Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. PERTEMUAN TAK TERDUGA DIKOTA CINTA ( bag 3 )
Mobil sport berwarna hitam itu meluncur cepat di sepanjang jalan-jalan Paris yang mulai sepi. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan garis-garis cahaya yang bergerak cepat seiring dengan kecepatan mobil yang dikendarai Aslan. Pikirannya fokus hanya pada satu tujuan: pusat perbelanjaan di dekat Place Vendôme. Ia ingat betul lokasinya—di lantai dasar, dekat dengan atrium utama di mana terdapat air mancur kecil dan deretan toko perhiasan mewah. Itu adalah tempat di mana bahunya menabrak bahu gadis itu, tempat di mana takdir mulai mempermainkan mereka dengan cara yang tak terduga.
Sesampainya di sana, Aslan memarkirkan mobilnya dengan terburu-buru di area parkir bawah tanah, lalu berlari menuju lift menuju lantai utama. Pintu kaca pusat perbelanjaan itu masih terbuka, namun suasana di dalam sudah jauh lebih sepi dibandingkan siang tadi. Sebagian besar toko sudah menutup tirai atau sedang dalam proses membereskan barang dagangan. Lampu-lampu yang tadinya menyala terang kini sebagian sudah dimatikan, menyisakan cahaya yang lebih lembut dan sedikit misterius di lorong-lorong yang lebar.
Aslan tidak membuang waktu. Ia berjalan cepat menuju lokasi tabrakan tadi—tepat di depan butik perhiasan yang ia ingat. Namun, di sana sudah kosong. Tidak ada sosok gadis bergaun krem, tidak ada wanita tua yang ramah. Hanya ada petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai marmer yang mengkilap.
Aslan berdiri di tengah lorong, napasnya sedikit memburu. Matanya memindai sekeliling dengan cemas. "Mereka sudah pergi?" pikirnya sedih. "Apakah aku terlambat?"
Namun, Aslan tidak mau menyerah begitu saja. Ia teringat bahwa saat kejadian tadi, Alana dan neneknya berniat untuk berbelanja. Mungkin mereka belum selesai, atau mungkin mereka sedang beristirahat di salah satu tempat makan yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu. Ada sebuah restoran terkenal dengan masakan Prancis klasik di lantai dua, yang biasanya tutup lebih lambat dibandingkan toko-toko di sekitarnya.
Dengan harapan yang mulai tumbuh kembali, Aslan berjalan cepat menuju eskalator. Kakinya bergetar penuh antisipasi saat ia naik ke lantai dua. Suasana di sana juga sudah sepi, namun lampu-lampu di area restoran masih menyala terang.
Aslan melangkah masuk ke area restoran itu. Ruangannya luas, dengan hiasan bunga-bunga segar di setiap meja dan musik piano yang mengalun pelan. Beberapa meja masih ditempati oleh pengunjung yang sedang menikmati makan malam mereka dengan tenang.
Aslan berdiri di ambang pintu, matanya dengan cepat memindai setiap wajah yang ada di sana. Hati Aslan berdegup kencang. Dan kemudian, di sudut ruangan yang agak teduh, matanya menangkap sosok yang sangat ia cari.
Di sana, duduk sendirian di sebuah meja dekat jendela besar yang menghadap ke kota, adalah Alana.
Gaun krem yang ia kenakan tadi siang masih terlihat begitu cantik di bawah cahaya lampu restoran yang hangat. Rambutnya yang diikat kuda kini sedikit longgar, beberapa helai rambutnya terurai menutupi pipinya yang putih. Di hadapannya, tersusun rapi piring-piring berisi sisa makanan dan segelas jus buah yang hampir habis. Namun, yang membuat jantung Aslan seakan berhenti berdetak adalah wajah Alana—wajah yang sama persis dengan yang ada di layar ponselnya, wajah yang tadi siang memandangnya dengan tatapan marah, dan kini memandang kosong ke arah luar jendela dengan ekspresi yang tenang dan sedikit melamun.
Aslan melihat sekeliling, tidak melihat sosok Nenek Aretha di dekatnya. Ternyata, saat mereka tiba di restoran tadi, tak lama setelah kejadian tabrakan, Nenek Aretha bertemu dengan seorang teman lama yang juga sedang makan malam di sana. Mereka sangat senang bertemu kembali, dan akhirnya Nenek Aretha meminta izin kepada Alana untuk duduk di meja sebelah bersama temannya, meninggalkan Alana makan sendirian sambil menunggunya.
Kesempatan itu! Aslan menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kencang. Ia merapikan jaket denimnya, lalu berjalan perlahan mendekati meja Alana. Setiap langkahnya terasa berat namun penuh dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan.
Saat ia hanya berjarak beberapa langkah dari meja itu, Alana seolah merasakan kehadiran seseorang. Ia mengangkat kepalanya dari jendela dan menoleh ke arah Aslan. Mata mereka bertemu.
Alana tertegun. Matanya membelalak, sendok yang baru saja ia ambil terhenti di udara. Ia mengenali wajah itu seketika. Wajah pria yang menabraknya siang tadi, wajah pria dengan mata biru yang tajam.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Alana, suaranya sedikit kaget dan kembali waspada. "Apakah Anda mengikutiku?"
Aslan mengangkat kedua tangannya sedikit, tanda damai, lalu tersenyum tipis—senyuman yang campuran antara rasa gugup dan tulus. "Tidak, Nona. Saya tidak mengikuti Anda. Saya... saya datang ke sini karena saya ingin memastikan sesuatu."
Alana menatapnya dengan bingung, alisnya terangkat. "Memastikan apa?"
Aslan menarik napas dalam sekali lagi, lalu menatap mata Alana dengan lekat-lekat, membiarkan kata-kata itu keluar dengan jelas dan tegas.
"Saya ingin memastikan apakah nama Anda benar-benar Alana," ucap Aslan pelan namun terdengar jelas di telinga Alana. "Alana Hadinata."
Wajah Alana berubah pucat seketika. Sendok di tangannya terjatuh kembali ke piring dengan bunyi ting yang nyaring di tengah keheningan restoran. Ia menatap pria di hadapannya dengan tak percaya. Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada kata yang keluar. Bagaimana pria ini tahu namanya? Bagaimana pria ini tahu nama lengkapnya?
Melihat reaksi Alana, Aslan tahu bahwa dugaannya benar. Rasa lega yang luar biasa menyelimuti hatinya, disusul dengan rasa haru dan sesuatu yang lain yang lebih dalam. Ia menarik kursi di hadapan Alana, dan tanpa menunggu izin—karena rasa ingin tahunya sudah meledak—ia duduk di sana, menatap gadis yang selama ini hanya menjadi nama dalam perjodohan itu dengan tatapan yang penuh makna.
"Dan saya juga ingin memastikan," lanjut Aslan pelan, suaranya kini lebih lembut, hampir seperti bisikan, "apakah gadis yang dijodohkan denganku oleh orang tua kita adalah gadis yang sama dengan yang telah menabrak hatinya hari ini."
Alana masih terdiam, matanya tidak berkedip menatap Aslan. Otaknya berputar cepat, mencoba memproses kata-kata pria di hadapannya. Gadis yang dijodohkan denganku? Alana Hadinata?
Tiba-tiba, semua potongan teka-teki itu menyatu. Pria di hadapannya... dengan mata biru itu, dengan nama keluarga yang mungkin... Apakah dia...?
"Kau..." suara Alana tercekat, matanya mulai berkaca-kaca karena kaget dan haru yang tiba-tiba. "Kau adalah Aslan? Aslan Lenoir?"
Aslan tersenyum lebar kali ini, sebuah senyuman yang tulus dan menawan yang membuat wajahnya berseri-seri. Ia mengangguk perlahan. "Ya, Alana. Saya Aslan. Saya adalah pria yang seharusnya bertemu denganmu di Bali, tapi takdir memutuskan untuk mempertemukan kita di sini, di Paris, dengan cara yang sedikit... kasar."
Di restoran yang sepi itu, di bawah cahaya lampu yang hangat, Alana dan Aslan saling bertatapan. Segala rasa canggung, rasa takut, dan rasa curiga yang selama ini menghantui pikiran mereka seakan hilang ditelan malam. Yang tersisa hanyalah kehadiran satu sama lain, dan perasaan aneh yang sulit dijabarkan—campuran antara kaget, lega, penasaran, dan sebuah ketertarikan yang mulai tumbuh di antara dua hati yang baru saja disatukan oleh takdir yang unik. Mereka tidak lagi menjadi nama di atas kertas, mereka kini nyata, duduk berhadapan, dan siap untuk menulis kisah mereka sendiri mulai dari detik ini.