Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji gerbang sekolah
Kebaikan majikan yang ikut membantu membiayai sekolah Laura selalu menjadi pengingat bagi mereka untuk menjaga martabat.
" Oma mengerti kamu sudah besar,Laura.kamu butuh melihat dunia di luar tembok rumah besar ini," ucap Oma pelan,membuat Laura mendongak tak percaya.
" Oma mengizinkan? " tanya Laura lirih.
Oma mengangguk,namun raut wajahnya berubah serius.
" iya,Oma izinkan.tapi ada syaratnya.kamu tidak boleh pulang larut malam,apalagi sampai tengah malam.jam sebelas nanti,kamu sudah harus ada di depan rumah ini.dan satu lagi...siapapun teman yang menjemputmu,dia harus bertanggungjawab mengantarkanmu pulang sampai ke depan sini.Oma tidak mau kamu berjalan sendirian di trotoar kota pada malam hari."
Mendengar itu,hati Laura bagaikan di siram air sejuk,meskipun rasa cemas tentang Marco masih ada.
Ia segera memeluk Oma dengan erat.
" terimakasih,Oma,aku janji akan pulang tepat waktu."
Malam itu,pusat kota tak pernah terasa sesunyi ini bagi Laura.setelah mencium tangan Oma,dan meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja, Laura melangkah keluar.ia tidak memakai kain sutra,hanya blouse putih bermotifkan bunga,dan celana kain berwarna gelap yang sangat pas di tubuhnya.pakaian terbaik yang bisa di beli dari tabungan sederhana Oma.
Dengan rambut panjangnya yang terurai bak Mayang,Laura menyusuri trotoar,melewati deretan toko yang sudah tutup,menuju sekolah yang hanya berjarak beberapa blok dari rumah majikannya.
Tak terasa,ia akhirnya tiba di depan gerbang sekolah.ia berdiri di bawah lampu lobi yang kekuningan sambil melihat ke jam tangan yang di kenakannya.suasana sekolah di malam sabtu terasa asing ; gerbangnya yang sudah tua di biarkan terbuka lebar,menyisakan dirinya sendirian di tengah kesunyian.
ia memperhatikan setiap mobil yang lalu lalang di jalan raya.sorot lampu dengan mobil-mobil mewah berkilauan di matanya,mengingatkannya pada dunia majikannya yang selalu terasa jauh.
Setiap kali sebuah kendaraan melambat,jantungnya berdegup kencang.apakah itu Marco? Bagaimana jika ia tidak datang? atau bagimana jika ini hanya sebuah lelucon kejam?
Ia meremas tali tas kecilnya,dan sekali lagi melirik pada jam tangan yang telah menunjukan pukul delapan lewat sepuluh menit.
Tiba-tiba,suara deru mesin yang berat memecah keheningan.sebuah mobil Starlet hitam dengan kaca film yang sangat gelap meluncur pelan dan berhenti tepat di depan sekolah.mobil itu tampak mencolok.tua,namun terawat sangat rapi,dengan kesan misterius yang kental.
Laura terpaku.ia mengira Marco akan datang dengan motor untuk menjemputnya.
Pintu kemudi terbuka.Marco keluar dengan setelan jas hitam tanpa dasi,kemejanya terbuka dua kancing teratas.cahaya lampu lobi menyinari wajahnya yang tegas,namun matanya tetap sulit di baca.
"Masuklah, Laura," ucap Marco tanpa basa basi,suaranya dingin namun penuh otoritas.
Laura ragu sejenak." ini mobilmu?"
" Mobil ini tidak akan menarik perhatian di jalan kota,dan itu yang kita butuhkan di malam ini." jawab Marco sambil membukakan pintu untuk Laura.
Begitu pintu tertutup dengan dentuman solid,Laura merasa dunianya yang aman di lantai tiga rumah majikan,telah tertinggal jauh di belakang.
Mesin mobil Starlet itu menderit halus saat Marco memutar kemudi,menjauh dari lampu-lampu pusat kota yang bising.suasana di dalam kabin terasa dingin bukan hanya oleh pendingin udara,tapi karena aura Marco yang mendadak berubah menjadi sangat serius.
" Laura,dengarkan aku baik-baik," ucap Marco tanpa menoleh,matanya menatap lurus ke arah jalanan aspal yang gelap.
" pesta ini bukan pesta sekolah biasa.ada aturan yang harus kamu patuhi dalam pesta."
Laura meremas jarinya." aturan apa Marco? kamu bilang ini hanya sebuah pesta topeng biasa."
" satu " potong Marco tajam." jangan pernah lepaskan topengmu,apapun yang terjadi.dua,jangan menyebutkan nama aslimu kepada siapapun.tiga,tetaplah berada dalam jangkauan pandangan mataku."
Laura tertunduk diam setelah mendengar kata- kata Marco.ia tak berani bertanya apalagi membantah setiap kalimat yang di ucapkan pemuda itu.
Mobil yang di kemudikan Marco terus melaju menyusuri jalan kota.bukannya menuju ke pub di pusat kota,Marco justru mengarahkan mobilnya ke sebuah kawasan hunian elit yang di jaga oleh portal besi,dan petugas keamanan berseragam.deretan rumah di sana tampak seperti istana moderen dengan pilar-pilar raksasa,sangat kontras dengan rumah majikan tempat di mana Laura tinggal.
Mobil berhenti di sebuah rumah minimalis megah yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon Cemara.
" kita singgah sebentar.teman-temanku sudan menunggu di dalam." kata Marco sambil mematikan mesin." mereka perlu melihatmu,dan mereka sudah mempersiapkan sesuatu untukmu."
Marco mengajak Laura turun dari mobil,lalu keduanya masuk ke dalam rumah itu.suasana rumah remang-remang.harum dupa mahal menyeruak di ruangan luas yang di penuhi perabotan kulit.dua orang pemuda,dan tiga orang gadis yang tampak sangat modis namun memiliki tatapan yang dingin,menyambut mereka.
" Jadi,ini ' bungamu ' yang tersembunyi itu, Marco?" tanya salah seorang gadis sambil tersenyum tipis,matanya menyapu blouse putih motif bunga Laura dengan nada iba.
Setelah bicara beberapa saat,salah seorang gadis mengajak Laura ke sebuah ruangan ganti yang luas.di atas meja rias,sudah tergelatak kotak beludru merah.saat di buka,isinya membuat nafas Laura tertahan.
Sebuah gaun hitam legam,terbuat dari bahan satin yang berat dan mengilap,tampak sangat mahal dan sedikit... provokatif untuk ukuran Laura.
Topeng perak berukir juga ada di situ.sebuah topeng yang menutupi setengah wajah dengan ukiran sayap burung pemangsa yang tampak tajam.
" Ayo,kita ganti pakaianmu," ajak gadis itu dingin." Marco ingin kamu terlihat cantik saat memasuki pub nanti.kamu harus terlihat seperti bagian dari kami...atau setidaknya,seperti milik Marco."
Laura menatap pantulan dirinya di cermin besar.ia merasa seperti sedang mengenakan kulit orang lain.kostum itu bukan hanya baju pesta; itu adalah perlengkapan untuk peran berbahaya yang bahkan ia sendiri belum pahami betul skenarionya.
Akhirnya,Laura telah selesai di dandani.ia keluar dari ruang ganti dengan gaun satin hitam yang memeluk tubuhnya sempurna,suasana di ruangn besar itu mendadak hening.gaun itu menjuntai indah,memberikan kesan misterius sekaligus elegan yang belum pernah terpancar dari sosok Laura sebelumnya.
Marco,yang sedari tadi bersandar di dekat jendela besar sambil menyesap segelas air,mendongak.matanya terpaku pada Laura selama beberapa detik yang terasa sangat lama.ada kilatan kekaguman yang sempat melintas di manik matanya,namun dengan cepat ia membuang muka,kembali kepada raut wajahnya yang dingin dan datar.ia seolah sedang membangun tembok yang tebal agar Laura tidak bisa membaca pikirannya.
Berbeda dengan Marco yang kaku, teman-teman Marco dua pemuda bernama Reza dan Nico,serta gadis bernama Sasha,justru menyambut Laura dengan kehangatan yang mengejutkan.
" Luar biasa! Marco benar-benar punya selera yang bagus.gaun ini seolah memang di jahit untukmu Laura," ucap Sasha sambil tersenyum lebar,jemarinya lincah merapikan rambut Laura yang panjang,dan hitam legam.
" selamat datang di tim kami,gadis Misterius.jangan tegang begitu,malam ini kamu adalah bintangnya," tambah Reza sambil memberikan gelang perak kecil yang tampak antik.
sementara itu,Nico menyiapkan topeng perak berukir sayap,yang tadinya tergeletak di atas meja.
Saat Sasha memasangkan topeng itu ke wajah Laura,ia berbisik pelan," ingat,topeng ini bukan hanya untuk kecantikan.ini pelindungmu.jangan pernah membukanya, sampai Marco memintanya."
Laura menatap pantulan wajahnya di cermin besar.ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.gadis yatim piatu yang tadinya masih menyapu lantai di rumah majikannya,kini berdiri bak seorang putri dari kalangan elit.namun,di balik kehangatan teman-teman Marco,Laura merasakan ada sesuatu yang janggal.