NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mesin Kopi

Suasana di dalam ruang kerja William Sinclair yang megah mendadak terasa menyesakkan bagi Alessia. Di atas meja jati yang luas, tumpukan map berisi laporan laba rugi, arus kas, dan proyeksi kuartal depan seolah menertawakan ketidaktahuannya.

Alessia memijat pangkal hidungnya, merasa pening melihat deretan angka yang seolah menari-nari di depan matanya.

"Tadi pagi itu benar-benar murni keberuntungan," gumamnya pelan pada diri sendiri.

Kata-kata Nathaniel di koridor tadi terus bergema di kepalanya. Pria itu benar. Ia bisa menangani Mrs. Hana bukan karena ia menguasai strategi bisnis makro, melainkan karena ia adalah konsumen setia. Ia tahu rasanya jahitan tas yang mulai kasar atau pelayanan toko yang tidak lagi hangat. Namun, angka-angka di hadapannya sekarang? Ini adalah bahasa asing yang tidak ia pelajari di sekolah seni maupun di panti asuhan.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Nathaniel masuk dengan langkah tegap, membawa dua cup kopi hitam yang aromanya sangat kuat.

"Masih di halaman yang sama sejak sepuluh menit lalu, Nona Sinclair?" tanya Nathaniel datar, meletakkan salah satu cup kopi di depan Alessia.

Alessia tersentak, refleks menutup map tersebut seolah menyembunyikan kegagalannya. "Aku... aku sedang meneliti polanya."

"Pola?" Nathaniel menarik kursi di hadapan Alessia, duduk dengan gaya yang sangat dominan. "Pola yang Anda lihat itu disebut 'kerugian operasional' di sektor pembersihan. Dan jika Anda terus menatapnya tanpa melakukan apa-apa, angka itu tidak akan berubah menjadi keuntungan."

Alessia menghela napas menyerah, bahunya merosot. "Oke, aku mengaku. Aku tidak mengerti. Kenapa kolom ini merah? Dan kenapa ada biaya penyusutan setinggi ini untuk gedung yang tampak baik-baik saja?"

Nathaniel terdiam sejenak, menatap Alessia yang tampak sangat kontras dengan kemewahan ruangan tersebut, seorang putri yang sedang tersesat di labirin angka. Untuk pertama kalinya, Nathaniel tidak langsung melontarkan kritik tajam.

"Gedung ini bernapas, Alessia. Seperti manusia, dia butuh perawatan agar tetap terlihat cantik," ucap Nathaniel, suaranya merendah satu oktav. Ia menarik map itu ke arahnya, lalu memutarnya sehingga mereka bisa membacanya bersama.

Nathaniel mencondongkan tubuh, membuat jarak di antara mereka kembali menipis. Alessia bisa merasakan hawa hangat dari tubuh pria itu dan wangi parfum woody yang sangat maskulin.

"Lihat di sini," Nathaniel menunjuk sebuah angka dengan pulpen mahalnya. Ujung jarinya sempat tidak sengaja menyentuh punggung tangan Alessia, menciptakan sengatan listrik kecil yang membuat Alessia menahan napas.

"Ini adalah biaya pemeliharaan fasad. Kita tidak membayar untuk kecantikan, kita membayar untuk keamanan citra Sinclair."

Alessia mencoba fokus pada penjelasan Nathaniel, namun konsentrasinya terpecah antara angka-angka itu dan kehadiran Nathaniel yang begitu intens di sisinya.

"Kau tahu," lanjut Nathaniel tanpa melepaskan pandangannya dari dokumen, "keberuntungan tadi pagi hanya bisa membawamu sampai ke pintu masuk. Untuk tetap berada di dalam ruangan ini, kau butuh ini." Ia menunjuk kepalanya sendiri, lalu beralih menatap mata Alessia. "Dan mungkin... sedikit bimbingan yang sabar."

Langkah Alessia terhenti saat ia menyadari bahwa di ruangan semegah ini, tidak ada satu pun orang yang berlari masuk hanya karena ia menekan sebuah tombol. Ia menatap konsol telepon di meja ayahnya dengan bingung.

"Ms. Sinclair... Anda tidak punya sekretaris pribadi di sini. Setidaknya belum sampai Anda membuktikan diri layak memilikinya," suara berat Nathaniel menginterupsi dari ambang pintu. "Apa pun yang Anda butuhkan, siapkan sendiri di pantry."

Alessia mengerjapkan mata, rahangnya hampir jatuh. "Maksudmu... aku harus membuat kopi sendiri? Di mana semua orang?"

"Bekerja," jawab Nathaniel singkat tanpa menoleh, kembali fokus pada berkas di tangannya.

Dengan langkah gontai dan perut yang mulai berbunyi keroncongan karena melewatkan sarapan yang layak, Alessia berjalan menyusuri koridor menuju pantry karyawan. Ini adalah wilayah yang belum pernah ia injaki sebelumnya. Biasanya, kopi atau camilan akan muncul begitu saja di hadapannya seperti sihir.

Begitu pintu pantry terbuka, aroma biji kopi panggang dan suara tawa ringan menyambutnya. Beberapa staf yang sedang beristirahat seketika mematung saat melihat sang pewaris Sinclair berdiri di sana dengan setelan navy mahalnya.

"Oh! Hai Ms. Alessia!" sapa salah satu staf muda dengan nada terkejut sekaligus kagum.

Alessia memberikan senyum tipisnya yang ramah, meski ia merasa sedikit canggung. Matanya tertuju pada sebuah mesin kopi besar yang terlihat lebih rumit daripada panel kendali pesawat terbang.

"Hai semuanya... maaf mengganggu. Apa ada yang tahu bagaimana cara menggunakan mesin kopi ini?" tanya Alessia dengan nada polos yang jujur.

Para staf saling berpandangan. Mereka terbiasa melihat Alessia di majalah gaya hidup atau sekilas saat peresmian gedung, namun melihatnya kebingungan di depan mesin kopi adalah pemandangan yang sangat manusiawi.

"Sini, Ms. Alessia, biar saya bantu," ucap seorang staf senior dengan ramah. "Anda ingin tipe apa? Espresso atau Americano?"

"Tunggu," sebuah suara dingin memotong dari arah pintu.

Nathaniel berdiri di sana, menyandarkan bahu tegapnya di bingkai pintu dengan tangan bersedekap. Ia menatap para staf dengan tatapan yang membuat mereka segera kembali ke meja masing-masing.

"Jangan bantu dia," perintah Nathaniel tegas.

Alessia menoleh dengan wajah kesal. "Hanya kopi, Mentor. Aku lapar dan haus!"

Nathaniel melangkah masuk ke pantry, membuat suasana ruangan yang tadi santai mendadak menjadi tegang. Ia berdiri di samping Alessia, aroma tubuhnya yang maskulin seketika mendominasi udara di antara mereka.

"Jika Anda tidak bisa mengoperasikan alat sederhana di kantor Anda sendiri, bagaimana Anda bisa mengoperasikan seluruh mall ini?" Nathaniel menunjuk ke arah mesin kopi.

"Pikirkan. Gunakan insting Anda. Tekan tombol yang salah, dan Anda akan mendapat kopi yang pahit. Sama seperti bisnis."

Alessia mendengus, namun ia tertantang. Ia mulai memperhatikan tombol-tombol tersebut.

Di tengah kebingungannya, ia merasakan kehadiran Nathaniel yang sangat dekat di belakangnya. Pria itu tidak menyentuhnya, tapi Alessia bisa merasakan hembusan napas Nathaniel di dekat telinganya.

"Tombol kiri bawah untuk grinding, Nona Sinclair," bisik Nathaniel rendah, suaranya kali ini tidak sedingin biasanya, melainkan sedikit lebih dalam dan... lembut?

Alessia kembali ke meja besarnya dengan membawa cup kopi yang uapnya masih mengepul. Ia meletakkan minuman itu dengan hati-hati, seolah takut setitik noda kopi pun akan merusak laporan keuangan yang nilainya mencapai miliaran won tersebut.

Ia mencoba fokus lagi. Baris demi baris, kolom demi kolom. Namun, semakin ia menatap angka-angka itu, kepalanya semakin berdenyut.

"Kak—eh, maksudku... Mentor," gerutu Alessia, hampir saja ia terpeleset memanggil nama akrabnya lagi. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja ayahnya yang terasa terlalu besar untuknya. "Aku benar-benar tidak mengerti kenapa terjadi hal seperti ini di laporan keuangan. Kenapa biaya operasional di divisi lifestyle melonjak tajam bulan lalu, padahal pendapatannya justru mendatar?"

Nathaniel yang sedari tadi duduk di sofa sudut ruangan sambil memeriksa berkas di tabletnya, perlahan mengangkat kepala. Ia meletakkan tablet itu dan berdiri, berjalan mendekat ke arah meja Alessia dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi.

"Itu karena Anda hanya melihat angka, Nona Sinclair. Anda tidak melihat cerita di baliknya," ucap Nathaniel.

Ia berdiri tepat di samping kursi Alessia, mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menunjuk deretan angka di layar monitor. Posisi ini membuat aroma citrus dan woody dari tubuh Nathaniel mengepung indra penciuman Alessia.

"Lihat ini," tangan Nathaniel yang kokoh menunjuk satu kolom spesifik. "Bulan lalu ada renovasi besar-besaran di area VIP Lounge. Biaya membengkak karena permintaan material impor yang tidak terduga. Pendapatannya belum terlihat sekarang, tapi nilai aset kita meningkat."

Alessia menoleh ke samping, bermaksud untuk menjawab, namun ia baru menyadari betapa dekatnya wajah Nathaniel dengan wajahnya.

Hanya terpaut beberapa sentimeter. Ia bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di lensa kacamata pria itu dan betapa tajam garis rahang Nathaniel saat ia sedang serius.

"Oh... jadi ini investasi jangka panjang?" bisik Alessia, suaranya mendadak sedikit serak.

Nathaniel tidak langsung menjauh. Ia justru memalingkan wajahnya sedikit, mengunci tatapan mata cokelat Alessia yang tampak bingung namun penuh rasa ingin tahu.

"Tepat. Bisnis bukan tentang apa yang Anda habiskan hari ini, tapi tentang apa yang Anda tanam untuk hari esok," sahut Nathaniel rendah. Suaranya yang berat terasa bergetar di dekat telinga Alessia.

Suasana ruangan yang tadi penuh dengan aura kompetisi mendadak berubah menjadi sangat intens. Detik-detik berlalu, dan tak satu pun dari mereka yang bergerak menjauh. Alessia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan, jauh lebih cepat daripada saat ia menghadapi Mrs. Hana tadi pagi.

"Ada pertanyaan lain?" tanya Nathaniel, suaranya kini terdengar sedikit lebih lembut, hampir seperti bisikan.

Alessia menelan ludah, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang mulai tercerai-berai. "Hm... sepertinya aku butuh waktu untuk... mencernanya."

Nathaniel akhirnya tegak kembali, memutus kontak mata yang memabukkan itu. Ia berdeham kecil, merapikan jasnya yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Bagus. Karena setelah ini, kita akan turun langsung ke lapangan. Saya ingin Anda melihat sendiri 'investasi' yang baru saja kita bicarakan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!