ia menundukkan kepala. “A-aku masih belum tahu juga … tapi biarkan aku melihat-lihat, apa saja yang bisa kulakukan!”
“Itu saja sudah cukup. Naiklah!” Rahmat menyerahkan sebuah helm hitam cadangan.
Maya ragu sejenak, lalu naik ke boncengan motor besar itu. Saat mesin menderu dan mereka melesat meninggalkan sekolah, Maya merasa hidupnya yang membosankan baru saja berubah menjadi sebuah misi tingkat tinggi.
Namun hal yang mereka tidak sadari adalah bahwa kejadian boncengan itu dilihat oleh beberapa orang, dan mengundang kontroversi terutama untuk anak-anak kelas 10.
“Lihat yang barusan bukankah itu kak Rahmat yang terkenal itu?”
“Iya-iya. Gila dia lebih ganteng daripada rumor!”
Seorang gadis yang juga berasal dari kelas 10, berisi perkumpulan tiga orang tampak memasang wajah tak sedap dipandang.
“Apa-apaan barusan!”
Siska mendecih, meludah tipis ke samping. Alasan kenapa Maya menjadi kurang percaya diri bukan tanpa alasan ? Siska dan tiga orang ini juga penyebabnya.
Akibat sikap Maya yang mereka anggap culun, mereka sering melakukan pembullyan terhadap maya, terutama setelah mendengar anak sok rajin mereka sekarang menjabat menjadi kandidat osis, itu buat mereka murka dan makin membully parah.
Melihat kejadian ini bagaikan memberi bensin ke bara api, mereka makin meluap-luap.
“Bukankah itu si ‘Gadis culun’?” suara salah satu dari mereka, seorang gadis dengan rambut yang dicat ombre coklat, terdengar melengking penuh ketidaksenangan.
“Gila! Kenapa Kak Rahmat mau membonceng sampah seperti dia? Apa dia pakai pelet?” timpal yang lainnya sambil melipat tangan di dada.
Gadis yang berada di tengah, yang tampak seperti pemimpin kelompok itu—Siska—meremas tali tas bermereknya hingga kukunya memutih. Matanya menatap tajam ke arah sisa kepulan asap dari knalpot Ducati Rahmat yang mulai menjauh di belokan jalan.
“Aku sudah mengincar Kak Rahmat sejak dulu,” desis Siska dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kebencian. “Dan sekarang, si kutu buku antisosial itu berani-beraninya naik ke motornya? Ini benar-benar penghinaan!”
“Mungkin dia cuma membantunya memperbaiki laptop, Sis?” hibur temannya ragu.
“Memperbaiki laptop tidak perlu sampai dibonceng mesra begitu! Lihat wajah si Maya tadi, dia bahkan berani menatap mata Kak Rahmat! Menjijikan banget, najis!” Siska mendecih pelan.
“Sialan! Kutu buku itu … dia pikir dia siapa!?”
“Tenang, sis. Besok kita kasih dia pelajaran seperti biasanya,” tawa salah satu temannya licik.
Siska tersenyum penuh amarah. Itu benar, dia hanya perlu menghancurkan apapun yang dia tidak sukai!
“Kamu benar. Mari buat dia tidak bisa memasang wajah sombong itu kalau bisa buat dia gagal sekalian jadi kandidat ketua osis!”
Sementara itu, di atas motor yang melaju kencang, Maya mencengkeram erat jaket kulit Rahmat. Angin sore menerpa wajahnya di balik helm, membawa sensasi kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, di dalam kepalanya, ia masih terus memutar ulang kata-kata Rahmat.
Ia merasa seolah sedang memasuki sebuah gerbang menuju dunia yang berbeda. Dunia di mana ia tidak lagi dinilai dari kemampuannya berbicara, tapi dari kecepatannya dalam barisan logika.
Setelah perjalanan sekitar dua puluh menit, motor Rahmat melambat dan berbelok ke sebuah kawasan ruko kelas atas yang terlihat sangat modern. Ruko itu berdiri megah dengan papan nama yang bersinar elegan: GALERIA SPESIAL RAHMAT.
Begitu motor berhenti, Rahmat mematikan mesin. Suasana di sekitar Galeria terasa agak tegang. Beberapa garis polisi kecil masih terpasang di area utilitas samping tempat Rahmat memutus kabel semalam.
Rahmat turun dari motor, membuka helmnya, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menatap Maya yang masih terpaku di atas boncengan.
"Selamat datang di bentengku yang hampir hancur, Maya," ucap Rahmat sambil memberikan isyarat agar Maya turun.
Maya turun dengan kaku, matanya menyapu seluruh bangunan itu. Kemampuan analisis alaminya langsung bekerja, kemampuan IT dan hacking yang sudah diasah lebih dari bertahun-tahun. Ia melihat posisi CCTV yang rusak, jalur kabel yang berantakan, dan beberapa titik buta yang seharusnya tidak ada.
"in... ini..." Maya menggantungkan kalimatnya.
"Kenapa?"
Maya berjalan mendekati panel utilitas yang kemarin dihancurkan Rahmat. Ia berjongkok, mengamati kabel fiber optik yang terputus dengan mata yang menyipit tajam.
"Cara Kamu memutus kabel ini... benar-benar kasar. Kamu pasti asal memutusnya! Kamu beruntung tidak membakar seluruh motherboard server pusat."
Rahmat terkekeh pelan. Luar biasa sesuai harapan dari orang yang dipilih oleh Anisa. Dia bisa menganalisis semua dalam sekali lihat.
"Aku dalam keadaan darurat, Maya. Pilihannya hanya cabut paksa atau kehilangan semuanya."
Maya bangkit berdiri, ia menatap gedung itu dengan pandangan yang berbeda. Rasa takutnya hilang, digantikan oleh gairah seorang ahli yang melihat sebuah mahakarya yang sedang terluka. "Boleh aku masuk ke ruang server pusatnya sekarang?"
"Tentu. Ikuti aku."
Rahmat membawa Maya masuk. Di dalam, ruko itu sangat luas dan penuh dengan barang-barang antik.
Mereka memasuki lantai dua, menuju sebuah kamar kecil di pojok ruangan. Itu adalah ruang pribadi yang barusan Rahmat buat.
BEEP!
Pintu terbuka, itu adalah sebuah kamar biasa dengan satu meja dan komputer yang terpampang di sana.
“Ini ruang kantor sederhanaku … jadi kamu hendak melihat-lihat sistem keamanan bukan?”
"Berikan aku waktu satu jam,," ucap Maya tanpa menoleh. Tangannya sudah merogoh keyboard komputer tersebut, mata tajam, aura penuh ketidak percayaan diri tiba-tiba berubah, "Aku akan melakukan diagnosis total.”
Bagus, Rahmat akan menilai kemampuan gadis ini. Bukan berarti kemarin malam dia tidak melakukan diagnosis, malah sudah, dia sudah melakukan dan melihat beberapa sumber celah yang terjadi.
Kenapa dia membiarkan Maya melakukan hal yang diulangi lagi? Jawaban sederhana untuk melihat sejauh apa kemampuan gadis itu.
Rahmat bersandar di kusen pintu, menyilangkan tangan di dada. Ia menunggu.
Hanya… memperhatikan.
Gadis yang tadi gemetar di depan gerbang sekolah, yang bahkan kesulitan merangkai kalimat—sekarang duduk di depan komputer dengan aura yang benar-benar berbeda.
Tangannya bergerak cepat di atas keyboard.
Tat. Tat. Tat.
Tidak ada keraguan apapun, penuh kepercayaan diri, jarinya menari begitu cepat.. Maya bahkan tidak menoleh sedikitpun. Fokusnya… absolut.
Layar komputer mulai dipenuhi barisan kode. Jendela-jendela sistem terbuka satu per satu. Diagram jaringan muncul, lalu berpindah ke log aktivitas, lalu ke sistem keamanan.
“…hebat” gumam Rahmat pelan.
Ia juga melakukan hal yang sama kemarin malam, gerakan gadis ini jelas terlatih. Yang berbeda Rahmat membeli skill, Maya hidup dengan kemampuan ini.
Jelas ia asah begitu lama.
30 menit terlewat. Maya berhenti. Tangannya terdiam di atas keyboard.
Lalu perlahan—ia menarik napas panjang. “…selesai,” ucapnya pelan.
Rahmat mengangkat alis. Ini lebih cepat dari yang dibayangkan. “lumayan, apa yang kamu temukan?”
Maya berputar di kursinya. Menatap Rahmat. Tatapan yang tadi ragu… sekarang tajam.
“Ada 12 celah keamanan utama,” ucapnya tanpa basa-basi. “Dan sekitar 27 celah minor.”
Bingo! Dia benar, itu dia temukan juga kemarin malam. Namun rahmat berpura-pura tidak tahu.
“…lanjut.”
Maya mengangkat jari satu.“Pertama. Sistem CCTV kamu bukan cuma rusak secara fisik, tapi juga tidak punya enkripsi jaringan yang layak. Bahkan sebelum kamu putus kabelnya… itu sudah bisa diakses dari luar.”
Ini juga benar!
Jari kedua.
“Kedua. Server pusat kamu tidak punya firewall berlapis. Hanya basic protection. Kalau aku niat jahat… lima menit cukup untuk masuk.”
Jari ketiga. “Ketiga. Tidak ada sistem deteksi intrusi otomatis. Jadi kalau ada yang masuk… kamu bahkan tidak akan tahu sampai semuanya sudah diambil.”
Ia berhenti sejenak.
Menatap Rahmat. “Kesimpulannya…”
“…?”
“Tempat ini indah dari luar. Tapi dari sisi sistem… ini seperti rumah mewah tanpa kunci pintu.”
Sunyi. Rahmat terdiam beberapa detik. Semua analisisnya sama dengan kemampuan yang dia miliki! Tidak diragukan lagi … Maya itu memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Lalu rahmat tersenyum. “Bagus!”
“...eh?”
. “Iya.” Rahmat mendorong tubuhnya dari kusen pintu, melangkah masuk. “Artinya aku tidak salah orang.”
Maya menunduk sedikit. Pipinya memerah tipis. “…itu hal basic,” gumamnya pelan.
Rahmat berhenti di sampingnya. Melirik layar. “Bisa diperbaiki?”
Maya langsung mengangkat kepala. “Bisa.”
“Berapa lama?”
“…kalau total?” ia berpikir sejenak. “Dua hari untuk sistem dasar. Satu minggu untuk optimalisasi penuh.”
Rahmat mengangguk. “Mulai sekarang.”
Maya membeku. “…hah?”
“Kamu kerja di sini.” Rahmat menatapnya lurus. “Gaji menyusul. Fasilitas aku tanggung. Kamu fokus bangun sistem ini.”
Maya menggenggam ujung bajunya. Jantungnya kembali berdegup. Ia diakui! Itu membuat dia begitu senang, namun masih ada keraguan di hati.
“…aku…” suaranya kecil. “ Apa kamu yakin mau bekerja dengan orang sepertiku? Orang membosankan gini?”
Rahmat terkekeh. 'Apaan coba, bukan berarti seperti aku ingin buat team pelawak.”
Maya menarik napas dalam. Tersenyum. “Kalau kamu memaksa …baik … aku mau!”
Rahmat tersenyum tipis. “Selamat datang di tim, Maya.”