AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 6
Hari pernikahan...
Pesta pernikahan Wira dan Audrey di gelar dengan sangat meriah di ballroom hotel bintang lima di pusat kota. Tamu undangan mulai dari relasi perusahaan, pejabat hingga artis lokal sedang antre untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai di atas panggung.
"Aku nggak nyangka Bil, Kak Wira beneran nikah sama si Audrey." Ucap Shena pada Nabila.
"Sudahlah, Kak. Mungkin Audrey memang jodohnya Kak Wira." Sahut Nabila membuat Shena menatapnya sinis.
"Memangnya kamu nggak keberatan kalau Kak Wira nikah sama Audrey ?" Shena masih berusaha mencari sekutu. Padahal dia tau adiknya itu selalu berusaha bersikap netral.
"Audrey memang kekanak-kanakan, tapi kalau Kak Wira nggak masalah dengan itu kenapa kita yang harus repot ?!" Jawab Nabila tanpa rasa bersalah, semakin membuat telinga Shena terasa panas mendengar nya.
"Ck!" Shena berdecak kemudian pergi meninggalkan Nabila sendiri.
Nabila mengedikkan kedua bahunya menatap punggung Shena yang semakin menjauh.
🏵️
Sementara itu di atas pelaminan..
"Tersenyumlah! Jangan membuat malu!" Bisik Ayah Andreas pada sang istri.
Sejak akad nikah hingga resepsi pernikahan Bunda Santi tak sekalipun menunjukkan raut bahagia. Perempuan itu terus menekuk wajahnya. Entah sudah berapa kali Ayah Andreas menegur sang istri yang seolah tak perduli meskipun banyak pasang mata yang melihat.
Sedangkan di sisi lain Wira tengah merasakan dadanya panas dibakar api cemburu ketika tiba-tiba Dean bersama James dan Lula naik ke atas panggung untuk memberi selamat.
"Thank you banget loh kalian udah mau datang ke resepsi gue.." Ucap Audrey dengan mata berkaca-kaca.
Audrey cipika-cipiki dengan Lula.
"Kita nggak mungkin nggak datanglah, Drey. Lo kan sahabat kita selamanya.." Lula dan Audrey saling memeluk dengan singkat.
Setelah James dan Lula mengucapkan selamat, kini giliran Dean yang berdiri di hadapan Audrey.
"Ian...lo sakit ?" tanya Audrey saat melihat wajah Dean murung tak bersemangat.
Ian adalah panggilan khusus yang Audrey berikan untuk Dean.
Dean menggeleng dengan senyum yang dipaksakan.
"Selamat ya, Drey. Semoga kamu bahagia."
Saat Audrey hendak membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba pinggangnya di peluk dengan begitu posesif.
"Tentu saja Audrey akan bahagia. Terimakasih. Silahkan, masih banyak antrian!"
Audrey mendongak, menatap Wira dengan wajah kaget.
Terlihat rahang Dean mengeras, dengan terpaksa dia pun harus turun dari panggung pelaminan.
"Kamu apaan sih, Kak ? Kok judes gitu sama Dean ?"
Wira bisa melihat perubahan ekspresi Audrey. Ia seperti kesal tetapi ditahan.
🏵️
Pesta pernikahan Wira dan Audrey berakhir di jam 12 malam. Wira dan Audrey serta keluarga besar mereka sudah masuk ke kamar masing-masing.
Saat masuk ke dalam kamar, Audrey dan Wira di buat mematung ketika melihat kamar mereka dihias dengan dekorasi mawar di atas tempat tidur yang berbentuk hati. Sebotol sparkling wine lengkap dengan dua gelas berisi wine di atas meja semakin menambah suasana romantis.
Seketika suasana menjadi canggung hingga akhirnya Audrey memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Siapa yang mau mandi duluan ?" Tanya Audrey yang masih memakai gaun pengantin nya.
Wira berdiri membelakangi Audrey dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Kau duluan saja." Jawab Wira tanpa menatap Audrey.
Audrey langsung masuk ke kamar mandi tanpa membuka gaun nya terlebih dulu.
Klik!
Audrey mengunci pintu kamar mandi. Dia berdiri di deoan Wastafel dengan kedua pipi yang merah merona.
"Astaga! Apa yang aku pikirkan ?!" Audrey menepuk-nepuk kedua pipinya untuk menyadarkan diri bahwa tidak mungkin ada yang terjadi pada mereka malam ini.
Setelah membuka seluruh gaun nya, Audrey berjalan ke arah bathtub.
"Apa aku harus mandi kembang begini ?!" Guman Audrey sambil menatap bingung pada Bathtub yang sudah di penuhi dengan ribuan kelopak bunga mawar.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Audrey pun berendam di air kembang.
Hingga satu setengah jam kemudian dia baru keluar dari kamar mandi.
Namun saat keluar dari kamar mandi, Audrey justru terlihat bingung melihat kamarnya sendiri. "Loh, kok udah bersih kamar nya ?" tanya nya pada diri sendiri.
Bagaimana tidak bingung, kamar president suit yang tadinya begitu banyak pernak-pernik khas pasangan yang sedang merayakan hari bahagia kini terlihat bersih seolah tidak pernah ada satu kelopak bunga pun yang bercecer di atas tempat tidur mereka.
"Kak ??" Audrey memanggil Wira, ingin bertanya tentang kamar mereka, tapi sayang nya berapa kali pun Audrey panggil Wira tak menjawab.
"Pergi nggak bilang-bilang! Dasar manusia es!" Audrey menghentakkan kaki nya kesal kemudian berjalan ke kopernya dimana piyama nya berada.