NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Bethany terdiam cukup lama.

Bukan karena ia tidak punya kata-kata, melainkan karena ia sadar—tidak semua luka bisa disembuhkan dengan nasihat sederhana. Terlebih lagi, setelah melihat bagaimana pernikahan Amara hancur tanpa sisa.

“Kamu benar…” akhirnya ia bersuara pelan, suaranya nyaris tenggelam. “Pernikahan itu tidak sesederhana yang dibayangkan.”

Ia tersenyum tipis, namun matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam.

“Jujur saja… kadang aku menyesal pernah menikah.” Ia menghela napas. “Tapi di sisi lain, kalau aku tidak pernah mengalaminya, mungkin aku tidak akan pernah tahu… bagaimana rasanya benar-benar menghargai kebebasan.”

“Kebebasan…” Amara mengulang kata itu lirih.

Kata sederhana itu justru terasa asing di lidahnya.

Pikirannya melayang jauh—kembali pada masa lalu yang pernah ia sebut sebagai ‘rumah’.

Namun semakin ia mencoba mengingat, semakin jelas satu hal yang muncul—

Tidak pernah ada kebebasan.

Tidak pernah ada kebahagiaan yang tulus.

Yang ada hanya kepura-puraan.

Dulu, ia memaksakan diri untuk tersenyum. Meyakinkan dirinya bahwa semua akan membaik. Bahwa suatu hari, pernikahan itu akan berubah menjadi sesuatu yang layak dipertahankan.

Namun waktu tidak berpihak padanya.

Kenyataan perlahan mengikis ilusi yang ia bangun sendiri.

Dan saat semuanya runtuh… yang tersisa hanyalah luka.

Luka yang dalam.

Luka yang menyakitkan.

Dan semuanya—bermula dari Tobias.

Seketika, Amara tertawa pelan.

Tawa yang terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.

Betapa bodohnya ia dulu.

Betapa naifnya ia mempercayai sesuatu yang sejak awal sudah rapuh.

“Ah… kenapa kita jadi sedih begini?” gumam Bethany, mencoba mencairkan suasana. Ada rasa bersalah di nada suaranya.

“Maaf… ini salahku.”

Amara menggeleng pelan, namun senyumnya terasa pahit.

Mobil kembali melaju.

Namun beberapa saat kemudian, Bethany meliriknya dengan dahi berkerut, seolah baru menyadari sesuatu.

“Amara…” panggilnya hati-hati. “Apa dia membuatmu terbiasa meminta maaf?”

Amara terdiam sejenak.

Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam tepat sasaran.

Ia menarik napas panjang sebelum menjawab—

“…ya. Sering.”

Hening.

Lalu Bethany mendesah kesal.

“Dasar pria brengsek,” gerutunya tanpa ragu. “Di depan orang lain terlihat sempurna, ternyata… tidak lebih dari pengecut yang menyembunyikan wajah aslinya.”

Ia menggeleng, jelas muak.

“Katanya keluarga yang menjunjung kebenaran? Omong kosong.” Suaranya mulai meninggi. “Percaya saja, suatu hari nanti dia akan menerima balasannya.”

Bethany lalu menoleh, memaksakan senyum cerah.

“Sudahlah, lupakan dia. Kita lakukan sesuatu yang menyenangkan.” Matanya berbinar. “Bagaimana kalau besok kita pergi belanja?”

Amara terdiam sejenak.

Namun untuk pertama kalinya sejak malam itu, ide tersebut terdengar… menenangkan.

Ia tersenyum tipis.

“Baik. Kita lakukan.”

Keesokan harinya, mereka bertemu.

Dan seperti yang dijanjikan, mereka langsung menuju pusat perbelanjaan.

Dari satu butik ke butik lain, waktu berlalu tanpa terasa. Tawa kecil sesekali terdengar, menggantikan kesunyian yang sempat menyelimuti hati Amara.

Ia tahu—Bethany sedang berusaha.

Berusaha membuatnya kembali merasa hidup.

“Coba ini,” ujar Bethany tiba-tiba, menyodorkan sebuah gaun merah tua.

Amara menerimanya.

Gaun itu elegan. Potongan leher berbentuk V yang rendah, belahan tinggi di sisi kaki, serta lengan panjang yang memberi kesan anggun namun berani.

Bukan gaya lamanya.

Namun Amara bukan lagi wanita yang sama.

Ia bukan lagi bayangan seseorang.

Bukan lagi ‘milik’ Tobias.

“Aku akan mencobanya,” ucapnya.

Namun langkahnya terhenti bahkan sebelum mencapai ruang ganti.

Sosok itu.

Fiona.

Tatapan mereka bertemu.

Dan seperti biasa—tidak ada yang baik yang mengikuti.

“Kamu.”

Suara Fiona tajam, penuh racun. Ia melangkah mendekat, tatapannya seolah ingin mengoyak.

“Berani sekali kamu muncul di tempat umum seperti tidak terjadi apa-apa.” Bibirnya melengkung sinis. “Atau kamu terlalu sibuk tidur dengan pria-pria di luar sana sampai lupa kekacauan yang kamu buat?”

Mata Amara menyipit.

Ia sudah terbiasa dengan sikap Fiona.

Namun hari ini… kesabarannya sedang tipis.

“Jangan pura-pura tidak tahu!” bentak Fiona. “Kamu hampir membunuh seseorang, lalu dengan santainya belanja?”

Dengan gerakan kasar, Fiona merampas gaun dari tangan Amara.

Matanya menyapu label harga.

“Delapan belas ribu pound?” ia mencibir. “Kakek tua mana yang kamu tiduri untuk membayar ini?”

Kali ini—cukup.

Namun sebelum Amara sempat membuka mulut, seseorang melangkah maju.

Bethany.

“Nona Larsen,” ucapnya dingin. “Saya rasa Anda sudah melewati batas.”

Fiona tertegun.

“Apa?”

“Anda bersikap kasar. Dan sangat tidak pantas.”

“Saya?” Fiona tertawa tidak percaya. “Kamu membela dia?”

“Ya.”

Jawaban Bethany singkat, tegas.

“Sekarang, minta maaf.”

Fiona mencibir.

“Untuk apa aku minta maaf pada wanita murahan seperti dia? Aku jauh lebih baik—”

“Dia bukan wanita murahan.”

Suara Bethany memotong tajam.

“Dan kalau ada yang seharusnya malu di sini… itu Anda.”

Wajah Fiona berubah.

Amarahnya goyah, tergantikan oleh sesuatu yang lebih rapuh—malu.

Namun hanya sesaat.

“Memalukan?” balasnya sinis. “Kamu sendiri tidak bisa mempertahankan pernikahanmu selama tiga tahun—”

“Kalau aku jadi kamu…”

Suara Amara akhirnya terdengar.

Tenang.

Namun dingin.

Mematikan.

Ia menatap Fiona lurus.

“aku akan berpikir dua kali sebelum membuka mulut.”

Langkahnya maju satu langkah.

“Kami sudah cukup sabar. Tapi jangan pernah berpikir kami akan terus diam.”

Nada suaranya merendah.

“Ucapkan satu kata lagi… dan kamu akan menyesal.”

Fiona terdiam.

Untuk pertama kalinya, ada keraguan di matanya.

Namun sebelum ia sempat membalas—

“Nona Larsen.”

Suara lain memotong.

Seorang pria paruh baya mendekat, rapi dan profesional.

“Anda harus meninggalkan toko ini sekarang.”

Fiona membeku.

“Apa?”

“Anda telah menyinggung tamu kehormatan kami. Kami tidak punya pilihan selain mengawal Anda keluar. Selain itu, Anda juga akan dimasukkan ke dalam daftar hitam seluruh jaringan toko kami.”

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

“Apa?!”

Fiona meledak.

“Seharusnya dia yang diusir!” Ia menunjuk Amara. “Aku ini putri keluarga Larsen—”

“Fiona.”

Suara itu.

Dingin.

Tajam.

Sekejap, seluruh ruangan terdiam.

Tobias.

Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang, aura dominannya langsung mengambil alih suasana. Tatapannya sempat berhenti pada Amara—singkat, namun cukup untuk membuat jantung wanita itu bergetar tanpa izin.

Lalu, ia beralih ke Fiona.

“Apa yang kamu lakukan?” suaranya rendah, penuh tekanan. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak membuat keributan di tempat umum?”

“Tapi kakak—” Fiona langsung berubah, wajahnya dipenuhi kepura-puraan. “Dia yang mulai—”

“Pembohong.”

Bethany menyela tanpa ragu.

Tatapannya tajam.

“Kamu melakukan kekacauan, lalu menyalahkan orang lain untuk menyelamatkan dirimu. Luar biasa.”

Ia menatap Tobias.

“Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan keluarga kalian.”

Mata Tobias menyipit.

“Apa maksudmu?”

Bethany melangkah maju.

Tak gentar.

“Sekarang aku mengerti,” katanya pelan, namun penuh tekanan. “Bekerja sama dengan orang-orang bermuka dua… hanya akan menghancurkan reputasi siapa pun.”

Ia menatap lurus ke mata Tobias.

“Sepertinya aku perlu berbicara dengan ibuku.”

Senyumnya tipis.

Namun tajam.

“Dan mempertimbangkan ulang… apakah keluarga kami masih ingin bekerja sama dengan keluarga Larsen.”

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!